LOGINTatapan Komandan Xin kembali pada Wan Xuan.
"Akhir-akhir ini kami sering menerima kabar pembunuhan di berbagai tempat. Ucapan belaka tak akan cukup untuk menyangkal kecurigaan kami terhadapmu." "Lalu aku harus apa?" Xin Nian diam sesaat. Namun, tiba-tiba ia melangkah melewati tubuh Wan Xuan. Langkahnya begitu cepat hingga tak dapat diikuti oleh mata biasa. Teknik gerakan cepat, keterampilan yang hanya bisa dikuasai oleh seorang ahli bela diri tingkat tinggi. Dalam hitungan setengah detik, ia sudah meraih pedang di balik punggung Wan Xuan. Wan Xuan sebenarnya bisa menghentikannya. Namun, ia memilih diam. Ia datang ke Kota Linmeng untuk mencari petunjuk, bukan mencari masalah dengan penjaga kota. "Pedang ini akan kami sita terlebih dahulu," ucap Xin Nian. "Wakil Komandan Feng, lakukan." Begitu perintah turun, Feng Sui hanya membutuhkan satu anggukan kecil untuk bergerak. Ia meraih bahu Wan Xuan dan mencengkeramnya dengan kuat, lalu hendak meringkusnya ke tanah. Akan tetapi, tak satu pun dari mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi. Wan Xuan sudah cukup lama diam. Bahkan ketika pedang yang seharusnya tak boleh lepas dari tangannya diambil, ia masih tetap diam. Namun, begitu Feng Sui datang hendak meringkusnya, ia melawan. Gerakan tangannya begitu sederhana, hanya meraih pergelangan tangan Feng Sui di atas pundaknya. Wan Xuan kemudian berputar sedikit. Tanpa banyak usaha, ia menarik Feng Sui hingga tubuh pria itu terlempar dan berputar di udara sebelum jatuh dengan keras. Kejutan tak terduga itu semakin menambah kecurigaan para penjaga kota. Feng Sui terbatuk-batuk, sementara rasa sakit menjalar dari punggungnya. Xin Nian langsung mengambil tindakan tegas. Bukan karena ia ingin terjun ke dalam kekacauan, tetapi karena inilah tugasnya sebagai komandan penjaga kota. Pedang di pinggangnya terhunus dalam satu tarikan napas. Aura membara menguar dari tubuhnya, membuat beberapa penjaga berpangkat rendah dan penduduk kota harus menahan napas. "Singkirkan tangan—" Kata-katanya terpotong. Bilah pedangnya seolah teracung sia-sia. Wan Xuan justru bergerak lebih cepat darinya. Menghindari acungan pedang Xin Nian seperti bayangan hitam, gerkana sederhana namun lebih cepat dari yang pernah Komandan penjaga itu lihat. Tanpa sadar, Wan Xuan sudah berdiri selamgkah di belakangnya dengan postur santai. Xin Nian membeku. Entah sejak kapan, pedang yang disitanya telah kembali ke tangan pemiliknya. Masih berada di dalam sarung, tapi ujung pedang itu kini terarah tepat ke punggungnya. "Maaf, tapi aku tak terbiasa menundukkan kepala hanya karena seseorang menghunus pedang kepadaku." Kata-kata terakhir Wan Xuan seolah menjadi bumerang bagi Xin Nian. Niat awalnya mungkin hanya melakukan pemeriksaan biasa. Ia berpikir akan mudah menghadapi Wan Xuan yang tak banyak bicara. Namun, mereka tampaknya telah salah langkah karena meremehkannya. Wan Xuan menurunkan pedangnya perlahan. Ia sama sekali tak berniat melukai Xin Nian. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia meletakkan kembali pedangnya ke balik punggung. "Aku bukan pembunuh. Pakaianku kotor hanya karena lumpur, bukan darah." Kerumunan penduduk yang sebelumnya berisik mendadak terdiam. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara. Feng Sui masih terduduk di tanah, menahan rasa sakit di punggungnya. Wajahnya memerah karena malu dan marah, tetapi tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Xin Nian tetap berdiri di tempat. Tatapannya tertuju pada Wan Xuan yang membelakanginya. Bahkan ketika memiliki kesempatan untuk melukainya, ia memilih menurunkan pedang. Namun, yang paling mengganggunya bukanlah sikap Wan Xuan. Melainkan kecepatannya. Xin Nian mengepalkan tangan. Ia menegakkan postur tubuhnyanya. "Tunggu! Siapa sebenarnya kamu...?" Wan Xuan tak menoleh. "Sudah kubilang hanya pengembara biasa."Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya
Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi
“Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li
“Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo
Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia
Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja







