Share

4. Di Atas Perahu

Author: Murlox
last update publish date: 2026-08-20 15:51:31

Wan Xuan tak pergi terlalu jauh dari tempat itu. Ia hanya berbelok ke arah sebuah gang sempit yang minim cahaya.

Entah apa yang dipikirkan para penduduk kota, terutama Xin Nian yang masih berdiri di sana menatap kepergiannya, Wan Xuan tak terlalu peduli.

Hanya tatapan tak terima Feng Sui yang masih mengobarkan amarah. Punggungnya mungkin masih nyeri, tetapi ia menolak mengakui kekalahan, apalagi terlihat lemah di hadapan bawahannya.

"Wakil Komandan Feng, tahan dulu amarahmu. Dia bukan lawan yang bisa kau hadapi," kata Xin Nian.

Feng Sui hanya mendengus kesal. Peringatan singkat itu sudah cukup menyadarkan akal sehatnya. Ia menunduk sedikit, lalu melirik lengan kirinya yang masih sedikit gemetar.

"Apa yang perlu ditakutkan? Tadi itu mungkin hanya keberuntungannya saja. Siapa tahu dia adalah pembunuh yang selama ini berkeliaran di luar kota," kata Feng Sui setelah menarik napas kasar.

"Keberuntungan? Aku pun hampir percaya hal yang sama. Tapi seseorang tak mungkin seberuntung itu."

"Dia jelas bukan pengembara biasa."

Xin Nian akhirnya berbalik. Ekspresinya mendadak semakin datar. "Setidaknya untuk saat ini, kita hanya bisa mengamati. Tinggalkan beberapa penjaga untuk berpatroli di sini. Wakil Komandan Feng, jangan coba-coba bertindak sembrono kalau tak mau tulangmu patah."

Feng Sui tiba-tiba merasakan bulu kuduknya meremang setelah mendengar ucapan Xin Nian.

"Ah, sial! Perasaan ini... suasana hatinya pasti buruk, bahkan lebih buruk dariku."

Feng Sui bahkan tak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia kesal karena sudah dipermalukan. Namun, ia bahkan tak berani membantah komandan perempuan itu ketika suasana hatinya sedang muram. Bisa-bisa ia dicekik sampai mati kalau melanggar perintah.

...

Setelah meninggalkan alun-alun, Wan Xuan tidak tahu bahwa kedatangannya telah diperhatikan seseorang dari kejauhan.

Di sisi lain Kota Linmeng, lautan membentang luas ke arah barat kota tersebut. Daerah itu tak terjangkau oleh tembok benteng yang kokoh. Akan tetapi, puluhan kapal perang raksasa berjejer membentang seperti para raksasa yang mampu menghalau gelombang laut.

Di sekitar dermaga itu juga terdapat beberapa perahu kecil yang tampak berlayar. Biasanya, perahu-perahu tersebut digunakan oleh para nelayan untuk menangkap ikan.

"Tuan Sen, kenapa kau datang lagi ke sini? Kau bilang akan pergi dalam waktu yang lama," kata seorang pemuda yang kini tengah memegang joran bambu di tangannya.

Di belakangnya, sosok yang tak asing tampak bersandar pada tiang layar perahu.

"Aku kembali karena masih ada sedikit urusan. Lagi pula, kau tak bisa hidup di tepi laut ini selamanya, bocah."

Sen Tian mendongak memandangi langit biru, kedua tangannya bersilang di depan dada. Namun, dari sorot matanya terpancar sesuatu yang berbeda. Mungkin bayangan masa depan suram yang tengah menanti.

"Hah? Apa lagi yang kau mau aku lakukan? Hidupku sudah cukup tenang walaupun begini-begini saja."

Sun Liang berkata dengan nada mengeluh. Helaan napasnya yang panjang membuatnya terlihat seperti pria tua lanjut usia yang tengah menunggu kematian.

"Hanya pekerjaan ringan, cukup untuk mewarnai hidupmu yang membosankan itu," kata Sen Tian dengan senyum miring.

Sun Liang menoleh dengan wajah aneh. Jelas bahwa ia tak percaya. Ia sudah cukup mengenal orang seperti apa Sen Tian ini.

Akhirnya, ia menghela napas pelan. Tak bisa menolak. Bahkan sekadar menunjukkan niat untuk menentang pun ia tak mampu.

"Katakan saja detailnya."

Sen Tian akhirnya kembali berdiri tegak dan melangkah ke tepi perahu.

"Hehe, kau tak perlu terlihat menyesal begitu. Ini terakhir kalinya aku meminta sesuatu darimu." ucapnya dengan tawa getir khasnya.

"Bocah yang dulu pernah kuceritakan padamu..." ia berhenti sejenak dengan tatapan serius.

"Dia sudah tiba di Kota Linmeng."

Mendengar itu Sun Liang akhirnya menoleh lagi.

"Jangan bilang bocah yang kamu maksud..."

Sen Tian hanya tersenyum.

"Jaga dia untukku sampai aku kembali."

“Tunggu—”

Namun, sebelum Sun Liang menyelesaikan ucapannya, sosok Sen Tian sudah menghilang dari atas perahu.

Sun Liang terdiam.

Ia menatap ke arah kota dengan ekspresi tak percaya. Lalu kembali menatap joran bambu pada genggamannya.

“Sebenarnya bocah macam apa yang membuatmu sampai repot-repot begini, Tuan Sen?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Turun Gunung Memikul Takdir   17. Bergerak dalam gelap

    Di tengah malam yang sunyi, cahaya bulan memancar redup, tak cukup kuat untuk melawan pekatnya kegelapan malam.Wan Xuan berdiri tegak di atas atap salah satu bangunan di pusat markas penjaga kota.Ia telah mengganti pakaiannya dengan seragam serba hitam. Wajahnya tertutup topeng kayu berukir yang menyerupai seekor musang.Setelah memastikan tak ada seorang pun yang memperhatikannya, ia tiba-tiba menghilang, seolah ditelan oleh kegelapan malam itu sendiri.Sementara itu, di tempat semula Wan Xuan tinggal sebagai tahanan rumahan, Sun Liang masih berbaring di pojok ruangan yang gelap—cukup gelap untuk menyembunyikan bentuk tubuh dan auranya.Tak lama kemudian, matanya terbuka dalam satu gerakan cepat. Ia menoleh ke arah tempat Wan Xuan biasa berbaring, namun tak menemukan siapa pun di sana.“Eh? Ke mana bajingan itu pergi?” tanya Sun Liang pada dirinya sendiri.Ekspresi wajahnya mulai menegang, bercampur antara kesal dan sedikit kepanikan.Ia segera mengerahkan indra spiritualnya, menya

  • Turun Gunung Memikul Takdir   16. Peringatan & Keluhan

    Sesaat kemudian, langkah ringan terdengar. Dari balik bayang-bayang di pojok ruangan, sosok Sun Liang muncul dengan senyum lebar terpasang di wajahnya.“Hmm-hmm... sudah kuduga. Tiba-tiba menyerahkan diri untuk ditahan—ternyata kau memang mengincar Komandan Xin.”Sun Liang menutup separuh mulutnya saat berbicara, sementara matanya melengkung seolah menahan tawa geli.Wan Xuan tak repot-repot menggubrisnya. Ia hanya ingin menanyakan satu hal.“Kau sendiri senang mengintip seorang pria. Sejak awal aku sudah curiga seleramu agak... menjijikkan.”Ucapan itu datar namun menohok, apalagi kata terakhir yang sengaja ia tekankan. Sun Liang tak menyangka pria sedingin Wan Xuan bisa melontarkan kalimat semacam itu.“Ka-kau—jangan sembarangan menilaiku begitu, sialan!” gerutu Sun Liang, wajahnya memerah menahan malu.“Kalau begitu, apa yang kau lakukan di sini?”Sun Liang berdeham pelan, memperbaiki posturnya hingga kembali tegap. Ia berlagak seolah-olah dirinya seorang petapa bijak yang penuh wi

  • Turun Gunung Memikul Takdir   15. Selamat Malam

    “Ba-bagaimana bisa...” Feng Sui menggeretakkan giginya, wajahnya bergantian antara merah dan pucat. “Kau benar-benar hanya menipuku selama ini?”“Anggap saja sebagai pelajaran,” jawab Wan Xuan datar. “Lain kali, pikirkan dulu sebelum menyerang orang yang tak kau kenal.”Feng Sui hendak membalas, namun Xin Nian buru-buru menahan bahunya.“Sudah cukup, Wakil Komandan Feng. Kembalilah beristirahat. Urusan ini biar aku yang tangani.”Feng Sui masih menatap tajam ke arah Wan Xuan, namun akhirnya ia mendecih dan berbalik pergi dengan langkah kaku, menyisakan tawa kecil dari beberapa penjaga yang menyaksikan dari kejauhan.Xin Nian menghela napas, lalu menoleh pada Wan Xuan.“Kau sengaja membuatnya panik seperti itu?”“Dia menyerangku duluan,” jawab Wan Xuan singkat. “Aku hanya membalas secukupnya.”Xin Nian tak membalas, hanya menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan sulit diartikan—campuran antara curiga dan sesuatu yang lain yang belum ia pahami sendiri....Malam itu, langit Kota Li

  • Turun Gunung Memikul Takdir   14. Tertipu

    “Sial, bawa pria itu keluar. Dia masih punya urusan denganku.”Feng Sui berusaha melanggar perintah bahwa tidak seorang pun boleh mengganggu proses interogasi.Wajahnya masih tampak pucat, bukan karena racun dalam tubuhnya, melainkan lebih karena ia merasa panik.Wan Xuan sebelumnya berkata telah menanamkan racun, namun racun itu bukan sejenis ramuan berbahaya, melainkan seutas Qi yang disisipkan ke dalam jantung layaknya parasit—sesuatu yang dapat dikendalikan, atau bahkan bisa meledak kapan saja.“Jangan menghalangiku,” hardik Feng Sui pada para penjaga yang menghalangi pintu masuk.“Ta-tapi Komandan melarang siapa pun masuk,” jawab salah seorang penjaga.Feng Sui mendecih kesal, kepanikan dalam dirinya semakin menjadi-jadi.“Orang itu sungguh keji. Bisa-bisanya dia mengancamku dengan racun. Nyeri menusuk di dadaku masih terasa, walaupun tak sesakit waktu itu. Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan penawarnya,” batin Feng Sui gelisah.Kegelisahan dalam dadanya hampir saja mendo

  • Turun Gunung Memikul Takdir   13. Introgasi

    Kedua tangan Wan Xuan segera diikat menggunakan tali khusus yang telah diperkuat Qi. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan.Beberapa penjaga mengelilinginya dari segala arah. Mereka masih menyimpan rasa takut setelah menyaksikan sendiri kekuatan pemuda itu, tetapi perintah Xin Nian membuat mereka tidak punya pilihan lain selain patuh.Feng Sui berjalan paling belakang sambil sesekali memegangi dadanya.Setiap kali rasa sakit itu kembali muncul, wajahnya berubah semakin muram.“Komandan Xin,” bisik salah seorang penjaga, “apa kita benar-benar akan membawa orang ini ke markas pusat?”Xin Nian melirik Wan Xuan sekilas.“Ya.”“Tapi... dia sangat kuat.”“Aku tahu.”Jawaban singkat itu membuat penjaga tersebut terdiam, tidak berani bertanya lebih jauh.Xin Nian sendiri masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sebelumnya, Wan Xuan mampu mengalahkan seluruh pasukan tanpa membunuh seorang pun. Jika benar-benar ingin melarikan diri, tidak ada alasan baginya untuk membia

  • Turun Gunung Memikul Takdir   12. Berubah Pikiran

    Feng Sui menatap Wan Xuan dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram dada, sementara napasnya menjadi semakin berat.“Ka-kau apakan tubuhku, sialan?”Wan Xuan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Feng Sui beberapa saat, kemudian berjalan mendekat.“Aku hanya menanam sedikit racun.”“Apa?!”Wajah Feng Sui berubah semakin buruk.Beberapa penjaga yang masih mampu berdiri langsung mengangkat pedang mereka. Namun, tak satu pun berani mendekat. Mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana mudahnya Wan Xuan menjatuhkan puluhan orang sekaligus.“Jangan panik,” ucap Wan Xuan datar. “Racun itu tidak akan membunuhmu.”“Tidak membunuhku?” Feng Sui hampir tertawa karena marah. “Kau memasukkan racun ke dalam tubuhku, lalu menyuruhku tidak panik?”“Jika kau tidak menggangguku, aku akan mengeluarkannya.”Feng Sui terdiam.Kalimat sederhana itu justru membuatnya semakin kesal. Namun, rasa sakit yang menjalar dari dadanya perlahan membuat kesombongannya runtuh.Di luar ia memang tampak baik-aik saja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status