MasukWan Xuan tak pergi terlalu jauh dari tempat itu. Ia hanya berbelok ke arah sebuah gang sempit yang minim cahaya.
Entah apa yang dipikirkan para penduduk kota, terutama Xin Nian yang masih berdiri di sana menatap kepergiannya, Wan Xuan tak terlalu peduli. Hanya tatapan tak terima Feng Sui yang masih mengobarkan amarah. Punggungnya mungkin masih nyeri, tetapi ia menolak mengakui kekalahan, apalagi terlihat lemah di hadapan bawahannya. "Wakil Komandan Feng, tahan dulu amarahmu. Dia bukan lawan yang bisa kau hadapi," kata Xin Nian. Feng Sui hanya mendengus kesal. Peringatan singkat itu sudah cukup menyadarkan akal sehatnya. Ia menunduk sedikit, lalu melirik lengan kirinya yang masih sedikit gemetar. "Apa yang perlu ditakutkan? Tadi itu mungkin hanya keberuntungannya saja. Siapa tahu dia adalah pembunuh yang selama ini berkeliaran di luar kota," kata Feng Sui setelah menarik napas kasar. "Keberuntungan? Aku pun hampir percaya hal yang sama. Tapi seseorang tak mungkin seberuntung itu." "Dia jelas bukan pengembara biasa." Xin Nian akhirnya berbalik. Ekspresinya mendadak semakin datar. "Setidaknya untuk saat ini, kita hanya bisa mengamati. Tinggalkan beberapa penjaga untuk berpatroli di sini. Wakil Komandan Feng, jangan coba-coba bertindak sembrono kalau tak mau tulangmu patah." Feng Sui tiba-tiba merasakan bulu kuduknya meremang setelah mendengar ucapan Xin Nian. "Ah, sial! Perasaan ini... suasana hatinya pasti buruk, bahkan lebih buruk dariku." Feng Sui bahkan tak tahu harus melakukan apa sekarang. Ia kesal karena sudah dipermalukan. Namun, ia bahkan tak berani membantah komandan perempuan itu ketika suasana hatinya sedang muram. Bisa-bisa ia dicekik sampai mati kalau melanggar perintah. ... Setelah meninggalkan alun-alun, Wan Xuan tidak tahu bahwa kedatangannya telah diperhatikan seseorang dari kejauhan. Di sisi lain Kota Linmeng, lautan membentang luas ke arah barat kota tersebut. Daerah itu tak terjangkau oleh tembok benteng yang kokoh. Akan tetapi, puluhan kapal perang raksasa berjejer membentang seperti para raksasa yang mampu menghalau gelombang laut. Di sekitar dermaga itu juga terdapat beberapa perahu kecil yang tampak berlayar. Biasanya, perahu-perahu tersebut digunakan oleh para nelayan untuk menangkap ikan. "Tuan Sen, kenapa kau datang lagi ke sini? Kau bilang akan pergi dalam waktu yang lama," kata seorang pemuda yang kini tengah memegang joran bambu di tangannya. Di belakangnya, sosok yang tak asing tampak bersandar pada tiang layar perahu. "Aku kembali karena masih ada sedikit urusan. Lagi pula, kau tak bisa hidup di tepi laut ini selamanya, bocah." Sen Tian mendongak memandangi langit biru, kedua tangannya bersilang di depan dada. Namun, dari sorot matanya terpancar sesuatu yang berbeda. Mungkin bayangan masa depan suram yang tengah menanti. "Hah? Apa lagi yang kau mau aku lakukan? Hidupku sudah cukup tenang walaupun begini-begini saja." Sun Liang berkata dengan nada mengeluh. Helaan napasnya yang panjang membuatnya terlihat seperti pria tua lanjut usia yang tengah menunggu kematian. "Hanya pekerjaan ringan, cukup untuk mewarnai hidupmu yang membosankan itu," kata Sen Tian dengan senyum miring. Sun Liang menoleh dengan wajah aneh. Jelas bahwa ia tak percaya. Ia sudah cukup mengenal orang seperti apa Sen Tian ini. Akhirnya, ia menghela napas pelan. Tak bisa menolak. Bahkan sekadar menunjukkan niat untuk menentang pun ia tak mampu. "Katakan saja detailnya." Sen Tian akhirnya kembali berdiri tegak dan melangkah ke tepi perahu. "Hehe, kau tak perlu terlihat menyesal begitu. Ini terakhir kalinya aku meminta sesuatu darimu." ucapnya dengan tawa getir khasnya. "Bocah yang dulu pernah kuceritakan padamu..." ia berhenti sejenak dengan tatapan serius. "Dia sudah tiba di Kota Linmeng." Mendengar itu Sun Liang akhirnya menoleh lagi. "Jangan bilang bocah yang kamu maksud..." Sen Tian hanya tersenyum. "Jaga dia untukku sampai aku kembali." “Tunggu—” Namun, sebelum Sun Liang menyelesaikan ucapannya, sosok Sen Tian sudah menghilang dari atas perahu. Sun Liang terdiam. Ia menatap ke arah kota dengan ekspresi tak percaya. Lalu kembali menatap joran bambu pada genggamannya. “Sebenarnya bocah macam apa yang membuatmu sampai repot-repot begini, Tuan Sen?”Beberapa hari kemudian, di kediaman Raja Kota Linmeng.Aula utama kediaman raja kota terasa begitu sunyi. Pilar-pilar besar menopang langit-langit yang dihiasi ukiran rumit, sementara karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke singgasana.Di atas singgasana tersebut, Meng Feiyun duduk dengan punggung tegak.Wajahnya tampak datar, tetapi sorot matanya menyimpan kemarahan yang sulit disembunyikan. Jari-jarinya mengetuk sandaran singgasana secara perlahan, menciptakan bunyi kecil yang justru membuat suasana aula terasa semakin menekan."Bodoh. Benar-benar bodoh."Suaranya tidak keras, tetapi setiap kata terdengar penuh tekanan.Di hadapannya, Hu Huan berdiri dengan kepala tertunduk. Pelayan pribadi itu berusaha mempertahankan sikap tenangnya, meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya.Meng Feiyun mengangkat pandangan."Mengurus satu orang saja mereka tidak becus. Untuk apa mereka menyebut diri sebagai serikat pembunuh terhebat di dunia bawah jika pekerjaan sesederhana
Pagi perlahan menyingsing di ufuk timur. Cahaya matahari menerobos sela-sela pegunungan, menyinari hutan yang masih diselimuti kabut tipis. Suara burung mulai terdengar dari kejauhan, seolah alam kembali menjalani kehidupannya setelah melewati malam yang penuh pertumpahan darah.Namun, suasana di sekitar kuil terbengkalai masih jauh dari kata damai.Api berkobar di antara reruntuhan bangunan tua, melahap kayu-kayu lapuk dan sisa-sisa benda yang berserakan. Asap hitam mengepul ke udara, membawa bau hangus yang bercampur dengan aroma darah. Beberapa saat lagi, kuil itu mungkin hanya akan menyisakan tumpukan abu dan bara yang perlahan mendingin.Sun Liang duduk bersandar pada sebatang pohon yang nyaris tumbang. Pakaiannya kusut, sementara wajahnya menunjukkan kelelahan setelah pertarungan panjang melawan para anggota Serikat Qianquicin.Ia mengangkat tangan untuk menutupi hidungnya ketika angin membawa bau tak sedap dari arah api."Ugh! Bau daging mereka benar-benar menjijikkan." Sun Lia
Bao Sinqing mulai kehilangan kesabarannya. Pertarungan yang berlangsung hampir satu jam itu sudah cukup menghiburnya, tetapi melihat Wan Xuan masih berusaha bertahan dalam keadaan terluka parah membuatnya merasa bosan. Baginya, pemuda itu sudah tidak memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.Ia bahkan tidak perlu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengakhiri pertarungan tersebut.Hanya membunuh bocah itu. Setengah dari kekuatanku sudah lebih dari cukup.Bao Sinqing mengangkat tongkat kayu hitam di tangannya. Kristal bulat yang tertanam di ujungnya memancarkan cahaya ungu redup, kemudian berdenyut semakin cepat ketika energi sihir mulai berkumpul.Di belakangnya, tengkorak arwah raksasa membuka rahangnya lebar-lebar. Asap ungu di sekelilingnya bergerak menuju rongga mulut, berkumpul menjadi gumpalan energi yang terus membesar. Dalam beberapa saat, sebuah bola sihir seukuran kepala kerbau telah terbentuk di antara kedua rahangnya.Permukaan bola itu berputar tidak beraturan, mem
Kehancuran yang ditinggalkan oleh serangan Sun Liang membuat suasana di sekitar kuil terbengkalai mendadak sunyi. Debu masih beterbangan di udara, sementara beberapa bongkahan batu yang terlepas dari dinding runtuh berguling di atas tanah. Para anggota Serikat Qianquicin yang tersisa menatap pemandangan tersebut dengan wajah pucat. Tak seorang pun menyangka bahwa pria yang mereka kejar sejak tadi ternyata menyimpan kekuatan mengerikan semacam itu.Sun Liang berdiri di tengah reruntuhan dengan kedua tangan menggantung di sisi tubuhnya. Ia melirik para pengejarnya, lalu menyeringai tipis."Heh! Rasakan itu, bedebah sialan. Kalian sendiri yang memojokkanku. Sekarang, terimalah akibatnya!"Meskipun berkata demikian, Sun Liang tidak langsung menyerang kembali. Ia hanya mengamati keadaan di sekelilingnya, memastikan tidak ada lawan yang berpura-pura tumbang untuk melancarkan serangan mendadak.Sejak awal, ia tidak pernah terbiasa meremehkan lawan, bahkan ketika menghadapi seseorang yang kek
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama."Hati-hati! Jangan biarkan dia menyerang dengan bebas!" seru pemimpin kelompok bertopeng.Ia rupanya tidak berniat membiarkan anak buahnya mengulangi kesalahan yang sama. Beberapa orang segera mundur untuk mengukur jarak, sementara yang lainnya menyebar membentuk formasi penyerbuan.Mereka tidak lagi menyerang secara sembarangan.Dua orang bergerak ke sisi kiri Sun Liang, tiga lainnya mengambil posisi di sebelah kanan, sedangkan sisanya menutup jalan keluar. Dengan susunan tersebut, setiap kali Sun Liang berusaha menghindari satu serangan, ia akan langsung berhadapan dengan serangan berikutnya.Sun Liang mengernyit.Orang-orang ini ternyata cukup pintar."Serang!"Mereka bergerak serempak.Bilah-bilah pedang berkelebat dari berbagai arah. Sun Liang menghindari dua tebasan pertama, kemudian memiringkan tubuh untuk melewati tusukan yang mengincar pinggangnya. Akan tetapi, gerakannya terhambat ketika seorang penyerang muncul dari belakang.Ia
Di sisi lain, Sun Liang bergegas memasuki kedalaman kuil terbengkalai yang terletak tak jauh dari tempat Wan Xuan bertarung melawan Bao Sinqing. Langkahnya melewati tumpukan batu runtuh dan pilar-pilar tua yang sebagian besar telah kehilangan bentuk aslinya. Debu beterbangan setiap kali kakinya menginjak lantai batu yang retak."Ya ampun... orang-orang bodoh ini benar-benar membuatku kesal setengah mati!"Ia melirik ke belakang sambil terus berlari. Wajahnya tampak jengkel, terutama ketika melihat para pengejarnya masih bertahan mengikuti dari belakang.Jarak mereka bahkan kurang dari sepuluh meter.Beberapa sosok bertopeng berlari dengan pedang terhunus, sedangkan yang lainnya bergerak melalui sisi bangunan yang runtuh untuk memotong jalur pelariannya. Mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Seolah-olah apa pun yang terjadi, mereka harus menangkap Sun Liang malam itu juga."Jangan biarkan dia memasuki kuil terlalu jauh! Cepat cegat dia!"Seruan salah satu sosok bertopeng







