LOGINSuasana di restoran yang tadinya panas mendadak mendingin oleh kehadiran Alvaro. Clarissa yang tadinya tampak seperti singa betina yang siap mencabik, seketika berubah. Ekspresi wajah yang ia tunjukkan pada Arini tadi berubah 180 derajat begitu matanya bertumbukan dengan manik mata tajam Alvaro.Clarissa langsung tersenyum manis, sebuah senyuman yang dipaksakan untuk terlihat manja dan tanpa dosa. Ia mengerjapkan matanya yang masih sedikit basah karena amarah, mencoba meraih lengan jas Alvaro yang terasa kaku."Kak Alvaro! Kok, Kakak bisa ada di sini? Ya ampun, aku kangen banget sama Kak Al!" seru Clarissa dengan nada suara yang melengking manja, seolah-olah ia tidak baru saja menyiram wajah seseorang dengan air es.Alvaro tidak bergeming. Ia masih berdiri tegak sebagai tameng di depan Arini, tangan kanannya masih mengepal kuat setelah menepis tangan Clarissa yang hendak mendaratkan tamparan."Hentikan sandiwara kamu. Jangan kira saya nggak tahu apa yang mau kamu perbuat pada istri sa
Air dingin yang bercampur dengan bongkahan es kecil itu menetes perlahan dari ujung rambut Arini, membasahi blus sutranya yang kini melekat dingin di kulit. Arini terkesiap hebat, napasnya sempat tertahan sejenak karena syok yang menghujam sarafnya secara mendadak di tengah ruang publik.Di balik tirai air yang memburamkan pandangannya, ia melihat seorang wanita muda berdiri dengan dada naik turun menahan murka yang meledak-ledak. Sosok itu tampak begitu asing namun memancarkan kebencian yang sangat personal, seolah Arini adalah musuh bebuyutan yang telah mencuri segalanya."Dasar janda nggak tahu diri! Berani-beraninya kamu menyeret Kak Alvaro ke hidupmu yang menjijikkan kayak gini!" teriak wanita itu dengan suara melengking.Maya yang duduk tepat di depan Arini seketika bangkit berdiri dengan wajah merah padam akibat amarah yang menyulut keberaniannya. "Heh! Apa-apaan kamu ini?! Datang-datang nggak punya sopan santun banget jadi orang!" bentak Maya sembari menunjuk wanita asing itu.
Langkah kaki Arini terhenti seketika di undakan tangga kantor catatan sipil yang nampak lengang pagi itu. Jantungnya sempat mencelos hebat, membayangkan sosok Sofia atau Tuan Besar Wijaya sudah berdiri di sana dan menghancurkan momen bahagianya.Namun, sosok yang berdiri tepat di samping mobil hitam milik Alvaro justru melambaikan tangan dengan penuh semangat. Cahaya matahari pagi membiaskan warna cerah dari gaun yang dikenakannya, memberikan kontras yang sangat kontras dengan ketegangan yang sempat Arini rasakan."Kejutan! Selamat ya buat kalian berdua!" seru seorang gadis dengan gaun floral yang sangat cerah.Arini membelalakkan matanya dengan tidak percaya, lalu napasnya yang sempat tertahan sesak kini keluar dengan perasaan lega. "Maya? Kamu ... kok kamu bisa tiba-tiba ada di sini, sih?" tanya Arini sembari mempercepat langkahnya.Yang datang ternyata adalah Maya. Gadis itu datang dengan senyum cerah yang merekah, jauh dari kesan intimidasi dingin yang sempat Arini takuti akan mun
Sinar matahari pagi yang menembus kaca mobil terasa hangat, namun tidak cukup hangat untuk mencairkan rasa penasaran yang sejak tadi menyelimuti benak Arini. Alvaro duduk di balik kemudi dengan ekspresi yang sangat sulit dibaca, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan irama yang tidak beraturan, seolah sedang menyembunyikan sebuah kegelisahan besar."Kak, kita sebenarnya mau ke mana, sih? Ini sudah lewat dari jalur menuju kantor Mahardika," tanya Arini sembari melirik arloji di pergelangan tangannya.Alvaro hanya menoleh sekilas, memberikan sebuah senyuman tipis yang justru membuat Arini semakin curiga. "Nanti kamu juga akan tahu sendiri, Rin. Nikmati aja perjalanannya.""Nggak bisa gitu dong, aku punya rapat jam sepuluh nanti dengan tim legal yang baru," protes Arini sembari membetulkan letak tas tangannya. "Kalau Kakak cuma mau ajak sarapan, kan bisa di dekat kantor aja."Alvaro tetap bungkam, ia membelokkan mobilnya memasuki sebuah kawasan perkantoran pemerintahan yang tampak cukup
Keheningan di ruang kerja rahasia itu perlahan pecah oleh suara gesekan kertas dan deru napas yang mulai teratur. Alvaro menarik napas panjang, seolah sedang menghirup sisa-sisa otoritas resminya untuk terakhir kali sebelum benar-benar melepaskan segalanya demi Arini.Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel ramping yang layarnya berpendar terang di tengah keremangan ruangan yang dingin tersebut. Alvaro menekan sebuah nomor di daftar kontak singkatnya, sebuah nomor khusus yang hanya ia hubungi untuk urusan yang sangat mendesak dan rahasia.Arini berdiri membeku di samping meja kaca, memperhatikan profil samping wajah Alvaro yang tampak sangat kaku dan tak tersentuh. Ia tahu betul siapa yang sedang dihubungi oleh pria itu; asisten senior kepercayaan yang selama ini menjadi tangan kanannya dalam membereskan segala sengketa hukum."Mulai detik ini juga, alihkan seluruh berkas legal Mahardika Group kepada tim eksternal yang sudah kupilih," perintah Alvaro tanpa basa-basi."Jangan ad
Suara Arini terdengar sedikit bergetar, mencerminkan gejolak batin antara rasa syukur karena dilindungi dan rasa terkejut atas fakta yang baru saja terungkap. Alvaro menghela napas panjang, ia menyadari bahwa tindakannya ini mungkin akan dianggap sebagai pelanggaran privasi bagi wanita semandiri Arini."Bukan mengawasi buat memata-matai setiap gerak-gerikmu kok, Rin. Tapi murni buat melindungi kamu dari hal-hal yang nggak diinginkan," sahut Alvaro lembut."Aku sering banget ada di ruangan ini pas malam hari, cuma buat memastikan nggak ada orang asing yang berani coba-coba mendekati pintumu," lanjut Alvaro lagi.Tak lama kemudian, Alvaro melangkah mendekati Arini yang masih terpaku menatap deretan monitor yang menampilkan setiap sudut strategis koridor apartemennya. Ia menatap wanita itu dengan sangat dalam, mencoba mencari reaksi kejujuran di balik keterdiaman Arini yang berlangsung cukup lama."Aku minta maaf ya kalau kamu merasa nggak nyaman sama keberadaan pintu penghubung ini, ata







