Share

Bab 6

Penulis: Adzlan Airey
last update Tanggal publikasi: 2026-02-13 14:43:06

Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan.

"Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih, hampir seperti anak kecil yang tersesat. "Bagaimana kalau nanti aku benar-benar hamil?"

Di seberangnya, Michelle yang sejak tadi berdiri sambil melipat tangan, akhirnya ikut menghela napas. Wajahnya yang biasanya tegas kini tampak dilema. "Aku juga tidak tahu," gumamnya pelan.

Tiba-tiba Audrey menegakkan tubuhnya, sehingga kursinya berdecit pelan. Matanya berbinar, seolah menemukan secercah harapan di tengah kepanikan.

"Kita beli obat pencegah kehamilan saja!"

Michelle langsung memijat pelipisnya, ekspresinya berubah antara kesal dan tidak percaya. "Dasar bodoh," desisnya. "Apa kau pikir itu masih berguna? Kau sudah melakukannya tiga hari yang lalu. Ingat! Tiga hari yang lalu."

Harapan di mata Audrey padam seketika. Bahunya kembali merosot. Ia bersandar lemas pada kursi, menatap kosong ke depan.

"Lalu... aku harus bagaimana?" tanyanya frustasi, suaranya nyaris pecah.

Michelle mendekat, lalu menepuk bahu Audrey. "Tenang," ujarnya, berusaha menenangkan meski dirinya sendiri belum sepenuhnya tenang. "Kau baru melakukannya sekali. Belum tentu langsung hamil."

Audrey menoleh cepat, matanya mencari kepastian di wajah managernya itu. "Benarkah?" bisiknya. "Jangan memberi harapan palsu padaku, Kak."

Michelle berdecak pelan. "Aish... Sudahlah. Kita pikirkan lagi nanti. Terlalu panik juga tidak akan mengubah apa pun."

Ia berbalik, mengambil sebuah map dari meja lain, lalu menyodorkannya pada Audrey, jelas sengaja mengalihkan topik.

"Ada tawaran iklan dari perusahaan besar."

Audrey menerimanya dengan ragu, alis berkerut tajam. "Perusahaan besar?"

"Ya." Michelle bersandar pada meja, menatapnya serius. "Perusahaan Alexander."

Audrey mencengkeram map itu lebih erat, seolah benda tersebut tiba-tiba menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya. Bukan hanya karena peluang besar di dalamnya, tetapi juga karena ia sadar hidupnya mungkin akan berubah ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.

Dan, di tengah kekacauan yang belum terselesaikan, tawaran itu terasa seperti pintu baru atau mungkin, masalah baru yang lebih besar.

"Perusahaan Alexander?" gumam Audrey.

Michelle menyilangkan tangan di dada, ekspresinya berubah penuh semangat seperti seorang manajer yang melihat peluang emas di depan mata.

"Perusahaan Alexander adalah perusahaan induk raksasa yang memiliki banyak anak perusahaan di berbagai bidang," jelasnya panjang lebar. "Mereka menguasai berbagai sektor ekonomi, dari properti, energi, hingga media. Pengaruhnya bukan hanya secara finansial, tapi juga politik."

Audrey menelan ludah. Map di tangannya terasa semakin berat. "Kedengarannya... menakutkan."

"Tapi," Michelle berhenti, lalu menatap Audrey dengan wajah serius, "ada rumor yang beredar mengatakan, Tuan Alexander itu sangat kejam dan tidak mengenal belas kasih."

Suasana ruangan mendadak terasa dingin.

"Dia tidak segan menghabisi siapa pun yang berani mengkhianatinya atau bahkan sekadar mengusiknya," lanjut Michelle.

Audrey langsung menegakkan punggungnya. "Be-benarkah?" suaranya bergetar, antara tidak percaya dan takut.

Michelle mengangguk mantap. "Ya. Tidak hanya itu." Ia merendahkan suaranya, seolah takut ada orang lain yang mendengarnya. "Tuan Alexander juga disebut sebagai ketua mafia yang ditakuti semua orang."

DEG!

Jantung Audrey seperti jatuh ke perutnya.

"Jadi... " Michelle menatapnya tajam, menekankan setiap kata, "Jangan sekali-kali kau menyinggungnya. Jangan membuatnya tidak senang. Orang seperti tuan Alexander, bukan tipe yang memberi kesempatan kedua."

Audrey refleks memeluk map itu ke dadanya, seolah ingin melindungi diri. "K-kalau begitu, tolak saja kerjaan ini!" serunya panik. "Aku tidak mau berurusan dengan orang berbahaya seperti itu!"

"Eh, tidak bisa begitu," potong Michelle cepat, hampir melonjak dari tempatnya. "Itu semua hanya rumor. Lagipula, meskipun dia menakutkan, bekerja sama dengannya adalah impian semua orang. Banyak perusahaan besar berebut kesempatan emas ini."

Ia menunjuk map di tangan Audrey. "Dan ini, secara khusus diberikan untukmu. Asisten pribadi Tuan Alexander yang menghubungiku langsung."

Audrey membelalakkan mata. "U-untukku? Kenapa aku?"

"Itu yang tidak aku mengerti. Banyak artis lain yang lebih berbakat, lebih populer darimu. Tapi, kenapa Tuan Alexander memilihmu?"

Audrey melebarkan kedua matanya. "Kak!" pekiknya. "Sebenarnya, kau berada di pihak siapa, hah? Kenapa dari tadi yang aku dengar aku justru terus meremehkan ku?" gerutu Audrey.

Michelle terkekeh pelan. "Maaf," ucapnya. "Aku hanya berusaha untuk berkata jujur."

"Kak Michelle!" teriak Audrey.

Michelle tertawa puas, karena berhasil menggoda Audrey. Tapi, sedetik kemudian ia menghela napas. "Tapi, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Kalau kau bisa memanfaatkannya, kariermu akan melonjak jauh."

Audrey menatap map itu lagi. Jari-jarinya gemetar di atas sampulnya.

"Peluang besar atau jebakan berbahaya?" batinnya.

"Kak!" bisiknya pelan, hampir tidak terdengar, "aku merasa... ini bukan sekadar tawaran iklan biasa."

Michelle terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya menenangkan. "Aku juga mempunyai firasat yang sama. Jadi, pikirkan baik-baik," ujar Michelle lembut, menepuk bahu Audrey sebelum kembali ke meja kerjanya. Ia membuka tablet dan mulai menelusuri jadwal dengan ekspresi profesional, seolah percakapan menegangkan barusan hanyalah bagian kecil dari rutinitas.

Sementara itu, Audrey menunduk menatap berkas di tangannya. Huruf-huruf di atas kertas tampak kabur, bukan karena tidak jelas, melainkan karena pikirannya dipenuhi rasa takut dan juga rasa penasaran yang besar.

"Nanti malam, kau harus menghadiri acara talk show," lanjut Michelle tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Artis lain yang hadir adalah Sovia."

Ia mencondongkan tubuh, menatap Audrey penuh arti. "Kau harus berhati-hati dengannya. Jangan sampai salah bicara karena acara itu disiarkan secara live."

Audrey mengangkat wajahnya perlahan. "Berhati-hati?"

"Ya," jawab Michelle tegas. "Dia terjun ke dunia entertainment lebih dulu darimu. Reputasinya tidak terlalu baik. Penuh kontroversi." Ia menghela napas pendek. "Dan, dia dikenal bermulut tajam. Jadi, jangan sampai kau terpancing ucapannya."

Audrey memijat pelipisnya, merasa kepalanya semakin berat.

"Kak... Aku masih bingung sekaligus takut kalau aku hamil," keluhnya putus asa. "Lalu, ada tawaran iklan dari orang mengerikan seperti Tuan Alexander dan sekarang? Sovia si mulut tajam." Ia menatap Michelle dengan wajah hampir menangis. "Kau ingin membuatku mati berdiri, ya?"

"Aish… bukan begitu." Michelle memutar bola matanya. "Soal kasus mu, itu salahmu sendiri."

Audrey langsung membuka mulut, siap membela diri. Namun, Michelle lebih cepat mengangkat tangan, menghentikannya.

"Tenang saja. Aku akan membantumu sampai akhir." Ia menatap Audrey dengan sorot tulus yang jarang terlihat. "Tentang tawaran iklan, itu kesempatan besar untuk kariermu. Dan soal Sovia, kau hanya perlu waspada."

Keheningan sesaat menyelimuti ruangan.

Audrey bersandar lemah di kursinya, menatap langit-langit seolah berharap jawaban jatuh dari sana. Ia menghela napas panjang, begitu panjang hingga dadanya terasa sesak.

"Kenapa nasibku malang sekali?" gumamnya lirih.

Michelle menatapnya, lalu tanpa sadar tersenyum tipis. "Bukan malang," ujarnya pelan. "Mungkin, hidupmu sedang bersiap berubah."

Audrey menoleh, bingung.

"Dan perubahan besar, selalu datang dengan cara yang tidak nyaman," lanjut Michelle.

Audrey kembali menatap berkas di tangannya. Nama besar, ancaman samar, dan masa depan yang belum pasti, bercampur menjadi satu.

Berbagai pertanyaan belum memiliki jawaban dan, nama seorang pria yang bahkan belum pernah ia temui, sudah cukup untuk membuat dunia terasa berbeda.

Ia merasa seolah sedang berdiri di persimpangan jalan, tanpa tahu langkah mana yang akan menyelamatkannya, dan mana yang justru akan menjerumuskannya lebih dalam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 55

    Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 54

    Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 53

    Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 52

    Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 51

    Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 50

    Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 7

    Siang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan. Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoa

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 5

    Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 4

    Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu

  • Wanita Kesayangan Tuan Leon    Bab 3

    Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status