เข้าสู่ระบบSiang akhirnya berganti malam yang gemerlap. Tepat pukul tujuh, mobil yang membawa Audrey dan Michelle berhenti di depan gedung stasiun televisi yang menjulang tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya lampu kota seperti lautan bintang buatan.
Audrey turun perlahan. Sepatu haknya menyentuh trotoar dengan bunyi pelan. Ia mendongak, menatap bangunan besar di hadapannya, lalu tanpa sadar merapatkan kedua tangannya ke lengan. "Kak!" Audrey mengusap tengkuknya pelan, bulu kuduknya berdiri. "Tiba-tiba, aku merasa merinding." Michelle berdecak pelan, meski sorot matanya tetap waspada. "Kau berlebihan." Ia meraih pergelangan tangan Audrey. "Ayo, kita masuk. Kita harus bersiap-siap." Pintu kaca otomatis terbuka, menyambut mereka dengan udara dingin dari pendingin ruangan dan hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang. Lampu-lampu terang, suara langkah cepat, serta panggilan staf yang sibuk membuat suasana terasa tegang sekaligus menyesakkan. Michelle menuntun Audrey menuju lift. Tanpa banyak bicara, mereka naik ke lantai delapan, tempat acara talk show akan disiarkan secara langsung. Begitu pintu lift terbuka, seorang staf langsung menghampiri dan mengarahkan mereka ke ruang persiapan yang telah disediakan. Ruangan itu dipenuhi cermin besar dengan lampu-lampu di sekelilingnya, meja penuh alat rias, serta beberapa orang yang sibuk bergerak cepat. Audrey duduk di kursi rias, menatap bayangannya sendiri di cermin, wajah cantik yang kini terlihat tegang dan pucat. Michelle berdiri di sampingnya, memberi arahan pada penata rias dan penata rambut dengan nada tegas namun profesional. "Lipstiknya jangan terlalu bold. Konsepnya elegan, bukan agresif," ujarnya. "Iya, kak," jawab sang make up artist. Audrey hanya diam, jemarinya saling menggenggam di pangkuan. Lalu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. TOK! TOK! TOK! Audrey menatap dari bayangan cermin saat melihat staff membuka pintu. "Lima belas menit lagi, Nona Audrey harus masuk ke studio," ucapnya sopan. Michelle mengangguk. "Baik." Pintu kembali tertutup, menyisakan keheningan singkat di tengah suara alat rias yang masih bergerak. Michelle menatap Audrey melalui pantulan cermin. "Ingat pesanku." Audrey mengangguk kecil, lalu, menelan ludahnya. "Iya, aku akan berusaha," lirihnya. Michelle melunak, lalu menepuk bahunya pelan. "Jangan takut. Kau tidak sendirian. Aku ada di sini." Audrey menatap dirinya di cermin sekali lagi. Gaun indah, riasan sempurna, rambut tertata elegan, semuanya tampak seperti tameng yang menutupi kekacauan di dalam hatinya. Di balik pintu sana, lampu studio sudah menyala. Kamera siap merekam. Dan, seseorang bernama Sovia sudah menunggu. Audrey menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. "Aku pasti bisa," batinnya. Baginya, malam ini bukan hanya tentang sebuah talk show. Tapi, awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang entah akan mengangkatnya atau justru menghancurkannya. *** Lampu studio yang semula redup mendadak berubah terang, menyilaukan mata. Udara terasa lebih dingin, namun telapak tangan Audrey justru berkeringat. Ia melangkah pelan ke arah sofa yang telah disiapkan, setiap langkahnya terasa kaku seolah lantai berubah menjadi es tipis yang bisa retak kapan saja. "Silakan duduk, Nona Audrey," ujar seorang staf dengan suara pelan. Audrey mengangguk dan duduk dengan hati-hati, lalu, ia merapikan gaunnya agar tidak terlihat gugup. Namun, baru saja ia mengangkat wajah, pandangannya bertemu dengan wanita di sebelahnya. Seorang wanita anggun dengan gaun merah gelap, rambut tertata sempurna, dengan riasan yang tajam. Wanita itu menatap Audrey sekilas, tatapan yang terasa seperti menilai dari ujung kepala hingga kaki lalu, tersenyum tipis. Bukan senyum ramah, melainkan senyum sinis yang membuat dada Audrey semakin sesak. Audrey mencoba tersenyum, menyapa. Tapi, Sovia justru melengos, mengalihkan pandangannya. Ia akhirnya menarik napas, kembali merasa canggung. Tapi, ekor matanya sesekali melirik Sovia dari atas kepala sampai ujung kaki. "Benar-benar pantas di juluki ratu kontroversi," batinnya. Audrey segera memalingkan pandangan, berusaha mengabaikan aura dingin yang terpancar dari wanita itu. Di sofa tunggal, Albert sebagai pembawa acara tampak fokus membaca cue card di tangannya. Wajahnya tenang, profesional, seolah tidak ada ketegangan apa pun di ruangan itu. Audrey menarik napas dalam-dalam, mengingat pesan Michelle. 'Ingat! Jangan terpancing. Jangan salah bicara.' Lalu, ia membenarkan duduknya, mencari posisi yang lebih nyaman Sampai, seorang Floor Director berdiri di balik kamera, mengangkat tangan memberi aba-aba. "Dalam hitungan ketiga, acara akan segera dimulai," ucapnya tegas. Jantung Audrey mulai berpacu. "Tiga... " Ia merapatkan jemarinya, berusaha menghentikan getaran yang ia rasakan. "Dua... " Lampu indikator kamera menyala merah. "Satu... Action!" Seketika, Albert mengangkat wajahnya, senyumnya mengembang sempurna, senyuman khas seorang profesional yang mampu menenangkan penonton. "Selamat malam, pemirsa di rumah," sapanya hangat menghadap kamera. "Senang sekali saya, Albert, dapat kembali menemani Anda dalam acara yang selalu menghadirkan kisah menarik dan bintang-bintang luar biasa." Ia menoleh ke arah Audrey dan Sovia secara bergantian. "Malam ini, kita kedatangan dua artis cantik yang tengah menjadi sorotan publik." Senyumnya sedikit melebar, seolah menikmati momen itu. "Yang pertama, seorang rising star yang kariernya melejit dalam waktu singkat, Nona Audrey Willys." Riuh tepuk tangan terdengar dari bangku penonton. Audrey dipersilakan melambaikan tangan ke kamera. Senyumnya terlihat manis, meski jantungnya hampir melompat keluar. "Dan yang kedua," lanjut Albert, dengan nada suara yang sedikit berubah, "seorang diva yang sudah lama menghiasi dunia hiburan dengan berbagai prestasi, Sovia." Tepuk tangan kembali terdengar saat Sovia tersenyum anggun ke arah kamera, berbeda jauh dari senyum sinis yang tadi ia tunjukkan pada Audrey. Albert menyilangkan jemarinya, menatap keduanya dengan sorot penuh rasa ingin tahu. "Wah, malam ini sepertinya akan sangat menarik." Audrey menelan ludah. Entah kenapa, kalimat itu terdengar seperti peringatan bukan sekadar pembuka acara.Beberapa jam sebelumnya...Pintu ruang rawat Audrey terbuka kasar. Leon melangkah masuk dengan wajah dingin, diikuti Andrew di belakangnya. Aura pria itu terasa begitu menekan hingga udara di ruangan mendadak terasa berat.Namun, langkah Leon tiba-tiba terhenti. Tatapannya menyapu ruangan itu tajam.Suasana di ruangan itu terasa sunyi.Di atas ranjang, seseorang berbaring dengan selimut menutupi tubuh hingga kepala. Rambut panjang terurai, terlihat sebagian saja.Leon menyipitkan matanya. Ada sesuatu yang terasa aneh."Audrey?" panggilnya rendah.Tidak ada jawaban.Leon berjalan mendekat perlahan. Dan, dalam satu tarikan kasar, ia menarik selimut itu dan melemparnya begitu saja.Andrew langsung membelalak."Dokter Grace?!"Wanita itu mengerjapkan matanya, berpura-pura baru saja tersadar dengan tangan yang memijat pelipisnya."Ada apa ini?" gumamnya lirih. "Di mana aku?" Grace melihat sekeliling, lalu tatapannya jatuh pada Leon yang menatapnya tajam.Grace tersentak. Dia buru-buru tur
Kafe di Jalan X tidak terlalu ramai siang itu.Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur suara pelan musik yang mengalun lembut. Namun, semua itu sama sekali tidak mampu menenangkan Audrey.Ia duduk di sudut ruangan, masih mengenakan jas putih milik Dokter Grace. Masker menutupi sebagian besar wajahnya, sementara rambutnya sengaja ia gerai untuk menyamarkan penampilannya.Tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Namun tetap saja, Audrey merasa seolah semua mata sedang mengawasinya.Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas meja. Jemarinya dingin dan sedikit gemetar. Sesekali ia menoleh ke arah pintu masuk dengan napas gelisah."Cepat, Kak Michelle," gumamnya lirih. "Aku tidak punya banyak waktu."Beberapa menit berlalu terasa begitu lama. Hingga akhirnya, pintu kafe terbuka saat seseorang masuk.Mata Audrey langsung mengenali wanita itu.Michelle. Namun, Audrey tidak langsung bergerak. Ia tetap diam di tempatnya, memperhatikan dengan waspada. Tatapannya mengikuti setiap langkah Mi
Malam itu, suasana di kediaman Leon terasa jauh dari kata tenang.Di sebuah ruangan luas yang gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu sudut, Leon duduk sendirian. Beberapa botol minuman berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih setengah terisi.Ia menggenggam satu botol di tangannya, meneguknya tanpa jeda.Wajahnya memerah, napasnya berat, namun tatapannya kosong.Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat kuat itu, tampak kacau."Dia sudah tahu semuanya," gumamnya.Suara Audrey kembali terngiang di kepalanya. Tentang siapa dirinya. Tentang darah yang menempel di tangannya. Tentang masa lalu yang ia kubur dalam-dalam. Dan, yang paling menyakitkan tentang kematian kedua orang tua Audrey dan anak mereka.Leon terdiam. Napasnya tertahan. Lalu, perlahan bayangan Reymond muncul di benaknya. Suara itu kembali menggema, menusuk tanpa ampun."Ka-kau mungkin berhasil membunuhku. Ta-tapi… kau juga kehilangan segalanya."Leon menggeram keras. Botol di tanganny
Leon kembali ke rumah sakit dengan langkah tenang, namun aura dingin masih menyelimuti dirinya. Di depan ruangan, dua anak buahnya berdiri berjaga. Saat melihatnya datang, keduanya langsung menunduk hormat."Pergi," ucap Leon singkat, tanpa menatap.Keduanya segera menegakkan tubuh, membungkuk sekali lagi, lalu pergi meninggalkan tempat itu.Suasana mendadak sunyi.Leon terdiam di depan pintu. Tangannya perlahan terangkat, menggenggam kenop pintu. Ia menarik napas dalam, seolah menekan sesuatu yang bergolak di dalam dadanya, sebelum akhirnya membuka pintu dan masuk.Di dalam ruangan, Audrey terbaring terdiam di atas ranjang. Tatapannya menoleh ke arah jendela, kosong, seolah pikirannya melayang jauh.Leon mendekat perlahan, lalu duduk di sisi ranjang."Bagaimana keadaanmu, sayang?" tanyanya pelan.Tidak ada jawaban. Audrey hanya diam.Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajah ke arah lain, menjauh dari Leon, seolah enggan bahkan sekadar menatapnya.Leon terdiam sesaat. Namun, ia t
Leon terdiam. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, urat-urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, napasnya memburu, namun, sekuat tenaga ia menahan emosinya agar tidak meledak di depan Audrey.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan sebelum akhirnya Leon mengalihkan pembicaraan."Tubuhmu masih lemah. Kata dokter, kau harus—""Aku ingin bercerai, Leon," potong Audrey tegas, menatap pria itu tanpa gentar.Leon terpaku. Sorot matanya bergetar sesaat, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar."Ja-jangan bercanda, Sayang.""Aku tidak bercanda!" seru Audrey dengan suara yang mulai bergetar menahan emosi. "Aku serius."Kepalan tangan Leon semakin erat. Emosi yang sedari tadi ia tahan perlahan mendidih di dalam dadanya. Namun, beberapa saat kemudian, ia menarik napas panjang, memaksa dirinya tetap tenang. Perlahan, jemarinya terbuka."Istirahatlah!" Suara Leon terdengar dingin dan datar.Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu
Sesampainya di rumah sakit, Audrey langsung dilarikan ke ruang gawat darurat. Pintu tertutup rapat, memisahkan dunia luar dari perjuangan hidup dan mati yang terjadi di dalamnya.Di luar, Leon Alexander berdiri diam. Wajahnya tampak tenang. Namun pikirannya kacau.Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia izinkan sebelumnya. Takut kehilangan.Tatapannya kosong menembus pintu, seolah berharap bisa melihat apa yang terjadi di balik sana. Bayangan Audrey yang terbaring lemah terus berputar di benaknya.Dan satu pikiran terus menghantuinya, jika sesuatu terjadi pada wanita itu, ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.Di dalam ruangan, para dokter bergerak cepat.Alat bantu pernapasan segera dipasang. Monitor berdetak tidak beraturan, menunjukkan kondisi yang kritis. Darah yang terus merembes membuat tim medis bersiap melakukan tindakan operasi.Namun, saat pemeriksaan lebih lanjut dilakukan, gerakan mereka perlahan melambat.Ekspresi wajah m
Audrey menjatuhkan kepalanya di atas lipatan tangan di meja, bahunya turun naik oleh helaan napas panjang yang terasa berat. Rambutnya yang sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya, seolah ia ingin bersembunyi dari kenyataan yang menakutkan."Aku harus bagaimana, Kak?" suaranya terdengar lirih
Di hari libur itu, Audrey memilih mengurung diri di kamar. Ia menghabiskan waktunya dengan tidur, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.Bukan karena lelah semata, melainkan ingin lari sejenak dari pikirannya yang kusut. Tubuhnya butuh istirahat, begitu juga jiwanya.Namun, tidur tidak pernah benar
Di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap, lampu gantung tua berayun pelan, memantulkan cahaya kekuningan yang redup dan tidak stabil. Bau karat bercampur darah mengental di udara.Seorang pria gemuk terikat pada kursi besi di tengah ruangan. Pergelangan tangannya membiru karena ikatan yang terlalu
Audrey tidak benar-benar pergi bekerja. Langkahnya justru membawanya ke apartemen Michelle. Kepalanya masih penuh, dadanya sesak, dan ia butuh seseorang yang bisa ia percaya, setidaknya untuk saat ini.Begitu pintu terbuka, Audrey langsung menerobos masuk tanpa berkata apa-apa. Michelle tertegun la







