Masuk“Bertahan, Vita! Jangan tidur! Aku mohon jangan tidur!”
Teriakan Dimas terdengar panik dan putus asa. Permohonan yang ditujukan pada Savita, pada Tuhan, dan pada dirinya sendiri.
Dia baru saja berhasil membaringkan Savita di kursi penumpang depan dan kini memacu mobilnya menembus jalanan malam seperti orang gila. Pedal gas diinjak hingga ke lantai. Dia mengabaikan lampu merah dan persimpangan sepi.
“Halo?! UGD?!
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca cerita ini. yuk ramaikan cerita aku yg lain. judulnya Istri Gadai Marquess Kejam. Dan ada satu lagi judulnya Kakak Tingkatku Ternyata Pangeran Berdarah Perak dengan genre fantasi dan Young Adult. Terima kasih yaaa. semoga kalian sehat selalu.
“Ivan! Kamu beneran mau naruh ide kampanye semulus ini di meja Direktur? Ini tuh terlalu kalem, nggak ada gigit-gigitnya! Kamu denger nggak sih?”Suara Alea melengking di tengah hiruk pikuk ruang divisi kreatif Arrazka Media. Gadis itu melemparkan map draf ke meja kerja Kaivan dengan bunyiplakyang cukup keras.Beberapa staf lain hanya melirik sekilas, sudah terbiasa melihat "anak magang" bernama Ivan itu menjadi sasaran empuk omelan Alea yang terkenal tanpa filter.Kaivan mengangkat kepalanya, membetulkan letak kacamatanya sambil tersenyum tenang.“Justru itu intinya, Al. Kita nggak perlu teriak-teriak buat narik perhatian audiens. Kadang, pesan yang disampaikan dengan lembut jauh lebih masuk ke hati daripada yang maksa.”Alea mendengus, ia menarik kursi di samping Kaivan dan duduk dengan gaya serampangan. “Lembut itu buat lagu n
“Selamat datang di rumah, Jagoan. Inggris beneran bikin kamu tambah tinggi ya?”Suara lembut Savita menyambut Kaivan tepat saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang tengah rumah besar keluarga Arrazka. Savita berdiri dengan anggun, mengenakan tunik sutra berwarna pastel.Wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa, meskipun garis-garis usia mulai terlihat halus di sudut matanya.Lima belas tahun telah berlalu sejak badai besar itu, dan Savita telah menjelma menjadi salah satu pemimpin media paling berpengaruh di negeri ini setelah berhasil mengambil alih dan melakukanrebrandingtotal Janardana Media Grup menjadi Arrazka Media.Kaivan tersenyum lebar. Diletakkan koper kabinnya dan langsung memeluk ibunya erat-erat. Tubuh Kaivan kini menjulang tinggi, melampaui tinggi Savita.“Kangen banget sama masakan Mama. Di sana cuma makan roti sama past
“Vita, kamu liat mawar putih yang baru mekar di pojok sana? Baunya enak banget, persis kayak parfum yang sering kamu pakai dulu.”Suara Dimas terdengar lembut saat berjalan perlahan di samping Savita menyusuri taman belakang rumah keluarga Arrazka.Sore itu, matahari tidak terlalu terik, sinarnya yang keemasan menyapu ribuan kelopak bunga yang sengaja ditanam oleh Ami dan Maia untuk merayakan kembalinya kehidupan di rumah ini.Taman yang dulu sempat terbengkalai kini berubah menjadi lautan warna-warni yang menyegarkan mata.Savita menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam.“Iya, Dim. Tante Ami pinter banget milih bibitnya. Aku nggak nyangka rumah ini bisa sehidup ini lagi. Dulu... tiap kali aku liat jendela, yang ada cuma bayangan tembok tinggi.”“Sekarang nggak ada lagi tembok yang ngurung kamu, Vita,” sahut Dimas.Pria itu berdiri tepat di hadapan Savita, menatapnya dengan binar mata yang tidak pernah berubah sejak pertama mereka bertemu. Penuh dengan ketulusan yang mu
“Maaf, Bu Gita. Berdasarkan verifikasi data di KUA dan catatan sipil, pernikahan Anda dengan Pak Mahendra Janardana dinyatakan tidak sah secara hukum. Anda tidak memiliki hak wali atas aset apa pun.”Suara Bastian terdengar datar di dalam ruang pertemuan kantor hukumnya. Gita, yang duduk di seberang meja dengan wajah pucat dan tanpa riasan, tampak seolah baru saja disambar petir.Dia tidak lagi mengenakan perhiasan mewah. Dia hanya mengenakan blus katun yang sudah mulai kusut dan tas yang sudah kusam.“Nggak mungkin! Kami punya buku nikah! Kami punya saksi!” teriak Gita.Suaranya melengking putus asa hingga memicu isak tangis bayinya di dalam kereta dorong.Bastian menyodorkan sebuah dokumen hasil investigasi forensik kepolisian.“Buku nikah itu dokumen palsu yang dipesan Mahendra. Saksi yang hadir saat itu orang bayaran,” ucap Bastian. “Mahendra sengaja melakukannya agar dia nggak perlu membagi sepeser pun hartanya jika suatu saat Anda menuntut cerai.”Gita merosot di kursinya. Air m
“Pa, lihat ke depan. Jangan nunduk lagi. Dunia harus lihat kalau Papa sudah bebas.”Suara Savita terdengar lembut saat menggandeng lengan Bagas Arrazka tepat di depan gerbang besar Lembaga Pemasyarakatan. Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah, seolah ikut merayakan keadilan yang akhirnya menemukan jalan pulang.Bagas, yang mengenakan kemeja katun rapi pemberian Savita, menghirup napas dalam-dalam. Matanya berkaca-kaca menatap hamparan aspal dan pepohonan di luar tembok penjara yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.“Rasanya kayak mimpi, Vita. Papa pikir Papa bakalan mati di dalam sana sebagai pecundang,” bisik Bagas, suaranya parau menahan haru.“Papa bukan pecundang. Papa itu pahlawan buat aku,” sahut Savita sambil mengeratkan gandengannya.Di belakang mereka, Bastian dan Bagus tersenyum lebar. Bastian baru saja menyelesaikan urusan administrasi pembebasan Bagas setelah Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali.Nama Bagas Arrazka resmi dibersihkan dari segala tuduhan
“Bagaimana kabarmu, Nak? Baik-baik saja, kan?” Suara Citra, Ibunya, membuat Savita menutup mata. Dihela napasnya pelan lalu tersenyum.“Baik, Ma,” balas Savita. “Aku lagi di sekolahan Kaivan.”“Loh, Kaivan bukannya ada mobil antar jemputnya dari sekolah kan, Vita?” terdengar suara heran dari Citra
"Kabar bahagia sekaligus mengejutkan datang dari artis papan atas, Gita Yosani!" suara ceria host acara gosip selebriti terdengar dari layar televisi.Savita duduk memandangi layar dengan tatapan kosong. Ditampilkan potongan video Gita beserta unggahan pernyataan resmi di laman pribadinya."Ya, ini
"Sebelumnya aku ingin minta maaf, Savita," ucap Gita pelan. Suaranya bergetar, seperti menahan tangis. "Aku tidak bermaksud menghancurkan pernikahan kalian."Gita melangkah mendekat membuat Savita otomatis menegang, matanya waspada. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gita. "Aku cuma butuh s
"Dia hamil anakku," lanjut Mahendra pelan.Jantung Savita seolah berhenti berdetak, lalu kembali berdebar tak karuan. ‘Semua jelas sekarang,’ pikirnya. Walau begitu, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya bibirnya yang bergerak pelan. Dadanya terasa sesak sekali bagaikan terhimpit batu.







