LOGIN"Tentu saja, kalau sekadar ucapan terima kasih basa-basi, aku nggak masalah.""Terima kasih sudah membantu, Nona Anne!"Anne memiringkan kepala menatap Arlo. Pria ini benar-benar aneh, sama sekali tidak berpura-pura menjadi pria sopan hanya karena status dan kecantikannya.Mungkin karena sudah terlalu sering melihat orang munafik, Anne malah merasa pria yang tidak banyak omong kosong seperti ini lebih bisa dipercaya daripada yang penuh basa-basi palsu.Arlo malas menebak pikiran sang putri, dia langsung berkata terus terang, "Baik, seperti yang sebelumnya, kamu bisa melepas pakaianmu."Wajah cantik Anne langsung memerah. Iris bahkan membelalakkan mata. 'Ya Tuhan, apa yang dikatakan pria ini?'"Ke kamar saja!" kata Anne pelan, lalu berjalan lebih dulu ke arah kamar.Iris terpaku.Arlo terlihat tidak sabar, dia berdiri lalu mengikuti ke kamar. Seperti perawatan sebelumnya, Anne sekali lagi memperlihatkan tubuh indahnya tanpa penutup di depan pria Doraia itu.Awalnya dia tidak merasa sema
Hotel bintang lima Wyndham Cadillac, suite presidensial.Anne mengenakan setelan rok biru yang rapi, berdiri di depan jendela kaca besar sambil memegang secangkir kopi dan memandang ke luar. Di belakangnya, berdiri beberapa pria paruh baya berjas rapi dengan aura elite yang sangat terasa.Setelah saling bertukar pandang, salah satu pria botak memecah keheningan."Yang Mulia Anne, identitas Anda tidak hanya mewakili diri sendiri. Bagaimana bisa Anda terang-terangan mendukung pengobatan tradisional di depan kamera?""Apakah Anda sudah memikirkan konsekuensinya?"Anne perlahan berbalik. Di wajah cantiknya tersirat sedikit kesombongan, nada bicaranya menyiratkan ejekan, "Arvin Miles, kamu sedang mempertanyakan aku?"Pria botak itu bernama Arvin Miles, kepala wilayah Doraia untuk perusahaan farmasi di bawah Konsorsium Miles, sekaligus salah satu anggota Keluarga Miles. Dia mengernyit, tapi tetap meminta maaf, "Anda tahu sendiri, saya tidak bermaksud lancang.""Tapi sebagai anggota keluarga
"Mau bertarung sama aku sih nggak masalah. Aku ini pria sejati yang berjuang sedikit demi sedikit, aku berani menerima tantangan. Tapi, tetap harus ada batasnya."Kali ini Zaem mengangguk setuju. Hanya saja, kalau Tuan Muda Keluarga Sinaga meninggal, bukankah Keluarga Sinaga akan jadi gila?Arlo benar-benar tidak tahu takut.....Katanya hanya interogasi, tapi begitu Reza masuk ke tenda militer, dia langsung dilempar ke sebuah ruang interogasi dan tidak ada yang menghiraukannya lagi.Pintu ruang interogasi tertutup, ruangan itu hanya ada satu jendela. Dari sana, dia bisa melihat orang-orang berlalu-lalang.Awalnya, Reza masih cukup tenang. Namun setelah semalam penuh berlalu, dia mulai tidak bisa menahan diri.Pagi hari, matanya sudah dipenuhi urat merah. Dia tidak tahan lagi dan mulai mengetuk jendela, tapi tidak ada yang peduli. Dia hanya bisa berdiri di depan jendela, memperhatikan orang-orang yang lewat. Tak lama kemudian, dia melihat dua tentara menyeret Daniel lewat.Beberapa saa
"Aku ikut kalian!" Reza bangkit dari tanah dengan wajah bengkak dan babak belur.Ekspresi Saleh memang terlihat buruk, tapi dia tidak menghalangi. Dia hanya menatap Zaem dengan makna tersembunyi. "Karena Ketua mau menanyakan kami, nggak ada alasan bagi kami untuk nggak pergi! Tapi, Ketua juga nggak mewakili hukum!"Zaem mendecakkan bibir. "Tentu saja. Pak Saleh tenang saja. Kalau melanggar hukum, biar hukum yang memutuskan. Kalau nggak, tentu akan dipulangkan. Ketua nggak akan merendahkan diri dengan hukuman pribadi!"Saleh akhirnya tidak berkata apa-apa lagi, dia menyingkir dan membiarkan mereka membawa pergi Reza.Arlo berjalan sampai ke pintu, lalu menoleh sambil menyeringai, "Tenang saja, aku juga nggak akan main hakim sendiri. Aku cuma akan mengirim sampah yang pantas mati kembali ke planet sampah!""???"Zaem langsung menyeret Arlo pergi dengan cepat. Bahkan Saleh yang sangat berpengalaman saja wajahnya sampai berubah pucat karena marah.Melihat kondisi itu, Bondan mendecakkan bi
Reza melepaskan kepalan tangannya. Melawan seorang grandmaster tenaga transformasi? Dia belum punya nyali sebesar itu."Takut ya? Kalau takut, ngapain sok jagoan begitu?" Sudut bibir Arlo melengkung turun.Wajah Reza langsung merah padam. Dia menatap Arlo dengan marah. "Kamu datang ke sini cuma buat mempermalukanku?""Aku perlu datang jauh-jauh buat mempermalukanmu? Kamu terlalu percaya diri!" Arlo tertawa, lalu tiba-tiba maju. Tangannya terangkat, tamparan beruntun langsung mendarat di wajah Reza, dari kiri dan kanan tanpa ampun.Tubuh Reza berputar di tempat, darah menyembur dari hidung dan mulut, lalu dia jatuh terduduk dengan keras ke lantai."Berhenti! Negara punya hukum. Walaupun kamu grandmaster tenaga transformasi, bukan berarti kamu boleh seenaknya bertindak di rumahku!" Tatapan Saleh dipenuhi niat membunuh yang dingin saat menatap Arlo.Arlo mengibaskan tangannya, seolah-olah bukan memukul orang, tetapi menepuk kotoran. "Kamu seharusnya bersyukur masih ada hukum di negara dan
Reza menatap layar dengan wajah pucat, melihat Arlo di video dengan penuh percaya diri berkata "silakan maju".Dadanya naik turun dengan hebat. Setelah menarik napas dalam beberapa kali, barulah dia tidak sampai pingsan karena marah.Ini ... ejekan untuknya? Rencana yang dia susun dengan begitu matang sekarang hancur total. Memalukan!Dia, seorang pewaris keluarga besar bernilai puluhan triliun, dibesarkan dengan penuh harapan, malah kalah dari orang biasa?Matanya semakin merah, penuh niat membunuh. Dia menatap layar saat Daniel ditangkap pihak militer dan perusahaan farmasinya disegel, sementara Arlo dielu-elukan seperti pahlawan dan meninggalkan lokasi.Amarah membuatnya seperti terbakar. Detik berikutnya, dia kehilangan kendali dan melempar ponselnya ke televisi. Layar televisi pun pecah berkeping-keping, seperti harga dirinya.Saleh akhirnya juga tidak lagi tenang seperti biasanya. Dia tahu hati anaknya sudah kacau. Tanpa berkata apa-apa, dia mengeluarkan ponsel dan mulai menghubu
Mereka membahas tentang putranya, Chairil, yang setelah lulus kuliah kembali ke Kota Naldern. Beberapa hari lalu, Chairil mengalami patah kaki. Kini, dia sedang dirawat di rumah sakit.Saat SMA, Arlo dan Chairil sangat akrab. Setelah masuk kuliah pun mereka tetap sering berhubungan.Sampai kejadian
"Serang!"Entah siapa yang berteriak, seketika belasan pria bertubuh kekar membawa pentungan langsung menerjang ke depan. Namun, seketika mereka menyadari bahwa ini adalah pembantaian sepihak!Arlo benar-benar seperti algojo tak berperasaan! Tidak, lebih seperti iblis yang keluar dari neraka!Di man
Di atas meja kantor, Arlo duduk dengan memancarkan senyum tipis yang penuh ejekan. Sementara itu, Pardus sudah mati sepenuhnya.Para pengawal dan preman yang biasanya ganas, sekarang semuanya berlutut berbaris dengan kepala menunduk.Ketika Donny kembali, para preman itu bahkan merasa muncul secerca
Arlo menatap Reno dengan senyuman tipis. "Kamu mengakui kamu kalah?"Ekspresi Reno kaku sejenak. Kemudian, dia mengaku dengan sangat tegas. "Ya. Sulit dibayangkan, hanya mengandalkan akupunktur dan obat racikanmu sendiri, kamu bisa mencapai efek seperti itu!""Jangankan aku, di dunia ini nggak ada s






