Compartir

131

Autor: Naomiliana
last update Fecha de publicación: 2026-05-30 19:20:05

“Silakan anda tanyakan Yang Mulia.”

“Darimana kau belajar cara mengikat simpul perban itu?”

“Maksud anda perban pada Putra Mahkota?”

“Benar.”

“Nona kami yang mengajarinya, Yang Mulia.”

“Apakah mungkin dia putri dari Permaisuri Li?”

Deg…

Lian Wei terdiam.

Dengan tenang ia menjawab, “Nona kami hanya gadis biasa tanpa status bangsawan apapun. Hamba bertemu dengan Nona Xinxin merupakan sebuah takdir. Lalu mengenai simpul pada perban itu, seseorang mengajari Nona Xinxin saat beliau masih kecil, Yang
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   158

    Setelahnya Lian Wei keluar dengan membawa beberapa kantong. Tianzhi yang duduk di pojok dekat jendela segera menghampirinya dan mengambil barang bawaannya. Kemudian mereka berjalan-jalan di pasar, Lian Wei juga membeli beberapa makanan ringan. Mingmei dan Anming juga membantu membawakan barang belanjaan Lian Wei. Setelah puas berbelanja mereka segera kembali ke istana. Matahari mulai tenggelam ketika kereta yang ditumpangi Lian Wei meninggalkan pasar. Jalan menuju Kekaisaran Xu cukup ramai pada siang hari, tetapi menjelang senja hanya sedikit pedagang yang masih melintas. Kekaisaran Xu termasuk kedalam kerajaan yang jarang muncul kejahatan. Sehingga rakyat merasa aman saat keluar malam. Penjagaan di malam hari juga tidak terlalu banyak namun sangat ketat di luar gerbang kota dan perbatasan. Di dalam kereta, Lian Wei sedang memeriksa buku catatan penjualan dari usaha di Kekaisaran Shang. “Sepertinya perjalanan kali ini cukup menguntungkan, putri,” ujar Mingmei yang duduk di hada

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   157

    “Oh? Lalu siapa targetnya?” tanyanya. Untuk sesaat, Lien Hua terdiam. Wajah Lian Wei muncul dalam benaknya. Wajah yang selalu mendapatkan perhatian. Wajah yang selalu membuat orang-orang memujinya dan yang paling ia benci, wajah yang kini semakin dekat dengan Wang Xuemin. Jari-jari tangan Lien Hua perlahan mengepal sampai kukunya menancap di telapak tangannya. “Lian Wei.” Ruangan menjadi sunyi. Pria bertopeng mengangkat alis. “Gadis itu? Kudengar dia cukup terkenal akhir-akhir ini.” “Terkenal karena mengundang bos Xinxin itu kan bos?” ucap gadis berbaju hitam di belakangnya. “Aku tidak peduli,” ucapnya lalu Lien Hua meletakkan sebuah kantong emas di atas meja. Tak… Suara logam di dalamnya membuat beberapa pembunuh menoleh. “Separuh sekarang. Separuhnya lagi setelah dia mati.” Pria bertopeng membuka kantong itu dan memeriksa isinya. Senyumnya melebar, “Murah hati sekali.” “Aku tidak ingin kegagalan.” “Kami tidak pernah menjanjikan kesempurnaan,” ucapnya menyandarkan tub

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   156

    ”Ah tuan Liu, senang bertemu anda disini, tapi apa yang anda lakukan di tengah hutan ini? Disini adalah daerah rawan perampok,” ucap Yuting seorang pelayan perempuan di Toko Perhiasan Xinxin. “Harusnya aku yang bertanya nona.”“Ah kalau aku sedang dalam perjalanan pulang tuan,” ucapnya seraya melihat kearah lain. “Ah! Maafkan saya Yang Mulia, saya terlambat menyapa anda,” ucapnya pada Xiuhuan dengan sedikit membungkuk. “Hah… apa semua pelayan dari toko Xinxin seperti ini? Sikap mereka mengingatkanku pada Lian'er,” ucapnya asal. ‘Nona?’ batin Yuting bingung.“Sekarang saya akan pergi, tuan-tuan dan Putra Mahkota apakah hendak mampir sejenak? Ku lihat kudanya sangat letih.”“Ah iya kami menempuh perjalanan panjang untuk menjemput Pangeran Liu dan segera kesini,” ucap Jianying.“Kalau begitu mari ikuti saya,” ajak Yuting.Yuting tidak membawa mereka ke markasnya tapi dia membawanya ke sebuah rumah yang berada di tengah hutan.‘Seharusnya, tidak apa-apa bukan? Ini kan markas lama kita

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   155

    “Maksudmu?” “Tidak sesederhana itu, kurasa ada hubungannya dengan masa lalu mereka?” Wang Xuemin masih setia mendengarkan. “Aku baru tahu Kekaisaran Xu yang netral ini pernah hampir membuat peperangan dengan Kekaisaran Shang. Lalu Kekaisaran Song begitu sangat bermusuhan dengan Kekaisaran Shang. Menurutmu bagaimana, bukankah terlalu aneh?” “Jadi apa penyebab yang memungkinkan?” “Mungkin ibuku?” ucapnya tidak terlalu yakin. “Mendiang Permaisuri Li? Apa hubungannya dengan ibumu?” “Iya, ibuku sangat cantik. Mungkin saja mereka saling berebutan.” Wang Xuemin menaikan satu alisnya. “Tiga kaisar agung berebut memetik bunga yang paling indah di bawah langit, sementara dunia menjadi saksi pertarungan cinta yang mengguncang sembilan negeri,” ucap Lian Wei terlihat hiperbola dengan menyatukan kedua telapak tangannya dan di bawa ke samping tubuhnya. Wang Xuemin menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. “Kau terlalu sakit hingga kepalamu rusak.” Wang Xuemin menjentikkan jarinya

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   154

    “Apa kau tahu tentang Kekaisaran Song?” Wang Xuemin hanya diam tidak berkutik, ia memandangi Lian Wei yang juga menatapnya dengan penuh tanya dan harap. “Tentu.” “Bisa kau ceritakan padaku?” “Tentu tapi tidak disini.” “Ah kalau begitu ayo kita kembali saja, agar kau bisa memberitahuku,” seakan mengerti keadaannya, Lian Wei hendak mengajak Wang Xuemin kembali agar dia tahu tentang kekaisaran musuh ini. “Baiklah kita kembali siang nanti. Aku pergi dulu, aku belum menyapa kaisar,” ucap Wang Xuemin dengan mengelus puncak kepala Lian Wei. Wang Xuemin berjalan meninggalkan Lian Wei yang diam membeku, hingga suara pintu tertutup menyadarkan Lian Wei. Blam… “Bagaimana mungkin dia belum menyapa kaisar dan memilih mencariku lebih dulu?” gumam Lian Wei. Wang Xuemin memasuki singgasana Kaisar Xu, ia memberi salam dan berbincang sedikit tak lupa juga ia meminta izin untuk membawa Lian Wei kembali. “Sebaiknya anda pikirkan kembali keponakan Wang, kondisi Lian Wei masih jauh dari ka

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   153

    “Memangnya aku ini siapa bagimu, Lian Wei?” Pertanyaan itu membuat dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang jarang ditunjukkan Wang Xuemin kepada orang lain. Bukan kemarahan. Bukan kekecewaan. Melainkan kekhawatiran. Wang Xuemin menghela napas panjang sebelum melanjutkan. “Aku mengirim barang ke kediamanmu dan mendapat kabar kau sudah pergi.” “Saat itu aku berpikir mungkin kau hanya keluar sebentar. Namun satu hari berlalu, lalu dua hari.” Lian Wei terdiam. Suara pria itu semakin rendah. “Aku mengirim orang mencarimu ke berbagai tempat. Setiap laporan yang datang bukan membuatku tenang, justru membuatku semakin gelisah.” Jemarinya menggenggam tangan Lian Wei erat. Wang Xuemin menatapnya lekat, begitupun dengan Lian Wei yang menatap mata Wang Xuemin. “Kau tahu apa yang paling kutakutkan?” Lian Wei menggeleng pelan. “Aku takut sesuatu terjadi padamu saat aku tidak ada di sisimu.” Mata Lian Wei sedikit membesar. “Aku takut kau terluka. Takut kau

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status