LOGIN‘Suara yang akrab dan hangat ini…’ batin Lian Wei. ‘Xuemin menungguku bangun,’ Lian Wei menyadari suara hangat Xuemin. Masih menutup mata, suara di sekitar masuk ke telinganya. Tetapi matanya tidak bisa bergerak. ‘Aku sangat merindukannya, aku ingin kembali. Bagaimana cara untuk kembali?’ batin Lian Wei. Perlahan Lian Wei yang asli dan Fang Yin menghilang. Bukan menghilang melainkan menyatu dalam dirinya, tidak ada lagi yang asli dan yang palsu. Hanya ada satu orang, Lian Wei yang dikenal semua orang. Tak lama cahaya putih yang bersinar terang menyelimuti Lian Wei atau kita kenal sebagai Xinxin. Kesadaran Lian Wei kembali ke tubuhnya. Kelopak matanya mulai mengedip, jemari lentiknya perlahan bergerak. Semua orang di sana sangat menantikan Lian Wei bangun sangat berharap Lian Wei menunjukkan hasil yang positif. Wang Xuemin masih setia menunggu Lian Wei bangun, disaat semua orang sudah terlelap hanya dia satu-satunya yang masih terjaga."Lian'er bangunlah."Lian Wei membuka kedua
“Berhenti apa yang akan kau lakukan pada putriku?” cegah Li Jiazhen.“Jika Yang Mulia Kaisar tidak ingin melihat tuan meninggal, lebih baik anda diam saja. Serahkan tugas ini pada orang lebih berpengalaman.”Tegas.Hari ini entah mengapa sikap Lu Lixin begitu berbeda dari biasanya.Belum sempat Li Jiazhen menjawab sudah ditahan oleh Hong Li Song.“Biarkan dia mencoba, bagaimana dia di ajari oleh putri kita. Tidak mungkin akan salah, kau tidak ingat sehebat apa orang miliknya?”Mingmei masih mengulurkan tangannya dengan suntikan di tangannya. Lu Lixin menerimanya dengan ragu, namun ia teringat dengan perkataan Lian Wei. ‘Jika seseorang mengalami kejang saat kau sudah mengikuti semua prosedur ini, kau tidak boleh panik. Ambil pil penenang dan berikan padanya. Cek nadinya kembali, lalu cek kelopak matanya. Jika masih mengalami kejang. Ambil cairan nomor delapan dan suntikan pada lengannya.’‘Apa kau sudah mengerti Lu Lixin?’‘Sudah tuan, aku akan mengingatnya.’Ingatan itu seakan berput
Sementara itu, Hong Tiong Wai membawa pasukannya menyisir bagian barat.Ia menemukan beberapa prajurit yang mencoba melarikan diri dengan melepas zirah mereka dan mengganti pakaian."Berhenti!"Mereka berbalik.Salah seorang langsung berlari, Hong Tiong Wai mencabut pedangnya.Sret!Ia melemparkan pedangnya ke tanah tepat di depan kaki pria itu. Pria tersebut tersandung dan jatuh."Jangan membuatku mengejar kalian."Para prajurit segera mengepung mereka. Hong Tiong Wai berjalan mendekat."Kalian pikir dengan melepas zirah, aku tidak akan mengenali kalian?"Tidak ada yang menjawab."Kalian semua pernah berada di bawah komando Hong Li Hao.""Kami hanya menjalankan perintah," ucap salah seorang pria menggertakkan gigi."Kalau begitu, kalian akan menjelaskan semua perintah yang kalian jalankan."Hong Tiong Wai memberi isyarat, "Ikat mereka."Para prajurit segera menangkap mereka. Namun ketika hendak pergi, Xiuhuan melihat seorang pria yang terus menundukkan kepalanya, tatapannya mencuriga
Wang Xuemin masih ingat saat tubuh Lian Wei terbaring di atas tandu darurat. Darah masih membasahi bagian samping zirahnya. Seorang tabib wanita Lu Lixin berlutut di sisinya, berusaha menghentikan pendarahan dengan kain yang terus berubah warna menjadi merah.Namun yang paling membuat Wang Xuemin gelisah bukan hanya luka itu. Lian Wei belum juga membuka mata. Wang Xuemin mengusap wajahnya kasar, memandang Lian Wei masih tertidur di ranjangnya."Lian'er..."Wang Xuemin duduk di samping ranjangnya dan menggenggam erat tangan Lian Wei, jari-jari gadis itu terasa dingin."Sudah cukup lama," gumamnya.Tabib yang sedang memeriksa lukanya menundukkan kepala."Yang Mulia, luka tuan cukup dalam. Tuan kehilangan darah yang cukup banyak. Tuan mungkin… membutuhkan waktu untuk sadar.""Waktu?" Wang Xuemin menatap Lu Lixin itu tajam."Berapa lama?"Lu Lixin terdiam sesaat."Kami tidak dapat memastikan."Jawaban itu membuat dada Wang Xuemin semakin sesak. Ia kembali menatap wajah Lian Wei.Biasanya
Segera ia membalurkan obat herbal yang sudah di tumbuknya. Setelah selesai ia menutup luka Lian Wei dan memakaikan baju ganti. Ia mengecek nadi Lian Wei. "Ini gawat"Segera ia berlari keluar membuat mereka yang menunggu dengan sabar panik. "Lixin ada apa?" panik Xuemin. "Apa yang terjadi pada putriku Lixin?" tanya Jiazhen yang sudah kembali dari medan perang. Hong Li Song mengambil alih pasukan milik Hong Li Hao dan membunuh semua jendral yang setia pada Li Hao. "Eh itu—""Ayah tenanglah biarkan Lixin bekerja lebih dulu" bela Xiuhuan yang di angguki oleh Lixin. "Yelu! Peralatan itu! Cepat!""Peralatan? Apakah yang kau maksud adalah benda terlarang itu?""Iya cepat!""Tapi tuan berkata, kita tidak boleh menggunakannya""Yelu! Tuan sekarat! Cepatlah! Saat tuan bangun nanti, kita akan mengambil hukuman darinya" ucap Lixin meyakinkan Yelu. "Yelu keselamatan tuan lebih penting" ucap Mingmei. "Uhk... Baiklah" pasrah Yelu dan segera pergi mencari barang terlarang itu. "Mingmei bantu
"Ugh!”Tubuh Hong Li Hao terhuyung. Tangannya refleks memegang gagang anak panah. Darah mulai merembes dari balik zirahnya.Kabut perlahan menipis.Namun sebelum Hong Li Hao sempat memahami apa yang terjadi, sebuah bayangan telah melesat dari atas.Lian Wei.Ia telah melompat tinggi ke udara. Pedangnya kembali berada di tangannya, tatapannya dingin.‘Semuanya berakhir disini.’Tubuhnya turun dengan cepat.Pedangnya diarahkan tepat ke dada Hong Li Hao.Sret!Jleb!Suara pedang menembus sesuatu terdengar jelas.Untuk sesaat, seluruh medan perang seakan membeku."Lian'er!" Pekikan Wang Xuemin terdengar dari kejauhan."Lian'er!" Li Jiazhen juga berteriak."Xin'er!" Hong Li Song dan Hong Tiong Wai berteriak hampir bersamaan.Mata Wang Xuemin membelalak. Ia melihat dua sosok berdiri di tengah kabut yang mulai menghilang. Namun ada sesuatu yang salah.Lian Wei tidak bergerak.Hong Li Hao juga tidak bergerak.Wang Xuemin langsung berlari sekuat tenaga."Lian Wei!"Ia menerobos beberapa prajur
"Kau!"'Apa sampah ini mengingatnya?' batin Lien Hua itu takut.'Ah tidak, mereka tahunya aku hilang ingatan. Baiklah mari kita biarkan dia bersenang-senang dahulu,' batin Xinxin. Ia merasakan seseorang memeluknya dari samping.'Orang ini Li Jianying, orang yang selalu ada bagi pemilik tubuh ini dan
Plak!Suara tamparan keras menggema di dalam ruangan.Kepala Li Lian Wei terhempas ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, disusul denyutan tajam di kepala.“Oh? Kukira kau sudah mati di danau itu.”Suara dingin penuh ejekan terdengar.Gadis yang berdiri angkuh itu adalah Li Lien Hua, putri kedu
Bahkan ia saja mungkin tidak bisa menghentikan laju serangannya, namun gadis di depannya menghentikannya tepat waktu. Semua orang kembali tercengang dengan kejadian itu. Lian Wei menurunkan kakinya, segera Jingmi terjatuh lemas."Kau beruntung aku tidak menendang kepalamu, jika aku benar-benar menen
Satu kata sudah dapat memprediksi secara keseluruhan. Tubuh ini lemah dan jelek, tentu saja itu karena racun. Ia harus mengeluarkan racun ini dalam tubuhnya. Ia mengambil cermin yang terbuat dari perunggu, ia terkejut betapa jeleknya dia saat ini."Ini pasti ulah para rubah itu, aku yakin jika tubuh







