Share

64

Author: Naomiliana
last update publish date: 2026-05-05 22:46:42

“Ini…?”

Lian Wei membeku memandang lurus pada lukisan di depannya.

“Ini aku?”

Lukisan itu adalah potret Xinxin sebagai Komandan Militer yang baru menerima gelar. Sangat mirip dengan Lian Wei, yang berbeda hanya auranya saja.

“Dua jiwa yang tidak menyatu.”

Lian Wei membaca kalimat di bawahnya dan ia juga menggenggam gelang merah yang berbentuk seperti benang takdir.

“Sebenarnya apa yang terjadi?”

Terdengar suara keributan dari luar paviliun, Lian Wei segera merapikan lukisan itu. Ia juga memaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   82

    “Cara bicaramu… terdengar seolah kau sangat mengenal Xinxin. Katakan padaku, ada hubungan apa kau dengannya?”Kaisar mulai curiga.Deg…Untuk pertama kalinya pagi itu, jemari Lian Wei berhenti bergerak.Hanya sesaat.Namun cukup untuk ditangkap oleh Kaisar, tatapan Kaisar langsung menajam tipis. Lian Wei segera menunduk mengambil bidak catur yang jatuh.“Aku hanya menebak.”“Benarkah?”Hening.Entah kenapa, udara mendadak terasa jauh lebih dingin. Lalu Kaisar tiba-tiba tersenyum samar, namun senyum itu tidak mencapai matanya.“Kalau begitu…” Kaisar berdiri perlahan dari tempat duduknya.“Kita lihat saja…” langkahnya berhenti sebentar di samping Lian Wei, “…apakah tebakanmu benar.”“Ayah, untuk seseorang yang misterius seperti Xinxin ini, baginya selain keamanan apalagi yang dia butuhkan? Tentara dia memilikinya sendiri, menguasai sektor perdagangan, bahkan mengambil alih jalur perdagangan. Mungkin saja, dia bisa membangun kerajaannya sendiri.”Kaisar terdiam di tempat dia berdiri.“Ta

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   81

    “Putri, Kaisar memanggil anda di Paviliun Matahari.”Seorang pelayan datang menghampiri Lian Wei yang sedang menyiram tanaman.“Baiklah.”Lian Wei meletakkan peralatannya lalu segera pergi menemui Kaisar. Sesampainya di Paviliun Matahari ia melihat ayahnya sedang bermain catur sendirian.Tidak ada pejabat. Tidak ada pengawal berlebihan.Hanya dua cangkir teh panas di antara mereka.‘Ini adalah hari yang panjang,’ pikir Lian Wei.”Kalian tunggu disini,” ucapnya pada Mingmei dan Anming.Lian Wei menghampiri ayahnya dan memberi hormat.“Ayah memanggilku?”“Duduk.”Lian Wei duduk di depan Kaisar yang masih berpikir akan diletakkan dimana bidak catur putihnya.Permainan sudah disusun setengah jalan dan hanya sekali lihat ia langsung sadar. Posisi bidak hitam sedang terpojok.“Kau bermain yang hitam,”Kaisar mendorong kotak bidak ke arahnya.Lian Wei terdiam sebentar sebelum mengambil satu bidak.Tak…Satu langkah sederhana, namun mata Kaisar langsung berubah karena langkah itu tidak menye

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   80

    Xiuhuan membeku dan untuk pertama kalinya ia sadar. Bukan musuh istana yang paling melukai orang-orang disekitarnya, melainkan dirinya sendiri.“Aku…”“Kakak aku tidak tahu kau ada trauma masa lalu apa? Tapi yang inginku katakan adalah kau harus tahu siapa harus menjadi prioritasmu.”Lian Wei membuka selimutnya lalu dibantu oleh Xiuhuan untuk berdiri.“Sekarang, kakak yang ikut aku.”Lian Wei berjalan menuju rak buku dan mengambil kunci yang tergantung. Lalu mereka pergi dari Paviliun Sakura. Tanpa bertanya Xiuhuan mengikuti Lian Wei, bahkan ia melarang pengawal dan pelayan mengikuti mereka.Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, Xiuhuan yang takut adiknya kenapa-kenapa segera membalutnya dengan jubahnya. Dia juga merangkul pundak Lian Wei.Hingga tibalah mereka di suatu tempat yang sangat dihindari Xiuhuan.Paviliun Mawar.“Ayo masuk,” ajak Lian Wei.Melihat kakaknya hanya berdiam diri, Lian Wei menggandeng tangan kakaknya untuk masuk.Ceklek…Suara kunci gembok terbuka, segera mere

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   79

    “Aku tidak melakukannya.”“Jelaskan padaku Putri Wang,” Wang Xuemin menekan kata Putri Wang.Lian Wei menarik napas dan menghembuskannya.“Kau tahu aku pernah jatuh ke danau itu sebelumnyakan?”“Ya aku tahu.”“Aku kehilangan beberapa ingatanku.”Wang Xuemin tidak menyela ia hanya terus mendengarkan.“Saat di danau tadi ingatanku tiba-tiba memasuki kepalaku, aku tidak tahan dengan rasa sakitnya. Tanpa sadar aku jatuh ke danau.”“Lalu kenapa kau tidak berusaha berenang kembali ke permukaan? Kau sangat lama di bawah sana.”“Kau tidak tahu rasa menyesakan itu, rasanya seperti aku memilih mati saja daripada terus menahannya.”“Lalu sekarang? Kau masih merasa sakit? Apa ingatanmu sudah kembali?”“Wah… Pangeran Wang, tidak bisakah kau menanyakan satu per satu?”Lian Wei meletakkan cangkir teh di tangannya.“Sekarang sudah tidak sakit lagi, lalu ingatanku sudah kembali.”‘Lebih tepatnya jiwa kami sudah menyatu.’“Syukurlah kalau kau tidak apa-apa.” Wang Xuemin menghela napas lega.“Kudengar

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   78

    “Kak Yongsheng, aku jalan keluar paviliun dulu sebentar ya, aku bosan disini tidak ada putri.”“Baiklah, jangan terlalu jauh.”“Baik.”Saat Minghao sedang peregangan badan ia melihat Wang Xuemin menggendong Lian Wei, terlihat baju keduanya yang basah, karena air menetes dari bajunya dan membasahi jalan.“Pangeran Wang dan putri? Kenapa bajunya basah?” Minghao berpikir.“Lalu kenapa arah datangnya seperti dari danau?” Minghao masih mencerna.“Ah… Mi-mingmei!” panggil Minghao.Minghao segera berbalik badan dengan panik.“Mingmei!” Minghao berlari kedalam.Karena Mingmei tidak mendengar segera ia masuk ke dalam dan mencarinya.“Ada apa?” tanya Yongsheng yang di hiraukan oleh Minghao.“Mingmei cepat siapkan air hangat untuk pangeran dan putri!”“Ada apa?”“Pangeran dan putri jatuh ke danau, cepat!”“Apa maksudmu?”“Sudah cepat!”Sementara Minghao menyuruh pelayan menyiapkan pakaian ganti untuk Wang Xuemin, ia sendiri pergi ke dapur untuk menyeduh teh.Begitu melihat Wang Xuemin di depan p

  • Yang Mulia, Berhentilah Mengejarku!   77

    Danau yang gelap dan tenang mendadak bergetar. Ia melihat seseorang berenang ke bawah berusaha untuk menyelamatkannya.‘Dia?’Lian Wei mengenali sosok itu, namun bukan berusaha menghampirinya, ia malah sengaja menjatuhkan tubuhnya lebih dalam.Rambut panjang Lian Wei melayang di dalam air dan tubuhnya terus jatuh tenggelam semakin dalam.Dadanya sesak.Namun rasa sakit di kepalanya perlahan berubah menjadi keheningan aneh. Ingatan yang selama ini terasa seperti milik dua orang berbeda, mulai tersusun rapi satu per satu.Bukan lagi Xinxin.Bukan lagi Lian Wei.Melainkan dirinya sendiri.Ia akhirnya memahami kenapa ia selalu merasa asing pada hidupnya sendiri.Kenapa ia memiliki kebiasaan yang bahkan tidak dipelajari Xinxin, namun dipelajari oleh Lian Wei. Kenapa Lian Wei takut pada suara tembakan yang bahkan tidak ada di dunia ini, tapi sangat khas di telinga Xinxin.Kenapa ia terus merasa seolah ada lubang kosong di dalam dirinya. Selama ini ia terus memisahkan dirinya.Menganggap Xin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status