LOGINLian Wei dan Wang Xuemin beserta rombongannya bergegas menuju Kekaisaran Wu. Mereka tidak melewati Kekaisaran Shang. Tetapi mereka melewati jalur yang lain. Karena lebih dekat jika memotong jalur dibandingkan harus melewati Kekaisaran Shang. Lian Wei memandang keluar jendela, jalur yang asing baginya.“Kenapa kita lewat sini?”“Jalur memotong, ku yakin kau tak ingin ketahuan oleh keluargamu bukan?”Lian Wei masih tidak mengerti.“Jika kita memotong jalur akan lebih cepat sampai.”“Kenapa aku tidak tahu ada jalur ini? kapan jalur ini dibuat?”“Hmm… beberapa tahun lalu, aku tidak ingat kapan ini selesainya.”Di Benua Jiuzhou, posisi setiap kerajaan dan kekaisaran membentuk keseimbangan yang rumit selama ratusan tahun.Di bagian tengah berdiri Kekaisaran Shang, sebuah kerajaan yang berada tepat di jantung daratan. Letaknya yang strategis membuat kekaisaran ini menjadi penghubung bagi hampir seluruh jalur perdagangan dan perjalanan antarnegara. Para pedagang yang ingin menuju utara, sel
Xu Kai berlutut di depan peti, biasanya ia selalu bertengkar dengan Lian Wei. Namun kini aula itu begitu sunyi, tidak ada suara hangat yang selalu mengajaknya berdebat. Tidak ada lagi senyum manis yang terukir, hanya mampu menjadi kenangan. Kali ini, ia sadar kepergian Lian Wei Kali ini, bukan sekedar hanya kematian palsu. Namun juga kepergian selamanya dari hidupnya. Ia sadar sampai kapanpun ia tidak bisa memiliki Lian Wei. Ia tertawa kecil sambil menunduk. “Kau benar-benar menyebalkan.” Tidak ada yang menjawab. “Aku masih belum sempat mengalahkanmu dalam adu mulut.” Tangannya mengepal. “Jadi jangan mati.” Kalimat itu membuat para pelayan di sekitar menitikkan air mata. Setelahnya Wang Xuemin mengatur pemberangkatan mereka kembali. Langit pagi diselimuti awan kelabu ketika gerbang utama Kekaisaran Xu perlahan dibuka. Suara terompet duka menggema panjang. Di depan iring-iringan, puluhan pengawal berkuda mengenakan pita putih di lengan mereka. Bendera berkabung berkibar pel
Pergerakan mereka membolongi peti mati itu terhenti. “Kau tidak harus masuk kedalam,” ucap Wang Xuemin. “Benar, kau bisa menyelinap pergi dan membiarkan peti ini tetap kosong,” sahut Xu Kai. “Tunggu disini,” ucap Wang Xuemin lalu pergi dari sana untuk mengambil jubah. Keheningan terjadi antara mereka, rasa canggung diantara mereka sangat kentara. Setelah pengakuan itu mereka belum berbicara lagi. “Perkataan ku kemarin berlaku selamanya, jika kau membutuhkan aku… aku akan datang.” ‘Sebisa mungkin hal itu tidak akan terjadi,’ batin Lian Wei. Bukan jawaban yang datang namun hanya senyuman lembut. Wang Xuemin datang dengan jubah hitamnya. Kemudian ia memakaikan jubah itu pada Lian Wei. “Sudah, di luar aman. Kita bisa pergi sekarang tanpa ketahuan.” Setelah mengatakan itu Wang Xuemin dan Lian Wei segera pergi dari sana. Meninggalkan Xu Kai yang harus membereskan hal ini. Sementara Xu Kai mengunci peti matinya, Wang Xuemin dan Lian Wei berjalan mengendap-endap menuju kediaman Wan
“Yang Mulia... Putri Wang telah meninggal.” Suasana berubah kacau. Tangisan para pelayan pecah. Beberapa pejabat yang menunggu di luar tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Sementara Xu Kai hanya terduduk mematung. Meskipun ia mengetahui rencana ini sejak awal, mendengar kalimat itu tetap membuat dadanya terasa sesak. Sedangkan Wang Xuemin ia tetap berdiri disisi Lian Wei. Diam. Tangannya perlahan menggenggam jemari perempuan itu yang sudah dingin. Tak seorangpun melihat jemarinya yang sedikit gemetar. ‘Ini hanya sandiwara, namun rasa takut dan sedih ini begitu nyata,’ ucapnya dalam hati. Tes… Air matanya jatuh. “Gawat, tiga kekaisaran akan berperang karena kematian sang putri.” Semua orang meninggalkan kediaman Lian Wei dan mulai mempersiapkan acara pemakaman untuk Lian Wei. Mingmei memandikan dan mendandani ‘jasad’ Lian Wei. “Kau berbohong padaku putri.” Mingmei kembali menangis saat selesai mempersiapkan Lian Wei. Tabib Luo masuk kedalam. “Nona Mingmei, putri
“Bawa aku ke Kekaisaran Wu.” “Dengan senang hati permaisuriku,” ucap Wang Xuemin. “Kalau begitu aku antar kau kembali, sekalian akan kuberikan pilnya.” “Baiklah.” “Xu Kai, jangan sampai satu helai rambutnya rontok,” ancam Wang Xuemin. “Kau tenang saja.” Setelahnya mereka kembali, di perjalanan kembali mereka mampir ke rumah tabib pribadi Xu Kai. “Ini, ingat jangan terlalu banyak dimakan.” “Baiklah aku mengerti.” “Lian Wei…” panggilnya ragu. “Hmm?” “Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu?” “Ya aku sudah yakin.” “Kudengar ketiga kakakmu sedang dalam perjalanan kesini.” “Benar.” “Kau tidak ingin bertemu dengan mereka?” “Ada hal yang lebih penting dan harus dilakukan demi mencapai satu tujuan dibandingkan dengan bertemu tapi hanya terjebak dimasa lalu.” “Aku mengerti, ayo kuantar kembali.” Mereka berjalan dengan keheningan, hujan sudah reda. Menyisakan udara dingin yang menusuk tulang. Xu Kai melepas jubahnya dan memakaikannya pada Lian Wei. Lian Wei menoleh pada Xu Kai
“Orang yang anda cari sebenarnya adalah Putri dari mendiang Permaisuri Liu.” Tak… Cangkir teh diletakan dengan kencang, orang itu berdiri dan menghampiri anak buahnya. “Apa Yang barusan kau katakan?” “Putri Li adalah anak kandung Mendiang Permaisuri.” “Nona… akhirnya aku menemukan anakmu.” “Tidak heran dia mengenakan kalung liontin milikmu,” ucap pria itu lalu mengeluarkan liontin yang sama dengan yang di pakai oleh Lian Wei. “Cepat segera beritahu semua orang tahu semua orang untuk berkumpul.” “Baik tuan!” Xu Kai pergi ke kediaman Lian Wei untuk mencari Wang Xuemin. Ia menerima laporan Wang Xuemin tidak ada di kediamannya sejak pagi buta. “Wang Xuemin, aku perlu bicara denganmu,” ucap Xu Kai tiba-tiba masuk. Terlihat Wang Xuemin sedang merawat Lian Wei dengan hati-hati. “Apa yang terjadi padanya?” Belum sempat Wang Xuemin menjawab, hidung tajam Xu Kai mencium aroma obat. “Embun Fajar.” Deg… “Kalian baru saja mengobatinya? Bagaimana hasilnya? Kenapa tidak ada memberita







