로그인Corentine menoleh kepadanya. Dari wajahnya ia tampak sudah memikirkan hal itu. “Kemungkinan besar dia sudah meninggalkan ibu kota.” Anehnya, Tyron tampak kecewa, seolah ia berharap bisa membekuk sendiri pentolan pemberontak itu. “Apakah kita akan mengejarnya, Yang Mulia?” Corentine menggeleng. “Pasukan Putra Mahkota akan melakukannya.” Corentine mengambil sebuah dokumen dari atas meja. Alize menduga itu adalah dokumen perjanjian Duke de Mably dengan Putra Mahkota. “Untuk saat ini, kewenangan penangkapan berada di tangan Putra Mahkota. Reagan melakukan kekacauan di ibu kota, wilayah yang berada di bawah tanggung jawabnya.” Dengan agak tidak puas, Tyron bertanya. “Tetapi jika dia kembali ke wilayah Montveraine...“ “Jika mereka mengacau lagi di perbatasan, pasukan kita akan bergerak,” sahut Corentine cepat. Corentine meletakkan dokumen itu kembali. “Reagan tidak akan mudah ditangkap. Dia tahu kapan harus mundur.” Alize memandangi meja kerja di hadapannya. Reag
Di persimpangan jalan utama, kereta kuda Duke de Mably akhirnya berpisah jalan dengan rombongan pasukan Putra Mahkota. Enam pemberontak yang berhasil ditangkap dibawa menuju kediaman Putra Mahkota untuk diinterogasi. Karena mereka tertangkap setelah melakukan kekacauan di wilayah ibu kota, kewenangan penanganan sementara berada di tangan sang Putra Mahkota. Seharusnya Corentine ikut mengiringi rombongan itu. Ia adalah saksi langsung atas kejadian tersebut. Laporannya akan membantu menjelaskan bagaimana Reagan berhasil menyusup ke ibu kota, mengapa keenam anak buahnya mencegat kereta Alize, dan bagaimana pemimpin pemberontak itu bisa melarikan diri. Namun Corentine hanya berdiri di samping kereta, memandangi rombongan yang semakin menjauh. “Aku akan mengantarmu pulang lebih dahulu,” katanya kepada Alize. Alize yang berada di dalam kereta menoleh. “Bagaimana dengan laporanmu?” “Kapten pengawalnya bisa menyampaikannya untuk sementara.” Corentine mengangkat pandangan k
“Jauhi kereta itu, Reagan!” Suara Corentine menggema di sepanjang jalan. Alize menahan napas. Di luar, suasana yang semula riuh mendadak berubah tegang. Reagan tidak menjawab selama beberapa detik. Kemudian terdengar tawanya. “Yang Mulia Duke.” Nada suaranya tetap ringan. “Anda datang sendirian?” Perlahan Alize bergerak ke dekat ke jendela dan mengintip. Ia melihat suaminya, dengan Tyron di belakangnya. Seperti dugaannya, ekspresi Corentine terlihat tenang. Namun dari cara suara derap kuda berhenti tepat di depan kereta, Alize tahu Corentine memang tidak datang untuk berbicara. “Jangan banyak bicara, Reagan.” Reagan terkekeh. “Jangan sok berani, Duke.” Alize mengeratkan jemarinya. “Anda bisa melihat sendiri jumlah kami.” Salah seorang anak buah Reagan ikut tertawa. “Enam orang melawan dua orang. Bahkan seorang Duke tidak sebodoh itu.” Alize langsung menyadari sesuatu.Corentine memang sendirian. Ia datang terlalu cepat. Mungkin bahkan tanpa sempa
Alize menatap Countess Rouchet dengan saksama. “Di mana tepatnya Sir Reagan bersembunyi?” Countess Rouchet menurunkan pandangannya pada cangkir teh di tangannya. Jemarinya kembali bergerak gelisah di sepanjang gagang porselen. “Di suatu tempat, ” jawabnya pelan. “Masih di dalam wilayah kerajaan.” Alize tidak langsung bereaksi. Ada sesuatu yang mengganjal dari pengakuan wanita itu. “Kalau Anda mengetahui keberadaannya sejak awal, mengapa Anda tidak melaporkannya?” Countess Rouchet mengangkat wajah. “Karena saya takut.” “Takut kepada Reagan?” Wanita itu menggeleng. “Takut kepada semua orang.” Alize terdiam. Countess Rouchet meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Jika saya melaporkan keberadaannya, keluarga saya mungkin akan dianggap berkhianat oleh pihaknya. Tetapi jika saya terus diam, saya bisa dituduh membantu pemberontak oleh kerajaan.” Ia menarik napas panjang. “Saya sudah menyadari bahwa cepat atau lambat, nama saya akan terseret.” Alize memaham
Corentine baru saja kembali menjelang sore. Sejak pagi ia berada di wilayah pertanian keluarga de Mably, memeriksa pagar-pagar yang membatasi lahan mereka dengan perkebunan milik bangsawan tetangga. Hujan beberapa hari terakhir membuat sebagian tanah menjadi lunak, dan di beberapa titik pagar kayu mulai miring karena tergerus air. Seharusnya setelah perjalanan sepanjang hari, ia langsung beristirahat. Namun begitu turun dari kudanya, Corentine hanya menyerahkan sarung tangan berkudanya kepada seorang pelayan dan berjalan menuju ruang kerjanya. Ada beberapa laporan yang harus ia periksa. Baru saja ia membuka pintu, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor. “Yang Mulia!” Corentine menoleh. Tyron muncul dengan napas sedikit terengah. Wajahnya jauh lebih serius daripada biasanya. Corentine langsung berhenti. “Apa yang terjadi?” Tyron segera mendekat. “Informan kita mengirim kabar.” Nada suaranya membuat Corentine meletakkan laporan yang baru s
Alize masih menatap surat di tangannya. Nama Countess Rouchet tercetak jelas di bagian bawah. Ia tidak mengenal wanita itu secara pribadi. Namun nama keluarganya tidak asing. Rouchet. Ia memang pernah mendengar bahwa keluarga itu memiliki hubungan pernikahan dengan keluarga Sir Reagan. Alize kembali membaca kalimat terakhir. “Saya memiliki beberapa informasi mengenai Sir Reagan.” Jarinya berhenti di atas kertas. Informasi tentang pemimpin pemberontak tidak mungkin dianggap sepele. Terlebih lagi, orang yang mengirim surat itu adalah seseorang yang berada cukup dekat dengan Sir Reagan. Hal itulah yang memungkinkan dirinya memiliki informasi. Alize melipat surat tersebut perlahan. “Aku harus pergi,” ujarnya. “Aku tak bisa menunggu sampai jamuan teh minggu depan. Greta yang sedang menuangkan teh untuknya langsung menoleh. “Pergi ke mana, Yang Mulia?” “Rumah Countess Rouchet.” Greta tampak terkejut. “Yang Mulia. Anda tidak bermaksud pergi diam-diam, kan?”
Kereta kuda bersimbol beruang perak dan mahkota melintasi pasar diiringi sepuluh pengawal berkuda yang berpencar rapi di sekelilingnya. Hal itu cukup menarik perhatian orang-orang, tetapi Alize tidak peduli. Benaknya penuh dengan isi percakapan dengan Larry dan Edith Hicks. Sebelum ia masuk keret
“Lady Gwen,” suara Corentine terdengar tenang dari ambang pintu, “tampaknya kau terlalu sering mengatur istriku.” Ruangan langsung hening sesaat. Lady Gwen tampak sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang membuat Alize berjalan mondar-mandir dengan tiga buku di atas kepala. Namun seperti bia
Alize menatap Troy. “Apakah kau yakin?” Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang lebih tajam di baliknya. Harapan dan kewaspadaan. Troy masih memegang sobekan kain itu di antara jari-jarinya. Ia membaliknya, meraba teksturnya sekali lagi, seolah memastikan ingatannya tidak keliru. “Ya,”
“Aku ingin mengajakmu pulang.” Suara Marquis Deschanel tidak keras, tidak emosional, tapi mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah. Alize yang setengah sadar langsung membuka matanya lebih lebar. “Ayah…” suaranya masih lemah. “Aku tidak ingin—” “Aku sudah mendengar semuanya,” potong Ma







