LOGINCedric mengatupkan rahang. Untuk beberapa saat, ia tidak menjawab. Lord Deschanel mengangkat satu tangan, menghentikan percakapan yang mulai memanas. “Cukup. Aku tidak datang ke sini untuk memperdebatkan setiap tindakanmu. Ada hal yang lebih penting yang ingin kutanyakan.” Cedric segera mengalihkan perhatian kepadanya. “Apa pun itu, saya akan menjawabnya.” “Benarkah?” Pertanyaan sederhana itu membuat Cedric terdiam sesaat. Lord Deschanel menatapnya lekat-lekat. “Siapa yang menyebabkan kekacauan di Kastil de Mably?” Cedric menggeleng. “Saya tidak tahu.” “Siapa yang membunuh para pelayan dan pengawal kastil?” “Saya juga tidak tahu.” “Lalu, siapa yang membawa pergi Mirelle?” Kali ini, Cedric tidak langsung menjawab. Hanya sesaat, tetapi Corentine melihatnya dengan jelas. Jemari pria itu mencengkeram jeruji lebih erat, sementara tatapannya bergerak ke arah lantai sebelum kembali kepada Lord Deschanel. “Saya tidak tahu siapa yang membawanya pergi.” Lord Deschanel tidak men
Corentine sedang memeriksa laporan dari Tyron ketika kepala pelayan mengetuk pintu ruang kerjanya. “Yang Mulia, Marquis Deschanel telah tiba.” Corentine mengangkat wajah dari dokumen di tangannya. “Antar beliau kemari.” “Baik, Yang Mulia.” Ia menutup laporan tersebut, lalu berdiri. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan ayah Alize memasuki ruangan tanpa ragu. Corentine menyambutnya dengan anggukan. “Lord Deschanel,” sapanya. “Saya senang dengan kunjungan Anda.” Meskipun sejak awal interaksinya dengan mertuanya agak kaku, tetapi Corentine selalu berusaha menunjukkan sikap hormat kepada ayah istrinya. “Terima kasih, Duke.” Lord Deschanel membalas salamnya. “Maaf karena aku datang mendadak.” “Tidak masalah. Anda selalu diterima di sini.” Corentine mempersilakannya duduk. Seorang pelayan segera datang membawakan teh, tetapi sebelum mereka sempat memulai percakapan lebih jauh, Lord Deschanel mengalihkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Bagaimana keadaan kastil?” “Sejauh ini te
“Tentu. Bukankah kau belum selesai memeriksa dokumen-dokumen itu?”“Belum. Aku ingin memeriksanya sekali lagi.”Lord Deschanel mengangguk. “Pergilah. Hanya saja, jangan sampai kau menghabiskan seluruh waktumu di sana dan lupa beristirahat.”Alize tersenyum tipis.“Aku akan berhati-hati.”Ia meninggalkan ruang makan dengan membawa buku catatan kecil dan pena. Troy sudah berangkat lebih dahulu untuk memeriksa batas tanah, sehingga kali ini ia harus bekerja sendirian.Sebenarnya, ia tidak keberatan.Ada kalanya ia justru lebih mudah berkonsentrasi ketika tidak perlu berdiskusi dengan orang lain. Ia bisa memeriksa setiap dokumen dengan teliti, mengikuti pola sandi yang ditemukan, dan berhenti selama yang diperlukan tanpa merasa harus segera menjelaskan pemikirannya kepada siapa pun.Setidaknya, itulah yang ia harapkan.Sebab semakin lama ia memikirkan hubungan antara perselisihan kedua keluarga, pemberontakan, dan hilangnya Mirelle, semakin kuat keyakinannya bahwa semua itu mungkin bukan
Alize menoleh kepadanya, lalu tertawa kecil.“Kalau kau berhenti mengeluh dan mulai memperhatikan polanya, mungkin kita akan lebih cepat menemukan jawabannya.”“Aku memperhatikan polanya. Masalahnya, pola itu sepertinya sengaja dibuat untuk menyiksa keturunan keluarga sendiri.”“Kalau begitu, anggap saja itu ujian kesabaran.”“Kalau begitu, aku yakin leluhur kita akan sangat bangga mengetahui bahwa kau mewarisi sifat mereka.”Gurauan Troy membuat suasana kembali hangat. Namun, pikiran Alize masih tertuju pada keputusan ayahnya.“Ayah, biar aku saja yang mengirim surat kepada Corentine malam ini. Suratnya bisa dikirim oleh salah satu pengawalku” katanya. “Aku akan memberitahunya bahwa Ayah ingin menemui Cedric secara langsung.”“Bagus.” Lord Deschanel kembali duduk. “Pastikan dia mengetahui bahwa aku tidak datang untuk mengganggu penyelidikannya. Aku hanya ingin berbicara dengan seseorang yang sudah kukenal selama bertahun-tahun.”Alize mengangguk.“Aku akan menjelaskannya.”Ia mengamb
Ia seharusnya sudah menduga ayahnya akan menanyakan hal itu. Penangkapan Cedric Courcy tentu bukan perkara kecil, terlebih mengingat kedekatan keluarga Courcy dengan keluarga Deschanel selama bertahun-tahun. Alize memang sengaja tidak langsung menceritakannya sejak tiba di rumah. Bukan karena ia ingin menutupi sesuatu dari ayahnya, melainkan karena ia belum menemukan cara yang tepat untuk menyampaikan kabar tersebut. Bagi Lord Deschanel, Cedric bukan sekadar seorang bangsawan yang berhubungan dengan keluarga mereka. Pria itu telah lama menjadi bagian dari keluarga mereka saat masih kecil. Kedekatan itu bahkan membuat Lord Deschanel memperlakukan Cedric hampir seperti anak sendiri. Memberitahunya bahwa orang yang selama ini disayanginya kini ditahan di ruang bawah tanah Kastil de Mably bukanlah perkara yang bisa dilakukan sambil lalu di tengah makan malam. Alize meletakkan gelasnya di atas meja kecil. “Benar, Ayah. Lord Courcy memang sudah ditangkap.” Raut wajah Lord Deschanel be
Alize mengangkat wajah dengan cepat. “Kalau kau terus berbicara, aku akan meminta Ayah mengirimmu ke ruang arsip besok pagi untuk membersihkan semua peti seorang diri.” Troy tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, baiklah. Aku menyerah.” Alize menghela napas, lalu menoleh kepada ayahnya. Ia bermaksud membalas gurauan itu dengan sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru membuatnya sendiri terdiam. “Mungkin Ayah harus mulai berhenti bertengkar dengan Lord George de Mably.” Lord Deschanel mengangkat alis. “Kenapa tiba-tiba membicarakan George?” Alize memaksakan senyum, berusaha meneruskan kalimatnya dengan nada ringan. “Karena kalau suatu hari nanti aku punya anak, aku tidak ingin anakku merasa malu setiap kali kedua kakeknya bertemu. Bayangkan kalau kalian terus bertengkar di hadapannya.” Troy langsung menyeringai. “Jadi, kau sudah mulai memikirkan masa depan anakmu?” Alize hendak membalas, tetapi kata-katanya t
“Lady Gwen,” suara Corentine terdengar tenang dari ambang pintu, “tampaknya kau terlalu sering mengatur istriku.” Ruangan langsung hening sesaat. Lady Gwen tampak sedikit salah tingkah karena ketahuan sedang membuat Alize berjalan mondar-mandir dengan tiga buku di atas kepala. Namun seperti bia
“Aku hanya… kelelahan.” Suara Alize lirih, nyaris tenggelam di antara napasnya sendiri. Namun ia tahu itu tidak sepenuhnya benar. Dan ia juga tahu Corentine tidak akan langsung mempercayainya. Namun tetap saja, itu satu-satunya hal yang bisa ia ucapkan. Sejak ia diselamatkan di desa Vorn, tub
“Kurasa mereka tidak akan berani.” Suara Corentine tenang sekali. Seolah apa pun yang baru saja terjadi di luar sana hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mengusik ketenangan malam. Alize masih duduk di tepi tempat tidur, menatapnya. Ia menganggap Corentine terlalu menyepelekan keadaan.
Perjalanan pulang dari istana berlangsung tenang. Kereta kuda bergerak menyusuri jalan utama ibukota yang mulai lengang, lampu-lampu jalan berpendar redup di antara bayangan bangunan batu. Suara roda yang berderak terasa lebih pelan dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Alize saja. An







