Share

Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!
Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!
Penulis: Anna Frey

Tertangkap Basah

Penulis: Anna Frey
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-12 11:23:29

“Apa maksud kata-katamu barusan, Augustus?”

Bentakan itu memecah aula jamuan Putra Mahkota Kerajaan Montveraine yang tadinya dipenuhi denting gelas dan tawa sopan para bangsawan. Lady Alize Marie Deschanel yang duduk di ujung meja langsung menegakkan punggungnya.

“Oh, tidak,” gumamnya. “Mereka mulai lagi.”

Tanpa menoleh, ia hapal suara bariton itu―Lord George de Mably, yang sedang berancang-ancang memulai pertengkaran rutin dengan ayahnya, Marquis Augustus Deschanel.

Tentu saja itu bukan pertengkaran sepele semacam ketidaksepakatan cerutu mana yang lebih baik. Topik pertengkaran mereka seringnya tentang politik atau bisnis, biasanya berlangsung sengit dan penuh hinaan yang membabi buta.

“Maksud saya sangat jelas, George,” sahut Marquis Augustus dingin.

Ia seorang pria setengah baya bertubuh jangkung agak kurus, berkumis hitam mengkilap, dan berpakaian sangat rapi. Sang marquis berdiri di sudut dengan gelas wiski di tangannya, menatap Lord George dengan seringai jijik.

“Keluargamu tidak berhak bicara soal kehormatan, setelah apa yang kalian lakukan pada keluarga kami lima puluh tahun lalu.”

“Kau selalu mengungkit-ungkit hal itu setiap kali tak bisa menyanggah argumenku!” bentak Lord George, yang penampilannya berkebalikan dari lawannya. Adik ipar raja itu bertubuh gemuk dengan kumis pirang, sewarna dengan rambutnya yang disisir klimis ke belakang dan ujungnya diikat kecil.

“Bagaimana caramu menghabiskan waktu dengan menggali-gali masa lalu bukan urusanku, Augustus. Tapi, bisa tidak kau berhenti membawa-bawa keluargaku yang tak tahu apa-apa soal itu?”

“Tak tahu apa-apa? Hah!”

Alize hampir mengira ayahnya akan meludahi Lord George saat melihat mimiknya yang semuak itu.

“Ini akan menjadi perdebatan yang panjang,” bisik salah seorang sepupu Alize yang duduk di sebelahnya. “Ayahmu dan Lord George adalah yang paling sering bertengkar sepanjang sejarah keluarga kita dan keluarga mereka.”

Alize mengepalkan tangan di bawah meja, matanya diam-diam menatap sekeliling aula. Putra mahkota dan para bangsawan sedang menyaksikan pertengkaran itu dengan raut wajah tertarik, seolah-olah ayahnya dan Lord George sedang melakukan pertunjukan.

Itu jelas bukan pertunjukan. Pertengkaran mereka yang tak habis-habisnya adalah hal yang memalukan dan melanggar etika istana, membuatnya tidak punya muka untuk tetap berada di tempat itu.

Alize bangkit dari kursinya dengan tergesa-gesa.

“Alize, kau mau kemana?” bisik sepupunya. "Kau tidak bisa pergi begitu saja di jamuan resmi!"

“Masa bodoh, Troy. Daripada mendengarkan suara berisik mereka, lebih baik aku keluar mencari udara segar!" Ia beranjak. Kakinya yang mengenakan sepatu berhak tinggi berderap di balik gaunnya yang berat, berjalan melewati pintu. “Permisi,” ujarnya singkat, tanpa menunggu izin siapa pun.

“Alize, hei! Paman Augustus akan mengamuk kalau kau pergi!”

“Biar saja dia mengamuk! Dia sudah biasa melakukannya dengan keluarga de Mably!”

"Alize! Ayolah! Nanti aku yang kena marah.”

“Kau bisa mulai berlatih bertengkar dengan Paman Augustus-mu!”

Alize berjalan cepat keluar aula, mengabaikan panggilan lirih sepupunya. Udara di dalam terlalu pengap. Terlalu penuh kebencian yang diwariskan turun temurun, yang tidak bisa ia mengerti.

“Aku benar-benar muak dengan mereka!” gerutunya pelan.

Tadinya ia berharap jamuan makan malam resmi itu akan berjalan lancar tanpa keributan. Sebelum berangkat, ia sudah meminta dengan sopan kepada seluruh anggota keluarganya―terutama ayahnya―supaya menahan diri. Ternyata, lagi-lagi ayahnya dan George de Mably menyalakan keributan.

“Kalau tahu akan begini, seharusnya aku tidak datang,” gumamnya, nyaris menghentakkan kakinya karena kesal.

Alize melangkah cepat di sepanjang lorong istana yang sunyi dengan wajah muram, berbelok di salah satu sudut yang akan mengarah ke taman istana. Dia ingin menyepi di sana, jauh dari keributan.

Ia sedang menyusuri lorong berikutnya ketika mendengar suara-suara samar.

“Ayolah, kau tidak perlu malu-malu seperti itu.”

Alize berhenti di tengah koridor, mencoba menajamkan telinga.

“Bisakah kau …”

“Aduh, jangan begitu. Kau terlalu kasar.”

Dahi Alize berkerut. Ia menoleh ke kanan dan kiri sepanjang lorong istana yang temaram, lalu matanya tertuju pada sebuah pintu yang hanya beberapa langkah di depannya. Dia tahu itu pintu perpustakaan pribadi putra mahkota. Suara-suara itu terdengar dari sana.

Sekarang gumaman itu terdengar lebih jelas. Suara laki-laki dan perempuan.

“Jangan jauh-jauh, Corentine.”

Corentine? Kerutan di dahi Alize semakin berlipat. Hanya ada satu orang bernama Corentine di lingkungan istana.

Ia berjalan mendekat dan melihat pintu perpustakaan yang sedikit terbuka.

“Yang Mulia…” suara perempuan terdengar pelan, nyaris manja. "Biarkan aku melihatnya..."

Alize menelan ludah. Apa-apaan itu? Apa yang sedang mereka lakukan?

Ia tahu, seharusnya ia pergi dan tidak mencampuri urusan orang lain. Namun, yang ia lakukan malah menjengukkan kepala.

Dari celah pintu, ia melihat seorang lelaki tinggi dan tampan, memakai jas resmi yang sangat rapi sedang berdiri di dekat rak buku, kepalanya yang berambut gelap menunduk. Seorang perempuan cantik berambut merah, bergaun biru muda penuh renda, berdiri terlalu dekat dengannya. Tangannya menggelayut di lengan lelaki itu, wajahnya mendongak. Jarak mereka nyaris tak ada.

Oh, sial! Alize tersedak. Tentu saja dia mengenal mereka.

Kedua orang itu mendengar suaranya di ambang pintu dan menoleh serentak.

“Ehm.” Alize mengangguk dengan kaku. Sudah terlanjur terlihat oleh mereka, Alize terpaksa menyapa. "Duke Corentine de Mably, Lady Gwen Cleremont. Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Aku tidak sengaja mendengar suara-suara di ruangan ini. Kupikir ada… pencuri.”

Duke de Mably memberinya tatapan yang tak terbaca. “Tak ada pencuri.”

"Hanya kami berdua," ujar Lady Gwen, menatap Alize raut muka jengkel. Ia melepaskan tangannya dari lengan Corentine. "Seharusnya. Kalau saja tidak ada yang terlalu ingin tahu."

Wajah Alize memerah. Bukan salahnya ingin tahu. Suara mereka terdengar jelas sampai ke lorong.

“Ya, ternyata bukan. Sudah kulihat sendiri.” Ia tersenyum datar. “Aku akan segera pergi supaya tidak lebih lama mengganggu kegiatan pribadi kalian.”

“Kau salah,” ujar Duke de Mably cepat-cepat. "Tidak ada kegiatan pribadi di sini."

“Kau menganggapnya begitu?” protes Lady Gwen kepada sang duke.

“Memang tidak ada," Duke de Mably melirik Lady Gwen dengan raut kesal. "Ini tidak seperti yang kau duga, Lady Alize."

Alize menahan diri untuk tidak menyeringai. Apakah dia melihat kepanikan melintas sedetik di wajah Duke de Mably?

"Aku tidak menduga apa pun.” Ada nada mengejek yang halus dalam suaranya.

Rupanya moral Duke de Mably perlu dipertanyakan, seperti juga moral saudara-saudaranya―para bangsawan de Mably yang suka memancing keributan dengan keluarganya itu. Alize menghela napas. Ia tidak boleh menghakimi, meskipun tidak menyukai keluarga itu.

“Benar-benar tidak ada apa-apa.” Corentine bergerak hendak mendekat.

Alize mengabaikannya. “Silakan melanjutkan. Aku permisi.” Ia berbalik dan melangkah kembali ke lorong.

“Lady Alize!”

Suara Duke de Mably memanggilnya begitu ia kembali ke lorong. Bunyi langkah-langkah panjang terdengar di belakangnya.

“Lady Alize, tunggu!”

Ia berhenti dan berbalik.

“Ada apa, Yang Mulia?” Kesopanannya bagai sindiran tajam.

Corentine de Mably berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya sekarang tegang dan gelisah. “Apa yang kau lihat barusan―”

“Aku tidak peduli pada apa pun yang kulihat,” potong Alize cepat. “Sungguh, kau tidak perlu menjelaskannya padaku.”

Ia berbalik lagi.

“Tidak. Bukan begitu. Ini bukan seperti yang kau pikirkan,” ujar Corentine, suaranya lebih rendah, nyaris mendesak.

Alize berhenti lagi, menoleh dengan tatapan sinis. “Dan menurutmu aku sedang memikirkan apa?”

“Lady Alize―” Duke de Mably masih membuntutinya dengan keras kepala. "Kau tidak adil jika tidak memberiku waktu untuk menjelaskan."

“Jangan menghalangiku, Duke de Mably. Aku mau pergi ke taman,” ucapnya tajam. “Kau sebaiknya kembali ke aula. Menurutku, kau lebih diperlukan di sana untuk menghentikan pertengkaran pamanmu dengan ayahku.”

“Aku harus meyakinkanmu―”

“Itu hanya membuang waktu.” Alize kembali meneruskan langkahnya, kali ini lebih cepat dan semakin cepat. Kini ia setengah berlari. Namun di belakangnya, Duke de Mably terus mengikutinya.

“Berhentilah mengejarku!” seru Alize dari balik bahunya. “Kau sudah gila, ya? Kau malah membuat segalanya jadi terlihat mencurigakan, tahu!”

“Masalahnya, jika orang lain melihat―”

“Hanya aku yang melihat,” tukas Alize tanpa menoleh. Kedua tangannya mengangkat tepi gaun agar bisa leluasa berlari. “Dan aku tidak akan bilang siapa-siapa. Apa yang kau khawatirkan? Reputasimu? Bukankah kau sudah terbiasa mengencani banyak perempuan?"

"Aku tidak seperti itu," tukas Duke de Mably. “Dan aku benar-benar perlu meyakinkanmu. Tolong dengarkan aku dulu, Lady Alize.”

“Kenapa sih, kau ini? Kubilang tidak perlu, ya tidak perlu.”

Alize berbelok tajam ke sebuah ruangan―ruang duduk dengan sofa panjang dan karpet tebal. Ia berniat menutup pintu dan mengakhiri kejar-kejaran ini.

Namun, kakinya malah tersangkut ujung karpet.

“Ah―!” Ia terpekik. Tubuhnya terhuyung dan meluncur hendak membentur lantai.

Duke de Mably dengan sigap berusaha meraih lengannya.

“Lady Alize!”

Namun berat tubuh Alize dan gaun pestanya menariknya ikut kehilangan keseimbangan. Mereka jatuh bersama. Tubuh sang duke menimpa Alize di sofa empuk. Wajah mereka berhadapan terlalu dekat.

Dalam benak Alize, waktu seakan berhenti. Napas hangat Duke de Mably berhembus di wajahnya. Ia melihat mata Corentine de Mably yang sewarna karamel menatapnya dengan sorot terkejut.

“Maaf―” Duke de Mably berusaha bangkit. “Aku tidak bermaksud―”

“Corentine?!”

Pekikan gusar itu membuat Alize dan sang duke menoleh.

Di ambang pintu Lady Gwen berdiri membeku. Wajahnya memucat. Matanya terbelalak menatap dua tubuh yang bertindihan di sofa dengan posisi yang tampak intim.

“Jadi begitu, ya? Rupanya kau lebih memilih bermesraan dengan dia?”

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kejutan di Pagi Hari

    “Lady Gwen Cleremont?” Suara Alize nyaris tercekik. ”Pendampingku adalah kau?” Ini sebuah permainan, pikir Alize. Lady Julia mengujinya karena ia berada di sarang mereka―musuh keluarganya. Namun, mengangkat si biang gosip ini sebagai pendampingnya boleh dibilang keterlaluan.Ia tidak boleh terlihat lemah dan sudah berjanji untuk belajar lebih sabar demi menjaga martabat dan reputasi yang kini disandangnya. Namun, tetap saja kemarahannya menyelinap sedikit ke permukaan.“Aku tidak percaya,” ia bergumam. Tubuhnya berdiri kaku di tengah ruang makan. Tatapannya berpindah dari Lady Gwen ke Lady Julia, lalu ke wajah Corentine. Lady Gwen tersenyum lembut, tetapi di mata Alize senyum itu sangat palsu. “Jika kehadiranku mengejutkanmu, Yang Mulia, aku mohon maaf,” katanya. Lady Julia menghela napas tipis. “Kau seharusnya merasa beruntung, Duchess.” “Beruntung?” ulang Alize pelan. Dari semua perempuan bangsawan yang tersedia di kerajaan ini, kenapa harus memilih orang yang menyebabkan dua mu

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pendamping yang Tak Pernah Kuminta

    “Corentine!” pekik Alize sedetik kemudian. “Apa yang kau lakukan?”Corentine tidak merasa terganggu dengan reaksi itu, apalagi merasa bersalah. Dengan santai ia berbaring di sisi tempat tidur yang kosong, satu tangan terlipat di bawah kepala, seolah-olah mereka sudah sejak lama tidur sekamar, bukannya baru saja.“Aku mau tidur,” jawabnya tenang. “Banyak yang harus kukerjakan besok.” Matanya memejam. “Apakah aku sudah memberitahumu bahwa beberapa hari lagi aku akan berangkat? Raja memintaku mendampinginya ke benteng timur.”“Tidak. Kau belum memberitahuku. Tapi bukan itu masalahnya sekarang―” Mata Alize terbelalak jengkel. Ia tak percaya Corentine malah mengoceh. “Kau tidur dengan—dengan keadaan seperti itu?” Aliran hangat menjalari wajahnya. Ia menahan diri untuk tidak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Yang bisa ia lakukan hanyalah tidak melihat langsung ke arah otot dada Corentine yang begitu kekar.Corentine membuka matanya dan melirik ke bawah tubuhnya sendiri, lalu ke

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Malam Pertama di Kamar Utama

    “Kau suka pesta perkenalanmu, Duchess?” Pertanyaan itu ditanyakan Corentine begitu Alize tiba di ruang makan. Nada Corentine terdengar santai. Terlalu santai untuk seorang pria yang semalam berpura-pura mengklaim telah tidur sekamar dengan istrinya. Alize membiarkan pelayan menarik kursi untuknya, sementara Corentine berdiri sejenak sampai Alize menempatkan diri di seberangnya. “Ya, aku suka,” Alize mengangguk sopan. “Terima kasih atas perhatianmu.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” Corentine tersenyum tipis, “untuk seseorang yang mengaku jarang menyelenggarakan pesta di rumahnya―” “Aku mendapat banyak bantuan,” ujar Alize, “dan kau― mengirim beberapa staf istana. Sungguh tidak bisa dipercaya.” “Oh, kau harus percaya.” Corentine mengedikkan bahu. “Aku berada di garis suksesi. Beberapa nomor di belakang Pangeran Godwyn dan adik-adik Raja. Aku mendapat―” Corentine tersenyum miring, terlihat agak malu. “Sedikit keistimewaan.” “Itukah sebabnya kau begitu mudah berbohong?

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pesta Untuk Duchess Baru

    “Tolong jangan bergerak-gerak dulu, Yang Mulia.” Alize berusaha berdiri diam sementara penjahit istana memutari tubuhnya. Dengan hati-hati si penjahit menusukkan jarum-jarum kecil penanda di gaun setengah jadi yang dipakai Alize. Lututnya goyah karena pegal. “Masih lama?” "Saya harus mengukur lagi pinggang Anda. Tolong tahan sebentar." Pengepasan gaun itu telah berlangsung sejak dua jam yang lalu. Ia tidak pernah harus begitu lama mengepas sebuah gaun baru. Penjahit pribadinya sudah sangat mengenal ukurannya. Namun, Corentine tidak mengizinkan penjahit lain selain penjahit istana “Jangan terlalu ketat di bagian pinggang,” ujar Alize datar. "Aku tidak mau jadi susah bernapas." "Akan kuusahakan, Yang Mulia." Penjahit itu tersenyum kaku. "Tapi pinggang yang lebar tidak pantas untuk seorang perempuan bangsawan. Duchess de Mably harus terlihat anggun dan memikat. “Untuk siapa?” gumam Alize. “Untuk seluruh kerajaan, tentu saja,” sahut si penjahit. “Anda tentu tidak m

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Kau Boleh Bercerai, Tapi...

    Upacara pernikahannya di kapel istana dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya beberapa orang dari pihak keluarga masing-masing yang hadir. Ayahnya dan Lord George de Mably berdiri berjauhan, menahan diri untuk tidak saling membentak seperti biasa. Alize masih ingat ketika Corentine dengan canggung menyematkan cincin di jarinya yang dingin. Tangan Corentine juga dingin. “Sekarang kalian sudah sah menjadi pasangan suami istri,” ujar pendeta istana. “Duke, kau boleh mencium pengantinmu.” Corentine pura-pura tidak mendengar ucapan pendeta. Mereka bahkan tidak saling tatap. Di belakang punggung mereka, Alize mendengar desahan ayahnya, juga gumaman Lord George. Pernikahan yang harusnya penuh kebahagiaan malah begitu muram. Lima hari telah berlalu sejak itu. Ia tinggal di Kastil de Mably sekarang. Merasa kesal dan sedih karena kebebasannya hilang dan terjebak di sarang ‘musuh’. Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya, membuyarkan benaknya. “Masuk,” ujar Alize tanpa

  • Yang Mulia Duke, Jangan Jatuh Cinta Padaku!   Pernikahan Dua Musuh Bebuyutan

    “Skandal yang memalukan. Aku benar-benar kecewa.” Suara Raja Aldred, penguasa Montveraine, menggema di ruang audiensi. Tegas dan tajam. Di balik kumis dan janggut peraknya, wajahnya memerah, menahan marah. Putra Mahkota―Pangeran Godwyn berdiri di sebelah singgasananya dengan wajah kaku. “Deschanel dan de Mably membuat keributan di jamuan makan malam resmi, sementara dua anak mudanya sibuk bermesraan! Apa jadinya kalau terdengar sampai kerajaan tetangga? Aku akan ditertawakan!” Lady Alize berdiri kaku di sisi ayahnya, Marquis Augustus. Gaun pagi yang dikenakannya sederhana, disiapkan terburu-buru ketika perintah menghadap Raja dikirimkan sebelum sarapan. Ia menunduk. Para anggota dewan bangsawan yang ikut hadir sedang menatapnya sembari membisikkan gosip yang menyebar begitu cepat seperti api. “Lady Alize Deschanel dan Duke de Mably tertangkap basah bermesraan di ruang duduk Putra Mahkota. Begitu persisnya laporan yang kuterima. Berani sekali mereka melakukannya di bawah at

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status