เข้าสู่ระบบ
“Apa maksud kata-katamu barusan, Augustus?”
Bentakan itu memecah aula jamuan Putra Mahkota Kerajaan Montveraine yang tadinya dipenuhi denting gelas dan tawa sopan para bangsawan. Lady Alize Marie Deschanel yang duduk di ujung meja langsung menegakkan punggungnya. “Oh, tidak,” gumamnya. “Mereka mulai lagi.” Tanpa menoleh, ia hapal suara bariton itu―Lord George de Mably, yang sedang berancang-ancang memulai pertengkaran rutin dengan ayahnya, Marquis Augustus Deschanel. Tentu saja itu bukan pertengkaran sepele semacam ketidaksepakatan cerutu mana yang lebih baik. Topik pertengkaran mereka seringnya tentang politik atau bisnis, biasanya berlangsung sengit dan penuh hinaan yang membabi buta. “Maksud saya sangat jelas, George,” sahut Marquis Augustus dingin. Ia seorang pria setengah baya bertubuh jangkung agak kurus, berkumis hitam mengkilap, dan berpakaian sangat rapi. Sang marquis berdiri di sudut dengan gelas wiski di tangannya, menatap Lord George dengan seringai jijik. “Keluargamu tidak berhak bicara soal kehormatan, setelah apa yang kalian lakukan pada keluarga kami lima puluh tahun lalu.” “Kau selalu mengungkit-ungkit hal itu setiap kali tak bisa menyanggah argumenku!” bentak Lord George, yang penampilannya berkebalikan dari lawannya. Adik ipar raja itu bertubuh gemuk dengan kumis pirang, sewarna dengan rambutnya yang disisir klimis ke belakang dan ujungnya diikat kecil. “Bagaimana caramu menghabiskan waktu dengan menggali-gali masa lalu bukan urusanku, Augustus. Tapi, bisa tidak kau berhenti membawa-bawa keluargaku yang tak tahu apa-apa soal itu?” “Tak tahu apa-apa? Hah!” Alize hampir mengira ayahnya akan meludahi Lord George saat melihat mimiknya yang semuak itu. “Ini akan menjadi perdebatan yang panjang,” bisik salah seorang sepupu Alize yang duduk di sebelahnya. “Ayahmu dan Lord George adalah yang paling sering bertengkar sepanjang sejarah keluarga kita dan keluarga mereka.” Alize mengepalkan tangan di bawah meja, matanya diam-diam menatap sekeliling aula. Putra mahkota dan para bangsawan sedang menyaksikan pertengkaran itu dengan raut wajah tertarik, seolah-olah ayahnya dan Lord George sedang melakukan pertunjukan. Itu jelas bukan pertunjukan. Pertengkaran mereka yang tak habis-habisnya adalah hal yang memalukan dan melanggar etika istana, membuatnya tidak punya muka untuk tetap berada di tempat itu. Alize bangkit dari kursinya dengan tergesa-gesa. “Alize, kau mau kemana?” bisik sepupunya. "Kau tidak bisa pergi begitu saja di jamuan resmi!" “Masa bodoh, Troy. Daripada mendengarkan suara berisik mereka, lebih baik aku keluar mencari udara segar!" Ia beranjak. Kakinya yang mengenakan sepatu berhak tinggi berderap di balik gaunnya yang berat, berjalan melewati pintu. “Permisi,” ujarnya singkat, tanpa menunggu izin siapa pun. “Alize, hei! Paman Augustus akan mengamuk kalau kau pergi!” “Biar saja dia mengamuk! Dia sudah biasa melakukannya dengan keluarga de Mably!” "Alize! Ayolah! Nanti aku yang kena marah.” “Kau bisa mulai berlatih bertengkar dengan Paman Augustus-mu!” Alize berjalan cepat keluar aula, mengabaikan panggilan lirih sepupunya. Udara di dalam terlalu pengap. Terlalu penuh kebencian yang diwariskan turun temurun, yang tidak bisa ia mengerti. “Aku benar-benar muak dengan mereka!” gerutunya pelan. Tadinya ia berharap jamuan makan malam resmi itu akan berjalan lancar tanpa keributan. Sebelum berangkat, ia sudah meminta dengan sopan kepada seluruh anggota keluarganya―terutama ayahnya―supaya menahan diri. Ternyata, lagi-lagi ayahnya dan George de Mably menyalakan keributan. “Kalau tahu akan begini, seharusnya aku tidak datang,” gumamnya, nyaris menghentakkan kakinya karena kesal. Alize melangkah cepat di sepanjang lorong istana yang sunyi dengan wajah muram, berbelok di salah satu sudut yang akan mengarah ke taman istana. Dia ingin menyepi di sana, jauh dari keributan. Ia sedang menyusuri lorong berikutnya ketika mendengar suara-suara samar. “Ayolah, kau tidak perlu malu-malu seperti itu.” Alize berhenti di tengah koridor, mencoba menajamkan telinga. “Bisakah kau …” “Aduh, jangan begitu. Kau terlalu kasar.” Dahi Alize berkerut. Ia menoleh ke kanan dan kiri sepanjang lorong istana yang temaram, lalu matanya tertuju pada sebuah pintu yang hanya beberapa langkah di depannya. Dia tahu itu pintu perpustakaan pribadi putra mahkota. Suara-suara itu terdengar dari sana. Sekarang gumaman itu terdengar lebih jelas. Suara laki-laki dan perempuan. “Jangan jauh-jauh, Corentine.” Corentine? Kerutan di dahi Alize semakin berlipat. Hanya ada satu orang bernama Corentine di lingkungan istana. Ia berjalan mendekat dan melihat pintu perpustakaan yang sedikit terbuka. “Yang Mulia…” suara perempuan terdengar pelan, nyaris manja. "Biarkan aku melihatnya..." Alize menelan ludah. Apa-apaan itu? Apa yang sedang mereka lakukan? Ia tahu, seharusnya ia pergi dan tidak mencampuri urusan orang lain. Namun, yang ia lakukan malah menjengukkan kepala. Dari celah pintu, ia melihat seorang lelaki tinggi dan tampan, memakai jas resmi yang sangat rapi sedang berdiri di dekat rak buku, kepalanya yang berambut gelap menunduk. Seorang perempuan cantik berambut merah, bergaun biru muda penuh renda, berdiri terlalu dekat dengannya. Tangannya menggelayut di lengan lelaki itu, wajahnya mendongak. Jarak mereka nyaris tak ada. Oh, sial! Alize tersedak. Tentu saja dia mengenal mereka. Kedua orang itu mendengar suaranya di ambang pintu dan menoleh serentak. “Ehm.” Alize mengangguk dengan kaku. Sudah terlanjur terlihat oleh mereka, Alize terpaksa menyapa. "Duke Corentine de Mably, Lady Gwen Cleremont. Maaf, aku tidak bermaksud mengganggu. Aku tidak sengaja mendengar suara-suara di ruangan ini. Kupikir ada… pencuri.” Duke de Mably memberinya tatapan yang tak terbaca. “Tak ada pencuri.” "Hanya kami berdua," ujar Lady Gwen, menatap Alize raut muka jengkel. Ia melepaskan tangannya dari lengan Corentine. "Seharusnya. Kalau saja tidak ada yang terlalu ingin tahu." Wajah Alize memerah. Bukan salahnya ingin tahu. Suara mereka terdengar jelas sampai ke lorong. “Ya, ternyata bukan. Sudah kulihat sendiri.” Ia tersenyum datar. “Aku akan segera pergi supaya tidak lebih lama mengganggu kegiatan pribadi kalian.” “Kau salah,” ujar Duke de Mably cepat-cepat. "Tidak ada kegiatan pribadi di sini." “Kau menganggapnya begitu?” protes Lady Gwen kepada sang duke. “Memang tidak ada," Duke de Mably melirik Lady Gwen dengan raut kesal. "Ini tidak seperti yang kau duga, Lady Alize." Alize menahan diri untuk tidak menyeringai. Apakah dia melihat kepanikan melintas sedetik di wajah Duke de Mably? "Aku tidak menduga apa pun.” Ada nada mengejek yang halus dalam suaranya. Rupanya moral Duke de Mably perlu dipertanyakan, seperti juga moral saudara-saudaranya―para bangsawan de Mably yang suka memancing keributan dengan keluarganya itu. Alize menghela napas. Ia tidak boleh menghakimi, meskipun tidak menyukai keluarga itu. “Benar-benar tidak ada apa-apa.” Corentine bergerak hendak mendekat. Alize mengabaikannya. “Silakan melanjutkan. Aku permisi.” Ia berbalik dan melangkah kembali ke lorong. “Lady Alize!” Suara Duke de Mably memanggilnya begitu ia kembali ke lorong. Bunyi langkah-langkah panjang terdengar di belakangnya. “Lady Alize, tunggu!” Ia berhenti dan berbalik. “Ada apa, Yang Mulia?” Kesopanannya bagai sindiran tajam. Corentine de Mably berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya sekarang tegang dan gelisah. “Apa yang kau lihat barusan―” “Aku tidak peduli pada apa pun yang kulihat,” potong Alize cepat. “Sungguh, kau tidak perlu menjelaskannya padaku.” Ia berbalik lagi. “Tidak. Bukan begitu. Ini bukan seperti yang kau pikirkan,” ujar Corentine, suaranya lebih rendah, nyaris mendesak. Alize berhenti lagi, menoleh dengan tatapan sinis. “Dan menurutmu aku sedang memikirkan apa?” “Lady Alize―” Duke de Mably masih membuntutinya dengan keras kepala. "Kau tidak adil jika tidak memberiku waktu untuk menjelaskan." “Jangan menghalangiku, Duke de Mably. Aku mau pergi ke taman,” ucapnya tajam. “Kau sebaiknya kembali ke aula. Menurutku, kau lebih diperlukan di sana untuk menghentikan pertengkaran pamanmu dengan ayahku.” “Aku harus meyakinkanmu―” “Itu hanya membuang waktu.” Alize kembali meneruskan langkahnya, kali ini lebih cepat dan semakin cepat. Kini ia setengah berlari. Namun di belakangnya, Duke de Mably terus mengikutinya. “Berhentilah mengejarku!” seru Alize dari balik bahunya. “Kau sudah gila, ya? Kau malah membuat segalanya jadi terlihat mencurigakan, tahu!” “Masalahnya, jika orang lain melihat―” “Hanya aku yang melihat,” tukas Alize tanpa menoleh. Kedua tangannya mengangkat tepi gaun agar bisa leluasa berlari. “Dan aku tidak akan bilang siapa-siapa. Apa yang kau khawatirkan? Reputasimu? Bukankah kau sudah terbiasa mengencani banyak perempuan?" "Aku tidak seperti itu," tukas Duke de Mably. “Dan aku benar-benar perlu meyakinkanmu. Tolong dengarkan aku dulu, Lady Alize.” “Kenapa sih, kau ini? Kubilang tidak perlu, ya tidak perlu.” Alize berbelok tajam ke sebuah ruangan―ruang duduk dengan sofa panjang dan karpet tebal. Ia berniat menutup pintu dan mengakhiri kejar-kejaran ini. Namun, kakinya malah tersangkut ujung karpet. “Ah―!” Ia terpekik. Tubuhnya terhuyung dan meluncur hendak membentur lantai. Duke de Mably dengan sigap berusaha meraih lengannya. “Lady Alize!” Namun berat tubuh Alize dan gaun pestanya menariknya ikut kehilangan keseimbangan. Mereka jatuh bersama. Tubuh sang duke menimpa Alize di sofa empuk. Wajah mereka berhadapan terlalu dekat. Dalam benak Alize, waktu seakan berhenti. Napas hangat Duke de Mably berhembus di wajahnya. Ia melihat mata Corentine de Mably yang sewarna karamel menatapnya dengan sorot terkejut. “Maaf―” Duke de Mably berusaha bangkit. “Aku tidak bermaksud―” “Corentine?!” Pekikan gusar itu membuat Alize dan sang duke menoleh. Di ambang pintu Lady Gwen berdiri membeku. Wajahnya memucat. Matanya terbelalak menatap dua tubuh yang bertindihan di sofa dengan posisi yang tampak intim. “Jadi begitu, ya? Rupanya kau lebih memilih bermesraan dengan dia?” ***Lady Julia menatapnya. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa kabar itu memang cukup mendesak. “Dia di kebun sayur,” jawabnya. “Kebun sayur?” ulang Alize. “Kudengar dia dibawa ke sana oleh para pelayan setelah mulai berteriak. Katanya udara terbuka akan membuatnya lebih tenang.” Alize segera berbalik kepada Corentine. “Aku harus menemuinya dulu.” Corentine tidak menahannya. Ia hanya mengangguk singkat. “Pergilah,” sahutnya. Alize tidak menunggu lebih lama. Ia mengangkat ujung rok gaunnya, lalu mempercepat langkah menuju kebun sayur. Greta mengikuti di belakangnya. Begitu melewati pintu menuju kebun, Alize melihat Fran berdiri di dekat deretan tanaman sayuran. Dua pelayan menjaga jarak tidak jauh darinya. Keduanya tampak cemas, seolah-olah tidak tahu harus berbuat apa terhadap wanita muda yang sejak tadi terus memanggil nama Duchess. Namun begitu melihat Alize, Fran langsung menoleh. Wajahnya berubah cerah. “Yang Mulia!” Alize berhenti
Alize menelan ludah. Pertanyaan Corentine masih menggantung di antara mereka, jauh lebih berat daripada yang seharusnya. Lelaki itu menatapnya dengan tenang, tetapi Alize sudah cukup mengenalnya untuk menyadari bahwa ketenangan tersebut tidak sepenuhnya nyata. Ada ketegangan tipis di sekitar matanya. Seolah-olah Corentine benar-benar menunggu jawabannya. Alize menurunkan pandangan pada cangkir teh di tangannya. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya, tetapi minuman itu sudah tidak lagi menarik perhatiannya. “Aku masih punya waktu sampai besok untuk memberikan jawaban,” ujarnya akhirnya. Keheningan segera memenuhi ruangan. Wajah Corentine yang semula tampak penuh harap perlahan menjadi sedikit lesu. Perubahannya begitu kecil hingga orang lain mungkin tidak akan menyadarinya. Namun Alize melihatnya. Dan entah kenapa, hal itu membuat hatinya merasa bersalah. Corentine mengalihkan pandangan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Baiklah.” Suaranya terdengar tena
Corentine menoleh kepadanya. Dari wajahnya ia tampak sudah memikirkan hal itu. “Kemungkinan besar dia sudah meninggalkan ibu kota.” Anehnya, Tyron tampak kecewa, seolah ia berharap bisa membekuk sendiri pentolan pemberontak itu. “Apakah kita akan mengejarnya, Yang Mulia?” Corentine menggeleng. “Pasukan Putra Mahkota akan melakukannya.” Corentine mengambil sebuah dokumen dari atas meja. Alize menduga itu adalah dokumen perjanjian Duke de Mably dengan Putra Mahkota. “Untuk saat ini, kewenangan penangkapan berada di tangan Putra Mahkota. Reagan melakukan kekacauan di ibu kota, wilayah yang berada di bawah tanggung jawabnya.” Dengan agak tidak puas, Tyron bertanya. “Tetapi jika dia kembali ke wilayah Montveraine...“ “Jika mereka mengacau lagi di perbatasan, pasukan kita akan bergerak,” sahut Corentine cepat. Corentine meletakkan dokumen itu kembali. “Reagan tidak akan mudah ditangkap. Dia tahu kapan harus mundur.” Alize memandangi meja kerja di hadapannya. Reag
Di persimpangan jalan utama, kereta kuda Duke de Mably akhirnya berpisah jalan dengan rombongan pasukan Putra Mahkota. Enam pemberontak yang berhasil ditangkap dibawa menuju kediaman Putra Mahkota untuk diinterogasi. Karena mereka tertangkap setelah melakukan kekacauan di wilayah ibu kota, kewenangan penanganan sementara berada di tangan sang Putra Mahkota. Seharusnya Corentine ikut mengiringi rombongan itu. Ia adalah saksi langsung atas kejadian tersebut. Laporannya akan membantu menjelaskan bagaimana Reagan berhasil menyusup ke ibu kota, mengapa keenam anak buahnya mencegat kereta Alize, dan bagaimana pemimpin pemberontak itu bisa melarikan diri. Namun Corentine hanya berdiri di samping kereta, memandangi rombongan yang semakin menjauh. “Aku akan mengantarmu pulang lebih dahulu,” katanya kepada Alize. Alize yang berada di dalam kereta menoleh. “Bagaimana dengan laporanmu?” “Kapten pengawalnya bisa menyampaikannya untuk sementara.” Corentine mengangkat pandangan k
“Jauhi kereta itu, Reagan!” Suara Corentine menggema di sepanjang jalan. Alize menahan napas. Di luar, suasana yang semula riuh mendadak berubah tegang. Reagan tidak menjawab selama beberapa detik. Kemudian terdengar tawanya. “Yang Mulia Duke.” Nada suaranya tetap ringan. “Anda datang sendirian?” Perlahan Alize bergerak ke dekat ke jendela dan mengintip. Ia melihat suaminya, dengan Tyron di belakangnya. Seperti dugaannya, ekspresi Corentine terlihat tenang. Namun dari cara suara derap kuda berhenti tepat di depan kereta, Alize tahu Corentine memang tidak datang untuk berbicara. “Jangan banyak bicara, Reagan.” Reagan terkekeh. “Jangan sok berani, Duke.” Alize mengeratkan jemarinya. “Anda bisa melihat sendiri jumlah kami.” Salah seorang anak buah Reagan ikut tertawa. “Enam orang melawan dua orang. Bahkan seorang Duke tidak sebodoh itu.” Alize langsung menyadari sesuatu.Corentine memang sendirian. Ia datang terlalu cepat. Mungkin bahkan tanpa sempa
Alize menatap Countess Rouchet dengan saksama. “Di mana tepatnya Sir Reagan bersembunyi?” Countess Rouchet menurunkan pandangannya pada cangkir teh di tangannya. Jemarinya kembali bergerak gelisah di sepanjang gagang porselen. “Di suatu tempat, ” jawabnya pelan. “Masih di dalam wilayah kerajaan.” Alize tidak langsung bereaksi. Ada sesuatu yang mengganjal dari pengakuan wanita itu. “Kalau Anda mengetahui keberadaannya sejak awal, mengapa Anda tidak melaporkannya?” Countess Rouchet mengangkat wajah. “Karena saya takut.” “Takut kepada Reagan?” Wanita itu menggeleng. “Takut kepada semua orang.” Alize terdiam. Countess Rouchet meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. “Jika saya melaporkan keberadaannya, keluarga saya mungkin akan dianggap berkhianat oleh pihaknya. Tetapi jika saya terus diam, saya bisa dituduh membantu pemberontak oleh kerajaan.” Ia menarik napas panjang. “Saya sudah menyadari bahwa cepat atau lambat, nama saya akan terseret.” Alize memaham
Tubuh Hector segera dipindahkan dari barak pengawal. Dua orang pengawal membawa tandu sederhana yang ditutupi kain gelap, sementara dokter kastil dipanggil tergesa dari tempat tinggalnya di sayap belakang. Udara malam terasa semakin dingin. Dan suasana di sekitar barak berubah begitu sunyi hi
Suara benturan keras kembali menghantam sisi kereta. Kali ini disusul suara siulan tajam di udara. “Panah!” teriak salah satu pengawal. BRAKKK! Sebuah anak panah menembus jendela samping dan menghantam dinding bagian dalam kereta hanya beberapa inci dari tempat Alize duduk tadi. Alize membe
Suasana hati Alize memburuk sore itu. Padahal ia sudah membersihkan diri dan memakai gaun makan malamnya yang paling bagus. Benaknya masih dipenuhi mantel abu-abu kebiruan yang tidak ditemukannya di lemari. Kalau saja bisa, ia ingin langsung berangkat ke Manor Deschanel dan mencari mantel itu d
Kereta kuda bersimbol beruang perak dan mahkota melintasi pasar diiringi sepuluh pengawal berkuda yang berpencar rapi di sekelilingnya. Hal itu cukup menarik perhatian orang-orang, tetapi Alize tidak peduli. Benaknya penuh dengan isi percakapan dengan Larry dan Edith Hicks. Sebelum ia masuk keret







