MasukLonzo Hernández por fin aceptó mi propuesta de matrimonio. Me pidió que me arreglara preciosa porque, según él, tenía una sorpresa preparada. Cuando llegué, radiante, a la ceremonia… no había novio. Lonzo se volvió hacia mi hermanastra, Amarissa Jiménez, y le sonrió: —Dices que las bodas son tediosas. Hoy voy a mostrarte una que sí es divertida, ¿va? El maestro de ceremonias ―mi hermano Macerio Jiménez― alzó la voz: —¡La boda queda pausada! Mi amigo de la infancia, Guillermo Mendoza, soltó el globo de agua que tenía listo sobre mi cabeza y me empapó de pies a cabeza. Lonzo arqueó las cejas, burlón: —Alfreda, solo era una broma. ¿De veras creíste que me casaría contigo? Aquella “boda” no era más que una farsa para animar a la deprimida Amarissa. Yo callé; él insistió con una risita: —Si traes tantas ganas de casarte, elige a cualquiera de los invitados y cásate con él. Cuando aparecí del brazo de un verdadero novio… se les borró la sonrisa.
Lihat lebih banyakBunga sedang menutup tirai pintu kaca pada balkon kamarnya saat dilihatnya sebuah mobil sedan hitam memasuki pekarangan rumah orangtuanya. Dari pintu kemudi turunlah seorang pria gagah dengan setelan kemeja berwarna merah maron bercelana panjang kain berjalan dengan langkah lebar membukakan pintu penumpang. Terlihat sang saudara kembarnya Sekar turun dengan senyuman lebar dan ucapan terima kasih yang terihat jelas dari tempat Bunga berdiri.
Raut wajah keduanya sangat bahagia, Bunga ikut tersenyum melihat kebahagiaan keduanya. Itu adalah pemandangan yang dilihatnya selama dua bulan terakhir ketika ia kembali menginjakan kaki di tanah air lagi.
Merasa ada yang memperhatikan, Arya Mahendra sang pria gagah itu, menengadahkan kepalanya menatap ke arah balkon kamar Bunga. Bunga yang tahu sedang diperhatikan seketika menarik dirinya bersembunyi di balik tirai.
Bunga memegangi dadanya yang berdegup sangat kencang sampai terdengar di gendang telinganya.
Aku tahu semua ini salah. Hai hati jangan jatuh cinta pada jodoh saudaramu.
Suara ketukan di pintu menyadarkan Bunga dari lamunannya.
“Masuk,” serunya.
Juminah membuka pintunya sedikit, "Nona Cantik di panggil Tuan untuk makan malam bersama, Non Sekar dan Den Arya sudah berkumpul di meja makan juga,” ucap sang pembantu.
Bunga mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam berharap hatinya sedikit tenang. Ia merasa tidak siap bertatap muka dengan Arya setelah kejadian satu bulan yang lalu. Saat itu ia tidak tahu jika Arya dan Sekar memang sudah di jodohkan oleh orangtuanya. Terlebih selama delapan tahun belakangan ini, Bunga hanya dua kali kembali ke tanah air.
Bunga hanya tahu jika selama ia berada di rumah ini, setiap hari Sekar dilihatnya di antar jemput oleh atasan sekaligus kekasihnya itu. Ya Arya adalah atasan Sekar di kantor tempat Sekar magang.
***
Suatu hari saat dilihatnya Arya duduk di teras samping, ditemani secangkir teh hangat sembari menunggu Sekar berdandan karena mereka akan pergi ke pesta. Bunga memberanikan diri mendekati Arya untuk menyatakan perasaan cintanya.
“Kak Arya,” sapa Bunga. Bunga tersenyum simpul malu-malu berdiri di ambang pintu penghubung.
Arya yang sedang asik mengutak atik ponselnya seketika menoleh ke sumber suara yang menyapanya.
“Ya ada yang bisa kubantu Bunga?” Arya memandang lekat-lekat wajah saudara kembar Sekar yang sedikit berbeda karena mereka bukan kembar identik.
Raut wajah Bunga lebih lembut, walaupun kecantikan keduanya tidak bisa dibandingkan mereka berdua sama-sama cantik.
Bunga melangkah mendekati Arya kemudian mendaratkan pinggulnya duduk berhadapan dengan Arya. Sedangkan raut wajah Arya sama sekali tak terbaca, cenderung dingin sepertinya.
“Emmm begini Kak, sebenarnya Bunga jatuh cinta sama Kakak,” ucap Bunga dengan berani kemudian meraih tangan kanan Arya merengkuhnya dalam genggamannya. Bunga seolah-olah sudah melupakan semua norma dan mengesampingkan rasa malunya, mungkin kehidupannya di luar negeri membuat pribadinya menjadi pemberani dan terbuka.
Namun seketika Arya menarik tangannya. Bahasa tubuh dan raut wajahnya masih tetap sama tak terbaca.
Perbuatan Arya yang menarik tangannya melepaskan diri dari genggaman tangan Bunga membuat hati gadis itu berdesir nyeri. Seketika rasa malu menghantam telak ke batinnya. Ia merasakan sesuatu yang lain dan hubungan sang saudara kembar dan Arya pasti lebih dari sekedar teman, walaupun saudaranya tersebut tidak pernah membahas Arya saat mereka bercakap-cakap bersama, malah Sekar selalu membahas sepupu sahabat mereka saat bersekolah dahulu kala.
Arya menatap wajah gadis di depannya lekat-lekat. “Bunga kau tahu aku mencintai Sekar. Memang kami di jodohkan tetapi dalam hati kecilku aku amat sangat mencintainya, maaf aku tidak bisa membalas cintamu.” Setelah berkata demikian Arya bangkit berdiri merapikan jasnya dan berlalu dari hadapan Bunga. Arya mengatakan semua itu dengan tenang dan tanpa perubahan yang berarti di wajahnya yang datar dan dingin itu. Tidak juga Arya mencoba menghibur Bunga yang pasti telah patah hati tersebut.
Bunga menatap kepergian Arya sampai punggung pria tersebut menghilang dari pandangan matanya. Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya. Cinta pertamanya kandas bahkan belum sempat bersemi.
***
Sudut bibirnya terangkat ia tersenyum getir. Hari ini dirinya harus menyiapkan hati untuk bertemu dengan Arya lagi.
“Kenapa sih mereka harus makan malam di rumah? Biasanya juga mereka makan di luar,” gerutu Bunga.
Bunga mengayunkan langkah berat menuruni tangga lantai dua rumahnya menuju ruang makan. Jika saja bukan karena usaha baru yang dirintisnya mungkin saat ini ia tidak akan kembali ke tanah air. Sesungguhnya Bunga berencana kembali jika sang saudara kembar telah melaksanakan pernikahan dengan kekasihnya itu.
“Lama sekali sih Nak, Nak Arya sudah menunggu dari tadi. Tidak enakkan ada tamu harus menunggu begini,” tegur Lucy sang bunda.
Bunga duduk di samping sang bunda, yang mau tak mau posisi duduknta tepat berhadapan dengan Arya. Lagi pula memang hanya tempat itu yang tersisa. Para kakak lelakinya dan keluarganya kebetulan juga sudah berkumpul dengan mereka saat mengetahui kedatangannya kembali.
“Kak Arya bukan tamu Bunga jadi tak perlu menunggu,” balasnya datar. Kemudian Bunga sibuk mengambil nasi dan memilih lauk pauk untuk segera memenuhi piring di hadapannya.
Arya menaikkan satu alisnya mendengar jawaban Bunga. Gadis itu pun bicara tanpa menatap sang bunda atau semua orang yang ada di meja makan, Bunga malah asik dengan piringnya sendiri.
Gadis ini mulai menjaga jarak dengannya setelah pernyataan cintanya waktu ini. Arya mendengus kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Sekar yang mulai sibuk melayaninya makan.
“Makan yang banyak ya Sayang,” ujar Sekar lembut sembari mengusap lengan atas Arya.
Bunga yang mendengar ucapan Sekar berusaha tidak peduli. Kemudian perkataan sang ayah mengejutkannya, ia seketika menghentikan aktifitas makannya.
“Papa akan mencarikan Bunga pendamping jika kamu masih bersikukuh tidak ingin bekerja di perusahaan. Sayang Nak, gelar doktoral-mu jika hanya dipakai untung menganggur lebih baik kamu menikah,” ucapnya.
Bunga mendengkus dan menatap ke arah ayahnya, sedangkan sang bunda dan Sekar tersenyum ke arahnya. Arya sendiri memandang ke arahnya lekat-lekat raut wajah pria itu datar, seolah menunggu reaksinya.
“Papa tahukan apa yang Bunga mau dan sampai sekarang Bunga masih belum berubah pikiran.”
"Bunga, sudah selama delapan tahun kamu meninggalkan rumah, masa iya bunda dengan tatapan sendu.
“Mama tidak akan kesepian sekalipun tidak ada bunga di sini. Ada Kak Roby beserta istri dan anak-anaknya, Kak Jovan dengan istrinya dan sebentar lagi Sekar juga akan segera menikah. Yang pasti Bunga bukan pengangguran selama dua bulan ini. Bunga diam di rumah karena menikmati hari libur,” terangnya dengan ringan. Bunga juga hanya dengan sekilas menatap ke arah sang bunda dan masih tak mau menatap kepada Arya.
“Dan kamu akan tetap pergi,” ucap Sekar menimpali.
Bunga menatap saudara kembarnya. Dengan tegas ia menjawab, “Tentu, tidak ada yang bisa menahanku untuk tetap tinggal. Lagi pula aku harus mengajar dan mengurusi bisnisku yang lain,” balasnya.
"Mengajar dan bisnis?" tanya sang ayah dengan penasaran, karena setahunya putri bungsunya itu hanya mengajar sebagai dosen pengganti tidak tetap di sebuah kampus modern di Amsterdam sana..
Bunga menghentikan kegiatan makan malamnya, kemudian menatap sang ayah. “Walaupun Bunga tidak pernah kembali ke tanah air dalam waktu lama bukan berarti Bunga tidak punya usaha di sini. Bukan di Jakarta tepatnya,” ucapnya lagi. Membuat semua orang yang ada di meja makan itu ikut penasaran dibuatnya.
Robert Atmaja sang ayah mengerutkan dahinya, menatap lembut sang putri dan tidak menutup keterkejutannya.
“Apa maksudmu Nak?” tanya Robert. Dirinya sungguh tidak habis pikir, bagaimana mungkin dia melupakan hal yang sepenting ini perihal sang anak. Terlebih anak gadisnya belum menikah dan tentu saja masih menjadi tanggungjawabnya.
“Papa lupa Bunga ini jenius. Tidak mungkin Bunga sekolah jauh-jauh di Den Haag hanya menghabiskan waktu untuk belajar dan bersenang-senang. Bunga juga bermain saham Papa dan mengajar tentu saja menjadi dosen tamu di beberapa universitas, dengan hasil yang Bunga dapat. Bunga sudah bisa memiliki beberapa hektar perkebunan di Indonesia.”
Semua mata orang yang ada di meja makan terbelalak. Bunga menatap mereka satu persatu.
“Maka dari itu Bunga akan pergi mengunjungi perkebunan milik Bunga,” tambahnya santai.
“Di mana tepatnya? Dan perkebunan apa itu Nak?” tanya Lucy yang menjadi sangat antusias. Ada rasa bangga terdengar dari pertanyaannya. Tentu saja ia berharap dengan memiliki usaha di sini sang putri akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
"Hanya perkebunan biasa,” jawabnya santai sembari mengedikkan bahunya.
Nita yang duduk di sebelahnya meraih bahunya dan mengecup keningnya bangga. "Hebatnya adikku ini," ucapnya sembari memberikan beberapa kecupan di pipi kiri sang adik ipar.
Robert mendengkus. “Biasa seperti apa Nak, perkebunanmu pasti sangat luas. Siapa yang menjalankan selama ini, hm?” Robert tidak menyangka jika pemikiran putrinya sangat maju seperti ini. Bahkan lebih mandiri dari pada putra-putranya sekalipun. Serta sama sekali tidak meminta bantuannya, yang benar saja!
Bunga enggan memberikan keterangan kepada orang tuanya. “Ada deh pokoknya, Bunga memiliki orang kepercayaan kok. Papa dan semuanya tidak perlu khawatir.” Ia sungguh tidak mau mengumbar tentang urusan pribadinya saat ada orang asing bisa mendengar hal itu. Arya masih orang asing bukan? Paling tidak untuk dirinya.
“Sekalipun dengan kakakmu ini kamu tetap tidak mau bilang?” tanya Jovan. Dirinya yang selama ini paling dekat dengan Bunga. Namun sepertinya, belum terlalu dekat untuk diberi kepercayaan oleh adik cantiknya itu.
Al final, que Amarissa tuviera o no depresión dejó de importar.Macerio caminaba detrás de mí en silencio.Recordé mis primeros días de vuelta en la casa Jiménez: era miedosa, le temía a la oscuridad. Él se plantaba en la puerta de mi cuarto con un pequeño oso de peluche y solo se iba cuando me oía respirar profundo.—Te protegeré toda la vida —juraba.Y, aun así, terminó involucrado en cada humillación hacia mí.—Nena, lo siento… —murmuró cabizbajo—. Creí que, con la depresión de Amarissa, ella necesitaba más cuidado que tú. Nunca pensé herirte tanto.Pero yo no podía olvidar cómo se reía cuando, en el cumpleaños de Amarissa, incendiaron intencionalmente el globo con gas a mi lado: explotó y mis diez años de cabello largo quedaron quemados a parches; tuve que cortarlo al ras de las orejas.Él se lamentó: “Si hubiera sabido que era tan peligroso no lo habría hecho; y si Amarissa se hubiese lastimado, habría sido horrible.”Llorando, pregunté: “¿Y yo qué?”—Solo tengo una hermana: Amari
—Después de eso no volví a verte —dijo Carlos con un dejo de tristeza.Mamá enfermó y, tras su muerte, papá me llevó de vuelta a la ciudad; desde entonces perdimos contacto.—¿Sabes cuánto tiempo te busqué? —añadió, dándome un golpecito cariñoso en la frente—. ¡Y tú, desalmada, me olvidaste!Sentí un nudo en la garganta.—Carlos… perdóname.Él me sostuvo la mirada, muy serio:—¿Carlos? Hoy nos casamos. ¿Cómo deberías llamarme?Me puse roja como jitomate. Al susurrar “esposo”, él soltó una carcajada y me rodeó con el brazo.Desde que vivimos juntos descubrí lo que es un amor sano: Carlos no manipula mis emociones ni me hace dudar de mí.El último intento de LonzoCreí que la boda lo había dejado todo claro, pero Lonzo me interceptó camino al trabajo. En apenas unos días se veía irreconocible: ojeras marcadas, barba descuidada y el traje arrugado. Llevaba un ramo de rosas rojas.—Nena, ya lo sé todo. Sí, te casaste con Carlos, pero fue una boda exprés. No lo amas; solo lo hiciste para la
—Lo que me alegra es que al fin me caso… pero no contigo.Pronuncié cada sílaba sin parpadear.Lonzo frunció el ceño, como si le hubieran dado un golpe.Se tambaleó y murmuró, incrédulo:—No puede ser… ¿Cómo vas a casarte con otro…?Me apresó la mano con desesperación:—¡Alfreda, tú misma dijiste que querías casarte conmigo! ¡Que solo me querías a mí!—¡Dime que todo esto es mentira, que me estás engañando!Carlos apareció y apartó de un manotazo la mano de Lonzo.—Alfreda es mi esposa. Te agradecería que dejaras de tocarla.No pude evitar una mueca irónica.¿Aquello qué era? Cuando le supliqué casarnos, dijo que era una “chicharra” pegada a su oreja y que yo ni a una uña de Amarissa llegaba. Ahora fingía un dolor digno de telenovela.Con voz entrecortada, Lonzo se aferró de nuevo a mi mano:—Nena, dame otra oportunidad… por favor…Me solté y enlacé mis dedos con los de Carlos. No quería volver a estar unida a ninguno de ellos.De regreso en casa de CarlosSolo entonces asimilé que me
Jamás me habían dicho algo tan bonito. Sentí los ojos humedecerse mientras contemplaba la ternura y la sinceridad que desbordaban de la mirada de Carlos.Apenas lo conocí hace unos días, pero tengo la extraña sensación de que llevamos mucho tiempo juntos. De todos modos, asumí que aquellas palabras eran más para callarles la boca a los otros que para mí… así que procuré no tomarlas demasiado en serio.El cambio de actitud de mi padre fue inmediato: se aferró a la mano de Carlos y le sonrió con una calidez exagerada.Carlos, sin alterarse, soltó su mano con elegancia y me condujo hasta la abuela.Ella nos tomó a ambos con sus dedos temblorosos y se iluminó de felicidad.—Nena, sé muy feliz —murmuró.Carlos se arrodilló junto a su silla, soportando con paciencia cada una de sus bendiciones.Alrededor, los invitados comenzaron a lanzar elogios:—¡Qué pareja tan linda! —decía uno.—¿Ven? El que pidió “novio al instante” hace un rato quedó como payaso —se burlaba otro.Los rostros de Lonzo,
Lonzo hizo un gesto de falsa compasión:—Alfreda, por ese triste orgullo tuyo eres capaz de todo…—Si traes tantas ganas de boda, ¿por qué no eliges a cualquier hombre de aquí?Acto seguido tomó el micrófono y voceó, regodeándose:—¡La señorita Alfreda Jiménez busca marido en este preciso instante!
Macerio –mi hermano– soltó la carcajada:—Nena, aunque te duela el orgullo, ¡no hace falta inventar historias!—Además, si alguien te quisiera, ¿crees que yo, tu hermano, no lo sabría?Las risas estallaron a su alrededor. Después de años persiguiendo a Lonzo, todo el mundo lo tenía clarísimo.Guille
Las carcajadas de Amarissa y compañía retumbaron en el salón.Sentí que un puño enorme me estrujaba el corazón una y otra vez.Sabía desde hace días que Lonzo, mi hermano Macerio y mi amigo de la infancia Guillermo planeaban burlarse de mí. Todo empezó con la llamada de Lonzo:—Alfreda, ¿no que muer
El maestro de ceremonias terminó de leer los votos, pero el novio seguía sin subir al estrado.Los invitados cuchicheaban; entendí que querían volverme a ridiculizar.Abajo, Lonzo jugueteaba con los anillos. Se giró hacia Amarissa:—¿No decías que las bodas son aburridas? Hoy verás una boda de una s






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.