Se connecterร่างแกร่งของชายหนุ่มที่เพิ่งกลับจากทำงานหนักทั้งวัน พร้อมลูกน้องที่เดินตามหลังมานับสิบ สายตาคู่เย็นเฉียบเรียบนิ่ง ไม่บ่งบอกอารมณ์ แม่บ้านหลายคนที่เดินออกมารับ พร้อมเตรียมรองเท้า รับของที่เจ้านายหนุ่มถือมา “ทำไมบ้านเงียบ?” “คุณท่านไม่อยู่ค่ะ” แม่บ้านเอ่ย “อืม แล้ว…” “เฮียยยยยยย” เสียงใสๆของหญิงสาวที่กำลังวิ่งมาอย่างร่าเริงเข้ามาหา ก่อนกระโดดกอดเขาเต็มแรง “หรรษา ทำไมหนูต้องวิ่ง” “รอเฮียมาทั้งวัน กว่าจะเสด็จกลับมานะคะ”หรรษาเอ่ย “รอเฮียทำไม จะเอาอะไรอีก” “หนูขอออกไปเที่ยวนะคืนนี้” หรรษาเอ่ย “จะไปก็ไปซิ ปกติหนูก็ไปไม่ใช่เหรอหรรษา” กะตัญเอ่ย “หนูจะขอพาเอแคลไปด้วยไงคะ” “ทำไมต้องพาเอแคบไปด้วย?” “ก็น้องจบม.6แล้ว หนูจะพาไปฉลอง เป็นอันว่าขอแล้วนะคะ ฟ่อดดด รักเฮียจัง” เอแคลที่หรรษาพูดถึง เป็นหนึ่งในสาวใช้ในบ้าน ซึ่งเธอเป็นหลานสาวของหัวหน้าแม่บ้านที่นี่ โตที่นี่ และดินแดนกับพาเพลินก็เอ็นดูส่งเสียให้เรียน “นี่สาบานว่าเป็นแฝดผมจริง” กะตัญเอ่ยกับป้าแม่บ้าน “คุณหนูหรรษาร่าเริงจริงๆค่ะ”
Voir plus“Tolong…”
Suara itu nyaris tenggelam oleh deru angin pegunungan yang kencang... lirih, patah, seperti sisa napas yang terlepas dari tubuh yang hampir menyerah. Namun, cukup untuk membuat seorang pemuda yang sedang berjalan santai di jalur setapak berhenti. Udara di perbatasan Sussex Mountain dingin dan bersih, menusuk paru-paru dengan kesegaran khas dataran tinggi. Di tengah ketenangan itu, suara rintihan dari arah jurang terasa begitu asing… sekaligus mendesak. Pemuda itu menoleh. Pakaiannya sederhana, bahkan terkesan lusuh. Rambutnya berantakan, tidak tersisir, jatuh menutupi sebagian dahinya. Tapi wajahnya tetap tegas dan tampan, dengan sorot mata yang tajam seperti seseorang yang telah melewati terlalu banyak masalah. Kevin Braxton. Ia baru saja turun dari wilayah kultivasi di Sussex Mountain... tempat yang selama lima tahun menjadi dunianya. Tujuannya sederhana namun berat… mencari lima kakak seperguruannya, para wanita tangguh yang pernah menjadi murid gurunya, demi meminta bantuan menghancurkan Racun Pemikat Asmara yang masih bersemayam di tubuhnya sejak lima tahun lalu. Belum sempat pikirannya melayang jauh, matanya menangkap sesuatu. Sebuah mobil mewah... Porsche Carrera hitam, tergantung setengah badan di tepi jurang. Ban depannya sudah melewati pagar pembatas yang patah. Sedikit saja bergeser, kendaraan itu akan jatuh ke dasar jurang yang berkabut. Dan dari dalamnya… terdengar lagi suara itu. Kevin berlari mendekat. Pintu mobil penyok. Kaca retak. Mesin masih mengeluarkan suara halus, seperti napas terakhir. Di kursi pengemudi, seorang wanita muda terjebak sabuk pengaman. Ia mengenakan kaus putih ketat dan celana pendek. Tubuhnya bergetar. Kulitnya memerah, rambutnya menempel di wajah karena keringat. Napasnya tidak teratur… panas, berat, seperti terbakar dari dalam. Sekilas, pesona tubuhnya begitu mencolok dengan dada ukuran 36D, memikat mata siapa pun yang melihat. Tapi Kevin tidak melihatnya dengan hasrat. Ia hanya melihat satu hal… kondisi kritis. Wanita itu kepanasan… bukan karena cuaca. Tubuhnya mengeluarkan uap panas samar, bertolak belakang dengan udara dingin di sekitar. Keringat dingin mengalir, tapi hawa dari tubuhnya justru terasa seperti api yang menyala. Kevin langsung mengenali tanda-tandanya. Serbuk es api. Mineral langka dari Sussex Mountain. Berbahaya, mematikan, dan seharusnya tidak pernah berada di dunia fana. “Bagaimana bisa benda seperti ini lolos keluar…” gumam Kevin dalam hati. Alisnya mengernyit. Ia tidak punya waktu untuk menganalisis. “Nona… apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan. Suaranya tenang dan menenangkan. Wanita itu hanya mampu mengangguk lemah. Bibirnya gemetar. Detik berikutnya, tubuhnya kembali melengkung kesakitan. “Arrrgh… panas…” Jeritannya memecah sunyi pegunungan. Kevin mendekat, tangannya sigap, namun hati-hati. “Nona… jangan berteriak terlalu keras. Kalau ada orang lewat, bisa salah paham,” ujarnya santai, mencoba menjaga situasi tetap terkendali, sambil membuka sabuk pengaman yang menjerat tubuh wanita itu. Klik. Sabuk terlepas. Tubuh wanita itu hampir roboh, dan Kevin menahannya sebelum kepalanya membentur dashboard. “Tolooong… tubuhku… panas sekali…” Suaranya pecah, hampir tak terdengar. Kevin bisa merasakan panas itu dari dekat, seperti berdiri di depan tungku menyala. Serbuk es api bekerja cepat. Begitu masuk ke tubuh manusia biasa, ia menciptakan konflik energi: dingin membekukan inti tubuh, sementara panas membakar dari luar. Rasa sakitnya luar biasa. Jika dibiarkan, organ dalam akan rusak… lalu mati. Satu jam. Paling lama satu jam sebelum wanita ini kehilangan nyawa. “Kejam sekali orang yang memberinya ini…” pikir Kevin. Rahangnya menegang. Ia segera menarik wanita itu keluar dari mobil, menggendongnya dengan satu tangan sambil menjaga keseimbangannya di tepi jurang. Dan tepat saat ia melangkah menjauh... KRAAAK! Porsche itu bergeser. Tanah runtuh. Roda belakang kehilangan pijakan. Dalam hitungan detik, mobil mewah itu terjun bebas, menghilang ke dalam kabut jurang, diikuti oleh suara dentuman keras yang menggema dari bawah. Wanita dalam pelukan Kevin merintih, nyaris tak sadar. Kevin tidak menoleh lagi. Di benaknya hanya ada satu tempat. Sebuah gubuk kecil di perbatasan Sussex Mountain dan Pegunungan Alpenia. Gubuk bambu sederhana yang pernah ia kunjungi beberapa kali saat ingin merasakan udara dunia fana... berbeda dari energi spiritual wilayah kultivasi. Tanpa ragu, Kevin bergerak. Langkahnya ringan, nyaris tak menyentuh tanah. Tubuhnya melesat di antara bebatuan dan pohon pinus, seperti bayangan yang berlari bersama angin. Angin gunung berdesir keras, namun tak mampu menghambat gerakannya. Wanita itu terkulai di pelukannya, napasnya semakin panas. Tubuhnya gemetar, jari-jarinya mencengkeram lemah pakaian Kevin, seolah mencari sesuatu untuk bertahan. Kevin mempercepat langkah. Ia bisa merasakan detak jantung wanita itu… cepat, tidak stabil. “Bertahanlah…” gumamnya pelan. Langit mulai redup. Kabut turun dari puncak gunung. Jalur setapak menjadi licin, namun Kevin tetap melaju… tubuhnya seakan melayang di atas tanah. Beberapa menit kemudian… Di balik deretan pohon pinus, gubuk bambu kecil itu akhirnya terlihat. Sederhana dan tua, namun kokoh berdiri di tepi lereng. Kevin langsung menuju pintu, menendangnya hingga terbuka. “Nona… aku harus segera menetralisir racun di dalam tubuhmu. Kalau tidak, kau tidak akan bertahan lebih dari satu jam.” Suara Kevin rendah, tegas, tanpa ragu. Ia baru saja membaringkan wanita muda itu di atas dipan bambu dengan kasur kapuk tipis yang berbau serat kering dan lembap. Di dalam gubuk, udara dingin merayap pelan, namun panas dari tubuh wanita itu terasa seperti nyala api yang menyusup ke setiap sudut ruangan. Wanita itu terengah. Dadanya naik turun cepat, napasnya berat, seperti ditarik paksa dari paru-paru yang terbakar. “Lakukan saja…” katanya dengan suara patah. Bibirnya kering. Tubuhnya menggigil aneh—kulitnya terasa dingin, tapi hawa yang keluar darinya justru menyengat panas. Kevin tidak membuang waktu. Tangannya bergerak cepat, merobek pakaian wanita itu agar racun tidak terperangkap oleh aliran energi yang tertahan. Kain terkoyak, suara sobekannya memecah kesunyian gubuk. Wanita itu tersentak. Wajahnya yang semula pucat berubah kaku oleh keterkejutan. “Apa yang mau kau lakukan?!” teriaknya, panik. “Dasar hidung belang!” Nada marahnya lemah, terputus-putus oleh rasa sakit yang terus membakar tubuhnya. Kevin tidak menanggapi. Fokusnya hanya satu… racun serbuk es api yang sudah menyebar di jalur energi wanita itu. Ia terus membuka sisa pakaian yang menghalangi, bergerak cepat dan efisien, seperti seorang tabib yang berpacu dengan waktu. “Aku bunuh kau, brengsek…” gumam wanita itu lagi, namun suaranya semakin tenggelam. Tubuhnya kehilangan tenaga, matanya mulai berat. “Nanti saja, Nona,” jawab Kevin santai, masih dengan nada tenang. “Kalau sudah sembuh, silakan cari aku.” Ia tahu risikonya. Ia juga tahu hanya ada satu cara. Serbuk es api berasal dari wilayah kultivasi—zat yang tidak bisa dinetralisir dengan metode dunia fana. Satu-satunya jalan adalah menghancurkannya dari dalam, menggunakan energi spiritual melalui penyatuan tubuh, teknik yang dikenal dalam dunia cultivator sebagai dual cultivation. Kevin menarik napas, menenangkan aliran energinya, lalu mulai menyalurkan kekuatan inti yang berputar di dalam dantiannya. Begitu energi itu mengalir, suhu di dalam gubuk berubah. Hawa panas bercampur dengan gelombang energi halus yang bergerak di antara tubuh mereka, menghancurkan racun sedikit demi sedikit. Wanita itu tak mampu melawan. Tubuhnya lemas, kesadarannya setengah tenggelam oleh efek racun. Namun, reaksi tubuhnya tetap hidup—aliran energi Kevin memaksa jalur-jalur meridian yang tersumbat terbuka, menekan panas yang berputar liar. Kevin tertegun sesaat. “Kamu… masih perawan?” gumamnya, terkejut.หลังจากขึ้นเครื่อง แม้จะยังดูซึมๆ แต่ก็ไม่ได้ร้องไห้โวยวายอะไร กระทั่งผ่านมานานนับเดือน มารีนมักจะคุยวีดิโอคอลกับมาเฟียพี่ชายแท้ๆนานนับชั่วโมงทุกวัน บางวันก็หลับคาโทรศัพท์ไปก็มี บางวันก็ตื่นมาคุยแต่เช้าซึ่งทางฟังมาเฟียยังไม่สว่าง ทำให้มาเฟียต้องตื่นทั้งๆที่เพิ่งนอนเพื่อมาคุยกับน้อง"มันตามใจน้องขนาดนี้ ไม่แปลกใจเลยทำไมน้องมันดื้อ" เสียงของกะตัญเอ่ยขึ้นเมื่อยืนมองมารีนที่คุยกับกะตัญผ่านการโทร"มึงก็สปอยลุกพอกัน ทั้งมึงทั้งมาเฟียสปอยมารีนหนักพอกันแหละ ไม่ต้องไปว่าลูก" ดินแดนเอ่ย"พ่อก็สปอยหลานเหมือนกัน ผมเห็นนะว่าพ่อปล่อยให้ลูกสาวผมขี่คอดึงผม ให้โคอี้วิ่งขับ ไม่ต่างหรอกครับ""พอกันทั้งพ่อทั้งลูกไม่ต้องเกี่ยงกันค่ะ"พาเพลินเอ่ย"จริงค่ะคุณแม่ พี่กะตัญสปอยมารีนหนักมาก ใครแตะไม่ได้เลย""แคล หนูก็เอากับเขาด้วย""จริงนี่คะ มารีนถูกพี่ตามใจมาตั้งแต่เกิด""จริงครับคุณย่า จนผมนึกว่าผมเป็นลูกเมียน้อยพ่อซะอีก พ่อจะทุบผมเวลาผมทะเลาะกับน้อง" มาร์เวลเอ่ย"คุณพ่อมีเมียน้อยเหรอมาร์เวล?""เอ้า น้อยใจยังไงให้งานเข้าพ่อ"กะตัญเอ่ยผ่านมาหลายปีกระทั่งมารีนกำลังเข้ามหาวิทยาลัย มาเฟียดูแลกิจการของที่บ้านปีกขว
EP50 - กลรักร้าย เจ้านายมาเฟีย 2 (กะตัญ)ประเทศอังกฤษกะตัญและครอบครัวมาส่งมาเฟียเพื่อมาเรียนต่อที่อังกฤษ แน่นอนว่าคนที่ตื่นเต้นที่สุดคงเป็นมารีนมากกว่ามาเฟีย จากที่กำลังงอนพี่ชายก็ลืมหมดสิ้นและสนุกกับการเดินทางมาอังกฤษแทนทุกคนใช้เวลาอยู่ที่นี่1อาทิจย์ก่อนที่จะเดินทางกลับ แต่แล้วเด็กหญิงที่สนุกกับการเดินทางมาที่สุด วันนี้ก็เริ่มโวยวาย"พี่คะ ไปดูมารีนหน่อยค่ะ""หื้ม? ทำไมครับ""ร้องไห้โวยวาย บ้านจะถล่ม กอดคอมาเฟียแน่นเลยค่ะ""เฮ้อ"กะตัญเดินไปหาลูกๆที่ห้องนอนของมาเฟีย ปรากฏว่าเจอมารีนที่ถูกมาเฟียอุ้มไว้กอดคอผู้เป็นพี่ชายแน่น โวยวายประหนึ่งโลกจะแตกก็ไม่ผิด"ไม่เอาาาา รีนรีนจะอยู่กับเฮียยยยย ไม่เอาๆไม่กลับๆ ไม่ไปไหนทั้งนั้นนนนนน""โห โวยวายอะไรขนาดนี้เนี้ยลูกสาวพี่""มากค่ะ พี่ช่วยหน่อยค่ะ เดี๋ยวต้องไปสนามบินแล้ว""มารีน""พ่อขา ฮึก รีนรีนจะอยู่กับเฮียที่นี่ค่ะ""ไมไ่ด้ครับ เฮียมาเรียนหนังสือ หนูก็ต้องกลับเมืองไทยกับพ่อเพื่อไปเรียนหนังสือครับ เดี๋ยวเฮียเรียนไม่นานก็กลับไปอยู่เมืองไทยกับเราแล้วครับ""งั้นรีนรีนจะเรียนที่นี่ค่ะ""อย่างอแงนะครับ มาหาพ่อมา""ไม่เอาๆๆๆๆ ไม่ไปค่ะ""พ่อครับ เ
” กูคุ้มกันเอง ขุดต่อ!!!“มาเฟียหนุ่มยกขึ้นทั้งสองมือก่อนกวาดสายตาโดยรอบและเริ่มสาดกระสุนอีกครั้ง แน่นอนว่าการยิงตอบโต้ครั้งนี้อีกฝ่ายถูกยิงจนเสียชีวิตมากกว่าสามคนแน่นอนว่าที่นี่ต้องมีคน เข้ามาทำร้ายลูกชายเขาตั้งแต่เริ่มอยู่หลายคนมากเมื่อขุดถึงโลงศพ ปรากฏว่าโลงศพถูกสู้รเอาไว้แน่น ในขณะที่กระจกที่มองเห็นด้านในบ่งบอกว่ามาเฟียกำลังจะขาดอากาศหายใจ เขาเริ่มดิ้นน้อยลงจนกะตัญ ต้องรีบทำอะไรบางอย่าง” พวกมึงหลบ!!!“ปืนที่ถูกยิงเข้าที่โซ่อย่างแม่นยำ อย่างที่ลูกน้องคนไหนก็คงไม่กล้ายิง เพราะหากพลาดนิดเดียวกระสุนจะวิ่งทะลุโลงศพเข้าไปโดนมาเฟียที่ถูกขังอยู่ในทันที แต่เพราะฝีมือและความชำนาญที่มามาเฟียหนุ่มมีทำให้เขาสาดกระสุนไม่พลาดเลยแม้แต่นัดเดียวจนกระทั่งสู้ขาดออก โลงศพถูกเปิดขึ้นก่อนที่มาเฟียหนุ่มจะรีบประคองลูกชายที่กำลังจะหมดสติออกจากที่นั่น” มาเฟีย!! ได้ยินพ่อไหม!!“” ผมได้ยินครับพ่อ ผมยังไหว“” เห็นหน้าคนทำไหม“” ไม่เห็น พวกมันฟาดผม แต่ผมไม่ได้สลบ แค่เจ็บเท่านั้นครับแล้วก็ถูกลากลงมาในโลงศพนี้“” พ่อนึกว่าจะเสียลูกไปแล้ว“มาเฟียหนุ่มหลังลูกชายเขามากอดทันทีอย่างรู้สึกโล่งอก ก่อนที่เขาพาลูกชายออ
EP49 - กลรักร้าย เจ้านายมาเฟีย 2 (กะตัญ) ความร้อนใจของมาเฟียที่เมื่อมาถึงพบว่าลูกชายของตัวเองหายตัวไป แม้ว่ามาเฟียจะโตมากพอที่จะปกป้องตัวเองได้ แต่ยังไงเค้าก็ยังคงเป็นเด็กที่เพิ่งเริ่มโต หากถูกทำร้ายจากคนหลายคนยังไงก็คงสู้ไม่ได้ อีกทั้งตอนนี้มาเฟียยังเด็กมากเกินไปกว่าที่จะพกอาวุธหนักติดตัวมาตลอด “ หาทั่วโบสถ์แล้วครับ ยังหาคุณหนูมาเฟียไม่เจอเลยครับ!” กะตัญที่หรี่ตาพยายามนึก เขากำลังคิดว่าตัวเองทำและเลือกสถานที่ซึ่งเป็นโบถส์แบบนี้ เขาจะลักตัวมาเฟียไปไว้ที่ไหน ดูจากการที่บอดี้การ์ดยังไม่ถูกฆ่าจนเสียชีวิต แสดงว่าตอนนี้มาเฟียลูกชายของเขายังคงปลอดภัย และดูเหมือนว่าคนที่อยู่เบื้องหลังไม่ได้ต้องการฆ่าให้ตายเสียทีเดียว ดูแล้วเจตนาต้องการทรมาน ถึงใจเย็นกับทุกอย่างจนกระทั่งมาเฟียมาติดกับที่นี่ “ ไหนครับเราเจอหลวงพ่อกับเพื่อนของคุณหนูมาเฟียถูกขังอยู่ด้านหลังโบสถ์ครับ” “ ถ้ากูเป็นกูจะทำยังไง ! คิดให้ออกสิวะ!!” มาเฟียหนุ่มกำลังพยายามคิดลำดับเหตุการณ์ สายตาพลางมองบริบทโดยรอบของโบสถ์แห่งนี้ว่ามีปัจจัยไหนได้บ้างที่จะทำลายลูกชายของเขา หากต้องการทรมานเห็นได้ชัดว่าไม่ได้ต้องการทรมานแค่ลูกชายข
commentaires