LOGIN“คุณคงไม่มีปัญหาอะไรใช่ไหมถ้าผมจะให้ลิลินเขานอนค้างที่นี่คืนนี้” กวินภพเอ่ยขึ้นหลังจากที่เขาและคู่ขาเดินตามหลังมัทนาออกมาจากเรือนใหญ่หลังจากการรับประทานอาหารเย็นสิ้นสุดลง ซึ่งคำถามนั้นทำเอาคนที่ตั้งใจจะเดินหนีภาพบาดตาไปให้ไกลจำต้องหยุดชะงักก่อนจะหันหลังกลับไปเผชิญหน้ากับเจ้าของคำถามอีกครั้งอย่างคนไม่มีทางเลือก
View MoreBRAKKK
"Ma-maaf, Kak. Saya tidak sengaja," ucap Feli pada seorang gadis yang tak sengaja ia tabrak. Selama berjalan gadis itu selalu menunduk membuatnya tak fokus pada jalanan dan menabrak seorang siswa lain di lorong sekolah. "Hmt," gumam gadis itu yang Feli yakini sebagai kakak kelasnya "Saya bantu, Kak." Gadis itu menerima uluran tangan Feli yang ingin membantunya berdiri dari posisi jatuhnya. Pada saat itu pula Feli tak sengaja menatap mata gadis berambut sebahu itu. Sejenak Feli mematung, dirinya seolah ditarik ke dalam sebuah ruang tiga dimensi yang di sana ia bisa melihat sebuah kejadian. Seorang gadis sedang berusaha menarik sebuah kursi mendekati jendela, Feli tak mengerti apa yang sedang gadis dengan rambut sebahu itu lakukan. Feli rasa ia sedang berada di sebuah kamar mandi, akan tetapi ia tidak tahu di mana itu. Manik biru laut Feli terbelalak kaget saat gadis berambut sebahu itu telah berdiri di atas kursi dan mengeluarkan sebuah tali tambang dari dalam tasnya. Gadis itu mengikat tali tambang dengan jendela, dan ujung lainnya ia membuat tali simpul berbentuk lingkaran besar. Feli berlari mendekati gadis itu saat ia memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran tali itu. Feli berusaha untuk berteriak dan menggapai gadis berambut sebahu itu, meski ia tahu jika gadis itu tak akan bisa melihat dan mendengarnya. "Aakhhh." Reflek Feli menarik tangannya dari kakak kelas yang ia tabrak tadi, membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya menatap Feli heran. Kesadaran Feli telah kembali, ia masih berada di lorong sekolah yang sepi. "Ma-maaf, Kak. Saya pergi duluan!" Feli segera melangkah meninggalkan gadis itu yang berdiri mematung menatap punggungnya. "Lupakan! Lupakan Feli! Lupakan!" gumam Feli seorang diri. Saat ini ia melangkahkan kakinya menuju kelas pertamanya di sekolah menengah atas. Bukan kali pertama Feli melihat hal seperti itu, gadis bermanik biru laut ini memiliki keistimewaan yaitu bisa melihat moment kematian seseorang hanya dengan menatap matanya. Hal ini telah terjadi berulang kali, sebagian dari mereka meninggal dengan akhir hidup yang bahagia, namun tak sedikit pula Feli melihat peristiwa kematian yang mengenaskan. Bahkan dulu ia pernah berhari-hari menangis dan tak tega menelan sesuap nasi karena melihat kematian tragis dari seorang bocah laki-laki. Saat ini Feli telah memasuki kelas pertamanya, seperti kebiasaan di sekolah menengah pertama, gadis itu akan berjalan dan mencari bangku paling belakang dan duduk menunduk di sana. "Hai, namaku Pinkan, siapa namamu?" sapa seorang gadis yang duduk di hadapan Feli. "Ha-hai, na-namaku Feli," jawab Feli kikuk. Gadis itu tetap menundukkan kepala tak berani menatap mata gadis di hadapannya. Ia tidak ingin melihat moment kematian teman sekelasnya ini. "Senang bertemu denganmu, Feli." Feli hanya mengangguk sebagai jawaban, sementara Pinkan kembali menatap ke depan karena guru telah masuk ke kelas. Setelah semua siswa duduk manis menatap guru yang sedang berbicara di depan kelas, baru Feli berani mengangkat wajahnya. Gadis itu ikut menatap ke depan kelas dengan telinga yang ia pasang dengan seksama mendengarkan penjelasan guru paruh baya itu yang sedang menjelaskan beberapa hal yang perlu diketahui oleh siswa baru. "Saatnya kalian maju ke depan dan memperkenalkan diri!" ucap guru yang berjalan menuju mejanya, ia sengaja menyingkir dari depan kelas karena siswa mulai maju satu persatu memperkenalkan diri. Feli mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya, ia sangat takut jika harus memperkenalkan diri di depan kelas. Bukan takut kepada Bapak Guru atau teman-temannya, akan tetapi gadis itu tak sanggup jika harus bersitatap dengan puluhan orang di dalam kelas. Bayangan kematian mereka, Feli tak sanggup melihat itu. Hal ini membuat gadis itu takut berteman dengan siapapun, karena itu Feli lebih suka duduk di bangku paling belakang agar tidak terlalu mencolok di antara siswa di kelas. "Felicia Angeline." "I-iya, Pak." Gadis itu langsung berjalan ke depan kelas setelah mendengar namanya dipanggil. Feli tidak bisa menolak, akhirnya ia terpaksa berdiri di depan kelas dan memperkenalkan diri. "Na-nama saya, Felicia. Sa-salam kenal teman-teman semua!" ucap Feli memperkenalkan diri. Tidak ada tanggapan dari teman-teman sekelasnya, kelas sangat hening tak ada yang bersuara. "Feli, angkat wajahmu biar teman-temanmu bisa melihat wajahmu!" ucap guru paruh baya itu. Akan tetapi Feli justru semakin menundukkan kepalanya. "Ma-maaf, Pak!" ucap Feli. "Baiklah, kamu boleh mundur!" Gadis itu berjalan kembali ke meja paling belakang dengan wajah yang masih tertunduk. "Sepertinya teman kalian Feli adalah gadis pemalu, jangan lupa kalian harus sering-sering mengajaknya mengobrol!" ucap guru laki-laki paruh baya itu yang dijawab anggukan kepala oleh para murid. Selama pelajaran berlangsung, Feli selalu menundukkan kepalanya. Waktu berjalan dengan cepat, saat ini bel pulang telah berbunyi bersamaan dengan rintik hujan yang semakin padat menimpa atap membuat suara bergemuruh memenuhi lorong sekolah. Feli menghela napas malas, di hari pertamanya masuk sekolah ia justru lupa tidak membawa payung ataupun jas hujan. Gadis itu menatap langit yang gelap tertutup awan hitam, sementara banyak siswa lain yang menerobos hujan dan basah kuyup di perjalanan. Namun tak sedikit pula yang lebih memilih menunggu hujan reda karena tak ingin bersentuhan dengan air hujan yang dingin. "Feli, kamu tidak membawa jas hujan, ya?" Suara seorang gadis membuat Feli menoleh sejenak. Gadis itu menatap kancing baju Pinkan yang baru saja berdiri di hadapannya, ia tak berani menatap mata gadis berambut ikal itu. "I-iya, aku lupa tidak bawa," jawab Feli. "Kamu pulang naik apa?" "A-aku membawa sepeda." "Wah, rumahmu dekat, ya? Kalau aku dijemput, itu papaku sudah datang. Kamu mau ikut sekalian aku antar ke rumahmu!" ajak Pinkan yang disambut gelengan kepala oleh Feli. "Terima kasih untuk tawarannya, tetapi aku akan menunggu hujan reda saja," ucap Feli menolak dengan halus. Akhirnya Pinkan masuk ke mobil orang tuanya yang telah terparkir di halaman sekolah. Gadis berambut ikal itu telah pergi, saat ini Feli tinggal sendirian bersama beberapa siswa lain yang masih menunggu hujan reda. Namun Feli tidak mengenal mereka dan tidak ingin berkenalan dengan mereka. Gadis itu merasa kedinginan membuatnya ingin pergi ke kamar mandi, Feli berjalan perlahan menuju kamar mandi di ujung koridor ini. Awan mendung membuat koridor panjang ini terlihat gelap ditambah hujan deras membuat suasana koridor sedikit menakutkan bagi Feli. Ceklek GRUSAKK "Aakhhhh," teriak Feli saat melihat peristiwa di depan matanya. "Ada apa?" seorang laki-laki yang mendengar teriakan Feli berlari ke arahnya. "Mayat!"กวินภพและมัทนาเดินทางมาร่วมงานแต่งงานระหว่างกล้องภพกับรุจิราตามคำเชิญของทั้งคู่ที่โรงแรมหรูใจกลางเมือง แขกนับพันถูกเชิญให้มาร่วมงานตามฐานะของพ่อเจ้าบ่าวและเจ้าสาวภาพของทั้งสองที่เดินจูงมือเข้ามาหาทำให้มัทนาอดยิ้มอย่างมีความสุขกับทั้งสองไม่ได้ ในที่สุดแล้วกล้องภพก็ยอมรับหัวใจตัวเองได้เสียทีแต่อย่างไรลึก ๆ ในใจหญิงสาวก็ยังคงอุตริอิจฉารุจิราไม่ได้ตรงที่ว่าเธอได้มีงานแต่งงานที่ยิ่งใหญ่ หนำซ้ำยังได้รับการดูแลเป็นอย่างดีจากเจ้าบ่าวที่แทบไม่ยอมปล่อยให้มือของเขาหลุดออกไปจากมือของเธอเลย “กำลังคิดว่าถ้างานแต่งงานของเราเป็นแบบนี้บ้างก็ดีอยู่ใช่ไหมครับ”เสียงของคนรู้ทันที่ดังขึ้นทำให้หญิงสาวสะดุ้งเล็กน้อย ก่อนจะหันไปจ้องมองสามีที่กำลังจ้องกันอยู่ก่อนหน้า “เปล่าซะหน่อยค่ะ” เสียงหวานว่ากลับไปแทบจะทันที ก่อนจะจ้องมองคนที่ไม่ว่าจะเมื่อไรก็รู้ทันความคิดของเธอไปเสียตลอดเวลาอย่างเคือง ๆ จะมีสักครั้งไหมที่เธอจะสามารถปิดบังความรู้สึกของตัวเองกับเขาได้จริง ๆ คงไม่มีแน่ ๆ ยิ่งคิดก็ยิ่งไม่พอใจตัวเองที่เสียเปรียบกวินภพมาตลอด “อย่าโกหกเลย แค่มองตาก็รู้แล้วว่ามัทคิดอะไร
เกาะตาล เกาะเล็ก ๆ ที่ตั้งอยู่ในทะเลใต้ ถูกรอบล้อมไปด้วยหาดทรายสีขาว แต่บรรยากาศสวยงามรอบด้านนั้นไม่ได้ช่วยทำให้ชายหนุ่มที่กำลังยืนประจัญหน้ากับเจ้าของเกาะอยู่ในขณะนี้รู้สึกคลายความกดดันที่มีอยู่ ล้อมรอบตัวเองไปได้เลยแม้แต่นิดเดียว “สวัสดีครับท่านเจ้าสัว ผมชื่อกล้องภพครับ” กล้องภพตัดสินใจเอ่ยแนะตัวออกไปช้า ๆ ก่อนจะจ้องมองเจ้าสัวบัณณ์ พ่อของรุจิราด้วยสายตานอบน้อมถ่อมตัวเมื่อกล่าวจบ “ผมรู้ว่าคุณเป็นใคร แต่ที่อยากรู้มากกว่าคือคุณมาทำอะไรที่นี่บนเกาะส่วนตัวของผม” เสียงก้องกังวาลจากผู้อาวุโสกว่าดังตอบ ก่อนจะจ้องมองชายหนุ่มตรงหน้าด้วยสายตาไม่เป็นมิตรสักเท่าไร เพราะนอกจากจะรู้ว่ากล้องภพเป็นใครแล้วนั้นยังรู้ด้วยว่าเขาคือคนที่ทำให้ลูกสาวเพียงคนเดียวที่เปรียบได้ดั่งแก้วตาดวงใจของตัวเองต้องพาตัวเองกลับมาที่นี่พร้อมกับความโศกเศร้าอย่างหนักหน่วง “ผมมาตามลูกกับเมียกลับบ้านครับท่าน” “ไหนล่ะลูกเมียที่คุณว่า” “หนูรุ้ง...ลูกสาวของท่านครับ เธอเป็นภรรยาของผม และตอนนี้ในท้องของเธอก็ยังมีลูกของผมอยู่” คำบอกเล่าจากปากของชายหนุ่มสร้างค
“ไม่ต้องอายหรอกน่า ฉันเห็นหมดทุกซอกทุกมุมแล้ว หรือถ้าอาย จะให้ฉันถอดเป็นเพื่อนเอาไหม ฉันเองก็ชอบนะแบบนั้น มันจะได้ดูไม่เป็นการเอาเปรียบเธอจนเกินไป” คนอะไรพูดเรื่องแบบนี้ออกมาได้อย่างหน้าตาเฉย มัทนาส่งค้อนวงใหญ่ให้คนที่ไม่รู้จะปากตรงกับใจไปไหนก่อนจะเป็นฝ่ายเบือนหน้าหนีเมื่อเขาโน้มเข้ามาชิดใกล้ “เอาไงครับที่รัก สรุปฉันต้องถอดเป็นเพื่อนมัทด้วยไหม” “ไม่ต้องค่ะ ฉันไม่อยากเป็นตากุ้งยิง” “น่าเสียดายจัง ไอ้เรารึอุตส่าห์คิดว่ามีคนอยากจะเห็นของดี ไม่อยากเห็นแน่เหรอครับ” จบคำพูดกำกวมมือบางก็ยกขึ้นฟาดไหล่ของเขาเบา ๆ หนึ่งทีอย่างอดหมั่นไส้ไม่ได้ คนอะไรไม่รู้จักอายเอาเสียเลย คิดจะพูดก็พูด ไม่ได้เห็นใจคนฟังอย่างเธอเสียบ้างเลย “หยุดพูดจาลามกกับฉันได้แล้วค่ะ คนอะไรหน้าไม่อาย!” “คนที่เป็นพ่อของลูกเธอไง ใช่ไหมครับลูกพ่อ” กวินภพยิ้มร่าอย่างอารมณ์ดี ก่อนที่เขาจะจัดการเช็ดตัวให้คนหน้าบูดอย่างตั้งอกตั้งใจ สัมผัสที่อ่อนโยนไม่แข็งกระด้างหยาบคายเหมือนอย่างที่ผ่านมานั้นทำให้มัทนาสุขใจ และอยากจะเก็บเกี่ยวช่วงวันเวลาเหล่านี้เอาไว้นาน ๆ เพราะเดาไม่
“จริงเหรอ นี่แม่ไม่ได้หูฝาดไปใช่ไหม มัทท้อง! หลานของแม่อยู่ในนี้จริง ๆ ใช่ไหมลูก” ไม่มีเรื่องอะไรอีกแล้วที่จะทำให้คุณหญิงลัดดาวัลย์สุขใจไปมากกว่าการกลับมาของคนสองคนพร้อมกับข่าวดีที่สุดในรอบปีเลยก็ว่าได้และเพราะมัวแต่ดีอกดีใจกับข่าวดีที่เพิ่งจะได้ยินเลยทำให้คุณหญิงลัดดาวัลย์แทบจะลืมคำต่อว่าที่กะจะเทศนาพ่อลูกชายตัวดีตรงหน้าไปจนหมดสิ้นเมื่อทราบเรื่อง “ครับคุณแม่ ตอนนี้มัทท้องได้สองเดือนแล้วครับ แถมเด็กในท้องก็แข็งแรงปกติดีทุกอย่าง” กวินภพเอ่ยตอบผู้เป็นแม่พร้อมกับจ้องมองหน้าท้องของมัทนาไปพลาง ๆ แม้ว่าตอนนี้มันจะยังคงแบนราบอยู่ แต่ภายในนั้นกลับมีเลือดเนื้อเชื้อไขของเขาอยู่ ความรู้สึกอิ่มเอมที่เกิดขึ้นทำให้เขายิ้มไม่ยอมหุบ “แม่ดีใจกับเราสองคนจริง ๆ แล้วมัทล่ะลูก ดีใจหรือเปล่า” คำถามจากแม่สามีทำให้มัทนายิ้มรับ พร้อมให้คำตอบอีกฝ่ายไปตามที่รู้สึกโดยไม่คิดปิดบัง “ดีใจค่ะคุณแม่ แต่ตอนนี้มัทรู้สึกเหนื่อย ๆ ขอตัวไปพักผ่อนก่อนนะคะ” “เอาสิ พาน้องไปพักก่อนเถอะตาวิน แล้วเดี๋ยวพรุ่งนี้แม่จะพาไปฝากท้องที่โรงพยาบาลของอาหมอนะ เขาเป็นญาติของเรานี่ล่ะ รับรองว
“คุณวินอย่าคิดมากเลยนะคะ มัทเชื่อค่ะว่าสักวันแกจะเข้าใจและผ่านเรื่องนี้ไปได้ สิ่งที่เราพอจะทำได้ตอนนี้คงมีแต่คอยดูแลและให้กำลังใจแกให้แกผ่านเรื่องยาก ๆ พวกนี้ไปได้ และมัทก็ยังเชื่ออีกนะคะว่าคุณวินจะเป็นคนที่สามารถทำแบบนั้นได้ เพราะดูจากท่าทางของแกในวันนี้ มันทำให้มัทรู้ว่าแกคงจะรักคุณมาก”“ผมเองก
หญิงสาวร้องถามเมื่อเห็นภาพของทั้งคู่ที่หนักหนาสาหัสพอ ๆ กันอย่างชัดเจน กวินภพนั้นปากแตกที่มุมปาก ส่วนกล้องภพนั้นมีรอยฟกช้ำตามใบหน้าเต็มไปหมดจนเมื่อทั้งสองเลือกที่จะไม่ตอบอะไรกลับมาเธอจึงหันกลับไปมองกวินภพที่เพิ่งจะรับปากกันแท้ ๆ ว่าจะพยายามอดทนให้ได้มากที่สุด เพื่อหวังว่าเขาจะจำคำพูดของตัวเองได้ แ
เสียงส้นสูงที่ดังขึ้นตามทางเดินส่งผลให้เลขาฯ หน้าหวานของกวินภพอย่างกิ่งแก้วต้องเงยหน้าขึ้นจากกองเอกสารที่เจ้านายทิ้งเอาไว้ให้กันก่อนจะหนีไปฮันนีมูนแสนหวานกับเจ้าสาวของเขาตั้งแต่เมื่อสองวันก่อนเพื่อมองร่างระหงของนางแบบสาวที่เดินมาหยุดอยู่ตรงหน้าก่อนที่ฝ่ายนั้นจะค่อย ๆ ถอดแว่นกันแดดสีดำออกจากใบหน้าโฉ
“ครับ เพราะคงไม่มีผู้ชายคนไหนทนได้เวลามีใครสักคนมาบอกว่ารักผู้หญิงของตัวเอง เขารักคุณมากนะครับ และผมไม่อยากให้คุณสองคน เชื่ออะไรในคำพูดของผู้หญิงคนนั้นเท่าไหร่” “แต่ที่มัทได้ยิน มันมาจากปากของคุณวินเองเลยนะคะ” “ถ้าผมเป็นคุณวิน ผมก็จะทำแบบนั้นเหมือนกันครับ เพราะมันจะทำใ





