Mag-log in「平日夜/短時間」「感情なしの関係希望」「名前聞かないで」。 アプリで見つけたそのプロフィールの主が、職場で何度も助けてくれた先輩・村上だと知った夜、高橋は迷いながらも関係を受け入れる。 仕事では完璧で優秀な管理部の人間。 けれどシーツの上で村上は、「本気になるとろくなことにならない」「誰も愛せない」と、呪いのように繰り返す。 過去の誰かに、深く傷つけられたことだけは伝わるのに、その名前も経緯も教えてはくれない。 「遊びだから」「ルールだから」と境界線を引き続ける村上と、その線の向こう側に手を伸ばしてしまった高橋。 傷ごと、抱きしめたいと思ってしまったとき、ふたりの“平日夜”はゆっくりと形を変え始める。
view more“Semua hak warisan Devan jatuh kepada Niara, termasuk dengan villa. Ada yang mau protes? Silakan mengangkat tangan!” Lelaki berjas hitam dengan dasi polkadot sedang mengadakan rapat keluarga besarnya.
Namanya Devan, pemilik salah satu perusahaan besar di Asia. Dia mempunyai kekayaan mencapai kuadriliun. Devan adalah anak kedua dari empat bersaudara, namun dialah pemegang saham sepenuhnya yang mana adalah hasil pembagian warisan dari almarhum ayah mereka yang Devan kembangkan hingga menjadi sebesar sekarang. Tidak ada yang mengetahui tentang kekayaan Devan dari pihak keluarganya ini. Saudara Devan hanya tahu Devan bekerja menjadi direktur di suatu perusahaan dan beberapa buah villa yang cukup menghasilkan. “Apa, perempuan mandul itu?” sanggah kakak tertua. Kakak tertua mempunyai watak yang paling kers dan pemarah, namanya Erwin dengan sedikit jabis di dagunya, mempunyai dua orang anak yang tinggal di Australia bersama istrinya. Erwin bekerja tak menetap dikarenakan wataknya yang keras itulah membuatnya kerap kali dipecat dalam pekerjaan yang digelutinya. “Jaga mulutmu, Kak!” Devan mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mata sang kakak. Seorang perempuan bernama Niara sedang asyik mencuci piring di dapur, dia adalah istri Devan satu-satunya. Niara tidak mendengar apa yang dibincangkan di ruang kerja milik Devan. Pernikahan Niara dengan Devan baru saja menginjak usia pernikahan yang ke-lima tahun, pada awalnya rumah tangga mereka harmonis saja. Namun, setelah satu tahun belakangan ini ketiga saudara Devan tinggal di rumah Devan dan menjadikan Niara layaknya seorang pelayan mereka, mereka bertindak seenaknya saja membuat Devan merasa sangat geram dengan kelakuan keluarganya itu pada istrinya. “Apa, benar kan Niara itu mandul? Nggak bisa ngasih kamu keturunan. Coba lihat kami semua punya anak, kamu?” Plak... Tamparan mendarat di pipi Erwin. Dia juga mendapatkan harta warisan dari almarhum ayah mereka, namun dia tidak pandai mengelola dan akibat hobinya bermain judi online itu membinasakan karirnya, beruntung dia punya istri yang bekerja di luar negeri sehingga anak-anak mereka tidak terlantar. “Berani kamu menamparku, Devan?” Erwin memicingkan matanya pada Devan. “Apa? Kenapa? Kakak sudah berani menghina istriku, mengapa aku tidak boleh menamparmu?” tantang Devan. “Sudah, cukup!” Adik perempuan Devan menengahi. Adik perempuan Devan baru saja menikah dan sedang mengandung. Namanya Ratna, perempuan berbadan tinggi dengan rambut yang ikal bergelombang. Suaminya bekerja di kapal, sudah beberapa bulan menjelang kehamilan Ratna ini dia belum pulang yang membuat Ratna harus tinggal di rumah Devan. “Kalian ini kenapa sih berantem kaya anak kecil?” “Kamu Kak Devan, memangnya kakak sudah pikirkan ini dengan matang? Gimana nanti kalau si Niara itu ternyata cuman ngincar harta Kak Devan? Jangan tertipu dengan wajah lugunya!” “Aku sangat mengenal Niara, dia istriku, kalian tidak akan tahu bagaimana dia. Keputusanku sudah bulat. Vila, rumah dan semua hartaku atas nama Niara, titik!” Devan menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai, kemudian ia beranjak pergi meninggalkan kedua saudaranya. Devan menuju dapur, berniat mendatangi sang istri untuk pamit pergi ke tempat kerja. Niara yang telah selesai mencuci piring kotor, dia lanjut menyapu dan mengepel rumah . Devan menatap Niara yang sedang memunggunginya, air mata Devan kerap kali ingin jatuh setip kali melihat tangan lembut istrinya itu harus memegang pekerjaan rumah. Devan memeluk Niara dari belakang. “Sayang,” ucap Devan lembut. Niara pun tersenyum lembut. “Mas, Ara lagi keringetan, Lepas! Nanti kamu ikutan bau keringat.” Niara melepaskan dekapan tangan suaminya. “Sayang, berapa kali Mas bilang kalau kamu jangan ngerjain ini semua. Mas mohon, tolong hentikan!” Ucapan itu sudah ratusan kali Devan ucapkan pada Niara, namun tetap saja tiada mempan dengan kelembutan jawaban Niara. Niara membalikkan badan, menghadap suaminya dengan senyuman yang mengembang. “Mas, aku senang ngelakuin ini semua. Niara suka. Mas mau ngelarang apa yang bikin Ara senang?” Devan menggeleng cepat. “Jangan kalimat itu lagi sayang!” “Sudahlah, Mas. Sekarang sudah jam segini kok kamu belum berangkat ngantor?” tanya Niara lembut sembari merapikan dasi Devan. “Astagfirullah kelupaan. Kalau gitu Mas berangkat sekarang. Kamu banyak-banyak istirahat dan jangan terlalu kecapean, oke!” “Oke, Mas.” Niara mengantar Devan sampai ke depan rumah, Devan berangkat menggunakan mobil hitam lusuh yang sudah ketinggalan jaman yang selalu dibawa Devan untuk berangkat kerja, sebenarnya dia punya tiga buah mobil. Namun, dua buah mobilnya rusak, yang pertama akibat Erwin yang menabrak pohon akibat menyetir dalam keadaan mab*k dan yang satunya lagi rusak akibat ulah Levi yang dia gunakan untuk balap liar bersama teman-temannya. Sebenarnya, sangat mudah bagi Devan untuk membeli beberapa buah mobil mewah terbaru sekaligus, namun demi menyembunyikan kekayaannya dari tangan-tangan serakah saudaranya, Devan mengurungkan itu semua. “Hati-hati, Mas!” *** Brak... Kecelakaan terjadi di jalan raya. Sebuah mobil ber-plat XXXXX hancur setelah menabrak pembatas jalan. Polisi dengan cepat mengevakuasi tempat kejadian, garis polisi telah terpasang di tempat kejadian. (Hallo, apa benar ini dengan keluarga Pak Devan?) Niara yang mengangkat telepon pun merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam lubuk hati kecilnya. (Iya, saya isterinya. Ini siapa?) (Kami dari kepolisian. Baru saja terjadi kecelakaan di jalan raya dengan mobil ber-plat XXXXX, kami menemukan kartu identitas korban. Ibu bisa segera datang untuk memastikan apakah benar korban adalah suami Ibu) Niara langsung terduduk lesu, hatinya bertalun-talun dengan kesedihan yang teramat mendalam. “Innalillahi wainna ilaihi roji’un, ya Allah Mas Devan.” Niara menyeka air matanya lalu bergegas untuk pergi ke tempat kejadian. Sebelum itu, Niara memberitahukan terlebih dahulu kepada saudara/i Devan tentang berita duka tersebut. “Apa, Kak Devan kecelakaan? Gimana keadaannya sekarang?” tanya Ratna dengan ketus. “Aku enggak tau, bisa kita berangkat ke lokasi kejadian?” Niara meminta bantuan karena dia trauma mengendarai motor ataupun mobil setelah kejadian yang menimpanya di waktu silam. “Kamu pergi aja sendiri, kan banyak tukang ojek di luar. Aku males panas-panasan.” Dengan berat hati Niara beranjak mencari ojek. Tidak ada yang peduli dengan Devan dan dirinya, semua saudara Devan membenci Niara. Setelah berjalan kurang lebih sembilan puluh meter dari rumah, akhirnya Niara menemukan tukang ojek dan mengantarkannya menuju lokasi. Di lokasi, banyak orang bergerombolan melingkari tempat kejadian di balik batas polisi, Niara perahan menyibak gerombolan itu dan mencari suaminya. “Mas Devan,” panggil Niara. "Pak polisi, dimana suami saya?” ringis Niara berderai air mata. Pak polisi memperlihatkan mayat yang sudah berada di dalam kantong may*t. Badan Niara semakin tidak bisa ditopang, lututnya tertancap ke tanah. Suaranya tersekat dengan tangisan yang tidak bisa diteriakkan. Dunia Niara terasa hancur, warna dunia hanya ada kelabu dan kesedihan semata melihat sosok yang dicinta terkujur tidak berdaya. “Mas Devan jangan tinggalkan Niara!” “Ibu bisa cek untuk memastikan apakah benar korban adalah suami ibu.” Niara menggeleng, perlahan ia mendekat dan polisi membuka penutup kantong may*t, namun wajah korban sudah tidak bisa dikenali dikarenakan pecahnya bagian kepala. “Bukan, saya yakin dia bukan Mas Devan. Saya yakin sekali dia bukan suami saya,” ucap Niara yakin. “Apa benar, Bu? Tapi, identitas dan mobil benar milik Pak Devan.” “Enggak, dia bukan Mas Devanku...” Niara berlari meninggalkan semuanya, hatinya masih tidak kuat untuk memungkiri bahwa may*t itu bukanlah Devan, suaminya翔希が目を開けたとき、最初に目に入ったのは、白い天井の小さなシミだった。マンションの古い天井板に浮いた、不規則なにじみ。薄い灰色が輪郭をぼかし、じっと見ていると、そこだけ時間が止まっているみたいに感じる。ぼんやりと焦点を合わせているうちに、枕元から、微かな寝息と、布団の擦れる音が耳に届いた。すぐ横には、うつ伏せ気味に眠っている村上の背中がある。薄いグレーのTシャツ越しに、規則正しく上下する呼吸。枕に押しつぶされた後頭部から、少し跳ねた髪がはみ出している。部屋のカーテンは、半分だけ開いていた。隙間から朝の光が斜めに差し込み、埃の粒をきらきらと浮かび上がらせている。窓の外からは、遠くの環状線を走る車の音と、近くの保育園から流れてくる子どもの声が、薄い壁越しににじんで聞こえた。ここは、新宿の古い1Kマンションの一室。すっかり見慣れてしまった部屋。けれど、朝、こうして二人でスーツに着替える前の、この一瞬だけは、いまだに少し現実味が薄い。「……七時半」枕元のスマホに手を伸ばし、画面を点ける。液晶の光に目を細めながら時刻を確認すると、会社に行くにはちょうどいい時間だ。目覚ましはとっくに止めてある。たぶん、村上が無意識に止めたのだろう。アラームの履歴が、そんな痕跡を残していた。もう一度、隣に視線を落とす。寝ている村上の横顔は、会社にいるときとは少し違う。眉間に寄りがちな皺が緩み、口元も、ほんの少しだけ開いている。頬にかかる髪の線を目でなぞっていると、胸の奥がふわりとくすぐったくなる。こんな顔を知っているのは、自分だけだと思うと、妙な優越感と同時に、怖さも生まれる。抱きしめたくなる衝動と、この瞬間を壊したくないという臆病さが、胸の中で混ざり合う。「……起きますかね」誰に聞かせるでもなく呟きながら、翔希はそっと身体を起こした。布団が擦れる音に、村上が微かに身じろぎする。肩がひとつ上下し、眠りの深さを確かめるみたいに長く息を吐いたあと、うっすらと瞼が持ち上がった。「ん……」掠れた声が漏れる。翔
古めのマンションの前に着く頃には、小雨の気配はすっかり消えていた。アスファルトに残っていた小さな水たまりも、足で踏みしめられ、車に弾かれ、だいぶ薄まっている。代わりに、マンションの外壁に染み込んだ湿り気と、どこかの部屋から漏れてくるカレーの匂いが、鼻の奥をくすぐった。翔希は、建物を見上げた。見慣れたコンクリートの肌。ところどころ黒ずんだ手すり。何度も通ったはずなのに、会社から一緒に歩いてきたせいか、少しだけ違って見える。エントランスのオートロックに番号を打ち込むのは、もう迷いがない。隣で村上がさっとキーを押し、その間に翔希は肩からバッグを掛け直す。開いたドアから、むっとした室内の空気が一気に流れ込んできて、外気と混ざった。階段を上がる音が、コツコツと一定のリズムで響く。最初の頃は、段数を数える余裕なんてなかった。今は、二階に上がるまで何段あるか、何となく感覚で分かるようになっている自分に気づき、心の中で少しだけ笑う。いつもの階で足を止め、いつものドアの前に立つ。村上がポケットから鍵を出し、慣れた動きで回す。その所作を横目で見ながら、翔希は「ああ、本当に『いつもの』なんだな」と妙に現実味を帯びた感慨を覚える。中から、きしむような小さな音を立ててドアが開いた。ふわり、と漂ってくるのは、洗剤と柔軟剤と、少しだけタバコの残り香が混ざった、村上の部屋の匂い。初めて来た日の、あの少し甘苦い印象が、今はどこか落ち着く香りになっている。「お邪魔します」口ではそう言いながら、翔希の手はもう、自分の靴の位置を決めるべき場所を知っている。玄関の端、壁から一足分空けた位置。最初の頃は遠慮して一番端に詰めて置いていたのが、今は自然と村上の革靴の隣に並ぶ形に落ち着いていた。革靴を脱ぎ、揃えて置く。その隣には、何度も見てきた村上の黒い靴。その横に自分の靴が馴染んで並んでいる光景が、胸のどこかをくすぐる。「あ、そこに掛けといて」視線を上げると、村上がジャケットを脱ぎながら顎で示したのは、玄関横のハンガーラックだった。そこにも変化がある。以前はスーツとコートでいっぱいだったラックに、今は少し隙間が作られていて、そこに翔希のジャケットが掛
新宿駅方面に向かう大通りは、雨上がりの光をまとっていた。さっきまで降っていた小雨が止んだばかりで、街路樹の葉からは時おり雫が落ち、アスファルトの上に小さな輪を広げる。車のヘッドライトと、ビルのネオンが濡れた路面に映り込んで、色の境界線を曖昧にしていた。高橋翔希は、その光のゆらめきをぼんやりと追いながら、肩にかけたバッグの持ち手を握り直した。会社を出たときよりも、少しだけ空気が冷たくなっている気がする。スーツの襟元に入り込む湿った風が、ほてった首筋を撫でていく。隣では、村上遥人が同じ速度で歩いていた。歩幅はほとんど同じで、一歩進むたびに靴底の音が微妙にずれて重なっては、また離れていく。信号待ちで横断歩道の前に立ち止まると、周囲には同じようなスーツ姿の会社員たちが集まってきた。手には折りたたんだ傘、紙袋、コンビニの袋。それぞれの一日の終わりが、同じ赤信号の前で足並みを揃えている。翔希は、何気なく右側に立った。遥人との距離は、肩と肩がかすかに触れるか触れないかくらい。以前なら「近すぎる」と感じて半歩引いていた距離だが、今はその微妙な接触が、むしろ落ち着きをもたらしていた。赤信号の光が、二人の顔色をわずかに変える。車道を走り抜けていくタクシーのライトが、視界の端で流れていく。排気ガスと、濡れたアスファルトが混ざった匂いが、吸い込むたびに胸の奥に重くたまった。ふと、指先に柔らかいものが触れた。自分の手の甲に、誰かの指がかすかに擦れたような感覚。翔希が視線を落とすと、遥人の左手の甲が、ほんの少しだけ自分の右手に寄っていた。以前なら、反射的に引っ込めていたはずだ。血の気が引いて、周囲に誰かが見ていないかと慌ててきょろきょろしただろう。けれど、今は違かった。翔希は、わざと何でもない顔をしたまま、その指先に自分の指をそっと重ねた。人混みの中で、ごく自然な動きに見えるように、慎重に。誰かの視線があるとしたら、その程度の触れ方なら、たまたまぶつかったくらいにしか映らないだろう。重ねられた指先が、一瞬だけ緊張したように固くなり、それからゆっくりと力を抜いた。遥人の指が、わずかに握り返してくる。ポケットの中に一緒に手を突っ込んでいるわけでも、露
夕方のチャイムは、このフロアには鳴らない。代わりに、各自のモニターの右下で、定時を知らせる小さなポップアップが静かに消えていく。高橋翔希は、それを斜めに視界に入れながら、まだ開いたままの見積書の数字をひとつひとつ確認していった。桁の打ち間違いがないか、単価が最新のものになっているか、営業の勘と、ここ一年で身についた「管理部がどこを気にするか」という感覚で、ざっと全体を見渡す。隣のデスクでは、四月に入ってきたばかりの後輩が、未だに慣れない様子でテンキーを叩いている。数字を打つ指先が、少しだけぎこちない。「ここ、単価こっちね」翔希は椅子ごとそちらへ滑り、モニターを指さした。「あ、すみません」「いや、最初っから全部できる人いないんで。単価の表、最新のやつブクマしといたほうが早いですよ」「はい…ありがとうございます」口をついて出る言葉が、気づけばすっかり「先輩」側のものになっている。半年前までは、自分も似たようなテンションで中村に助けられていたはずなのに、と翔希は小さく笑った。デスクの端に置いてあるマグカップには、もう冷めたコーヒーが半分ほど残っている。空調の乾いた風、コピー機の低い駆動音、人の話し声とマウスのクリック音が混ざった雑音。その全部が、毎日の背景として身体に染みついている。モニターのタスクバーに、チャットアプリのアイコンがひとつ瞬いた。社内用のツールだ。通知のポップアップに表示された送り主の名前を見て、翔希は意識して表情を変えないよう、背筋を伸ばした。「高橋くん、今日どんな感じ?」管理部の全体チャットに紛れて届いた、個別メッセージの一行。送り主は、村上遥人。数ヶ月前と違うのは、これが「管理部の誰か」ではなく、確実に自分の知っている誰かからのメッセージだということだ。画面越しではなく、生の声の温度を知っている相手。翔希はキーボードに指を滑らせた。「今、見積最終確認してるところです。あと十五分くらいで上がれそうです」返送したメッセージが送信済みの欄に沈んだ瞬間、すぐにまた通知が弾んだ。
目を開けた瞬間、見慣れない白が視界いっぱいに広がった。天井だ、と気づくまでに数秒かかった。会社の寮でも、自分のワンルームでも、あのよく行くビジネスホテルでもない、微妙に黄ばんだ白。真っ直ぐではなく、少しだけ歪んでいる天井の線と、角に小さなひびが走っているのが見える。カーテンの隙間から、細く差し込んだ朝の光が、斜めに部屋を横切っていた。黄ばんだ天井の一部だけが、やけに眩しく照らされている。その光の筋の中に、浮遊する細かい埃が、ゆっくりと上下しているのが分かる。頭の中が、まだ夜と朝の境目に引っかかっていた。枕の匂いが違う。洗剤の香りが自分の部屋
グラスの中の氷が、カランと軽く鳴った。金曜の夜、新宿の雑居ビルの五階。木目調でまとめられた店内は、照明が少し落とし気味で、テーブルごとに仕切りがある。女の子たちの笑い声と、店員の掛け声と、焼き鳥の煙が混ざり合っていた。「でさ、そのとき課長がマジで真っ青になって…」中村が身振り手振りをつけて武勇伝を話し、向かい側の女子たちが「やば」「それドラマじゃん」と笑う。翔希は、その輪の中で、ジョッキを片手にそれなりのタイミングで笑い、相槌を打っていた。「高橋くんって、営業なんだよね」右隣の女
第一会議室のホワイトボード一面に、マーカーで書き込まれた数字と矢印が並んでいた。東京都内を対象にした新しい導入プラン。クラウドサービスの利用率の推移、競合との比較、コスト削減シミュレーション。高橋翔希は、その前に立ち、最後の一枚のスライドを画面に映し出した。「…以上が、次期四半期の提案案になります」声は自分で思っているより落ち着いていた。レーザーポインターの赤い光をグラフの頂点に当てながら、翔希は視線をゆっくり会議室内に滑らせた。長机の向こうで、石田課長が腕を組んでいる。隣には、
部屋の明かりを一段落として、間接照明だけにしたのは、いつもの習慣だった。高橋翔希は、ベッドのヘッドボードに背中を預け、膝を軽く立てた姿勢で、スマホを両手に挟んでいた。シャワーを浴びたあとの湿った髪が首筋に触れるたび、ひやりとした感覚がする。Tシャツ一枚の肌に、エアコンの風がゆっくりとまとわりついていた。時刻は、日付が変わる少し前。壁掛けの時計は無音で、耳に届くのはエアコンの送風音と、マンションのどこか別の部屋から微かに漏れてくるテレビの音、それから、自分の呼吸だけだった。スマホの画面には、「マッチしました」の表示はもう消え、