LOGIN私は佐藤隆を七年間愛し続けてきた。誘拐された時、佐藤隆は身代金を払わなかった。それは秘書が「これを機に彼女を懲らしめましょう」と提案したからだった。私は地獄のような苦しみを味わった。ようやく佐藤隆から遠ざかることを学んだ時、彼は涙を流しながら「もう一度チャンスをください」と懇願してきた。
View More"Menikahlah dengan suamiku! Aku mohon!"
Jihan tercengang mendengar sang majikan berucap seperti itu, dia pun menghentikan kegiatannya merapikan kamar majikannya. Kemudian menghampiri wanita cantik tersebut.
"Kenapa Nyonya berbicara seperti itu?" tanya Jihan sambil menatap wajah pucat Mikhaela dengan dalam.
"Kamu sudah tahu, aku ini tidak akan bisa memberikan keturunan untuk suamiku. Bahkan lusa rahimku akan diangkat," terang Mikhaela lirih.
Jihan terdiam, karena dia tidak pernah bermimpi menjadi istri kedua apa lagi menikah dengan sang majikan.
"Aku tidak percaya pada wanita lain Jihan. Aku ingin kau melahirkan anak untuk mas Abraham," tambah Mikhaela.
Jihan semakin tercengang mendengar permintaan sang majikan padanya, kemudian dia duduk di samping wanita itu dengan perlahan.
"Nyonya harus sembuh, karena saya yakin itu! Jangan ucapakan kalimat itu lagi!" pinta Jihan pelan.
Mikhaela memegang tangan Jihan, kemudian menangis tersedu-sedu di hadapan wanita itu. Sebab ia tidak akan sanggup jika sang suami menikah lagi dengan wanita lain untuk mendapatkan anak. Sebab dia tidak akan bisa memberikan keturunan untuk suaminya.
"Jihan, aku percaya padamu! Kalau kamu tidak akan mencintai suamiku, walaupun kamu melahirkan anak untuknya," ucap Mikhaela dengan lirih.
Jihan terdiam, kemudian dia bergegas pergi dari sana tanpa mengatakan apapun. Sebab ia tidak akan mau menikah dengan sang Tuan yang sangat baik padanya selama ini.
Wanita muda yang baru berusia 26 tahun ini kembali mengerjakan tugas, namun kali ini dia tidak pokus karena permintaan sang nyonya tadi. Jihan membersihkan dedaunan yang ada di kolam renang.
Kemudian duduk sambil mengingat kembali ucapan Mikhaela yang memintanya untuk menikah dengan Abraham, yang berstatus sebagai majikannya.
"Tidak akan terjadi pernikahan itu! Apa lagi aku sama sekali tidak ingin menikah diumur yang sekarang," gumam Jihan lirih.
...
Jihan dikejutkan oleh ketukan pintu kamarnya. Padahal ia baru saja ingin beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Siapa ya, kenapa mengetuk pintu kamarku tidak henti-henti?" gumam Jihan sambil berjalan membuka pintu kamarnya.
Saat dia membuka pintu kamarnya, ia sangat terkejut melihat sang Tuan berdiri dihadapannya.
"Maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Jihan sambil menundukkan kepalanya.
"Saya ingin tanya, kenapa Mikhaela tidak mau berbicara? Katanya kamu tau apa permasalahannya?" tanya Abraham dengan terus terang.
Sebab, dia tidak mau basa-basi kepada wanita lain. Hal itu membuat Jihan langsung menceritakan apa yang terjadi tadi padi pada sang majikan.
Sontak saja membuat Abraham sangat terkejut, kemudian dia bergegas pergi menuju kamar sang istri untuk menanyakan langsung apa yang diucapkan oleh Jihan tadi benar atau tidak.
Setelah sampai, dia langsung menghampiri sang istri yang terbaring lema di ranjang king size mereka.
"Kenapa kamu meminta saya untuk menikahi Jihan? Apa kamu tidak waras lagi?!"
Mikhaela tersenyum mendengar pertanyaan sang suami. Padahal pria itu tengah marah saat ini padanya. Namun ia sama sekali tidak takut.
"Mas, kangker ramin yang aku derita sudah parah! Hanya kecil kemungkinan aku bisa bertahan. Sebab itu menikahlah dengan Jihan dan segera miliki anak dengannya, agar kita bisa merawat anak itu bersama," terang Mikhaela.
Abraham mengelengkan kepala, karena mendengar sang istri meminta yang bukan-bukan padanya hanya untuk mendapatkan anak.
"Mikhaela sayang, saya bisa mengambil bayi dari pantai asuhan. Kenapa saya harus menikahi pembantu kita demi mendapatkan anak?" tanya Abraham lembut sambil mengecup kening istrinya.
Mikhaela memegang tangan Abraham dengan lembut, kemudian dia tersenyum manis menatap wajah sang suami yang sangat tampan.
"Mas, aku ingin anak kandungmu walaupun bukan bersamaku! Turutilah keinginanku untuk kali ini, karena kita tidak tau sampai kapan aku mampu bertahan," pinta Mikhaela dengan lirih.
Abraham bingung harus berbuat apa, kemudian ia bergegas pergi dari dalam kamarnya untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sebab ia tidak akan mau menikahi wanita lain, apa lagi dengan pembantunya.
Sedangkan Mikhaela yakin kalau sang suami akan menikah dengan Jihan. Sebab Abraham tidak akan menolak permintaannya selama ini.
...
Keesokan paginya ...
Pagi ini, Jihan tengah mengemasi barang-barang milik Mikhaela. Sebab, sang nyonya akan segera berangkat ke rumah sakit untuk melakukan operasi pengangkatan rahim besok.
"Jihan, tadi aku sudah menyiapkan baju untuk mas Abraham. Apa ada di meja itu?" tanya Mikhaela dengan pelan.
Jihan melihat baju milik sang Tuan di meja, kemudian ia mengambilnya dan memberikan pada Mikhaela yang berbeda di tempat tidur.
"Jihan, perutku sakit sekali. Bisakah antarkan baju ini ke kamar mandi. Tenang saja! Kau tidak akan melihat mas Abraham," pinta Mikhaela dengan pelan.
Sebab, perutnya sakit sekali. Hal itu membuat Jihan tidak tega dan menuruti keinginan sang nyonya. Saat dia berada di kamar mandi, ia meletakkan baju yang dibawa ke meja.
"Tuan, maaf saya mengantar baju Tuan atas permintaan Nyonya!" Jihan berucap sambil bergegas pergi dari sana.
Sebelum dia melihat pemandangan yang tidak diinginkan. Sontak saja membuat Abraham langsung menyudahi ritual mandinya. Sebab takut terjadi apa-apa pada istrinya.
Setelah selesai memakai pakaian lengkap, Abraham bergegas ke luar dan melihat Mikhaela menangis di dalam pelukan Jihan, hal itu membuatnya cemas dan langsung menghampiri sang istri.
"Ada apa?" tanya Abraham dengan sangat cemas.
"Tuan, kita bawa Nyonya ke rumah sakit sekarang! Kasihan dari tadi katanya perutnya sakit," jawab Jihan dengan cemas sambil melepaskan pelukannya.
Abraham langsung menggendong sang istri dan membawanya ke mobil, sedangkan Jihan membawa semua barang-barang milik Mikhaela untuk di rumah sakit.
Setelah selesai, dia pun bergegas pergi ke luar dan masuk ke dalam mobil. Jihan duduk di belakang bersama dengan Mikhaela, sedangkan Abraham yang membawa mobil.
"Jihan, rasanya sakit sekali. Aku tidak tahan lagi," rigis Mikhaela dengan lirih.
"Nyonya jangan katakan seperti itu! Percayalah kalau Nyonya akan sembuh," sahut Jihan.
Jihan mengelus-elus rambut Mikhaela dengan lembut. Wanita itu pun tidak keberatan. Sebab ia sudah dekat dengan Jihan sejak masih kuliah. Bahkan ia sudah menganggapnya sebagai saudara bukan pembantu.
"Sayang, jangan bicara seperti itu aku mohon! Kamu pasti sembuh sayang, percayalah!" sahut Abraham sambil terus mengemudikan mobil dengan cepat.
Setelah sampai, Abraham langsung membawa sang istri ke IGD dan ditangani oleh Dokter, barulah Mikhaela berhenti menangis, karena rasa sakitnya sudah berkurang.
"Jihan, jangan tinggalkan aku ya!" pinta Mikhaela dengan lirih sambil memegang tangan Jihan dengan erat.
"Baik Nyonya," jawab Jihan.
Jihan selalu ada di samping Mikhaela seperti permintaan wanita itu. Kemudian mereka pindah ke ruang inap Mikhaela.
Abraham duduk di samping Mikhaela, sedangkan Jihan masih membereskan barang-barang milik sang nyonya.
"Jihan, kemarilah! Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu," panggil Mikhaela dengan lembut.
Jihan langsung mendekat, kemudian memegang tangan sang nyonya dengan lembut, dan sekilas melirik ke arah Abraham.
"Mas Abraham, Jihan. Aku mohon menikahlah!"
Bersambung.
婚姻届を出した日、私は特別に佐藤の両親に知らせ、夜には伊藤と示談書を持って佐藤家で食事をした。今でも私は普通の食事はほんの少ししか食べられない。しかも伊藤は名実ともに夫となり、より厳しく私の食事を監視するようになった。佐藤の母は私の手を取り、笑顔で尋ねた。「七恵ちゃん、結婚式はいつにするの?早めに教えてくれれば、おばさんが準備を始められるわ」佐藤の父は高価そうな翡翠の如意の形をした一対のペンダントを取り出した。「このペンダントは、お前が十八歳の時にお前のおばあさんが作らせたんだ。今日のために取っておいたんだよ」私はそれを受け取り、佐藤の父に礼を言った。佐藤隆は終始姿を見せなかった。佐藤邸を後にする時、突然後ろから誰かに見られている気がして振り返ったが、そこには誰もいなかった。「どうしたんだ?」伊藤が尋ねた。「なんでもない」佐藤隆は暗闇の中に立ち、写真立てを抱えて、涙を堪えていた。そこには少年時代の彼と一人の少女が写っていた。輝かしい七恵、わがままな七恵、彼のことだけを見つめていた七恵は、もう二度と戻ってこないのだ。
退職後のこの事件への伊藤の参加は、市民の勇気ある行為として扱われ、任務の記録を終えた後、表彰さえ受けた。彼は少し照れくさそうだった。私心があったことは確かだから。「恥ずかしがることないでしょう?あなたのしたことは、私たちの家系図に載せるべきことよ」伊藤は私に傘を差しかけながら、私たちは買い物をして家路についた。「七恵の家には家系図があるの?」「そうよ」「じゃあ、僕のことを必ず書いてもらわないと......いや、今夜にでもご両親に線香を上げた方が早いかな。手紙じゃ遅すぎる」私「......」伊藤が戻ってきてから、私をずっと慰めてくれた。警察から突然任務の連絡があり、私を起こす時間もなく、服を着て出かけたと知った時、私は今でも怖くなる。冷蔵庫に一週間分の食事があったから、一週間後には戻れると思っていたけど、私が外に出て彼を探しに行き、佐藤隆に佐藤邸へ連れ戻されるとは思わなかったと言う。夜ご飯の前、私はソファで丸くなり、片手に身分証明書を持ち、もう片方の手でスマートフォンを見ていた。キッチンで、伊藤は野菜を切りながら、大きな声で私と話をした。「村上が逮捕されたよ。裁判所が既に起訴したそう」「うん」「佐藤は......殺人未遂の容疑で、取り調べを受けるかもしれない」「うん、私は示談書を書くつもり」いつの間にか、キッチンで野菜を切る音が止み、伊藤が私の後ろに来て、突然抱きしめてきた。「もう示談書を出すの?僕のことは許してくれないの?」私が彼を睨むと、伊藤は申し訳なさそうに謝った。「暦を調べたんだけど、明日は良い日なんだ」伊藤は寝室から私の行方不明だったスリッパを見つけ出し、ソファまで持ってきて履かせてくれた。「へぇ?」「縁結びの日だって」「へぇへぇ?」私は彼を軽く蹴った。「何が『へぇ』よ。明日、身分証明書を持って、私と一緒に区役所に行きましょう」伊藤は突然体を起こし、まるで子犬のように嬉しそうに私を抱きしめ、ぎゅっと擦り寄ってきた。「やっぱり、七恵は僕に一番優しいんだ」
退院後、伊藤は私を警察署に連れて行き、彼の助けで私を誘拐した犯人たちは全員逮捕された。「へぇ、伊藤さんって退職後、お金持ちの家のボディーガードになったって聞いたけど、今回はなんで元の仕事に戻ったの?」「えっ、知らないの?伊藤さんがお金持ちのお嬢様に気に入られたんだよ。そのお嬢様が誘拐されたから、伊藤さんが愛のために戦ったんじゃない!」当事者の私は、廊下で伊藤が買ってくれた抹茶ケーキを食べながら、自分のうわさ話を聞いていた。「お嬢ちゃん、どうしてここに一人で座ってるの?ご家族は?」私は部屋の中を指さした。伊藤が顔を曇らせて出てきた。二人の警官は立ち上がって敬礼した。「伊藤さん!」「お前たち、いい加減な噂を広めるな」伊藤は私を椅子から引き上げた。警官たちは目を見開いて、目の前でお嬢ちゃんが奥さんに変わるのを見つめていた。「なんで広めちゃいけないの?私は素敵な話だと思うけど」伊藤「......」警官たち「......」
病院の消毒液の匂いが鼻につく中、頭痛とともに目を覚ました。全身の骨が砕けそうな感じがした。病室の外での言い争いが激しさを増し、次第に私の耳に届いてきた。「だから七恵ちゃんが戻ってきてから、私たちに懐かないのよ。きっと見捨てられたと思っているのね!」「佐藤、お前はなんてろくでなしに育ったんだ!七恵の家族に何て顔向けすればいいんだ!」「父さん、母さん、僕だって想像していませんでした。ただ大人しくさせたかっただけで」「パシッ」という鮮やかな平手打ちの音。続いて、佐藤隆の悶える声が聞こえた。佐藤の父がまた彼を殴ったのかと思ったが、佐藤の母の驚きの声が聞こえた。「伊藤さん!」伊藤!私はベッドから降りようとして、床に転んでしまった。ああ、足が折れているのだ。佐藤邸の部屋は二階建てだったから、あそこから飛び降りても死ぬことはなかった。物音を聞いて、伊藤が外から飛び込んできた。彼は疲れた様子で、顎にはヒゲが生えていて、何日も剃っていないようだった。「伊藤さん」私はベッドの横の果物を手当たり次第に彼に投げつけた。伊藤は打たれても、心配そうな表情のまま、急いで私を抱き上げてベッドに戻した。佐藤の母が医者を呼んだ。医者は簡単な検査の後、言った。「患者さんは当分の間、むやみに起き上がらないように。膝の傷は元々不可逆的なものです。これ以上無理をすれば、足が使えなくなります」医者は明らかに怒っていた。伊藤は急いで丁寧に謝罪し、二度とこんなことはさせないと約束した。医者は私の周りにいる人々を不思議そうに見て、私に言った。「もし助けが必要なら、あるいは法的支援が必要なら、直接私に言ってください」そう言って、回診に出て行った。そうだ、私の体のこんな傷を見れば、余計な想像をされても仕方ない。伊藤が近寄って私を抱きしめた。彼は埃まみれだった。私が彼を押しのけると、今度は佐藤の母が私を抱きしめた。今度は押しのけることができなかった。「七恵ちゃん、苦しい思いをさせてごめんなさい。おばさんの育て方が悪かったのよ」私は慰めた。「大丈夫です、おばさん。もう過ぎたことです」佐藤隆は病室の隅で黙って立ち、後悔の色を浮かべていた。私が部屋から飛び降りるとは思っていなかっただろう。「そこへ来て!七恵に土下座しろ!」佐藤
三日間続けて、私は伊藤が冷蔵庫に貼った献立表に従って、彼が前もって作っておいた三食を冷蔵庫から取り出し、味気なく食べた。私は伊藤が恋しかったが、彼が何をしに行ったのかわからなかった。私の携帯電話には着信履歴が一つもなく、それどころか、かつては暗記していた見慣れた番号を、私が切った履歴ばかりが並んでいた。私は外に出て彼を探そうと思い、警察署に行って届け出ることさえ考えた。でも、私を誘拐した犯人たちさえ見つけられない警察を、どうして信じられるだろうか。途方に暮れながら外に出て、うつろな足取りで路地の入り口まで来たとき、突然誰かに車に引きずり込まれ、次に目が覚めたのは私の部屋のベッド
食事の後、私は佐藤の父の書斎に呼ばれた。普段のビジネスでの厳しい態度とは打って変わり、佐藤の父は優しく根気強く尋ねた。「七恵ちゃん、小さい頃から佐藤のことが好きだったけど、今でも好きなの?」私は急いで首を振った。とても必死に、頬の肉が痛くなるほど。佐藤隆を七年間好きで、七年間卑屈で、七年間苦しんだ。でも私は懲りない。だからこそ今回、地獄のような報復と拷問を受けることになった。もう佐藤隆のことを好きになる勇気はない。佐藤の父は私の答えを聞いて、しばらく考え込んでから残念そうに言った。「はぁ、仕方ない。佐藤家の嫁にはなれなくても、七恵ちゃんは永遠に佐藤家の娘だよ。七恵ちゃんはこ
車は佐藤邸に戻り、佐藤隆は私を使用人たちに命じて浴室に案内させた。私はメイドたちの手助けを断り、ただ昔の私のクローゼットから足首が隠れる長いドレスを選んでもらうだけにした。メイドたちはしばらく探した末、様々なファッションアイテムの隅から、学生服のような控えめな長袖のワンピースを見つけ出した。学生がどう着るべきかという決まりはないが、鏡に映る自分を見ると、確かに以前の派手な服装よりも学生らしく見えた。誘拐される前、私は海外の一流デザイン学校から入学許可を得ていた。今はもう入学期限から三ヶ月も過ぎてしまっている。「ありがとうございます」メイドたちは驚いた様子だった。お嬢様が彼女
裸足で都内に入ったその日、私はニュースになった。佐藤家の養女が数ヶ月間誘拐され、ボロボロの服を着て、汚れて臭い、傷だらけの足で裸足のまま、まるで野犬のように惨めな姿で逃げ帰ってきた。私はメディアのフラッシュが私に向けられ、必死に写真を撮る様子を見ていた。でも、私の心はすでに死んだ水のように、一片の波紋すら立てることができなかった。かつての七恵は死んでしまった。あの輝かしく、純真で、愛らしく生き生きとしていた七恵は死んでしまった。誘拐犯たちと、そして佐藤隆が彼女を破壊したのだ。すぐに、黒いスーツを着た警備員たちが人混みの中を掻き分けるように通路を作った。その先頭にいた隊長は伊藤成
reviews