تسجيل الدخول突然、社長から直々に、専務の秘書に任命された五十嵐寧音24歳。一部上場企業で働くOL3年目。 しかも専務は、外部から来られる! 初めてお会いする当日まで、詳細は明かされず、シークレットだった為、その姿を見て驚いた寧音。 『お若い!』ダンディな男性が来られると思っていたのに、お若いイケメンが… 櫻木修斗29歳。 しかも、その若い専務は、いきなり寧音を下の名前で呼ぶ。 相当変わった人だと思った寧音。心の声と、2人の掛け合いが面白い! そして、いつしか寧音も周りも修斗のペースに…… そのまま2人は、結ばれるのだろうか。
عرض المزيد“Di dalam, ya Mas?” tanyaku selesai memberikan hak suami setelah empat puluh hari puasa karena dalam masa nifas.
“Tadi Mas terbawa suasana. Jadi kebablasan,” jawab suami seraya tersenyum lega. Wajahnya terlihat ceria tidak uring-uringan seperti kemarin.“Nanti kalo aku hamil lagi bagaimana? Danisa baru umur tiga tahun, Mikayla masih setahun setelah dan Viera baru berumur empat puluh hari,” protesku.“Kalo hamil berarti rezeki. Siapa tau anak ke empat kita itu laki-laki, Dek. Supaya mama nggak marah-marah terus karena kamu lagi-lagi ngelahirin anak cewek!”“Tapi aku mau mengistirahatkan badan, Mas. Masa hamil terus, melahirkan terus, repot terus. Kamu sih enak nggak ngerasain capek ngurus anak. Pokoknya besok anterin aku ke bidan. Aku mau ikut program keluarga berencana.”“Tidak perlu. Aku bisa main cantik. Bisa ngontrol sendiri biar kamu nggak hamil!”“Dari dulu juga begitu, Mas. Katanya bisa ngontrol, tapi selalu kebablasan!”“Sudah, aku males debat sama kamu. Aku capek, ngantuk. Jangan pernah ngebantah suami kalo nggak kepengen masuk Neraka!” sungutnya sambil memutar guling memunggungiku.Selalu saja begini endingnya. Aku selalu disuruh ngalah, dengan dalil perempuan harus nurut biar dapet pahala dan tidak masuk Neraka.Memangnya dia pikir zalim sama istri juga tidak dosa dan bikin dia masuk Neraka?Menarik selimut, membungkus tubuh kemudian berusaha memejamkan mata melepas penat yang melanda.Akan tetapi baru beberapa menit terpejam, terdengar suara tangis bayiku membuat diri ini mau tidak mau harus segera bangun dan menyusuinya.Setelah selesai memberikan ASI, kembali merebahkan bobot di atas kasur, berniat kembali memejamkan mata, namun, kali ini giliran Danisa bangun meminta diantar ke kamar mandi.Ya Allah ....Nikmat sekali rasanya menjadi ibu dengan tiga batita.Lamat-lamat terdengar suara sang Muadzin mengumandangkan azan subuh. Buru-buru turun dari tempat tidur, berjalan mengendap meninggalkan anak-anak yang masih terlelap membangunkan suami untuk melaksanakan salat subuh.“Tolong bikinin aku kopi sama sarapan. Kamu yang buatin. Jangan Mbak Sari,” titahnya seraya duduk sambil membaca koran pagi.“Iya, Mas!” Lekas menjerang air, memasukkan sesendok kopi dan sedikit gula lalu menuang air panas dan mengaduknya perlahan.Dari dapur terdengar suara tangis Viera juga Danisa secara bersamaan. Mas Erlang terlihat tak acuh seolah tidak mendengar suara tangis kedua anaknya, dan tetap fokus pada lembaran kertas berisi berita murahan di tangannya.“Mas, tolong liat anak-anak dong. Aku masih tanggung bikin sarapan buat kamu,” ucapku sambil menggerakkan spatula di atas wajan.“Tugas ngurus anak itu ‘kan tugas istri. Bukan tugas suami. Untuk apa ada kamu kalo ngurus anak saja harus aku yang turun tangan. Terus fungsinya kamu di sini apa dong?” jawabnya enteng. Menyebalkan.Astaghfirullahaladzim ... Aku hanya bisa beristigfar dalam hati.Segera kumatikan kompor, mencuci tangan lalu segera ke kamar menghampiri bidadari-bidadari kecilku.“Sayangnya Mama kenapa?” tanyaku sambil menghampiri kedua buah hatiku yang sedang menangis di atas kasur.Kugendong tubuh gembul Danisa, membawanya ke luar kemudian mendudukkannya di samping Mas Erlang lalu mengambil Viera dan menyusuinya.“Mama mimik!” rengek Danisa sambil menarik-narik tangan.“Sebentar, ya, Sayang. Mama nenenin dedek dulu.”Tangis Danisa semakin nyaring. Dan seperti biasanya, Mas Erlang tidak menoleh apalagi menenangkan putrinya. Bikinnya doang yang rajin, tapi nggak mau bantu mengurus.“Mbak, Mbak Sari, tolong buatkan susu buat kakak dan ajak main dia ya?” perintahku kepada Sari—asisten rumah tanggaku yang sudah mengabdi sejak aku dan Mas Erlangga baru menikah.“Baik, Bu.” Dia mengangguk sopan.Setelah Viera selesai menyusu kuletakkan bayi berusia empat puluh hari itu di stroller dan kembali melanjutkan aktivitasku membuat sarapan untuk suami.“Duh, lama banget, sih Dek. Nggak tau apa suami kamu itu sudah kelaparan?” protes suami membuatku menarik napas panjang dan mengembuskannya secara kasar.“’Kan Mas liat sendiri tadi. Pas aku lagi masak anak-anak bangun, sementara kamu tidak mau membantu aku sama sekali. Kalo masaknya jadi lama ya nggak usah komplain. Makanya lain kali bantuin istri. Biar ngrasain seperti apa repotnya ngurus anak!” rutukku panjang lebar walau tahu hanya masuk kuping kanan dan keluar lewat kuping kiri. Sudah biasa.“Sudah, ah. Mas mau berangkat kerja. Assalamualaikum!”“Hati-hati di jalan. Jangan lupa baca doa!”“Iya!”Suara deru mesin kendaraan terdengar menjauh dari pekarangan rumah. Aku segera menjerang air, memandikan anak-anak lalu mengajak mereka bermain di halaman sambil berjemur menikmati udara pagi.“Mbak Rivani, habis melahirkan tubuhnya tambah melar ya? Perasaan dulu Mbak itu body-nya langsing dan bagus, dandanannya juga rapi. Sekarang udah kaya emak-emak umur tiga puluh lima tahunan, padahal baru dua puluh enam taun. Rambut acak-acakan, pake baju asal begitu. Awas loh, Mbak, suaminya nanti kecantol pelakor kalo Mbak terus-terusan bergaya seperti ini?!” celetuk Bu Hielmy—tetangga depan rumah yang terkenal pedas mulutnya.Aku hanya merespons ocehan ibu beranak satu yang dandanannya cetar membahana seperti orang mau kondangan itu dengan senyuman. Malas beradu argumen. Buang-buang tenaga.“Dikasih tau cuma senyum-senyum doang. Jangan nyesel nanti kalau tau-tau Mas Erlangga kawin lagi sama yang rapi dan bohay. Secara dia ‘kan kaya. Bisa saja nyari perempuan yang lebih muda dan cantik. Mana ada suami yang betah liat istrinya amburadul seperti kamu!”Aku mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.Sabar, Rivani. Tetangga toxic seperti dia nggak perlu diladeni.“Ya sudah, Bu. Saya masuk dulu. Permisi. Assalamualaikum!” Mendorong stroller bayiku, berjalan masuk menutup rapat pintu rumah.“Sar, saya mau mandi dulu. Tolong jagain dedek dan kakak sebentar ya?”“Iya, Bu. Jangan lupa sarapan juga. Biar kuat menghadapi kenyataan!” celetuk Sari membuatku tertawa dibuatnya.Di rumah ini, selain anak-anak hanya dia yang mampu membuat aku tertawa. Mas Erlangga selalu sibuk dan hampir tidak ada waktu untuk keluarga, sedangkan ibu mertua, sekalinya datang dia hanya membuat huru hara, mencibir karena semua anakku perempuan.Mematut diri di depan cermin, mengusap wajah yang sebenarnya masih begitu cantik juga muda. Hanya saja karena terlalu sibuk mengurus anak-anak jadi tidak punya waktu untuk mengurus badan. Apalagi Mas Erlangga selalu menuntut agar anak-anak selalu dalam pengawasanku, tidak mempercayai asisten rumah tangga untuk mengasuhnya.Baru saja menyisir rambut dan mengikatnya, terdengar suara tangis Mikayla serta Danisa. Sepertinya mereka berebut mainan dan Sari tidak bisa menangani. Ah, anak-anak ini. Sepertinya tidak bisa sehari saja tanpa berkelahi, membiarkan mamanya santai barang sejenak.“Dek, anak-anak sudah tidur?” Tangan kekar suami melingkar di pinggang, memberi isyarat kalau dia ingin meminta jatah malam.“Sudah, Mas. Tapi maaf. Aku capek banget hari ini. Lagian aku juga belum ke bidan. Takut kebobolan lagi, Mas,” tolakku secara halus.“Capek?” Dahi Mas Erlangga berkerut-kerut menatapku dengan mimik aneh. “Memangnya habis ngapain, Dek? Kok ngeluh capek?”“Ngurus anak-anak, Mas. Kok ngapain?”“Lha, ngurus anak-anak doang masa capek? ‘Kan tinggal duduk, liatin anak-anak sambil main hape. Anak-anak tidur ikut tidur. Beres-beres rumah juga nggak pernah ‘kan? Semuanya Sari yang ngerjain!”“Mas, ngurus anak itu nggak hanya duduk dan tidur doang!”“Lantas?”“Kamu belum pernah ngerasain seperti apa ngurus tiga batita. Malam kurang tidur, siang boro-boro bisa merem. Pundak juga ampe sengkleh nggendong Danisa kalo dia lagi datang cantiknya!”“Ibu dulu punya anak enam dan jaraknya deket-deket nggak pernah negeluh. Ervita juga sama-sama punya anak tiga nggak pernah ngeluh kaya kamu. Padahal dia juga kerja. Sedangkan kamu, di rumah doang malah ngeluh capek. Aneh.”“Kerja kantoran sama ngurus anak itu cape’an ngurus anak, Mas. Kalo kerja kantoran ‘kan masuk kerja jam tujuh jam lima sudah bisa pulang. Dapet gaji pula. Lha kalo ngurus anak ....”“Sudah-sudah! Nggak bakal selesai kalo debat sama kamu, Dek. Makanya sekali-kali kerja. Biar ngrasain kaya apa capeknya nyari duit. Nggak Cuma ongkang-ongkang kaki di rumah tapi giliran suaminya minta haknya malah ngeluh capek!” Sungutnya seraya beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar membanting pintu hingga ketiga anakku terbangun.Argh!Aku menjambak rambut frustrasi karena badan sudah begitu lelah tapi gagal diistirahatkan.“Loh, Dek. Kamu mau ke mana?” tanya suami sambil menatapku dengan mimik heran, karena pagi-pagi sudah berpakaian rapi ala orang kantoran.“Kerja. Mulai sekarang aku yang akan mengelola toko dan kamu jaga anak-anak di rumah. Kita tukeran peran selama sebulan!”“Jangan gila kamu, Dek? Memangnya kamu bisa mengelola toko kita?”“Kamu lupa ya? Sebelum menikah dengan kamu aku juga pernah mengelola toko punya keluarga aku. Toko kamu maju juga karena campur tangan aku dulu. Jadi, nggak usah khawatir aku tidak bisa mengelolanya. Perempuan itu bisa mengerjakan semua pekerjaan laki-laki, jadi tulang punggung, jadi ayah sekaligus ibu, tapi laki-laki belum tentu bisa mengerjakan tugas seorang perempuan. Itulah kelebihan perempuan dan kekurangan laki-laki.”“Kata siapa? Mas juga bisa ngerjain semua tugas perempuan. Mas bisa jagain anak-anak. Jangan suka meremehkan suami kamu, Dek. Jangan jumawa!”“Oke. Kalau begitu kita tukeran peran.”“Deal!” Mengulurkan tangan.“Deal!” Dia menjabat tanganku dan menatap yakin.Menyambar tas yang tergeletak di atas meja, mengambil kunci mobil dan segera melajukan kendaraan roda empatku menyusuri jalan kota menuju toko elektronik yang Mas Erlangga kelola. Aku pengen tau, sejauh mana dia bertahan mengurus ketiga batita kami.2025.2.2大安吉日 バタバタと準備が進められ、この佳き日を迎えることが出来た。 お腹の赤ちゃんも順調に育っているようで、5ヶ月に入り安定期となった。 しばらくは、悪阻で気持ち悪くあまり食べられなかったので、ついに秘書業務はお休みすることにした。きっとこのまま退職することになるのだろう。 ようやく悪阻も治まった。 ずっと家に居ても退屈だし、修斗が時々体調の良い日は、会社に来て! と言うので、 瀬尾さんに引き継ぎがてら、林さんの顔を見に行っていた。 心配症の修斗は、私専用の運転手さんとお手伝いさんを付けてくれた。 悪阻の時、お腹が空くと気持ち悪くなるようで、 小さなおにぎりを1つ食べると落ち着いていた。 なので、ちょこちょこ食べられるように、お手伝いさんがいつも用意してくださったので助かった。皆さんのおかげで、ようやくここまで来れました。 何もしないと太り過ぎてしまうからと言うのだが、何もさせてもらえない。 なので、赤ちゃんの物を編んだりしてゆったり過ごさせてもらっている。 まだ、5ヶ月なのであまりお腹も目立たず、ウェディングドレスもカクテルドレスも違和感なく着ることが出来て良かった。 バージンロードは、やはり母と並んで入場することに…… 母にベールダウンしてもらい、それを見るだけで、涙する親戚や友達も多く、先に泣かれてしまったので、こちらまでもらい泣きしてしまい、笑顔で居なきゃと思うと、笑い泣きの挙式で始まってしまった。 ようやく修斗の所まで歩いて辿り着き、ベールアップ、誓いのキスは、涙が流れ鼻が詰まって大変だった。 思わず笑ってしまった。 そして、披露宴へ 最初は、新郎新婦の入場。 お色直しの時、ついに社長念願の新婦との入場に、会場が沸いた! だって、社長がまるで選挙活動のように皆さんに手を挙げながら入場するものだから、爆笑をさらっている。 ──社長! 満足ですか? その頃には、私も爆笑していた。 そして、高砂席まで送り届けてくださると、何故か修斗にお辞儀して、2人でお辞儀し合って握手していた。 私の父親代わりをしていただき、有難うございました。 妊娠中と言うことも有り、まだ長時間の拘束は、疲れるので、余興などは全て省かせていただいた。 なので、社長の
11月25日は、修斗の30歳の誕生日、そして、 11月29日は、私の25歳の誕生日だ。 修斗の誕生日には、部屋を飾り付け、私の料理でもてなすと決めていた。 でも、誕生日が月曜日なので、日曜日から食事の準備をする。あとは、当日の月曜日にしたいが…… かと言って当日、会社を休んだりしたら、体調が悪いのかと修斗が心配するし…… 「こういう時、四六時中一緒に居ると、大変だな」 修斗は、月曜日の午前中は会議で、午後から外出だから社長と同行。 「そうだ! 午後から半休を取って先に帰ろう!」と閃いた。 林さんに相談して、その旨を伝えると、 「半休は取っても大丈夫だけど、問題はダーリンよね〜」と言われた。 「そうなんですよね〜」 「そろそろ秘書の練習の為に、半日だけ瀬尾さんに入ってもらえば? 私がサポートするわよ」と言ってくださった。 それは、有り難い! 40代で秘書室に抜擢されて来られた瀬尾さん。 もっとも、私が辞めることになったら、という理由で秘書の勉強をしていただいている人だ。 「じゃあ当日、生理痛が辛くなったから早退したって言ってもらえますか?」 「分かった!」 ***** そして、修斗の誕生日当日、夜中12時を回った時に、 「お誕生日おめでとう!」と、伝えると、 とても嬉しそうにしていた修斗。 「去年までは、1人だったから」と、とても喜んでくれた。 そして……そのまま愛し合った。 朝、眠そうに目を擦りながら、いつもと変わりなく一緒に出勤した。 そして、 修斗は午前の会議を終え、専務室に戻って来たので、温かい玄米茶を淹れて出した。 「お疲れ様でした」 「うん。ありがとう! あ〜美味い! 落ち着く〜」と喜んでくれる。 ──いつかは、この役割も私じゃなくなるんだ と少し寂しくなってしまった。 「ん? 寧音どうしたの?」と聞かれたので、 そう話すと、 「う〜ん、そうだな。俺だって寂しいよ。でも、その時は、2人に子どもが出来た時でしょう?」と言う。 「うん、そうだね」と微笑む。 そして、午後から修斗は、社長と外出。 「「行ってらっしゃいませ」」と林さんと共に送り出した。 「じゃあ、寧音ちゃん、後は任せて!」とおっしゃってくださる林さん。 すぐに、瀬尾さんを呼んでくださり、 「半日専務の秘書をお願いします
元電力部長の動画アップのせいで、急いで籍を入れることになったので、挙式披露宴の準備が整っていなかった。 社長の息子、そして、伯父様の会社で働いていることも有り、私たちより周りの方が私たちの挙式披露宴を楽しみにされているようだ。 なので、どうしても避けては通れないらしい。 社長である伯父様は、専務室に来ては、 「結婚式は、いつにする?」と聞く。 「う〜ん、もう来年じゃなきゃ予約が取れないだろうね?」と言う修斗。 「寧音さんは、何処で挙げたいとかあるの?」と聞かれ、 「いえ、私は……」と言うと、 「花嫁さんがメインなんだから、我儘言っても良いんだよ」とおっしゃってくださる。 修斗を我が子のように可愛がり、ようやく結婚してくれたのだから、嬉しくて仕方がないのだとおっしゃる。 そして、初めて魚崎さんとお会いしたホテルを社長もよくお使いだとのことで、 「あそこなら、すぐに取れるんじゃないか?」 とおっしゃる。 「いやいや、会場が空いてなきゃ無理だってば!」と修斗が言うも、 「じゃあ空いてたら、いつでも良いか?」とおっしゃるので、修斗も折れたようで、私の方を見て、 「寧音いいか?」と聞いてくれたので、 「はい」と笑顔で答えた。 「よし!」と社長は、ニコニコしながら、 「予約が取れたら連絡するよ」と専務室から出て行かれた。 しばらくすると、林さんから、 「寧音ちゃん! 社長からホテルの空き状況を調べて欲しいと言われたんだけど、春でも秋でも良いの?」と聞かれた。 「!!えっ?」 結局社長は、林さんに頼んだようだ。 そりゃあそうだ、社長直々に連絡なんてしないよね? 「あ、申し訳ありません。そんなことまでしていただいて」と言うと、 「ううん、楽しいわよ! 良かったね」とおっしゃってくださる。 「ありがとうございます」 結局2人でホテルの空き状況を見ながら、決めることになった。 そして、来年の2月2日ならチャペルと大広間での披露宴が出来るようだ。 でも、私は1つ気づいたことがある。 チャペル、バージンロード、父親と歩く姿をよく見かけるが、私には父親は居ない。アレは父親でなくても良いのだろうか? 林さんに話すと、 「もちろんよ! お母様と歩く方も居らっしゃればご兄弟とか、今では新郎と歩く方も増えてるとか。そんなの決まりはな
──週末の11月2日(土) フットサル場に着いて来た。 屋根はあるが壁は開閉式の半屋内と言うのか、Fリーグの選手が使うような場所だ。 「うわ〜綺麗なコートだね〜」 「うん」 「修斗〜!」と言う男性の声が聞こえた。 高校の同級生のようだ。 「おお〜!」と手を挙げている。 近づいて来て、 「久しぶりだな〜」 「おお〜」と手を上に挙げハイタッチしてからクロスして握り合っている。 「ん? 彼女?」と聞かれた。 私は、会釈をして、「初めまして」と挨拶した。 「初めまして」 「妻の寧音!」と修斗が言った。 「え? お前結婚したのか?」 「うん」 「おめでとう〜! いつ?」 「10月20日」 「え? 今年の?」 「うん」 「え? この前じゃん!」 「うん」 「ヒュー新婚さん!」と笑っておられる。 「お前〜顔が下品!」と言う修斗。 そして、私に、 「山岡です。おめでとうございます」とおっしゃったので、 「ありがとうございます、寧音と申します。主人がいつもお世話になっております」と言うと、 「か、可愛い〜」と言われた。 ──初めて主人と言った キャー照れる〜 そして、修斗に、 「おいおい、こんな可愛い子と、どこで知り合ったんだよ?」と聞かれ、 「俺の秘書」と修斗が言う。 すると、高校の頃から修斗のお父様が会社の社長さんだとご存知の山岡さんに、お父様の「後を継いだのか?」と聞かれ、自分は伯父さんの会社へ移り、今は専務となったことを伝えた。 「うわ〜流石! サラブレッドは違うな、羨ましい!」と言われていたが、修斗は、兄が居るから親父の会社を離れ、伯父さんに頼まれて、会社を変わったことを初めて話した。 恐らく、この山岡さんは、修斗の親友なのだろうと思った。普段、そういう話を全くして来なかった修斗。でも、この山岡さんには何でも話せているようで、そんな人が修斗にも居たんだと思って少しホッとした。 「皆んなには?」 「ああ、言っても構わないよ」と言った。 事実だものね。 そして、続々と同級生たちが集まって来られたようだ。 彼女さんだという方々も来られていたので、一緒に椅子に座って観戦することになった。 見た目は、ギャルみたいな格好の人も居て、少し引いてしまったが、案外ご挨拶は、きちん
早速、社長室へ出向いた専務。 私は秘書の林さんに、 「どうしたの? 何かあったの?」と聞かれた。 「はあ〜専務、無鉄砲過ぎます。何を考えているのかよく分からないです」と言うと、 「ふふ、そうなのね〜だから、社長は専務にしたのよ! そういうの社長が大好きなんだもの」 と笑っておられる。 振り回される私の身にもなってよ…… すると、社長が、 「五十嵐さんも入って」と私を社長室へ呼んだ。 ──あ〜イヤな予感しかしない〜 「はい、失礼致します」と入室すると、 「五十嵐さん! 申し訳ないが、食堂の一般開放の件、専務を手伝ってやってくれないか?」と言われた。社長から直々に言われ
そして、2人で各部署を回った。 「こちらが人事部と……」と言うと、 「あ〜そういう主軸は、良いから……」と言われた。 専務が来られたと言うことで、人事部の皆さんが一斉にこちらを見て、立礼されているのに、スルーした。 「申し訳ありません。失礼致します」とお辞儀した。 そして、電力ソリューション部門へ 「そうそう、こういうのだよ」と、見て回る。 皆さんお忙しそうなので、それぞれに行動されている。 部長だけは、お気づきになり、ご挨拶に来られた。 「専務! どうされましたか?」 「いや、各部署を見て回りたくて……良いですね! 活気があって」と、喜んでおられるご様子。 「私がご
「え〜っと、それは、答えるべきなのでしょうか?」と聞くと、 「あ、ごめん。もしかして、こういうの慣れてなかった?」と聞かれた。 「?……」 もちろん私は、答える必要がないので、何も答えない。 「もしかして、寧音ちゃんって処女なの? あっぶね〜! いや、俺まだ指1本触れてないからな」と急に両手を挙げて離れて焦り出した。 ──何も言ってないわ! だが処女はアウトだ! 「今のはセクハラに当たりますので!」 と言うと、 「あっ、ごめん! もう言わないから、許して! ね?」 と機嫌を取る。 ──そうやって、何人もの女を泣かして来たのだろうか? 確かに
昼食後、専務は社長と挨拶回りに向かわれた。 私は、お留守番で良いようだ。 ──やった〜! と内心喜んでいた。 社長とご一緒なら時間がかかるだろうし、帰社されるまでは平穏な時間を過ごせる。 秘書室では、専務の話題で持ちきりだ。 当然私にだけは、専務の個人情報が渡された。 知らない他の人は、好き勝手に話しているようだ。 「寧音ちゃん、ホントにラッキーだよね」と嫌味なのか本心なのか? 分かりづらい言葉をかけられる。 「ラッキーなんですかね?」と言うと、 「何言ってるのよ! ラッキー以外の何物でも無いわよ、モノにするのよ!」 とおっしゃるのは、常務の秘書の原





