LOGIN車椅子を操りながら、私はウィルスが開いてくれた誕生日パーティーの会場に入った。さっきまで賑やかだったホールは、私の登場と共に一瞬の静寂に包まれた。 ここに集まった人々は、それぞれ違う思惑を抱えて来ており、私の誕生日を祝うためではない。 「これがウィルス社長の、車椅子の婚約者ジョウイっていう人か?」 「そうそう。でもウィルス社長の本命はアンナさんだって。さっき隅っこでキスしてたのを見たよ」 彼女たちはワイングラスで口元を隠しながら、遠慮なく噂話をしていた。私が今もまだ歩けず、耳も聞こえないと思っているようだ。 でも、彼女たちは知らない。実は先週、私は聴力を取り戻していたことを。今、この場で交わされる嘲笑や侮辱のすべてが、私の耳にはっきりと届いていた。 そして、私の婚約者であるウィルスも、すぐそばにいるのに、誰一人として止めようとしなかった。 彼はもう忘れてしまったのだろうか。私がこんな姿になったのは、彼を守るためだったということをーー。交通事故の瞬間、私は咄嗟に彼を突き飛ばし、自分が車にひかれてしまったのだ。 あのとき、瀕死の私を救い出したウィルスは、涙ながらに「一生君を守る」と誓った。 でも、たった三年で、その誓いはすっかり消えてしまった。 スマホに通知が届く。 【ジョウイ様、1:1で再現された遺体モデルが完成しました。ご返信いただき次第、仮死サービスを即時開始いたします。五日後、ウィルス様との挙式会場へお届けいたします】 私は迷わず確認のボタンを押した。 ウィルスーー。ご結婚、おめでとう。
View More“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”
Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya. Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain? “Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.” Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung. “Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!” Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana. “Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.” Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih. Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu. “Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?” Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!” Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.” Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.” Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek. Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya. Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka. Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami. Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya. “Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.” Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka. Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini. Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal. Djiwa menghembuskan napas pelan. “Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa. Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan. “Ya Tuhan!” Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur. Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya. Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan. Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna. Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan. Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan. Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar. “Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya. “Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh. Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya. “Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin. Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami. Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan. “Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.” Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan. Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya. Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak. Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni. Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda. Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit. Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu. “Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa. Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun. Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.” “Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas. “Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan. Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi. Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar. Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar. Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah. Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya. Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya. Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya. Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar. BRAK! Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk. “Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!” “Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri. Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya. “Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.” Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat. Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga? “Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.” Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus. “Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”ウィルスは七日間の昏睡から目を覚ました。私の葬儀はすでに終わっていて、彼を待っていたのは冷たい墓碑だけだった。結婚式の生配信によって、ウィルスの浮気は世界中に知れ渡り、プライスグループの評判は地に落ちた。株価は瞬く間に大暴落し、取締役会は一致してウィルスの社長職を一時停止することを決定した。秘書から報告を受けたウィルスは、無表情のまま頷き、すべてを理解したことを示した。そしてまた、私の墓碑の前に座り、私が一番好きだった歌を口ずさんだ。夕暮れになるまでそこを離れず、ようやく家に戻ったウィルスは、かつて私が読書とお茶を楽しんでいたお気に入りの場所に座り、ただぼんやりと時を過ごした。私たちのウェディングフォトは半分に破かれていたが、ウィルスはそれを部屋に飾り続け、空白になった私の部分を自分で描き足していた。まるで、そうすればずっと一緒にいられると信じているかのように。彼は私のベッドサイドの引き出しから、一冊の古びた日記を見つけた。それはウィルスに連れ帰られた日から、毎日彼への想いを綴ったものだった。【今日はウィルスがケーキを買ってくれた。今まで食べた中で一番おいしかった】【今日はウィルスが私が選んだ青いネクタイを締めてくれた。誓って言える、彼以上に青いネクタイが似合う人はいない】愛は、日々の何気ない出来事の中に宿っていた。そして、私があの事故に遭った日を境に、日記は途切れていた。きっとその瞬間、ウィルスは初めて、自分がどれほど残酷なことをしてきたかに気づいたのだろう。ウィルスの友人たちは、沈み込んだ彼を見かねて、アンナに会いに行くよう勧めた。アンナなら彼を立ち直らせられるかもしれない、と。アンナを訪ねたウィルスに、アンナは微笑んだ。でもその笑顔には、どこか無理があった。ウィルスは会社に与えた損害を補填するため、ほぼすべての資産を売却していた。手元に残ったのは、今住んでいる家だけだった。アンナは三度も高級ブランドバッグをねだったが、ウィルスはそれに応じなかった。するとアンナは、もはや以前のような優しいウサギではなくなった。ウィルスの差し出した手を荒々しく振り払うと、怒鳴った。「何も買ってくれないくせに、よくも好きだなんて言えるわね」そう吐き捨ててアンナは家を出ていき、三日間戻らなかった。ウィルスはまた、私との日
執事たちが式場の整理を始め、見物しようとする人々を遮った。ボディーガードの隊長がウィルスに近寄り、立ち上がらせようとした。だが、ウィルスはその手を振り払って、クリスタル棺に倒れ込んだ。彼は棺の蓋を押し開け、震える手で私の頬に触れた。だけど、指先に伝わってきたのは、ただ冷たい感触だけだった。ウィルスは自分のジャケットを脱ぎ、私の身体にそっとかけた。そして私の頬を必死に両手でさすりながら、ポロポロと涙を零した。「ジョウイ……なんでこんなに冷たいんだ。ほら、服を着せてあげるから、もう寒くないよ。だから、目を覚ましてくれよ……家に帰ろう、ジョウイ。これは、俺たちの結婚式だぞ。お前がいないと、俺、これからどうやって生きていけばいいんだ……こんなに、こんなに無情に……俺を一人にするのかよ?」最後の言葉は、かすかに震えていた。スタッフが私のスマホを持ってきて、感情のない声でウィルスに手渡した。「こちら、ジョウイ様の携帯です。中に、あなた宛ての遺言動画が残っています」ウィルスはチラリと見た。録画日時は、二日前の夜10時だった。その頃のウィルスは、アンナの首のリボンを引きちぎりながら、めんどくさそうに私に【しばらく家に帰らない】とだけメッセージを送っていた。震える指で、ウィルスはメモアプリの動画を再生した。そこには、リビングに座る私の姿が映っていた。私は、穏やかな声で語り始めた。「ウィルス。あなたは私にとって、王子様だった。家という牢獄から私を救い出してくれて、灰かぶりの私を、プリンセスにしてくれた。三年間、本当に夢みたいだった。あなたの愛を、一生信じられると、心から思ってた。でもーー夢は、いつか覚めるものなんだね。あなたの愛は、熱くて、でも短かった」「ねぇ、ひとつ秘密を教えてあげる。実は……私、聴力が戻ってたんだ。あなたにプロポーズされるとき、あなたの『ジョウイ、結婚してくれ』って言葉を、この耳でちゃんと聞きたくて。だから、もう一度手術を受けたの。でも、耳が治って一番最初に聞こえた声はーーあなたとアンナの、隣の部屋から漏れてくる喘ぎ声だった」「それからも、何度も何度もアンナから送られてきた、あなたたちセックスするときの録音。安心して、字幕なんかなくても、ちゃんと聞き取れたよ」「本当は、飛び出して行って、あなたに問い詰めたかった。あ
続いてスクリーンが点灯し、映し出されたのは、キッチンのアイランドで絡み合う二つの身体。それから、リビングのソファ、そして床一面の窓の前ーー。この映像はそのままライブ配信にも流れ、視聴者数は一気に十数万から数十万へと膨れ上がった。ウィルスが真っ先に反応した。彼は司会者に向かって怒鳴りつけた。「止めろ!今すぐスクリーンを消せ」司会者は新婦の友人と名乗る人物から渡されたUSBを、何の疑いもなく再生しただけで、中身を知らなかった。顔が真っ青になって、慌ててパソコンを操作して動画を止めようとしたが、どうしても止められなかった。ウィルスもすぐに駆け寄り、パソコンの電源を引き抜いた。だが、スクリーンの映像は止まらない。電源は別のケーブルで床下に繋がっていたのだ。映像はすでに背後アングルから正面へと切り替わっていた。そのタイミングで、音声がはっきりと流れた。「外にいるのは俺の婚約者。でも、今、俺の下にいるのはーー俺の大事なベイビーだ」誰の目にも明らかだった。スクリーンに映る二人の男女は、今日の新郎ウィルスと、彼の秘書アンナだった。【うそでしょ!?ウィルス社長って、業界でも誠実で有名だったのに】【見覚えある背景……あれってウィルス社長の自宅だよね?じゃあ、新婦のジョウイも家にいたってこと?かわいそすぎる……耳も聞こえないのに、こんな裏切り……】【見て、ウィルスの耳の後ろにリップマークがある!まさか結婚式当日まで情事してたってこと?】スクリーンの電源が地下に繋がれていると気づき、ウィルスはすべてが仕組まれたものだと悟った。彼はすぐにボディーガードを呼び寄せ、全部のケーブルを切断させた。周囲を見渡しながら、なおも必死に私の姿を探した。心のどこかで、私にすべて知られてしまったことを恐れていた。ウィルスは思った。私が「サプライズがある」と言っていた。つまり、最初から何かを知っていたのか?しかしまた思い直す。耳が聞こえず、歩くことも困難な私が、監視映像を用意し、それを持ち込んで流すなんてできるはずがない。ウィルスは再びスマホを取り出し、私に電話をかけた。微かに、聞き慣れた着信音が聞こえた。それは、式場の大扉の向こう側からだった。その着信音は特別なものだった。ウィルスがプロポーズの時に歌ってくれた、私が大好きな歌。私は懇願してもう一
結婚式の二日前、ウィルスとアンナは新居のあちこちに情熱の痕跡を残していた。高まった感情の中で、アンナはウィルスをぎゅっと抱きしめながら尋ねた。「私なら、もっとウィルスを幸せにできるよ。ウィルスの奥さんにしてくれない?」だが、さっきまで甘い目で見つめながら彼女の腰に手を回し、「別荘を買ってあげるよ」とささやいていた男は、急に動きを止め、澄んだ瞳で言った。「アンナ。ジョウイの前で騒がない限り、どれだけ甘やかしてもいい。でも、自分の立場はわきまえろ。手に入れてはいけないものもあるんだ」アンナの顔に、かすかに影が差した。三年間ウィルスに尽くしてきたのに、私の代わりにはなれなかった。それでも、彼女は男の喜ばせ方を知っていた。アンナは体勢を変え、ウィルスの引き締まった腰にまたがり、甘えるようにささやいた。すぐにウィルスの瞳に再び欲望が宿り、部屋の中には恥ずかしくなるような音が響き渡った。結婚式当日、ウィルスは朝早く目を覚ました。鏡の前でネクタイを締めるウィルスの姿はとてもかっこよくて、アンナの目に一瞬、嫉妬の色が浮かんだ。アンナはそっと後ろから抱きつき、油断しているウィルスの耳の後ろにキスを落とした。ウィルスはにっこり笑って振り返り、アンナの頬をやさしく撫でた。「いい子だな。新婚旅行から戻ったら、今度は一緒に海辺で一週間のバカンスしよう」式場へ向かう道中、ウィルスはやっとスマホを手に取った。しかし、私からの連絡はなかった。出発を促すメッセージどころか、二日前に自分が送ったメッセージにさえ、私から返信はなかった。ウィルスは少し焦ったが、もうすぐ式場に着く。すぐに私に会えるし、私が約束してくれた「サプライズ」も待っている。そう思い直して、不安を飲み込んだ。式場に到着しても、私の姿はなかった。スタッフによれば、「ファーストルック」の準備中だという。ウェディングドレスを着た私の姿を思い浮かべ、普段なら二億ドルの契約書にも動じないウィルスが、今はまるで初恋の少年みたいにそわそわしていた。十二時、式典が正式に始まった。ウィルスは新郎として、花束を持って舞台の真ん中で新婦を待った。列席しているのはビジネス界の大物や有名人ばかりで、みんな息を呑んで見守っていた。式の様子はライブ配信もされていて、ウィルスの「世紀の結
reviews