LOGIN大学院生・真壁湊が「個人生活と孤独」をテーマにした論文調査の対象として選んだのは、隣人の江口透。37歳、バツイチ、無職。飄々とした関西弁の陰に、ふと見える静かな影と生活の美しさに、湊は言葉にできないまま惹かれていく。 最初は記録だった。冷めていくお茶、交わされる短い会話、煙草の火。 「綺麗だ」と思ってしまった瞬間から、取材ではなく恋になった。 真っ直ぐな言葉に透は戸惑い、湊は声にした瞬間に傷つく。 すれ違いと沈黙のなか、それでも、ふたりは記録を超えて、もう一度“伝える”ことを選ぶ。 これは、恋だと気づいたときにはもう遅かった、 それでも届かせようとした、静かな恋の軌跡。
View More"Astaghfirulloh, "
"Astaghfirulloh," "Astaghfirulloh," "Kring ... Kring ..." Najwa terus berdoa, menuntaskan dzikir sepertiga malamnya ketika suara telepon berbunyi. Kurang satu putaran lagi jarinya menapaki tasbih di tangannya, tapi telepon itu tidak mau berhenti berdering, membuat konsentrasi Najwa terus terganggu. Alhamdulillah. Tepat setelah dzikirnya selesai, telepon yang terus berdering itu sudah tak berbunyi kembali. Hanya ada dua hal yang menyebabkan telepon itu telah berhenti berdering, asisten rumah tangganya terpaksa bangun dan mengangkat telepon berdering itu atau si penelepon sudah menyerah. Perasaan Najwa jauh lebih baik saat ini setelah salat malam dan berdzikir, ia melepas mukenahnya dan melipat sajadahnya lalu tak berselang lama pintu kamarnya diketuk. "Masuk," kata Najwa cukup keras. Pintu kamarnya terbuka sejenak dan ada sosok perempuan paruh baya yang ada di balik pintu berdiri setengah bungkuk dan tersenyum kecil ke Najwa. "Maaf mengganggu, bu, ada telepon dari polisi," kata perempuan paruh baya itu seraya menyerahkan gagang telepon tanpa tali itu ke Najwa. Najwa cukup kaget dengan apa yang baru saja asistennya itu katakan. Ia melirik sekilas jam di dinding, pukul setengah empat pagi, setengah jam lagi adzan subuh akan berkumandang. Dadanya was-was saat menerima gagang telepon dari bi Surti tersebut dan menempelkannya ke telinga. Ia takut telepon palsu. "Ya?" sahut Najwa. "Dengan bu Najwa Abdullah?" tanya suara pria paruh baya di seberang dengan tegas. "Iya, saya sendiri," ucap Najwa. "Kami mau menginfokan bahwa suami anda mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit Islam Permata Putih," kata-kata itu langsung membuat Najwa kaget dan gagap sekaligus. "A-apa?" "Suami anda mengalami kecelakaan beruntun di tol dan kami sudah mengirimnya ke rumah sakit. Bisa segera cek dengan datang ke rumah sakit Islam Permata Putih atau hubungi bagian Instalasi Gawat Darurat terlebih dulu, terima kasih, kami tunggu kedatangannya," kata pria di seberang sebelum akhirnya menutup telepon setelah Najwa mengucapkan salam dengan tergagap. "Ada apa, bu?" tanya bi Surti yang paham kalau majikannya sedang mendapati masalah besar. "Ba-bapak kecelakaan," kata Najwa yang membuat bi Surti kaget dan menutup mulutnya yang menganga itu. Najwa lantas bergerak ke arah nakas di mana ponselnya berada, dengan tangan gemetaran ia mengetik nama rumah sakit Islam Permata Putih di g****e dan langsung menghubungi nomer instalasi gawat darurat yang tertera di sana. "Rumah Sakit Islam Permata Putih, selamat pagi," sapa perempuan di seberang sana dengan ramah. "Pagi, saya mau mengecek pasien kecelakaan bernama Hamish Rahman Abdullah," kata Najwa gagap. "Mohon ditunggu sebentar," kata perempuan diseberang dengan ramah, "Hamish Rahman Abdullah terdaftar sebagai korban kecelakaan dua jam lalu. Permisi, dengan siapa saya bicara?" tanya perawat tersebut. Kepala Najwa langsung berputar dan seluruh tubuhnya gemetar bukan main. Ia tak menyangka firasat buruknya beberapa hari ini menjadi kecelakaan suaminya, "Halo?" suara di seberang memanggil-manggil, membuat Najwa yang bingung lantas sadar. "Saya istrinya, saya akan segera ke sana," kata Najwa setelah menutup teleponnya dengan segera membuat perawat itu kaget. Istri? Pikirnya heran seraya menatap ke arah keramaian di depannya. Beberapa perawat dan dokter serta petugas kepolisian sibuk merawat pasien kecelakaan beruntun di tol tersebut dan pandangan perawat tersebut jatuh ke perempuan muda yang perutnya sedikit kelihatan gendut. Najwa bergegas mencari kerudungnya di lemari dan memakainya secara instan. Bi Surti yang berada di belakangnya segera mempersiapkan tas Najwa dan memasukkan ponsel beserta dompet Najwa ke dalam tasnya. "Ibu hati-hati, ya," ucap Surti dengan cemas. "Jaga rumah ya, bi," kara Najwa seraya menerima kunci mobil dari bi Surti. Ia pun segera melangkah keluar dari kamarnya untuk menuju rumah sakit Islam. Saat menapaki tangga, kebetulan sekali mertuanya keluar dari kamar dan membuat langkah kaki Najwa berbelok ke arahnya. "Mau ke mana kamu pagi-pagi begini, Najwa?" tanya Haja Ida padanya. "Mama, Najwa harus ke rumah sakit," kata Najwa berusaha menahan air matanya. "Rumah sakit? Tapi untuk apa?" tanya Ida padanya. Najwa menutup matanya, ia seolah mempersiapkan diri betul-betul untuk menjawab pertanyaan Ida. Najwa menoleh ke arah kanan dan kiri, dan sofa ruang tengah adalah yang paling dekat dengan Ida. Ida yang sudah sangat cemas itu tak sabar ingin mendengar sesuatu dari bibir indah Najwa. Setelah mereka bedua duduk, Najwa mengambil tangan Ida dengan penuh kasih sayang. Ia sudah menganggap Ida sebagai ibu kandungnya sendiri, "Mama, apa yang Najwa katakan ini, mama gak boleh kaget atau kepikiran ya?" tawar Najwa. Dahi tua Ida berkerut mendengar syarat yang diajukan oleh Najwa. Namun akhirnya ia menganguk dengan berat hati. "Ada apa, Najwa? Kamu mau ke mana pagi-pagi buta begini?" tanya Ida cemas. "Najwa mau ke rumah sakit Islam, Ma. Mas Hamish kecelakaan," "Astaghfirulloh!" ucap Ida dengan terkejut, "Mama ikut! Mama ikut!" ujar Ida dengan panik. "Mama tenang, Ma. Tenang. Biar Najwa ke sana dulu, nanti Najwa pulang dan jemput mama setelah subuh," kata Najwa. "Tapi," "Mama, please. Nanti Najwa beri kabar selanjutnya lewat telepon ," kata Najwa pada Ida yang nampak kurang setuju dengan saran Najwa, "Najwa butuh doa Mama. Mas Hamish butuh doa Mama. Kalau kita semua ke rumah sakit dan bingung di sana, siapa yang mendoakan mas Hamish?" tanya Najwa mencoba membujuk Ida lembut. "Baiklah, tapi jangan lupa telepon mama segera, ya," kata Ida dan Najwa mengangguk setuju. Najwa lantas berdiri setelah mencium tangan Ida dengan khidmat, ia pun keluar dari rumahnya dan segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di garasi. Najwa mengemudikan mobilnya sembari bershalawat dan berdoa dalam-dalam agar suaminya baik-baik saja. Perjalanan dari rumah mewahnya ke rumah sakit Islam Permata itu tak begitu jauh bagi Najwa, tapi kali ini bagi Najwa terasa sangat jauh. Ketika sampai dan sudah berada di IGD, Najww bingung harus bagaimana, apalagi ia melihat IGD itu sedang sibuk mengurus pasien yang melonjak dini hari tersebut. Bau darah, obat, dan semuanya yang berbau medis membuatnya pusing. "Cari siapa, bu?" sapaan ramah seorang perawat kepadanya itu membuat Najwa bernapas lega. "Saya Najwa Abdullah, saya dapat kabar kalau suami saya dirawat di sini, apa benar?" tanya Najwa pada perawat tersebut. "Silahkan ikut saya ke bagian informasi," ajak perawat tersebut ramah. Najwa mengikutinya, "nama pasiennya siapa?" "Hamish! Keluarga Hamish!" belum sempat Najwa menjawab, salah seorang perawat berteriak dan Najwa sontak mengangkat tangannya. "Apa ibu keluarga bapak Hamish Rahman?" tanya perawat itu dengan napas terengah-engah. Najwa mengangguk, "kami butuh darah untuk bapak Hamish dan stok darah di rumah sakit sedang habis," kata perawat tersebut. "Darah saya kebetulan sama dengan suami," kata Najwa. "Alhamdulillah, mari ikut kami," kata perawat tersebut yang langsung bergerak menuju ruang tempat dimana Najwa bisa langsung mendonorkan darahnya kepada Hamish. "Keadaan suami saya bagaimana, dok?" tanya Najwa langsung kepada pria paruh baya yang datang menghampirinya. Pertanyaan Najwa itu membuatnya kaget, ia bahkan menatap Najwa lekat-lekat. "Suami ibu kehilangan banyak darah dan kami harus segera melakukan operasi di Kepalanya yang mengalami benturan cukup keras," kata dokter paruh baya tersebut yang membuat Najwa semakin gelisah. "Tapi dia akan baik-baik saja, kan, dok?" tanya Najwa. "Dok, pasien perempuan yang sedang hamil tujuh bulan itu perlu segera melakukan operasi sesar, apa keluarga pak Hamish sudah datang?" tanya salah satu perawat yang tiba-tiba datang. Pertanyaan itu membuat Najwa kaget dan bingung. Apa maksud perawat tersebut? "Bu, kami butuh persetujuan ibu segera untuk melakukan operasi sesar pada bu Rahmah, korban kecekalaan satu mobil dengan suami ibu," kata dokter tersebut. "Maksud dokter apa, ya?" tanya Najwa tak paham. Dokter semakin bingung menjelaskan. "Suami ibu sedang satu mobil dengan bu Rahmah yang sedang hamil dan mengalami kecelakaan," kata dokter tersebut. "Tapi, saya istrinya bukan perempuan hamil itu! Kenapa persetujuan operasi itu minta sama saya? Bukankah ada keluarganya? Bisa saja dia hanya rekan kerja suami saya," kata Najwa marah. "Sebelum bu Rahmah pingsan, ia menyerahkan ponselnya kepada kami dan bilang dia istri pak Hamish," kata dokter tersebut sembari menyerahkan ponsel Rahmah pada Najwa. Najwa menerima ponsel itu dengan tangannya yang lain, karena tangannya yang satunya digunakannya untuk donor darah. Ia membuka ponsel tersebut yang kebetulan tanpa menggunakan password atau sandi pola. Dan layar utama ponsel tersebut adalah foto pernikahan Hamish dengan perempuan lain. Najwa meremas ponsel tersebut kuat-kuat.透宅のキッチンには、夜の色がゆっくりとしみ込んでいた。窓の外はすっかり暗くなり、薄いカーテン越しに街灯の淡い明かりが差し込んでいる。音といえば、どこかの部屋で水道が止まる音と、冷蔵庫がときおり鳴らす控えめな唸り声だけだった。湊は、キッチンの棚から急須を取り出しながら、振り返って言った。「今度は、俺が淹れていいですか」透は一瞬だけ驚いたように眉を動かしたが、すぐに小さく頷いた。「おう、頼むわ」その言葉に背を押されるようにして、湊は湯を沸かす準備を始めた。ケトルの中に水を注ぎ、スイッチを入れる。小さな灯りが点り、低く湧き立つ音が部屋に広がる。お茶の葉は、以前ふたりで話していたときに選んだものだった。袋を開けると、ふわりと焙じた香りが立ちのぼり、湊は思わず目を細めた。茶葉を急須に入れながら、彼はそっと息をついた。その動作ひとつひとつに、特別な意味が宿っているように感じた。単なるお茶の準備ではなく、ここに再び並んで立てていること自体が、奇跡のようにも思えた。湯が沸くまでのあいだ、ふたりはほとんど会話をしなかった。それでも、不思議と気まずさはなかった。言葉がなくても、少しずつ満たされていく時間がそこにあった。やがて湯が音を立てて湧き、湊はそれを一度湯冷ましに注ぎ入れた。急がず、丁寧に。それから茶葉の上に湯を静かに注ぎ、蓋をする。蒸らしの時間もまた、湊にとっては大切な“間”だった。「江口さん」湯呑を準備しながら、湊はぽつりと口を開いた。「これからは、茶の香りで、江口さんを思い出すんじゃなくて…一緒に味わえるといいなって、そう思いました」透は、ほんの少しだけ視線を落とした。心の奥にまで届くような言葉だった。何気ないようでいて、今までのすれ違いや沈黙を、まるごと抱きしめてくれるような。「……そやな。せやな、それがええ」その返事に湊は静かに笑い、湯呑に茶を注いだ。色は淡く、けれど芯のある褐色だった。香りは立ち上るように柔らかく広がり、部屋の空気をゆっくりと変えていく。ふたりは、テーブルを挟まず、隣同士に腰を下ろした。かつてのように向かい合うのではなく、肩を並べて、同じ方向を見られる場所に。湊は、金継ぎされた湯呑をそっと置いた。続けて透が、もうひとつの器をその隣に並べた。湯呑の底が、静かにテーブルに触れる音がした。その小さな音が、ふたりの間の何かをきち
窓の外が薄墨色に染まり始め、部屋の灯りが少しだけ強く感じられるようになったころ、湊と透はまだテーブルを挟んで向かい合っていた。金継ぎの湯呑は、ふたりの間に置かれたまま、ふたつの視線が何度も交差するたびに、静かにその存在を主張していた。透が、ふいに視線を落とした。湯呑の縁ではなく、その奥にある記憶を掘り返すように、ゆっくりと目を閉じた。「……読んだよ」その言葉に、湊の指がぴくりと反応した。「“俺が初めて恋をした日”。あのファイル。読んで、すぐには言えへんかったけど……実は、何回も開いてもうた」透の声は低く、けれど途切れずに続いた。その震えには、ためらいよりも、今度こそ逃げずに話そうという意志が混じっていた。「読むたびに、何でやろな……胸がぎゅってなって。これ、俺に向けて書いてくれたんやろなって、すぐにわかった」湊は何も言わなかった。ただ、机の上に置いた自分の手を見つめながら、言葉が落ちてくるのを待っていた。「俺、最初に湊くんが“好き”って言うたとき、自分のことばっかり考えてもうてたんよ」少し笑い交じりの声だったが、それは自己嫌悪の滲んだ苦い笑みだった。「嬉しいはずやのに、“受け止められへん”って言うてしもて……でもほんまは、受け止める勇気がなかっただけや」沈黙が、今度は湊の胸の奥をゆっくりと締めつけた。「怖かってん。好かれることも、誰かと向き合うことも……そんなん、自分には無理やって思ってた。でもな」透は、湊の手に視線を移した。その指先に触れないまま、数秒見つめてから、そっと自分の手を重ねた。「この手、ほんまは……ずっと離したくなかった」湊は、驚いたようにまばたきをした。それでも、指を動かさず、手のひらに感じる熱だけを受け止めていた。「昔な、誰かを守れると思って、一緒におった人がいた。でも……うまくいかへんかった。自分が弱いくせに、無理して背伸びして、結局その人を泣かせてもうた」透の口調には、過去の失敗を告白するための重さがあったが、それを聞いている湊の表情は、どこまでも静かだった。非難も拒絶もなかった。ただ、耳を澄ませて、その声だけを受け取っていた。「そっからや、自分は“誰かのために何かをしよう”とか、そういうのから逃げるようになったん。優しくすれば、また期待させてしまう。期待されたら、応えられへん自分が、相手を傷つける。そう思
湊の部屋に入り込んできた夕暮れは、柔らかい橙ではなく、どこか鈍く沈んだ灰に近い色だった。リビングの照明は点けられていたが、それでも空気には静けさが染みついていた。音を出さない風が、ベランダのガラスを揺らし、それがわずかに揺れるカーテンに映っていた。透はテーブルの正面に座った。対面には、湊。以前と変わらぬ配置でありながら、そこにある空気はまるで別物のように感じられた。張り詰めた緊張ではなかった。むしろ、割れ物を抱えていることを、お互いに意識したような慎重な優しさが、ふたりの間にあった。風呂敷の上に置かれた湯呑を、透は静かに開いた。生地の皺がゆっくりとほどかれ、中央に顔をのぞかせたのは、金の線が繋いだ湯呑だった。淡い藍色の釉薬の中を、金色が、まるで地図の川のように走っている。その線が、いくつもの断絶を繋ぎながら、一つの器を再び“形”に戻していた。透は湯呑を手に取り、言った。「まだ歪んでるけどな。これ、俺が直した」湊の目がゆっくりとその湯呑を見つめた。手を伸ばし、指先が触れる。その指は、恐る恐るではなく、むしろ懐かしいものをたしかめるように、器の縁をなぞった。手のひらで包み込むように持ち上げると、その中心に走る金の線が、湊の眼鏡のレンズに映り込んだ。「……すごいですね。ちゃんと、繋がってる」その言葉には、驚きよりも、安心に似た何かがあった。壊れたものが、もう一度“手の中にある”ということが、彼の中に少しの救いを生んでいた。透は、目を伏せて、ふっと笑った。「壊れた器でもな。ちゃんと使いたいって、思ったんや」沈黙が、再び落ちた。しかし今度のそれは、かつてふたりを切り離していたものではなかった。言葉がなくても、伝わるものがあると知っている人間同士の間にだけ流れる、やわらかい余白だった。湊は、湯呑を持ったまま、透の方を見つめた。「それって、俺たちのことですか」微笑みながらそう言った湊の声は、ごくごく静かだったが、深く心に沁みてきた。疑いではなく、確認でもなく。ただ、そこにある真実をなぞるような言い方だった。透は驚いたように目を瞬かせ、すぐに視線を逸らした。けれど、その口元には、どこか照れくさそうな苦笑が浮かんでいた。「……どうやろな」曖昧に返しながらも、否定はしない。その“逃げなさ”が、以前との違いだった。湯呑の中に茶を注いだわけでもないのに、
夕方の光は、もう橙というより灰色に近かった。薄く湿った風が廊下を通り抜けるたびに、透の手に持った風呂敷の端が揺れた。包みの中には、金継ぎを施した湯呑がひとつ。もう冷めきったはずの茶の匂いだけが、布の奥でかすかに漂っている気がして、透は何度目かの深呼吸をした。ドアの前に立ちすくむ時間が、現実のものとは思えないほどに伸びていく。ノックをすればいいだけなのに、その音が生む未来のすべてを想像してしまって、手が上がらなかった。指先は冷たく、掌だけがじっとりと濡れている。一歩、引いてみる。いや、やっぱり、もう一度前に出る。その繰り返しのなかで、透はふと、右手を見た。茶色の染みが残る風呂敷に触れている中指の第一関節が、わずかに震えていた。それに気づいたとたん、心臓が一度、強く鳴った。——こんなふうに、自分が“会いたい”って思って動いたの、いつぶりやろ。ようやく、指先がドアの表面を叩いた。控えめな音だったが、無音の廊下にはそれなりの響きがあった。中から物音はしない。透は再び、掌を胸の前で組むように重ね、唇をきゅっと引き結んだ。少しの間を置いて、内側の錠が外れる音が聞こえた。ドアがゆっくりと開く。隙間から現れたのは、少し伸びた前髪の奥に、眼鏡のレンズを光らせた湊の姿だった。透はその目を見て、何も言えなくなった。湊の瞳の奥が、確かに潤んでいた。光のせいではない、風のせいでもない。そう思えるほど、そこには感情があった。沈黙が一瞬、ふたりの間に下りた。湊は驚いたように見えたが、それ以上の何かを言葉にする前に、透が少しだけ首を傾げて、喉を鳴らした。「……ちょっとだけ、時間もらえる?」その声は、決して大きくはなかったが、凪いだ海のように澄んでいた。湊はうっすらと目を細めて、少しだけ顎を引いた。それが頷きなのか、戸惑いなのか、透には分からなかった。でも、ドアがゆっくりと大きく開いていったことで、それが答えだった。玄関の照明が廊下に漏れ出すと同時に、ふたりの影がゆっくりと交差した。靴を脱ぎながら、透はふと横目で湊の足元を見た。白い靴下の親指が、少しだけ内側に曲がっていて、彼がいまも緊張していることがわかった。そう思った瞬間、透の肩から余分な力が抜けた。自分だけじゃない。傷ついていたのは、離れた時間を生きていたのは、自分だけじゃなかった。リビングに通されても、透はすぐに座ら
炊飯器の保温音が、台所の片隅でかすかに鳴っていた。電子レンジの回転皿が一周ごとに、わずかに軋む音を立てる。冷えかけた味噌汁を鍋に戻し、弱火にかけると、湯気が細く立ち上っていった。部屋の中に、出汁と刻み葱の匂いがじんわりと広がる。透はコンロの前で湯気の立つ鍋を見下ろしながら、左手の中にある銀色の物体に目を落とした。USBメモリ。サイズも、重さも、何ひとつ特別なものではない。それなのに、指先に触れている部分が、やけに熱を持っているように感じた。彼の背後には、数分前に来訪した湊の姿がまだ、薄く残っている気がした。言葉少なに微笑んで、紙袋を差し出して、「これ、差し入れです。読んでもらえたら、うれ
足元のコンクリートがしっとりと濡れていた。朝の雨はもう上がっていたけれど、空はまだ重たい雲に覆われたままで、陽の光が地面に届くことはなかった。湊は大学のキャンパスの裏手にある小さなベンチに腰を下ろしていた。提出棟のガラス扉をくぐって、担当教員に論文を渡してから、何分が経ったのかはっきりしない。書類の表紙には「孤独と個人生活に関する社会学的考察」と印字されていて、その下にきちんと整えられた自分の名前がある。なのに、今、膝の上に乗せた空の鞄はただの空洞で、胸の中もどこか空っぽだった。論文を提出するという行為は、もっと何か達成感のようなものを伴うと、思っていた。でも、終わったのはあくまで形式だ
透は、窓辺のソファに身を預けていた。背を少しだけ丸め、右手には湯呑があった。乾きかけた金継ぎの継ぎ目が、橙色のスタンドライトに照らされて、わずかに光を帯びている。口はつけていない。湯呑からもう湯気は立っておらず、器の底に残った茶の色だけが時間の経過を物語っていた。外は静かだった。窓の隙間をかすかに通る夜風が、ほんのわずかにブラインドを揺らす。その細い音が、耳の奥に残る。何も話さない夜に、自分の呼吸とその風音だけが寄り添ってくれているようだった。あんな目ぇで、俺のこと見とったんか。ふいに、湊の視線が脳裏によみがえる。あの夜、まっすぐだった。怯えも、迷いも、まったくなかった。静かに口を開い
電気ポットの湯が落ち着いた音を立てて、吐息のように細く蒸気を上げている。透はそれをじっと見つめながら、右手に持った急須を傾けた。琥珀色の液体が、湯呑に静かに注がれていく。音はしない。以前ならこの瞬間に、香ばしい香りが鼻先をくすぐっていたはずだった。けれど、今夜は違った。何も香らなかったわけではない。ただ、あまりにも微かで、香りとしての存在感を失っているように思えた。湯呑に注ぎ終えると、透はそのまま台所の照明を消した。夜の部屋に戻ると、足音が畳の上でやけに大きく感じられる。テーブルの前に腰を下ろして、湯呑を両手で包み込むように持った。陶器の底から、じんわりと熱が伝わってくる。だが、それは指