ログイン御影彰仁(みかげ あきひと)は私の専属執事だった。 何度想いを告げても、そのたびに彼に拒まれてきた。 だが、私と御影家の後継者との間に、幼い頃からの許婚があったと知ったとき、彰仁はようやく私の想いを受け入れてくれた。 彼と駆け落ちするため、私は父に婚約解消を申し出た。 いつも利益第一の父が、あっさり承諾したうえに、彼の大事な私生児――白川芹奈(しらかわ せりな)を代わりに嫁がせるつもりだと言い出したのだ。 この朗報を彰仁に伝えようとしたそのとき、街路に停まっていたマイバッハのリムジンの中で、彼を見かけた。 彼は切なげに芹奈の写真へ唇を寄せ、指先でそっとなぞり、瞳いっぱいに愛情を滲ませていた。 あの車のナンバープレートを見た瞬間、私はすべてを悟った。 そう――彰仁こそが、御影家の後継者だったのだ。 私は静かに踵を返し、家へ戻った。 そして父に、もう一つの条件を突きつけた。
もっと見るPrang! Netra Ajil tak berkedip selama beberapa menit. Meskipun, serpihan kaca melekat pada pipinya dan sedikit berdarah karena tergores.
"Jil?" panggil seseorang di luar kamarnya. Namun, tidak ada jawaban dari Ajil, karena pikirannya tak menentu, memikirkan bagaimana hal yang dia lihat begitu nyata. Ular yang akan dia jadikan sebagai trik sulap itu menghilang, setelah memecahkan akuarium.
Beberapa puluh tahun yang lalu. Sesosok wanita mundar-mandir, gelisah tak menentu. Walaupun, sudah meminta bantuan dari para tetangga, tetapi si bungsu masih belum ditemukan.
"Ibu, duduklah!" titah pemuda tampan
"Widuri!" teriaknya sambil menangis
"Cepat cari Widuri!" perintah dari sang ibu adalah hal yang akan selalu Jaka lakukan.
"Baiklah, Bu." Jaka mencari jejak langkah adiknya. Jaka mencari Widuri ke rumah para teman-temannya. Namun, hasilnya nihil. Jaka, akhirnya menemui Indah, orang yang Widuri benci.
"Apa yang membawa kamu ke sini?" tanya Indah.
"Apakah Widuri ada di sini?" Pandangannya melirik ke sekeliling.
"Tidak, bahkan dia membenciku. Untuk apa dia ada di sini? mungkin dia bermalam di tempat kekasihnya." Ucapan dari Indah membuat Jaka pergi ke kediaman Naqi. Lumut-lumut hijau menyebar pada dinding kediaman Naqi. Bau busuk juga menyengat di dalam rumahnya.
"Widuri?" bisik Jaka saat melihat Widuri sedang menyapu halaman rumah Naqi. Namun, tidak terlihat sang empunya rumah.
"Kak Jaka?" Widuri yang penuh luka itu menangis sambil memeluk kakaknya.
"Apa yang terjadi?" Jaka menyentuh luka di wajah Widuri. Langkah kaki seorang pria, membuat Widuri menggandeng lengan Jaka untuk berlari, mereka pun bersembunyi pada rumah kosong.
"Harusnya, jangan buat aku berlari seperti ini! ini hanya membuat aku terlihat sebagai seorang pengecut," tutur Jaka dengan tatapan penuh kebencian.
"Tapi, dia membawa senjata Kak." Widuri masih tak mampu menahan air matanya lagi
"Si berengsek itu!" geram Jaka sambil mengusap air mata Widuri
"Widuri!" teriak Naqi dengan lantang.
Jaka lekas bergegas keluar sembari mengambil pisau, untuk berniat membunuh Naqi. Namun, lengan lembut Widuri memegang kuat kaki Jaka, untuk tidak ikut campur dalam masalahnya.
"Jangan lakukan itu kak! Ini terlalu berbahaya kak," rengek Widuri.
"Aku tidak tahu pasti masalahmu. Tapi, jika sudah mengangkut soal kekerasan aku tidak akan tinggal diam." Jaka terpaksa melepas lengan Widuri dan mengabaikan keinginannya. Para tetangga masih mencoba mencari keberadaan Widuri, dan tetangga yang lainnya mencoba untuk menghibur ibu Jaka dan Widuri.
"Heh brengsek!" panggil Jaka pada Naqi yang sudah bersiap untuk menembak kepala Widuri. Widuri hanya bisa mengintip keadaan di luar.
"Ah kebetulan sekali. Dimana adikmu itu?" Naqi memasukan kembali senjata pada jaketnya, lalu mendekatkan diri pada Jaka.
"Jangan ganggu adikku lagi!" Jaka meninju Naqi.
"Dia sudah kubeli dari seorang wanita tua. Dia milikku dan aku bebas melakukan apapun padanya!" teriak Naqi membalas pukulan Jaka.
"Apa kau bilang? Dasar sampah!" umpat Jaka yang membalas pukulan Naqi. mereka berdua berkucuran darah.
Dari arah belakang, seseorang memanah punggung Naqi. Jaka menyingkirkan Naqi yang berada di atas tubuhnya.
"Widuri apa yang kamu lakukan?" Jaka kembali pada rumah kosong. Tetapi, Widuri sudah tidak ada di sana. Jaka berlari untuk mencari Widuri lagi.
"Apa kau melihat Widuri?" tanya Jaka pada gadis dengan rambut sebahu.
"Lenganmu?" Layla menyentuh lengan Jaka yang berlumuran darah.
"Jawablah!" Jaka melepaskan lengan Layla yang menyentuh lengannya dan menginginkan jawaban tercepat sebelum kehilangan Widuri lagi.
"Aku tidak melihat siapapun yang keluar ataupun masuk dari gang ini," ungkap Layla dan Jaka pun, berlari kencang.
"Jangan sakiti aku lagi." Widuri memohon dan berlutut pada sosok wanita yang ada dihadapannya.
"Kamu menginginkan pekerjaan bukan? lakukanlah pekerjaanmu sekarang!" titahnya sambil memegang kedua bahu Widuri, dan segera menyuruhnya untuk berdiri.
"Tapi bukan pekerjaan seperti ini yang--" Belum juga Widuri menyelesaikan ucapannya, Wanita itu meninggalkan Widuri di dalam kamar dan mengatakan padanya bahwa pelanggan akan segera tiba.
"Jangan menangis lagi! Tuan Amir tidak suka pada gadis cengeng." Wanita itu melemparkan sapu tangan ke wajah Widuri. Membayangkan wajahnya saja, sudah membuat Widuri ketakutan setengah mati, apalagi, kalau sampai harus melayaninya. Tuan Amir yang begitu kasar terhadap perempuan itu, tengah berjalan menuju kamar Widuri.
"Aku harus pergi," batin Widuri. Namun, dia bingung bagaimana caranya beranjak dari sarang penuh dosa itu. Pecahan kaca membuat banyak orang dalam rumah bordil itu begitu terkejut. Tak terkecuali, Tuan Amir.
"Amir! keluar kau dasar berengsek!" Teriakan itu menempatkan Tuan Amir dalam posisi yang memalukan. Karena, sang istri mendatanginya, sambil merusak Fasilitas di rumah bordil dan juga, memecahkan botol minuman, siapapun yang memegangnya.
"Ternyata di sini kamu. pulang!" suruh istrinya, bukannya marah, itu berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan pada gadis-gadis yang pernah dia tiduri, Tuan Amir sangat mematuhi istrinya. banyak orang yang heran melihat tingkahnya.
"Untunglah." Widuri bisa bernafas lega karena kepulangan Tuan Amir. Namun, Widuri takut jika wanita tua itu memberikan dia pelanggan lain.
"Bantulah kami membersihkan kekacauan di luar!" pinta Lia.
Banyak juga, gadis lain yang membersihkan serpihan kaca, mereka sedikit bergunjing tentang Tuan Amir yang begitu patuh pada istrinya. Tidak ada pelanggan satu pun, karena kejadian hari itu.
"Kamu dengar? Katanya Tuan Amir sangat takut pada istrinya."
"Ya, aku bahkan melihat kejadian itu. Rasanya hatiku senang, aku berharap dia tidak akan pernah kembali lagi."
"Widuri? bukannya kamu yang seharusnya melayaninya? kamu sungguh beruntung." Widuri mengabaikan ocehan mereka, berfokus untuk membersihkan serpihan kaca. Widuri sangat merindukan sang ibu. Namun, sulit untuknya dapat kembali. Karena, kesepakatan tertulis dengan pemilik rumah bordil sudah dia tanda tangani.
"Apakah gaun ini cocok untukku?" Tina melempar kain lap pada seseorang yang bertanya.
"Bukannya membantu malah bergaya." Mereka pun saling kejar-kejaran. Sementara yang lain, hanya tertawa melihat tingkah dua gadis itu. Malam semakin larut, Jaka kelelahan saat mencari Widuri. Dia bermalam pada sebuah gubug tua.
"Siapa kamu?" tanya pria tua pemilik gubug
"Saya bukan orang yang anda kenal, saya hanya ingin bermalam di sini. Saya pikir, rumah ini kosong," tutur Jaka dengan raut wajah cemas.
"Baiklah, tapi hanya sampai besok pagi, Karena, anak saya akan pulang dari pekerjaannya dan beristirahat pada hari esok." penjelasan pria tua itu, membuat Jaka mengangguk tanda mengerti. pagi telah tiba. Namun, Jaka belum sempat menyantap hidangan apapun. Dia pun, mencari buah-buahan di kebun milik seorang petani. Jaka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memerhatikannya.
"Pencuri!" teriak petani, membuat Jaka cemas dan berlari ke arah hutan. Jaka yang tidak tahu soal hutan larangan, tidak mengetahui bahwa yang ada di dalamnya adalah bahaya. Auman serigala tidak membuatnya takut, Jaka lebih takut akan dikejar dan dihajar oleh para warga. Jaka malah berlari lebih dalam lagi menuju hutan larangan.
芹奈は口元の血を拭いながら、立ち上がると逆に笑い声を上げた。「今さらいい父親面して白川沙雪の味方をするなんて、もう遅い!」そして靖徳の鼻先を指差し、言い放った。「実はね、私はあなたの娘じゃないの」その言葉は雷鳴のように響き、場にいた全員を震えさせた。「芹奈、何を言っている!」「嘘なんかじゃないわ。母があなたのもとを去った本当の理由、知ってる?彼女はもう別の男の子を身ごもっていた。秘密を守るためにあなたから離れたのよ。その男が破産したあと、あなたが成功していると聞いて、私を連れて戻ってきた。『あなたの娘』だと偽ってね。あなたは母の作った嘘に浸り、DNA検査もせず、私の年齢の違和感にも気づかなかった。ただ、母が富を欲しがり、あなたと苦労したくなかっただけ。ただそれだけのこと。哀れね、あなたは私を実の娘だと思い込み、白川沙雪には見向きもしなかった。秘密を抱えていることなんてできたけど、あなたが彼女の味方をするから――自業自得よ。あなたたち一家は全員、自業自得!」その最後の叫びに、靖徳は胸を押さえ、苦痛に顔を歪めた。もし側にいた秘書が心臓の薬を出さなければ、倒れていたかもしれない。彼は必死に私を見た。悔恨に満ちた瞳で。私は顔を背けた。「こっちを見ないで。私の中では、あなたはもう父親じゃない」「沙雪……」「名前を呼ばないで」靖徳の頬に、熱い涙が筋を描いた。裏切りを知って、ようやく母を思い出したのだろう。彼は掠れた声で呟いた。「香織……俺はお前を裏切った。俺たちの子を裏切った」その姿を見ても、私の心は何も揺れなかった。死んだ人は戻らない。たとえ今ここで彼が命を絶っても、母は帰ってこない。私は尚紀とともに背を向け、混乱の渦を残して立ち去った。――後に聞いた話では、芹奈と彼女の母は白川家を追い出され、彰仁と靖徳の示唆もあってまともな仕事に就けず、誰にも相手にされず、橋の下で暮らすようになったという。靖徳と彰仁は毎日酒に溺れ、酔いどれの日々を送った。だが、そんなことはもう私には関係ない。私は母の代わりに許す資格もないし、かつて彰仁を愛していた自分の代わりに許す資格もない。一週間後、私は尚紀を伴って母の墓を訪れた。墓前に座ると、母はまだ遠くへ行っていな
数歩も歩かないうちに、尚紀が心配そうな顔で階段脇に寄りかかっているのが目に入った。「沙雪……泣いていたな。俺があのクソ野郎にケリをつけてくる!」私は尚紀の手をぎゅっと握った。「大丈夫よ。無関係な人のことで、あなたが怒る必要はないわ」彼はそっと私の涙を拭い、そして強く抱きしめた。「沙雪……お前はずっと耐えてきたんだな」返事をする間もなく、鋭い女の声が響いた。「白川沙雪!あんた、随分と上手なやり口ね!後退るふりして江原家に嫁ぎ込むなんて。彰仁さんは?さっきまでここに来てたでしょ!そんなに下劣だなんて思わなかった。男がいないと生きられないの?江原尚紀と結婚したのに、まだ彰仁を引きずってるなんて!」尚紀が怒鳴ろうとしたのを、私は制した。――私と白川芹奈の問題は、私自身で決着をつけるべきだ。静まり返ったホールに、乾いた音が響いた。芹奈は信じられないという顔で頬を押さえた。「あんた……あんたなんかが私を叩くなんて!この私に逆らうなんて!分際をわきまえなさい!」もう一度、鋭い音が鳴った。だが、それは私の手ではなかった。彰仁の掌が彼女の頬を打っていた。彼の姿を認めた途端、芹奈はたちまち態度を変え、縋るように声を上げた。「彰仁さん!沙雪が私を叩いたの……!私は正妻の娘じゃないって分かってるから、ずっと妹に譲ってきたのに、どうして……」「いい加減にしろ!」彼女の言葉は彰仁の一喝に遮られた。「芹奈、お前には徹底的に騙されたよ!俺は調べた。全部、あの通りじゃなかった!優遇されていたのはお前だ。小学校の参観日にはおじさんが必ず顔を出していたのに、沙雪の隣にはいつも乳母しかいなかった。成人の祝いでは、おじさんとお前の母が揃って壇上に立ったが、沙雪はひとりきりだった。留学だって――お前が『沙雪と同じ国は嫌だ』と駄々をこねたせいで、彼女は二か月も自宅に閉じ込められ、進学の道を断たれた。白川芹奈……俺は、こんなにも狡猾なお前を今まで見抜けなかったのか!」すべてを暴かれ、芹奈の顔は蒼白になった。それでもなお言い訳を叫ぶ。「でも……でも、彼女はずっと私のものを奪ってきた!最初の誤解さえなければ、彼女なんて現れる余地なかった!何をしても、罰が当たって当然よ!本当なら、白川家の正妻の座は私の母
「もう話は終わり?終わったなら出て行って。尚紀と一緒に片づけなきゃならないことがまだ山ほどあるの。あなたに付き合っている時間なんてない」扉に手をかけた瞬間、彰仁が私の手首を強く掴んだ。きゅっと唇を噛みしめ、澄んでいたはずの瞳は真っ赤に染まっている。「沙雪、どうして俺を許してくれないんだ!俺は芹奈に騙されていただけで、心の中にはずっとお前がいた。やっと自分の気持ちに気づいたのに、なぜお前は変わってしまったんだ」私は彼の手を思い切り振り払った。視線には冷たさだけが宿っている。「そう、そんなに知りたいなら教えてあげる。あなた、白川芹奈のためにオークションで落札したあの翡翠のブレスレット、覚えてる?」彰仁は何も考えずに頷いた。「そのブレスレットが私にとって何を意味するか知ってる?あれは母が遺した、たった一つの形見だったのよ」彼が私を突き放したときも、私は泣かなかった。彼が御影家の跡取りで、私の想いを受け入れたのもただ縁談を壊すためだと知ったときでさえ、私は泣かなかった。けれど今、豆粒のような涙が頬を伝い、止めどなく溢れていく。拭おうとしても、勝手に零れ続けるばかりだった。私の姿を見て、彰仁は言葉を失い、口を開いたり閉じたりしては後悔の色を顔に浮かべていた。「俺……知らなかった、本当に知らなかったんだ」「私は言ったわよ、あのブレスレットがどれだけ大切かって。でもあなたはどう言った?『御影家の跡取りと競うなど、到底できない』って、笑って見せたじゃない。御影彰仁、私を弄ぶのはそんなに楽しかった?」彼は答えず、やがて私の言葉の裏に何かを感じ取った。「お母さんは海外で療養しているんじゃなかったのか?形見ってどういうことだ」私はひきつった笑みを浮かべた。「彼女は私を産むときに大出血で亡くなったわ。私は生まれたときから母がいない」彰仁の顔色が一変し、力なく扉にもたれかかった。「だから、あなたの言うとおりよ。両親は、私に人としての礼儀なんて教えられなかった」彰仁は拳で壁を何度も叩き、血がにじむまで止まらなかった。「沙雪、ごめん、本当にごめん。俺は、口がすべって……俺は――」「そんな謝罪、もう聞きたくない」私は手を伸ばして彼の言葉を遮った。「もう二度と、あなたに会いたくない」
彰仁の視線は、まっすぐ私の手元に注がれていた。しばらくの沈黙のあと、彼はかすれた声を絞り出した。「沙雪……二人きりで話せないか」今日は私の結婚式。まだ会場には完全に人が引けておらず、ちらほら視線がこちらに集まっていた。私は尚紀の手を軽く引いた。「彼ときちんと話してくるわ。あなたは招待客の対応をお願いできる?」尚紀は拒むかと思ったが、意外にも頷いた。「わかった」私が安心させるように微笑むと、尚紀も理解したようにうなずいた。そして私の額に軽く口づけを落とし、彰仁には一瞥もくれずに踵を返した。「こっちへ来い」かつては私が彼の後ろを追っていたのに、いまや立場が逆転している――そう思うと笑えてきた。応接室に入るなり、私は少し苛立ちを滲ませて口を開いた。「何のつもり?」彰仁は正面から答えず、勝手に話し始めた。「まさかこの結婚式に期待するとは思わなかった……でも、招待客が次々入ってくるのを見ていたら、不思議と胸が高鳴ったんだ。これまでの出来事を思い返すと、俺は決してお前を嫌っていたわけじゃない。でも、ドレス姿で現れたのが芹奈だと知ったとき、頭が真っ白になった。『彰仁さんが御影家の跡取りだったなんて』と笑う彼女を見て、喜ぶべきなのに、なぜか脳裏に浮かぶのはずっとお前の姿だった。お前がいつも俺の背中にくっついて『この一生はあなただけに嫁ぐ』と言っていたこと……跡取りなんて気にしないと言っていたこと……その全部が頭を離れない。俺は彼女に、お前はどこにいるのかと訊いた。芹奈が涙ぐんでも、俺の心は痛まなかった。頭の中はお前を探すことでいっぱいだった。そして知ったんだ。同じ日に、お前が江原尚紀と結婚することを。沙雪、もう拗ねるのはやめてくれ。全部俺が悪かった。自分の心を見誤っていた。一緒に帰ろう、頼む」最後には声が詰まり、彼は頭を両膝に埋め、肩を震わせた。私は右手を掲げ、その薬指に光る大きなダイヤモンドを見せた。「御影彰仁、私はもう結婚したの。昔、あなたに『自分の立場をわきまえて』と言ったわね。いまこそ、あなたが自分の立場をわきまえるときよ」彰仁は勢いよく立ち上がり、苛立ちを歩みににじませた。「でも、お前が愛しているのは俺だろう?何年も俺を愛してきたじゃない
レビュー