Mag-log in夫と結婚して2年も経ったが、ペアローンを申し込もうとした時までは、彼の法律上の妻が別人だったことは知らなかった。 そうだったか。私との「結婚式」というのは単なる私的な儀式に過ぎず、正式に提出された婚姻届には別の女性の名前が書かれたのだ。 法律上では、私は彼の妻ではなく、ただの愛人だった。 傷心して家に帰ると、ドアの外で夫と彼の親友との会話が聞こえた。 「いつも神経が張り詰めているお前を見ていると、こっちまで疲れるよ。まったく!鈴子(すずこ)ちゃんをあれほど愛しているのなら、なぜあの山下美幸(やました みゆき)と婚姻届を出したんだ?お前、一体何を考えているのだ」 宮崎誠(みやさき まこと)は不思議そうに尋ねた。 橋本隆祐(はしもと たかすけ)は複雑な表情を浮かべ、心が混乱しているように口を開いた。 「最初は、美幸のことを鈴子の身代わりだとしか思わなかったが、でも、美幸が去った後、僕は寂しくなり……ほぼ毎日、彼女が恋しくてたまらなかった。結局、彼女をアシスタントとして呼び戻さずにはいられなかった」 数秒後、彼はため息混じりに話し続けた。 「僕には鈴子も美幸も必要だ。だから、鈴子には正々堂々と一緒に暮らしてあげてる。その代わり、美幸には法律上の妻という身分を与えたのだ。公平だろ?」 ドアの外で、私は体が震え、心が引き裂かれるような痛みを感じ、世界が崩れ落ちたような感覚だった。 「鈴子も美幸も必要だ」という彼の言葉を聞いてはじめて、彼が二人の女性を同時に愛してしまったと分かった。 彼は幼なじみの私と一緒にいながらも、愛人も手放したくないようだ。 彼にとって、自分が特別な存在で、彼に至れたり尽くせたりで守られる大切な人だと思い込んでいた。 しかしながら、彼は私をバカにして、私の気持ちを踏みいじった。 真相がわかった時、私は泣きもせず、騒ぎもせず、ただ静かにその場から立ち去った。 そして、計画2件を立て始めた……
view more"Benar, Om, cewek ini rumahnya di depan kosan, Syamil. Kenapa memangnya?"
"Bagus kalau begitu, saya minta tolong, kamu jadi mata-mata ya. Awasi saja dari kejauhan. Jangan perhatiin istri orang dari dekat, bisa repot nanti.""Amit-amit, Om. Tipe saya bukan ibu-ibu, walaupun masih muda banget kayaknya, Om. Mungkin beda dua tahun saja dari saya. Lagian, bajunya seksi-seksi terus. Pahanya keliatan. Ketiaknya juga. Aduh, saya kalau lagi lihat cewek itu langsung istighfar.""Istighfar, kemudian alhamdulillah ya, kan ha ha ha.... ""Udah ya, Om, sekian laporan dari Syamil. Mau berangkat kampus dulu. Assalamu'alaikum.""Wa'alaykumussalam, Hati-hati, Syamil. Ingat, istri orang cukup dilihat dari jauh saja, jangan dekat-dekat!"Syamil segera mematikan ponselnya. Bicara dengan pria dewasa seperti calon kakak iparnya memang sangat menguras emosi, tapi tak apalah, demi uang wifi yang akan ia dapatkan setiap bulan dari Om Didin, ia rela menjadi mata-mata Hani.Pemuda itu turun dari lantai dua kamarnya sambil menenteng sepatu sneakers bertali. Kos-kosan besar yang letaknya tidak jauh dari kampus, sekitar lima ratus meter saja dari kosannya adalah pilihan Syamil tinggal sampai empat tahun ke depan hingga kuliahnya selesai.Di punggungnya sudah ada ransel besar yang berisi aneka perlengkapan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau yang biasa kita sebut Ospek. Ospek sendiri bertujuan untuk mememperkenalkan lingkungan kampus dan dunia perkuliahan bagi mahasiswa baru. Tentu saja Syamil begitu semangat untuk mengikuti Ospek hari pertama. Setelah memastikan Tali sepatu terikat dengan benar, Syamil pun segera keluar dari area kosan dengan mendorong pintu gerbang."Berangkat, Sya," tegur Hani yang kebetulan sedang menyapu teras rumah dengan pakaian seksinya.Syamil dan Hani memang sudah saling kenal, saat keduanya berada di dalam bus yang sama menuju Bandung."Eh, iya, Mbak Hani." Syamil menjawab tanpa menoleh. Ekor matanya sempat melirik sekilas pakaian yang Hani kenakan dan pemuda itu tidak mau matanya ternoda. Masih pagi, pahala salat dhuhanya tadi bisa habis gara-gara melototin pakaian Hani yang seksi."Berangkat ke mana emangnya?" tanya Hani lagi dengan seringainya. Wanita muda itu tahu Syamil akan berangkat ke kampus, ia hanya sedang menggodanya saja."Saya mau ke sawah, Mbak, cari janda." Ucapan Syamil yang sekenanya membuat Hani tertawa terpingkal-pingkal. Pemuda itu meneruskan langkahnya tanpa mau menoleh ke belakang lagi. Samar-samar telinganya masih mendengar teriakan Hani, tetapi ia memilih mengabaikan dan mempercepat langkah menuju kampus tercinta."Syamil, tunggu!" Teriakan seseorang menghentikan langkah pemuda itu yang sudah tiba di gerbang kampus. Pemuda yang berlari menyusulnya itu adalah Joko Suseno. Satu angkatan mahasiswa baru, tetapi beda fakultas. Jika Syamil fakultas Ekonomi, maka Joko di fakultas sastra Inggris. Mereka tinggal di kos yang sama dengan jarak kamar beda dua pintu saja."Kenapa, Ko?" tanya Syamil. Joko merangkul pundak Syamil agar mereka bisa berjalan bersama dan nampak akrab."Gak papa, biar bareng aja jalannya!" Jawab Joko sambil tersenyum, tetapi Syamil tahu, ada maksud lain di balik senyuman teman kosnya itu."Oh, iya, Sya, cewek cantik yang seksi depan kosan itu, sodara lu ya? Barusan gue lihat, tuh cewek negur lu duluan!" Tanya Joko antusias. Benar tebakan Syamil, ada batu di balik udang. Karena sebelumnya Joko tidak pernah menegurnya saat mereka berpapasan di kos, paling hanya saling melempar senyum saja, tetapi pagi ini Joko bersikap sangat manis. Ternyata ada maunya."Bukan sodara gue. Kenal di bus waktu itu. Eh, malah jadi tetangga," jawab Syamil santai."Kuliah juga? Umurnya berapa? Jomlo gak?" cecar Joko penasaran. Syamil menghentikan langkahnya, menatap Joko dengan iba."Sudah punya suami itu cewek, Ko. Lagi hamil. Karena badannya kecil dan selalu pakai baju longgar, makanya gak keliatan. Lu salah alamat kalau lu mau PDKT. Udah ah, gue ke lapangan samping, mau registrasi." Pemuda seumuran Syamil itu mengerutkan kening tidak percaya dengan pernyataan Syamil yang bisa saja berbohong. Ia akan mencari tahu sendiri setelah pulang kuliah nanti.Sementara itu, Hani sudah kembali masuk ke dalam rumah setelah berbelanja sayuran di tukang sayur gerobak yang lewat di depan rumahnya. Awalnya ia ingin masak ayam goreng dengan sambal matah, tetapi mood-nya turun lagi dan saat ini hanya berdiam diri menonton televisi.Jika ingin jujur, ingin sekali dirinya menelepon Arif; sang Suami yang merupakan salah satu dosen di tempat ia menuntut ilmu. Namun, Arif sepertinya sedang asik dengan Grace; istri pertamanya, sehingga ia pun terlupakan.Hingga sore, Hani tidak melakukan apapun selain berbaring malas-malasan. Makanan yang masuk ke dalam perutnya adalah lauk kemarin yang masih enak dimakan karena sudah ia panaskan. Bosan berbaring bolak-balik di ranjang, Hani pun bangun, membuka pintu rumahnya dengan lebar.Sore hari, tentu saja area tempat tinggalnya begitu ramai dengan lalu-lalang mahasiswa yang baru saja pulang kampus atau sekedar mencari makan sore. Mata wanita itu menyipit saat dari kejauhan melihat sosok pemuda yang sangat ia kenal. Di leher pemuda itu ada kalung yang menggantung, tapi bukan kalung emas atau kalung metal, tetapi kalung dari cabe."Hai, Syamil, baru pulang nih!" Sapa Hani ramah sambil tersenyum. Bajunya masih baju tadi pagi yang ia pakai."Eh, iya, Mbak," jawab Syamil tak semangat karena ia lelah. Wajah lelahnya begitu jelas terlihat di mata Hani."Kalung cabenya buat saya saja sini!" Hani menunjuk kalung Syamil. Pemuda itu pun baru sadar kalau kalung cabainya masih melingkar di leher. Tanpa komentar, Syamil memberikan kalung itu untuk Hani. Ia hanya melirik sekilas saat menyebrang jalan. Hani sudah tersenyum menunggu kalung cabai di depan rumahnya."Ini." Syamil langsung berbalik karena ketika Hani keliatan. Ia sungguh tidak mau mata polosnya ternoda."Makasih, Syamil!" Seru Hani sembari tersenyum. Jika Syamil langsung masuk pintu gerbang kos, tidak dengan Hani yang masih berdiri di depan rumahnya. Wanita itu ingin memastikan di mana letak kamar Syamil. Saat Syamil sudah masuk ke kamar, disitulah Hani tersenyum. Wanita itu merasa beruntung memiliki teman kecil seperti Syamil, walau pemuda itu tidak banyak bicara. Ia jadi tidak keras begitu asing karena tidak mengenal siapapun.Suit! Suit!Siulan dari jauh membuat Hani menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari siapa pelakunya, tetapi ia tidak bisa mencurigai siapapun karena lingkungan tempat tinggalnya selalu padat. Hani pun bergegas masuk ke dalam rumah untuk memasak, kemudian mandi.Pukul enam lebih sepuluh menit, Hani sudah berdiri di depan rumahnya untuk menunggu Syamil pulang dari masjid. Ia hapal kebiasaan pemuda solih itu yang selalu melaksanakan salat magrib dan juga subuh di masjid yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Namun hingga pukul sepuluh menit berlalu, Syamil tidak kunjung muncul.Hani memutuskan untuk menemui Syamil di kosannya. Kos-kosan yang bebas tamu, di bawah jam sembilan malam. Hani naik ke lantai dua dan sudah berdiri di depan pintu kamar Syamil.Tok! Tok!"Syamil," panggil Hani. Pintu terbuka dan Syamil terlihat tidak sehat."Eh, Mbak Hani, ada apa?" kali ini Syamil mau melihat Hani karena bajunya lumayan tertutup. Bagian paha dan ketiaknya tidak kelihatan."Pantas saja aku tunggu kamu lewat depan rumah, tidak adaRupanya sedang sakit ya." Syamil mengangguk tanpa semangat."Ini, saya buatkan nasi bakar ikan teri pakai sambal. Cabainya dari kalung yang kamu berikan pada saya tadi." Hani mengulurkan piring bermotif aja jago ke tangan Syamil. Baru saja tangan pemuda itu hendak menahan piring, perutnya bergolak ingin muntah. Syamil berlari menuju kamar mandi yang ada di ujung lorong lantai dua. Hani menaruh piring dengan cepat di dalam kamar Syamil, lalu pergi menyusul pemuda itu."Wah, kamu masuk angin ini. Sini, biar saya kerokin!" Kata Hani menawarkan bantuan."Gak usah, Mbak, saya gak papa. Uek! Uek!" Dengan setengah memaksa, Hani menarik tangan Syamil untuk kembali ke kamar. Ada minyak kayu putih di atas nakas, tanpa babibu lagi, Hani menarik kaus Syamil ke atas, lalu mulai mengerik punggung pemuda itu."Gak usah, Mbak. Saya gak papa!" Syamil mencoba menolak, tetapi karena mual dan kepala yang terasa berputar, membuat Syamil tidak bisa meneruskan keberatannya. Pemuda itu dikerik sampai pulas. Hani menurunkan baju kaus Syamil kembali, tepat disaat ponsel pemuda itu berbunyi.["Halo, Syamil, assalamu'alaikum, Nak. Lagi apa anak solih, Ummi?"]["Halo, Bu, Syamilnya tidur, baru selesai saya kerik!"]["Hah? Apa? Dikerik? K-kamu siapa?"]["Mm... saya.... "]Bersambung私は目を開け、机の上の書類を手に取って彼に差し出した。「サインして」彼はそれを受け取り、目を通すと驚いた表情で私を見た。「僕のグループが欲しいのか?」私はうなずき、腰をかがめて自信満々に笑った。「ええ、あなたを無一物にした後、私があなたの会社を少しずつ壊していくのを見てもらうわ」呆然と書類を握った彼は、体が震えてきて、複雑な表情をうかべていた「あなたにはもう選択肢がない。会社の状況は分かっているよね?サインしなくても、私はあなたから全てを奪うことができるのよ」彼がもがいている様子を見て、突然興ざめた。「鈴ちゃん、君は僕の妻だよ。ここまでしないとだめなの?」彼はやはり手放したくなかった。情に訴えはじめ、彼への愛情を喚起しようとした。私たちが愛し合っていた時の写真を取り出し、過去の思い出を語り始めた。「これは君の誕生日にキスした写真。これはプレゼントを渡した時。これは旅行で……」「愛している。一生かけて償うから」「僕のそばに戻ってくれれば、会社を君にやるよ」私はその写真を受け取り、一枚一枚ビリビリと破り捨てた。「あれは愚かな過去の私。今の私は違うから」「よく見て。私は川部凛だ。あなたの妻ではない」「そうだ、私はもう結婚している。婚姻届にちゃんと私の名前を書いてくれる男性を見つけたの。表向きでも法律上でも私は彼の妻になってる」バッグから取り出したのは、悠との婚姻届だった。「よく見てよ。ここには川部凛と書いてある」「あなたから離れても、私は幸せに生きられる。どうして私が引き戻したいと思える?」「橋本隆祐、あなたが美幸に妻の座を与えたその時から、私たちはもう終わったよ」ドアが開き、悠が入ってきた。「凛」私は優しく微笑み、返事した。「悠」隆祐は呆然と私たちを見つめ、何かを言おうとしたが、結局何も言えなかった。私は彼を無視し、悠と腕を組んで、部屋を出た。隆祐は追いかけてきたが、警備員に阻まれ、私たちの背中に向って後悔の言葉を叫んだだけだった。結局、隆祐はサインを拒否した。私はギャンブル契約の効力を発生させたら、半月後、彼の会社は崩壊した。彼は酒に溺れ、自殺を図ったこともある。保釈された美幸は、お腹の子に対して責任を負ってもらおうと彼を訪ねた。しか
私は動画を閉じた後、冷たく笑った。人がいなくなってからこんなことをして、何の意味がある?滑稽でならなかった。美幸の言ったとおりだった。彼は誰も愛していなかったのかもしれない。彼が構築したバランを誰かに破壊されたら、その仮面は剥がれ落ちた。美幸の正体が暴かれた今、私は祝いの「プレゼント」を送った彼女が私を拉致した動画を警察に提出すると、すぐに逮捕された。隆祐が彼女を保釈するかと思ったが、何の動きもなかった。やはり彼は極めて冷たい人だった。愛していたはずなのに、一夜にしてこんなにも無情になれたなんて。――それこそ彼の本性なのだった。真相を知った隆祐は私の連絡先を手に入れ、電話もメッセージも止まらなかった。私の会社の前で何日も立ち尽くし、面会を懇願した。私は一切応じず、彼の会社を攻め続けた。その株主たちに接触し、株式買収を持ちかけた。短期間で主要な取引を奪われたため、株主たちは隆祐の経営能力に疑問を抱き始めた。何人かは私にしつこくせがまれ、株を売却した。さらに一年前から仕掛けていた罠がある。架空の大型プロジェクトに彼を誘い込み、ギャンブル契約を結ばせていた。期限内に納品できなければ、数十億の投資が水の泡となる仕組みだった。資金繰りが悪化し、彼の会社は破産の淵に立たされた。一週間後、隆祐はついに我慢しきれず、私の会社に押し掛けた。警備員が阻むと、彼の護衛たちは突破しようとしたから、ロビーで乱闘騒ぎになった。私は仕方なく彼と面会することにした。会議室で、私が見えたのは、目が血走っていて、皺だらけの服を着ている隆祐だった。私は腕組みをしたまま、冷ややかに彼を見つめた。「僕の会社の危機は全て君の仕業でしょう。復讐しているか?」私は眉を上げ、傷跡の残った指を見せつけた。「ただこの指の代償をもらいたいだけだった」彼は目を見開き、息をのんだ。すぐに視線を逸らし、二度と私の指を見ようとしない。――それは彼の犯した罪の証だからだ。「すまなかった……」私は肩をすくめて言った。「もう遅すぎる、隆祐。あなたのしたことは謝罪で済むものじゃない」彼は唇を噛み、しばらく黙り込んだ。そして突然、弁解を始めた。「鈴ちゃん、全部、山下美幸のせいだ!僕も騙されていたんだ!」「
美幸がその動画を見た瞬間、顔色が変わり、恐怖で思わず後ずさりしてしまったが、白を切ることにした。「どうして……鈴子さんが?」隆祐は怖い顔をして、地獄から這い上がってきた悪魔のように、嗄れた声で問い詰めた。「お前は、麻袋にいたのは彼女だと知っていたのに……僕が彼女を殴り、指を切り落としたのをずっと見ていたんだな」血の気が引いた美幸はまた後ずさりした。「知らなかったの、そんなこと……」彼は歩み寄り、彼女の手首を掴んだ。「全てはお前の仕組んだことだろう?嘘をついたら、お前の子はろくな死に方をしないよ」その言葉を聞いて、雷に打たれたような気がした彼女は無意識にお腹に手を当てた。――彼女は妊娠していた。数秒の逡巡の末、証拠と呪いの前に、彼女は恐怖で震えながら告白した。「ごめんなさい……あなたを愛しすぎて……私、どうしようもなかったの」その言葉を聞いた隆祐の瞳は大きく見開かれ、苦痛や怒り、嫌悪、後悔などさまざまな気持ちをごちゃ混ぜていた。長い沈黙の後、彼は憔悴した顔で手を離し、よろめきながら立ち上がった。美幸の泣き声がさらに大きくなる。「もう泣くな!どうしてここまで残忍なんだ!」彼は怒鳴りつけ、思い切って彼女に平手を食らわせた。美幸は床に転がり、声を上げて泣きじゃくった。しかし驚いたことに、隆祐自身も涙を流しながら、悟ったように言った。「一年間になった……僕は最愛の人を地獄に突き落としていたのか」美幸は顔が青ざめてきた。「あなたの最愛の人って私じゃない?」隆祐はふっと笑った。「僕もそう思っていた」そして、彼女に腹いせして、叫び始めた。「だが彼女がいなくなってから……毎日毎晩、僕はどれだけ苦しんだか!結局、僕が一番失いたくない人は彼女だったんだ!彼女こそ私の最愛の人だった」美幸は全身が震えて、大粒の涙がこぼれて、巨大な衝撃を受けたようだった。彼はしゃがみ込み、優しく彼女の顎を上げたが、目つきは人を凍らせるほど冷たかった。「僕はお前に言ったはず――愛する彼女を失いたくないから、彼女に手を出すな、と」「だがお前は全てを台無しにした」数秒後、決心をしたように、軽やかな声で残酷な内容を宣告した。「ゲームルールを破った以上、その代償を味わってもらおう。お前が苦心して得
私は親しげに悠の肩にすり寄り、笑顔でうなずいた。「ええ、もうすぐ結婚する予定です」隆祐は一瞬呆然とした後、激しく首を振り、熱い眼差しで私を見つめながら、悔しげいっぱいに言った。「鈴ちゃん、僕が悪かった。説明させてよ」「鈴ちゃんが失踪したこの一年間、僕、ずっと諦めずに探し続けたんだ。鈴ちゃんに会いたくてたまらなかった……」「愛している。鈴ちゃんは僕の妻だよ」私は無表情で彼を見つめただけ。悠は私を抱きながら、冷ややかな視線を彼に向けながら、高めな声で言い放った。「橋本社長、誰もが知っているように、ご夫人は美幸さんです。私の婚約者を妻呼ばわりするとは笑止千万!」「これ以上騒ぐなら、私たちは立ち去るしかありません」主催者は慌てて仲裁に入り、隆祐を引き離して、晩餐会が終わるまで辛抱してもらうようにお願いしたようだ。しかし、慈善晩餐会の間、隆祐の視線は私から離れたことがない。そして、終わるや否や、彼の護衛たちが会場を制圧し、私の前に立ちはだかった。悠の護衛たちは彼らと対峙し、空気が張り詰めてきた。「鈴ちゃん、もう怒らないでよ、帰ってきてくれ」「二人で話し合おうね。鈴ちゃんがいないと生きられない」「鈴ちゃんが帰ってくれれば、何だってするから……」胸を打たれた言葉だったが、今の私に虫唾が走らせただけ。女を二人同時に愛するなんて、卑怯すぎる。「もう一回言ってやる。彼女は僕の婚約者の川部凛です」悠が所有権を主張したように私を強く抱きしめていた。隆祐の目に怒りの炎が燃え上がり、前に一歩を踏み出して、私の腕を掴もうとした。目がうす暗くなり、私は手を上げ、思い切って彼をビンタした。会場の空気がふと静まった。「橋本社長の婚姻届に記されたのは美幸という名前です。川部鈴子ではありません」「一年前、あなたが自らで川部鈴子を殺したのです」「愛だなんて、笑わせないでください」彼は驚きのあまり、よろめいた。「やっぱり全部……知っていたのか」私はスマートフォンを一つ取り出し、彼に投げつけた。「見てください」そう言い残して、私は悠の手を引き、護衛に先導されてその場を去った。そのあと、誠から隆祐そのスマホの映像を見る時の動画が送られてきた。隆祐が私の残したスマホに小心翼々に電源を入