LOGIN「今、この5秒で……彼にキスしてもバレないよね?」 広告代理店の「ドジっ子」社員・ルナの正体は、時間を5秒だけ【 停止・逆転・加速 】させる宇宙人! だが能力が地球人にバレれば、即・母星へ強制送還。 無能を装い静かに暮らすはずが、ルナは「氷の暴君」と恐れられるエリート上司・九条蓮の絶体絶命な窮地を見てしまい……。 「あと5秒あれば、彼を救えるのに!」 禁断の力で密かに彼を救うルナ。だが完璧すぎる偶然に、九条の鋭い瞳が光る。 「君、ただのドジじゃないな? 正体を吐くまで離さない」 正体を隠したい宇宙人vs執着MAXの溺愛上司。5秒の静寂で繰り広げられる【 隠密無双 】コメディドラマ、開幕! 第5話以後は毎日19:00更新予定です。
View More‘Beginilah akhir dari kehidupanku, mati tenggelam bersama seorang anak kecil!’
Sebuah tangan mungil menarik ujung baju yang dikenakan Hana. Sontak kepala menoleh, menatap seorang anak laki-laki tampan dengan netra biru bersinar. Wajah anak kecil itu tampak lesu, menatap sendu wanita dewasa di sampingnya yang nyaris gila.
Kepala melengok ke arah jendela mobil kala terdengar suara ombak. Kedua mata Hana menatap lekat namun bergetar. Ia melihat hamparan laut yang luas, membentang indah dengan air berisi jutaan ikan.
“Tolong hentikan mobilnya di sini, Pak.”
Angin laut langsung menyambut mereka. Memeluk mesra tubuh Hana yang kaku, meningkatkan rasa sesak dan panas yang menjalar di dada. Pening dan gemetar yang semula mendera tubuh perlahan hilang ketika lihat deburan ombak kian menggila.
Hana tidak lagi mendengar deburan ombak menggulung, maupun cuitan burung camar yang terbang di langit. Kesunyian menjadi musik yang menemani wanita berambut panjang tersebut. Sakit yang dirasakan telah mengambil alih seluruh inderanya.
Perlahan kaki melangkah, namun tangan mungil kembali menyentuhnya. Tangan kecil itu menggenggam erat layaknya tidak mau terpisahkan.
“Kak,” panggilnya.
Mungkin seharusnya anak ini tidak ikut. Namun, pikiran saat anak manis ini akan dipukuli atau mati kelaparan membuat Hana tidak bisa menahannya. Hidupnya mungkin akan seperti Hana atau bahkan jauh lebih buruk.
‘Dia tidak bisa hidup tanpaku. Mungkin lebih baik mengakhiri semuanya sekarang … ,’ batin Hana.
Perlahan Hana berjongkok, menyamai tinggi dengan anak berusia lima tahun tersebut. Kedua tangan panjangnya terulur, menunggu anak itu datang dan memeluknya erat.
“Kemarilah, Alan.”
Mungkin Hana akan berakhir di neraka. Ya, tentu saja, dia melakukan dosa besar karena ingin bunuh diri dan mengajak anak tanpa dosa untuk ikut bersamanya.
Perlahan Hana mulai memejamkan mata. Dinginnya air laut sudah tidak bisa dirasakannya lagi. memeluk erat tubuh mungil Alan yang perlahan mulai basah.
Langkah terasa semakin berat seakan ada rantai yang menjerat. Jauh di dalam lubuk hati, Hana mengharapkan ada seseorang yang menolong. Hana masih menginginkan Tuhan mengasihaninya.
Kegelapan perlahan menyelimuti. Mereka sepenuhnya terjatuh dalam dinginnya pelukan air laut yang asin. Namun, tubuh yang mulai jatuh ke dasar mendadak ditarik seseorang. Tidak disangka akan ada orang yang menangkap mereka.
“Ketangkap kamu!”
Hana ditarik keluar ke tepi pantai, terduduk sambil mengeluarkan semua air yang masuk ke tubuhnya selepas tenggelam tadi. Berbeda dengan Hana, Alan justru tidak sadarkan diri di sampingnya.
Pria yang menangkap mereka menepuk-nepuk pipi Alan, berusaha menyadarkannya. Ia pun mendekatkan telinganya pada hidung Alan, mengecek apakah anak ini masih bernapas atau tidak.
Hana panik lalu berteriak memanggil nama Alan berkali-kali. Air mata yang semula kering kembali turun membasahi pipi. Hatinya teriris melihat Alan belum sadarkan diri.
Pria itu tidak berhenti berusaha. Setelah berulang kali memberikan napas buatan dan menekan-nekan ulu hati sampai dada, akhirnya air yang masuk melalui kerongkongan Alan keluar. Hana merasa sangat lega dan langsung memeluk erat tubuh anak laki-laki yang disayanginya tersebut.
Sebuah kartu nama basah terlempar tepat ke depan jemari kaki Hana. Sontak dia langsung menatap sang pemilik yang bernama Jeremy Robert.
Ternyata pria yang datang menggagalkan aksi bunuh diri Hana adalah seorang penagih utang. Ia mendekati Hana dan berjongkok tepat di depannya. Seketika aura yang dominan membuat bulu kuduk Hana merinding.
“Kalau tidak mau bayar utang, setidaknya sisakan seseorang yang akan bertanggungjawab. Kalau kalian berdua mati, siapa yang akan bayar utang, hah?”
Saat ini Hana tahu kalau dia tidak bisa pergi ke mana-mana, bahkan Tuhan saja menolak kematiannya.
Hana dan Alan dibawa ke sebuah rumah besar nan megah bergaya barat. Mobil yang mereka naiki memasuki gerbang besar yang terbuka dengan sendirinya, kemudian berhenti tepat di depan anak-anak tangga luas.
Pintu mobil terbuka dan dalam sekejap seseorang datang membawa paksa Alan dari pelukan Hana. Pria rapi yang membawa mereka menahan Hana untuk mengejar. Sebelah tangan terulur tepat di depan dada Hana, sedangkan tangan yang lain menyalakan pemantik untuk rokok di mulutnya.
“Kamu mau apakan dia, hah? Kalau mau uang, cari saja pria bodoh itu. Aku tidak punya urusan dengan utang-utangnya!” murka Hana pada pria yang tampak tidak peduli di sampingnya.
Jeremy menghembuskan asap rokok, mengangkat kelopak matanya dengan santai dan melihat ke samping, kemudian meletakkan rokok di antara jari-jarinya. “Kamu cantik, tapi sayang sudah punya anak. Di mana ayahnya?” tanyanya dengan nada rendah. Raut wajahnya yang cabul menakuti Hana.
“Dia adikku, bukan anakku,” bantah Hana tegas.
Ia menyunggingkan smirk setelah dengar jawaban Hana. “Aahh, baguslah. Berarti kamu masih perawan, kan?”
Hana terperangah. Baru kali ini dengar seorang pria bertanya hal tak etis seperti itu kepadanya. Ia menatap dengan muram, sadar bahwa pria di sampingnya jauh lebih menakutkan dari yang dikira.
“Sebenarnya apa yang kamu mau dariku?”
Pria itu tertawa kencang, seperti mengejek keluguan Hana.
Hana Angelista, usia 27 tahun. Memiliki adik laki-laki berusia lima tahun bernama Alan. Lulusan Sekolah Menengah Pertama dan memiliki utang sebesar 600 juta belum termasuk bunga. Itu pun hanya dari satu pihak. Dengan yang lain berutang 200 juta dan 50 juta, belum termasuk bunga.
“AKU TIDAK PERNAH PINJAM UANG SEBANYAK ITU! ITU BUKAN UTANGKU!” bantah Hana keras. Ia marah saat pria tak dikenal menjabarkan perihal utang yang tidak dia ketahui sama sekali. Hidupnya yang selalu miskin, tidak pernah mendapat uang ratusan juta seperti yang dikatakan.
“Akui saja. Kamu tidak hanya berutang, tapi nyaris membunuh orang.”
Hana menggeram dalam hati. Kedua telapak tangan mengepal kala ingat kejadian sehari lalu saat rentenir datang menagih ke rumahnya. Saat itu dia ketakutan karena ingin diperkosa dan mencari cara untuk bertahan, sampai akhirnya memukul kepala rentenir itu dengan botol beling besar hingga tak sadarkan diri.
Entah bagaimana pria di sampingnya tahu kejadian tersebut.
“Kamu seharusnya menjaga jarimu dengan baik. Aku tidak perlu membuktikan cap jari penjamin dalam dokumen ini, kan?”
Hana terdiam, sulit berkata-kata. Ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Berkat keserakahan orang lain, dirinya harus tersiksa dengan utang yang bahkan tidak pernah dia pinjam.
‘Pria tua sialan! Ayah bodoh itu entah di mana sekarang. Dia meninggalkanku dan Alan dengan segunung utang dan orang jahat!’ ucap Hana dalam hati.
“Aku akan beri kamu penawaran bagus. Kamu bisa bayar kembali utangmu dengan cara yang berbeda. Bukan dengan kabur atau bunuh diri seperti tadi, tapi menikahlah denganku.”
Untuk sesaat Hana berpikir kalau dirinya sedang bermimpi. Pria tidak dikenal tiba-tiba menolong dan mengajaknya menikah. Meskipun dia tahu hubungan ini akan berakhir seperti apa, namun tampaknya tidak ada pilihan lain.
Tidak punya uang, rumah disita, pengangguran, dan satu-satunya yang dimiliki oleh Hana adalah utang. Kini hidupnya pun terikat dengan Alan dan ada saat di mana dirinya memukul orang dan kabur.
Hana harus membayar utang yang bukan miliknya atau hidupnya akan semakin sengsara. Meskipun terlihat sangat banyak, utang itu bukan uang yang tidak bisa dilunasi. Hanya butuh waktu seumur hidup jika ingin melunasinya dengan uang.
“Bukan pernikahan sebenarnya, hanya pernikahan kontrak. Aku akan menjelaskannya setelah kamu setuju,” kata Jeremy coba meyakinkan Hana karena tampaknya wanita itu butuh waktu untuk berpikir.
“Baiklah. Aku setuju. Ayo, kita lakukan.”
一週間前の夜。リビングでくつろいでいた時、蓮さんが不意に新聞から目を上げて私に問いかけてきた。 「ルナ。この前、家族で行ったテーマパークだが。お前、あの高さから急降下するジェットコースター、随分と楽しそうに乗っていたな。……高い場所は、平気か?」 唐突な質問に、私は首を傾げながら笑って答えた。 「ええ、もちろんです。蓮さん。私、元々はもっと高い場所からこの星に降ってきたんですよ? 空に近い場所は、むしろ落ち着くくらいです」 「そうか。ならいいんだ」 蓮さんはそれだけ言うと、また視線を新聞に戻した。その横顔が、どこか満足げに綻んでいた理由を、私はその時深く考えもしなかった。 そして今日。夕立が上がった直後の、燃えるような夕暮れ。 私は、信じられない光景の中にいた。 「ルナ、時間を止めろ。……俺が解析したあの『理論』を、今ここで試す時だ」 蓮さんの言葉に導かれ、祈るように放った力。 いつもなら心臓の鼓動が5回打つ間に消えてしまう、儚い静寂。けれど、目を開けても世界は止まったままだった。秒針の音も、街の喧騒も、風のざわめきさえも、彼がこの10年をかけて引き延ばしてくれた「10分間」という贅沢な空白の中に溶けていく。 (……5秒じゃない。今、この広い空も、この静寂も、全部私たちのものなんだ) その奇跡の正体が、彼が私のために費やしてくれた膨大な知性と愛情の結果だと思うと、視界が熱くなった。 「……10分だ。誰にも邪魔されず、お前と空を歩くには十分な時間だろう?」 不敵に微笑む蓮さんにエスコートされ、私は実体化した【 七色のクリスタルの回廊 】へと足を踏み出した。 一歩踏み出すたびに、コン、コンと硬質な音が響く。それはまるで、私たちが共に歩んできた一歩一歩を刻み込んでいるかのようだった。 眼下に広がる、宝石のように静止した街の夜景。遮るもののない高度。ふと、一週間前のあの会話が脳裏をよぎった。 「……蓮さん。あの時、
「蓮さん、5秒止めて! 昴(すばる)が花瓶を倒しそう!」 「了解した。……その間に俺が碧(あおい)を抱き上げる。ルナ、お前はそのまま座っていろ!」 九条家の朝は、世界一贅沢で、世界一騒がしい。 長男の昴は、蓮さんに似て好奇心旺盛で、隙あらば知恵を絞って高いところへ登ろうとする。数年後に授かった長女の碧は、私の瞳を受け継ぎ、言葉を覚える前から5秒の予知を使ってお菓子を先回りして確保する。 「……全く。九条の血か、ステラリスの血か。どっちに似ても、この子たちの未来は前途多難だな」 そう言いながら、蓮さんは苦笑してコーヒーを啜る。かつて冷徹な部長として恐れられていた彼は、今や子供たちの遊び相手として、背中を「馬」にするのも厭わない、世界一過保護な父親になっていた。 「でも、蓮さん。この賑やかさが、私たちが守りたかった『地球の平和』なんですね」 「ああ。銀河を救うのも悪くないが、俺にとっては、このリビングに流れる穏やかな5秒の方が、何億光年の星空よりも価値がある」 蓮さんは私の隣に座り、そっと手を重ねた。 かつて孤独だった「赤ちゃんポスト」の少年は、今、自ら築き上げた愛の城の中で、誰よりも深い安らぎを得ている。 月日は流れ、私たちは少しずつ、けれど確かに「地球の時間」を刻んでいった。 ふとした時、沈む夕日を眺めながら、蓮さんが私の指先を絡めて呟く。 「ルナ。お前と出会ってからの俺の人生には、1秒の無駄も、1秒の後悔もなかった。……これから先、どんな未来が待っていようと、俺がお前を愛し、守り抜くという事実は、宇宙の理(ルール)さえも変えられない確定事項だ」 「蓮さん……」 「お前はただ、笑っていればいい。困難も、時間の壁も、すべてはこの俺がねじ伏せてみせる。……来世でも、その先でもな。俺は何度でも、東京湾でお前を見つけ出してやる。それが九条蓮の、唯一にして絶対の『傲慢』だ」 私は彼の肩に頭を預けた。 宇宙は果てしなく広いけれど、私たちの愛の座標は、ずっとこの場所にある。 青い星に咲いた二つの花は、次の世代へ、そして永遠へと、その香りを繋いでいくのだ。 【 エ
「……嘘」 洗面所で一人、私はその小さなプラスチックの棒を見つめて立ち尽くした。 検査薬に浮かび上がった鮮やかな「陽性」のライン。驚きと喜びで頭が真っ白になり、私は無意識に蓮さんの番号をタップしていた。 ……あ。 発信音が鳴ってから、彼がいま広告代理店の戦略会議の真っ最中であることを思い出す。 (切らなきゃ、仕事の邪魔に……) 『……ルナか。どうした、体調は?』 二秒と経たずに繋がった。背後からは部下たちのプレゼンする声が微かに聞こえる。 「あ、あの、蓮さん! ごめんなさい、会議中ですよね。あの……私、赤ちゃんが……できたみたいなんです」 申し訳なさで消え入りそうな私の報告。電話の向こうが、一瞬、真空になったかのように静まり返った。 そして――。 『やったあああああああ!!』 会議室全体を震わせるような、魂の底からの叫び。 「は、蓮さん……!?」 『……コホン。失礼、続けてくれ。……ルナ、よく聞いた。今すぐ帰りたいのは山々だが、この案件は俺が責任を持って詰め切る。あと一時間だ。一時間後、最速で帰宅する。いいか、それまで絶対に動くな。……いいな、絶対にだぞ』 電話の向こうでは、部下たちが「九条部長……!?」「今、パパって……」と動揺している気配が伝わってくる。けれど蓮さんは、浮き足立つ心を鉄の意志で抑え込み、努めて冷静な(けれど隠しきれないほど明るい)声で指示を出している。 『……今の提案、悪くない。だが、ターゲット層の絞り込みが甘い。……修正しろ。今日は定時で終わらせるぞ。俺には、世界で一番重要な予定が入った』 手を抜かず、むしろ驚異的な集中力で仕事を「完璧に、かつ最短で」完遂させようとする蓮さん。 「……あの人、もう」 私は顔が火を吹くほど赤くなるのを感じて、スマートフォンの画面を伏せた。 一時間後、一秒の狂いもなく蓮さんは帰宅した。 玄関を開けるなり、彼は私を壊れ物を扱うように抱きしめた。 「……待たせたな、ルナ。……指一本動かすな、重力に逆らうことも俺が禁じる!」 そこからの蓮さんの「過保護」は、まさ
ステラリスの「記憶の神殿」。そこは、この星の民が全宇宙で触れた感情を記録する聖域。 一柱のクリスタルに触れた瞬間、私の脳裏に強烈な既視感が走った。 記録映像に映っていたのは、数十年前の冬の夜。日本の片隅にある教会の「赤ちゃんポスト」。 そこに、小さな小さな赤ん坊が取り残されていた。(……あ。この、左の耳の後ろにある小さな痣……) それは、昨夜も愛おしく指先でなぞった、蓮さんのものと全く同じ痣だった。 震える私の視線の先で、当時の「私」が動く。 当時の私は、実体を持たない【 蛍のような光のフォーム 】で地球を偵察していた。 凍える寒さの中、赤ん坊の体温は刻一刻と奪われ、今にも消え入ろうとしていた。(……ダメ。死なせない!) 光の姿の私は、無意識に力を放った。 世界から色が消え、極寒の風が止まる。【 時間を止める能力 】で寒波を遮断し、自らの光を熱に変えて、赤ん坊の小さな体を包み込んで温め続けた。『……生きて。いつか、私が見つけに行くから』 その温もりに守られ、赤ん坊は九条家に拾われるまでの時間を生き延びたのだ。 「……ルナ? どうした、そんなに震えて」 現実に戻った私を、蓮さんが心配そうに抱き寄せた。私は涙を流しながら、今見た真実を彼に告げた。「蓮さん……私、あの日、あなたを暖めていたの。赤ちゃんポストで凍えそうだったあなたを……」 蓮さんが絶句する。だが、彼はすぐに優しく微笑み、私の目元を拭った。「……そうか。合点がいったよ。……実はお前が地球に来たあの日、俺が東京湾でお前を見つけたのは、偶然じゃない気がしていたんだ」 記憶が、今度は地球での出会いへと繋がる。 ルナとして実体を持って地球に降り立った私は、能力の使用を禁じられ、右も左も分からず、夜の東京湾で一人泣いていた。『……おい。こんなところで何を泣いている。身分証も持たずに』 声をかけてくれたのが、若き社長となっていた蓮さんだった。 彼は私が「身寄りのない外国人」だと名乗るのを静かに聞き入れ、路頭に迷わないよう、自らの息がかかった広告代理店への入社を斡旋してくれた。
「……待て、ルナ。……いいだろう。お前を連れ戻そうとするのが『宇宙の理』だというのなら――」 光の中に消えゆく私を見据え、蓮さんは逃げ場のないほど強い声で、けれど底冷えするほど静かに告げた。 「――俺を連れていけ。それが叶わないなら、俺も今すぐこの命を絶ち、お前の魂を追いかけるまでだ」 その瞬間、世界から音が消えた。 私の脳内に直接、今までの冷徹な指令とは異なる、重厚で威厳に満ちた「声」が響き渡る。 【 ……地球の一個体が、宇宙の観測者に『死』を突きつけ、同行を求めたというの? 】
「星野。お前は本当に、何も気づいていないのか」 専用車の後部座席。九条部長の低く甘い声が、ルナの耳を熱くさせる。 吐息が触れそうな距離。部長の瞳は、まるで獲物を追い詰める肉食獣のような光を宿していた。 「それは……私が、部長にとって必要な『戦力』だから……ですよね?」 震える声で答えるルナ。九条はわずかに目筋を細め、フッと自嘲気味に口角を上げた。 「……半分は正解だ。だが、もう半分は――」 その答えが紡がれる直前、九条のスマホが激しく振動した。 「……九条だ。何? プロジェクトのメインデータが消えただと?」 電話の向こうからの悲鳴に近い報告に、車内の空気は一瞬
大手広告代理店、東央エージェンシーの底辺社員・星野ルナ。 彼女の直属の上司となった九条 蓮(くじょう れん)部長は、社内で「氷の暴君」と囁かれていた。 しかし、それは彼が感情に流されず、常にプロとしての仕事を完遂させるがゆえの異名だった。 「星野、この企画書だが。……論理の飛躍がある。ここを埋めれば、もっと説得力が増すはずだ」 九条の声は常に低く、落ち着いている。厳しい指摘ではあるが、そこにはルナを萎縮させるような棘はない。 むしろ、ルナが自力で答えに辿り着けるよう、絶妙なヒントが散りばめられていた。 ルナが残業でデスクに突っ伏していれば、いつの間にかブランケットが掛
「ああっ、またやった……!」 オフィスに私の情けない叫びが響いた。手元から滑り落ちたのは、淹れたてのコーヒー。 地球の重力というのは、どうしてこうも気まぐれなのだろう。銀河系の端っこから調査にやってきて三ヶ月。私は未だに、この星の物理法則と仲良くなれずにいた。 名前は星野ルナ。大手広告代理店で「万年ドジっ子」のレッテルを貼られた底辺社員。 ……というのは仮の姿だ。 本当の正体は、銀河の果てから地球の文化を調査しに来た【 観測者(エイリアン) 】。そして、指先ひとつで時間を「5秒」だけ操れる、銀河でも希少な能力の持ち主である。 でも、その力を使うことは厳禁だ。 もし