LOGIN내연녀 생활만 3년 차, 강하리는 결국 구승훈의 마음도 사랑도 얻지 못했다. 깔끔하게 포기하고 도망가려는데, 후회한 구승훈은 지독한 집착을 시작한다. “대표님, 때늦은 후회보다 멍청한 것은 없어요.” 강하리가 아무리 매몰차게 거절해도 구승훈은 절절하게 그녀를 끌어안았다. “그래, 난 멍청이야. 그러니 제발 날 떠나지 말아 줘.”
View More"Aku sudah memutuskan, namanya Karin Nevada." Laksita mengelus kening bayi mungil yang tertidur pulas dalam dekapannya, sambil sesekali memandangi wajah pria yang sedang duduk di sampingnya. Pria itu tersenyum kemudian bergantian mencium kening Laksita dan bayi kecil itu.
"Nama yang indah," ucapnya.Laksita tersenyum simpul. Setelah melewati persalinan melelahkan selama hampir 20 jam, bayi yang diberi nama Karin Nevada itu lahir melalui jalan lahirnya. Semua terbayar tuntas setelah melihat wajah Karin dengan mata hitam berbinar, tampak sangat ingin menjelajah dunia."Albert," tegur seorang pria berjas hitam yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu kamar pasien yang sedang ditempati Laksita. Albert, suami Laksita seketika berdiri saat melihat pria itu. Dia menunduk patuh, bahkan seperti ketakutan.Pria berjas hitam itu sedikit maju dan muncullah sesosok laki-laki bertubuh tegap dan tinggi. Laki-laki itu tampak sangat muda, sekitar umur 20-an namun auranya mampu mendominasi siapapun yang ada di dekatnya."Tuan Katon! Sungguh suatu kehormatan Anda datang kesini," seru Albert, seketika bersimpuh.Katon Bagaskara, pewaris tunggal keluarga bangsawan Bagaskara yang paling berpengaruh di negeri Alfansa. Seluruh warga Alfansa tahu jika mendapati salah satu keluarga bangsawan datang mengunjungi warga biasa adalah suatu musibah. Dan firasat Albert pun juga berkata demikian, meskipun dia tidak memiliki kuasa untuk menolak. Katon memiliki tatapan mata yang dingin dengan semburat warna kehijauan yang dia dapatkan dari ibunya. Banyak desas desus yang sempat terdengar sampai ke telinga Albert bahwa Katon telah mengintai Laksita sejak hamil muda 9 bulan lalu. Maka ketika Katon tiba-tiba saja datang, semua orang tidak heran."Ada perlu apa Tuan Katon?" tanya Albert, tentu untuk menghibur dirinya sendiri dan sangat berharap Katon datang hanya untuk berkunjung.Tatapan mata Katon terpusat pada Laksita, lebih tepatnya pada bayi yang sedang didekap erat oleh Laksita. Warna matanya berubah hitam kelam, membuat pria berjas hitam asisten Katon mundur satu langkah sambil menunduk. Berkali-kali dia mencuri tatap dengan Albert, mengisyaratkannya untuk tetap tenang."Kalian punya waktu sampai 18 tahun untuk bersamanya," ucap Katon dengan nada berat. "Setelah itu dia milikku."Ucapan Katon sukses membuat dengkul Albert lemas dan tanpa sadar bersimpuh di samping ranjang istrinya. Sementara Laksita menjerit sejadinya hingga si kecil Karin menangis karena terbangun. Katon telah membalik badannya, dan yang bisa dilihat Albert hanyalah punggungnya yang dingin. Semua orang tahu hal ini akan terjadi, meskipun tak menyangka jika anak Albert dan Laksita yang akan menjadi pengantin Katon Bagaskara.* * *Alfansa, negeri dimana keturunan manusia dan iblis hidup berdampingan dengan tenang dan saling melengkapi. Warga biasa hidup dalam damai tanpa ancaman peperangan dan bahan pokok yang selalu terpenuhi, sedangkan sebagai gantinya iblis yang memiliki kemampuan di atas nalar menginginkan keturunan dari warga manusia untuk menjaga populasinya. Setiap iblis akan memilih pengantin mereka dan ketika mereka telah menentukan pilihan, tidak ada yang bisa menolaknya. Keluarga Bagaskara, sebagai keluarga bangsawan iblis yang menguasai seluruh negeri hanya memiliki Katon sebagai pewaris tunggal dan mewajibkannya untuk memilih pengantin. Dan pilihan Katon jatuh kepada anak Laksita yang telah dia amati semenjak dalam kandungan.Karin Nevada telah ditandai sejak lahir dan sebagai calon pengantin bangsawan iblis, auranya akan menarik banyak laki-laki baik warga biasa maupun bangsawan. Hidupnya tak pernah tenang, bahkan Albert harus mengorbankan nyawanya untuk melindungi Karin dari para lelaki hidung belang di luar sana. Karin berusia 16 tahun saat Albert meninggal dan hanya dia serta ibunya yang tersisa. Semenjak kematian Albert, Laksita lebih banyak diam dan tidak menghiraukan Karin, bahkan ketika Karin harus menghadapi ganasnya dunia luar yang seakan haus akan tubuhnya."Semua cewek di sini suka sama gue, Rin. Dan lo nggak?" Erik, sang pemain basket paling populer di sekolah juga tertarik akan aura Karin. Dia mendorong tubuh Karin pada dinding parkiran belakang, menghadangnya dengan kedua tangan. Karin terpojok."Gue udah bilang kan? Gue berbeda, Erik," jawab Karin. Bukan hal baru bagi Karin untuk mendapat paksaan semacam ini.Erik tertawa sinis, "Bokap lo cuman pemilik toko kecil dan sekarang dia udah meninggal. Sedangkan gue, gue punya segalanya. Bokap gue bakal ngasih semua buat lo."Karin menggeleng, mendorong tubuh Erik menjauhinya, "Maaf, Erik."Sorot mata Erik berubah kesal. Dia makin memojokkan tubuh Karin, tubuhnya semakin maju ke depan dan siap menyentuh bibir Karin kapan saja. Karin tak bisa menghindar, karena Erik meraih wajah kecil Karin dengan kedua telapak tangannya yang besar. Karin berusaha keras melepas tangan Erik dari wajahnya walaupun itu sia-sia."Karin!" seru Elsa, memecah ketegangan antara Erik dan Karin. Karin langsung berlari menghampiri Elsa dan Erik menyeringai kesal sambil melotot ke arah Elsa."Lo nggak bisa maksa orang yang nggak suka sama lo, Rik!" maki Elsa lalu menarik tubuh Karin untuk bergegas meninggalkan Erik sebelum cowok itu mengejar mereka.Elsa tertawa sambil sesekali mengatur nafasnya yang ngos-ngosan. Baginya baru kali ini dia melihat Erik sampai harus mencium paksa seseorang padahal selama ini banyak gadis yang pasrah menyerahkan bibirnya kepada Erik. Dia tahu Karin tak pernah tertarik kepada siapapun, padahal sudah kelewat banyak cowok yang menginginkannya."Kenapa nggak lo terima aja sih? Lumayan kan bisa nyicip Erik!""Hus!" Karin menutup bibir Elsa dengan jarinya. "Gimana kalau Farah denger?""Lo yakin Farah satu-satunya bagi Erik? Kalau gue sih nggak yakin. Buktinya dia hampir nyium lo tadi," Elsa cekikikan dan berkali-kali Karin menyuruhnya mengecilkan suara.Ketika mereka sedang asyik menertawakan Erik, tampak di seberang Erik sedang mengamati Karin dengan sorot mata marah. Senyum di wajah Karin perlahan memudar, menyisakan tatapan balasan pada Erik dengan perasaan tak menentu. Dia benci dirinya sendiri. Jika boleh memilih, dia ingin menjadi gadis biasa saja yang tak disukai siapapun. Setidaknya selain hidupnya lebih tenang, tidak akan ada yang tersakiti hatinya."El ... " Nada suara Karin melemah dan sebagai sahabat yang sudah sejak kecil bersama, Elsa paham dengan perubahan sikap Karin."Lo nggak salah, Rin. Lo berhak nolak dia," Dia memegang pundak Karin, berusaha membuatnya tak cemas."Gimana kalo Erik nyelakain gue?"Elsa menggeleng keras, "Kenapa? Dia bisa kok cari cewek lain yang lebih cantik dari lo. Mungkin karena nggak pernah ditolak dia jadi marah banget."Terlihat Farah menghampiri Erik dan mereka berciuman mesra. Sambil berciuman sesekali Erik menatap Karin untuk melihat reaksinya, walaupun tentu saja Karin tak merasakan apapun. Elsa yang gerah melihat pemandangan itu beranjak berdiri dan mengajak Karin meninggalkan kantin."Ngomong-ngomong Rin, tanda lahir lo unik ya," ujar Elsa saat Karin berjalan di depannya. "Tapi... kok gue baru tahu sekarang ya? Sejak kapan ada tanda lahir di sini?" Elsa menyentuh leher belakang Karin."Tanda lahir apa?" Karin meraba lehernya, tak mengerti dengan maksud pertanyaan Elsa. "Gue nggak punya tanda lahir disini.""Tapi ini ada Rin. Lihat deh!" Elsa berinisiatif memotret leher belakang Karin lalu menunjukkannya. Terlihat sebuah tanda lahir berbentuk huruf K samar dan berwarna hitam mirip tato."Ini apa?" tanya Karin pada dirinya sendiri dan secara spontan Elsa mengangkat bahu.Beberapa menit termenung, Elsa tiba-tiba tersenyum nakal penuh arti. Dia melirik Karin sambil menautkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah."Lo bikin tato di leher biar nggak ketahuan guru kan?" tanya Elsa dengan nada berbisik.Karin seperti terbawa lamunannya sendiri karena dia tidak menyahut pertanyaan Elsa. Dia teringat akan perkataan ayahnya sebelum meninggal, tentang seseorang yang akan datang menjemputnya. Sang ayah, Albert tidak mengungkapkannya secara jelas, namun Albert hanya meminta Karin untuk selalu melindungi dirinya karena seseorang itu bisa datang kapan pun. Mungkinkah tato ini ada kaitannya?"Rin! Karin!" Elsa mengguncang bahu Karin sekerasnya karena dia tahu temannya itu sedang tidak bersamanya sekarang.Karin gelagapan dan mengerjapkan mata kaget. "Ada apa El?"Elsa menunjuk ke arah seorang gadis yang tertunduk lesu berjalan mengikuti dua orang pria berjas hitam. Semua orang tidak ada yang berani mendekat atau memandangi mereka, sebaliknya hanya berani menunduk takut. Elsa mendekatkan mulutnya ke telinga Karin."Dia Erna anak IPA 4, dia dibawa ke wilayah para bangsawan iblis.""Kenapa?" tanya Karin polos.Elsa membelalak lebar, "Seriously Karin?!""Kenapa? Bukannya kita nggak bisa mendekat ke wilayah para bangsawan?"Elsa semakin mengguncang bahu Karin, "Lo nggak pernah denger tentang pernikahan kaum kita dan bangsawan iblis?""Rin, para bangsawan itu selalu nyari pasangan dari kaum kita. Karena kalau mereka nikah sama kaum mereka sendiri, ga bisa ada keturunan," terang Elsa."Lo beneran nggak pernah tahu soal ini?"Karin menggeleng lagi. Pandangannya tak lepas pada Erna hingga gadis itu menghilang pergi menaiki sebuah mobil hitam mewah."Untung kita nggak dipilih sama mereka. Bayangin aja kita harus nikah sama mereka dan nggak bakal balik ke sini lagi. Ngeri banget!" cerocos Elsa sambil begidik ngeri.Namun Karin tak bereaksi apapun, karena dalam hati dia memiliki firasat yang kurang enak setelah mengetahui ada tato kecil di belakang lehernya. Meskipun bisa saja itu inisial namanya sendiri, namun melihat ucapan sang ayah sebelum meninggal membuat Karin bertanya-tanya.진태형은 한숨을 쉬었다.“네 엄마가 지금도 살아있었다면 얼마나 좋았을까?”강하리는 발걸음이 멈추었다. 그녀는 돌아서서 애처로운 눈으로 진태형을 바라보았다.“아빠...”진태형은 웃으며 고개를 저었다.“나는 지금도 충분히 만족하고 있어. 비록 이런 방식이었지만 결국 내 곁으로 돌아왔으니까. 게다가 네 엄마는 내게 이렇게 사랑스러운 딸을 주었잖아.”그는 온화한 눈빛으로 조금 떨어진 곳에 있는 심미현의 비석을 바라보았다. 그의 얼굴에는 정말로 만족스러운 기색이 가득했다.“적어도 내 그리운 마음도 이젠 의탁할 곳을 찾았으니까.”강하리의 눈가가 금세 붉어졌다. 진태형의 마음속에 원망 같은 건 별로 없을 것이라는 것을 알았지만 그래도 여전히 가슴이 아팠다.진태형도, 심미현도 모두 안타까웠다. 평생을 행복하게 살 수 있었을 텐데 이렇게 저승과 이승으로 갈라져야 한다니.“아빠, 앞으로 우리 자주 엄마 보러 와요.”“그래.”진태형은 대답했다.“너와 네 엄마 사이에 유감스럽거나 어쩔 수 없었던 일이 있었어도 이제는 모두 지나간 일이야. 하지만 너와 승훈이는 아직 많은 가능성이 남아 있어. 내 딸은 뭘 하든 다 응원한다고 말하고 싶지만 너희가 함께 걷기로 했다면 결정을 내리기 전에 승훈이의 감정도 고려해야 해.”“너희는 이제 한 몸이야. 이럴 때 너의 희생은 너 혼자만의 희생이 아니야. 승훈이가 너와 함께 희생하게 만들면서도 충분히 상의하지 않는다면 그건 너무 불공평하지 않을까?”강하리는 입술을 깨물었다.“아빠, 알았어요.”진태형은 손수건을 꺼내 심미현의 사진을 몇 번이고 닦았다.“화났어? 그렇게 오래 못 와서? 화내지 마. 이제 다시는 안 그럴게. 나 퇴임했잖아... 앞으로는 매일 와서 당신을 볼 수도 있어.”그는 그렇게 말하다가 갑자기 말을 멈추며 감정을 추슬렀다. 하지만 곧 다시 웃음을 터뜨렸다.“딸과 사위도 왔어. 둘 다 잘 지내고 있으니. 걱정하지 마.”“너희 둘도 이리 와서 엄마에게 인사하렴.”강하리는 구승훈을 쳐다보았지만 구승훈은
꽃가게에는 온갖 종류의 꽃들이 가득했지만 진태형은 들어서자마자 활짝 핀 양귀비꽃이 있는 곳으로 곧장 향했다.양귀비꽃 앞에 다다른 진태형은 쭈그려 앉아 정성껏 꽃을 골랐다.그의 뒤에 서 있던 구승훈은 잠시 망설이다가 결국 참지 못하고 입을 열었다.“아버님, 여재천에 관한 일을 들으셨죠? 적진으로 깊숙이 들어갈 수 있었던 마지막 선이 여초연에게 완전히 끊겨 버린 이상, 이제는 약물 연구소에 접근하기는커녕 앞으로 이런 기회가 또 있을지도 모르겠어요. 그 조직을 완전히 파악하고 와해시키려면... 저는 두려워요.”“그 사람들이 하리를 시켜 직접 호랑이 굴에 들어가 길을 살피라고 할까 봐 그래?”진태형은 구승훈이 차마 말하지 못하고 삼켜버린 말을 내뱉었다.구승훈은 부인하지 않았다. 사실 그는 그렇게 생각하고 있었다.“요즘 엄마는 하리에게 손을 쓸 기회를 호시탐탐 노리고 있어요. 하리를 납치해서 임 대표님을 교환하는 것이 엄마에게 가장 좋은 선택이니까요.”구승훈은 현재 상황을 간단히 설명하는 동안 진태형은 마침 꽃을 다 골랐다.그는 몸을 일으키며 담담한 표정으로 덧붙였다.“그리고 하리는 우리 쪽에서 M 조직을 더 깊이 파고들 수 있는, 가장 적은 대가로 일을 해결할 수 있는 유일한 선택이란 말이지, 맞아?”구승훈은 고개를 끄덕였다.진태형은 쓴웃음을 흘리며 씁쓸하게 웃었다.“역시 내가 가장 걱정하던 일이 벌어졌구먼.”사실 그는 처음부터 예상했었다. 어쩌면 결국 하리까지도 이런 상황에 놓일 수 있을지도 모른다고 말이다.여재천에 대한 소식을 들었을 때 그는 일이 해결될 수도 있겠다고 안도했지만 결국 이런 꼴이 되었다.“승훈아.”진태형이 갑자기 불렀다.“하리의 임명장이 나왔다는 것을 알고 있나?”구승훈은 잠시 멍하니 있다가 이내 차갑게 웃었다.‘아, 임명장 때문이었구나.’그 자리에 있기 때문에 많은 일은 복종할 수밖에 없는 법이니까.“그렇군요.”구승훈은 씁쓸하게 중얼거렸다.“네, 알겠어요.”아마도 그는 국가 영예에 대한 자부심이 별로
“차 세워!”강하리가 갑자기 앞쪽을 향해 소리쳤다.준봉이 급정거로 차를 세우자마자 이내 뒷좌석 문이 열리는 소리와 함께 강하리가 차에서 뛰어내렸다.“서두르지 마. 조심해야지!”구승훈은 그녀의 하이힐을 신은 모습을 바라보며 미간을 찌푸린 채 그 뒤를 따라나섰다. 언제든 그녀를 보호할 태세를 취했다.가까이 다가서자 그는 강하리의 허리를 감싸안고는 인사했다.“아버님.”지난번 요양원에서 있었던 일 때문에 진태형은 구승훈에게 어느 정도 불만이 있었다.진태형은 구승훈이 강하리의 허리에 두른 손을 힐끔 보며 콧방귀를 뀌고는 그를 무시했다.“아빠!”이번에는 강하리가 불렀다.“그래!”진태형은 부드럽게 대답하며 강하리를 향해 팔을 벌렸다.강하리는 그대로 달려들어 안겼다.구승훈은 품이 텅 비자 저도 모르게 주먹을 꽉 쥐었다.기분이 답답했던 하지훈은 이 장면을 보자 저도 모르게 감탄했다.‘헐, 하하, 네 꼴을 보니 내 마음이 편안해지네.’하지훈은 의기양양해서 구승훈을 향해 눈썹을 찌푸리며 비아냥거리는 눈빛으로 구승훈을 훑어보았다.구승훈은 이를 악물고 그를 쳐다보다가 다시 진태형에게 말했다.“아버님, 안으로 들어가서 얘기해요.”“네, 아빠 들어가요.”진태형은 그저 고개를 저었다.“그냥 네 얼굴 보러 왔을 뿐이란다. 난 다른 데도 가봐야 해.”강하리와 구승훈이 서로 시선을 마주쳤다. 아마도 진태형이 가려는 곳이 어딘지 대번에 알 것 같았다.“아버님, 제가 하리랑 같이 갈게요.”진태형은 잠시 침묵하다가 결국 고개를 끄덕였다.물론 지난번 구승훈이 강하리를 미끼로 삼았던 일 때문에 마음이 불편했지만, 결국 하리와 함께 끝까지 갈 사람은 구승훈이다. 아버지로서 자신이 할 수 있는 일은 그저 그녀와 좀 더 오래 보내는 것 뿐이다.세 사람이 함께 가기로 결정되자 구승훈은 옆에 서 있던 조시욱을 쳐다보았다.조시욱은 그의 뜻을 알아채고는 몇 걸음 옆으로 물러섰다.“여재천은 비록 목숨은 건졌지만 깨어날 수 있을지는 아무도 장담할 수 없어요. 당신이
강하리의 말을 듣자마자 구승훈은 웃음이 터졌다.“봤지? 하리 이모는 너보다도 날 더 아껴. 그러니까 넌 아직 멀었어!”구승훈은 한껏 우쭐거리며 하지훈을 향해 한쪽 눈썹을 치켜뜨고 말했지만 하지훈은 그저 고개를 수그리고 말없이 확성기만을 내려다보았다.그 모습에 더 이상 어린이랑 입씨름하기 싫어 한 발 앞으로 나아가 소이현의 옷깃을 잡아당기더니 바닥에서 끌어올렸다.“정우 죽는 꼴 보고 싶지 않으면 어떤 말을 해야 하고, 어떤 말을 하지 말아야 하는지 잘 생각해 보세요.”소이현의 발은 거의 땅에 닿지 못하고 있었는데 그녀는 얼굴이 하얗게 질린 채 발버둥을 치다가 구승훈의 입에서 구정우라는 이름이 들리자마자 눈이 번쩍 뜨였다.역시나 자식은 영원히 부모의 최대 약점인 것 같다.마치 지금처럼 말이다.여초연이 임명우의 이름을 듣게 되었을 때도 똑같았다.순간 구승훈은 갑자기 웃음이 나왔다.자신은 단 한 번도 누구의 약점이 되어 본 적이 없었기 때문이다. 소이현은 금세 조용해졌다.그리고 구승훈을 죽일 듯이 노려보았는데 혹시나 그가 구정우한테 가서 해코지라도 할까 봐 두려움에 몸까지 잘게 떨었다.입에 물고 있던 걸레가 다시 꺼내지면서 그녀는 마침내 신선한 공기를 마신 듯 거친 숨을 몰아쉬었다.강하리는 그녀 앞에 다가가 다시 냉담한 목소리로 물었다.“지금 여초연 씨가 어디에 숨어있는지 알고 있는 거죠?”순간 강하리의 말을 듣자마자 구승훈은 어리둥절해서 그녀를 빤히 바라보았다.맨 처음으로 심미현에 대해 물을 줄 알았는데...눈앞의 소이현도 똑같이 놀란 눈치였는데 그녀는 입술 색이 단번에 하얘지더니 자기도 모르게 뒷걸음질 쳤다.“무슨 말을 하고 있는지 모르겠다니까!”강하리는 소이현의 반응에 미간을 살짝 찌푸렸다.아까부터 그녀의 행동이 어딘가 이상하다고 생각했지만 콕 집어 어디라고 말하기 어려웠기 때문이다.그러나 구승훈은 소이현이 이미 그때 부하직원들처럼 여초연의 약물로 통제되었다는 사실을 눈치채고 있었다.게다가 여재천이 결말이 어떻게 되었는지
Ratings
reviewsMore