Viviene mengucapkan kata itu dengan ringan, hampir terlalu ringan untuk sesuatu yang terdengar begitu besar.Seolah “bebas” hanyalah kata sederhana yang baru saja ia lepaskan dari bibirnya bukan sesuatu yang telah lama ia impikan.Selene menatapnya lebih dalam. “Bebas?” Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.Viviene tidak menjawab segera. Ia justru berjalan perlahan, memutari Selene dengan langkah santai. Gaunnya yang panjang menyapu lantai kayu yang kasar, kontras dengan keadaan ruangan yang lembap dan gelap.“Selama ini,” katanya pelan, “hidupku selalu ditentukan oleh orang lain.”Ia berhenti tepat di samping Selene.“Di mana aku harus tinggal. Kepada siapa aku harus tersenyum. Dan kapan aku harus diam.”Viviene menghela napas pendek, seolah sedang mengingat sesuatu yang sudah lama ia muakkan.“Kau tahu apa yang paling lucu, Selene?” Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap perempuan itu dari sudut matanya. “Semua orang mengira aku dilindungi.”Senyum tipis muncul di wajahnya. “P
Read more