Dhana mengambil satu jarum dan mulai mengobati Bima.Pengobatan berlangsung tanpa hambatan dan selesai dalam sepuluh menit.Setelah itu, Bima merapikan pakaiannya dan meraba saku, menemukan sisa dua batang rokok saja.Dia berjalan ke lemari, mengambil sebungkus rokok dan korek api, lalu pergi menuju pintu."Puspita, telepon aku kalau sudah selesai.""Mmm ...." Puspita bergumam pelan, pipinya memerah.Menyaksikan punggung Bima, Puspita merasa campur aduk antara gembira dan malu. Emosi yang rumit bergejolak di dalam dirinya.Urusan ini sangat tidak masuk akal.Tapi, demi memiliki anak, dia mengabaikan segala risiko.Siang tadi, dia sengaja menghitung tanggalnya. Hari ini dan besok adalah hari-hari terbaik, dengan peluang keberhasilan tertinggi.Setelah mendengar Bima menutup pintu luar, Puspita berdiri, berjalan berlenggok menuju pintu ruang tamu, menutupnya, dan menguncinya dari dalam.Setelah pintu terkunci, dia kembali berdiri tepat di hadapan Dhana."Dhana, aku dan Bima ... memaksamu
Read more