"Nggak usah, aku pergi ke tempatmu sekarang.""Oke, cepat ke sini kalau memang mau datang. Kami tunggu kamu di jalan."Sekitar lima menit kemudian, Ratna muncul di hadapan Dhana dan yang lainnya, napasnya terengah-engah, dadanya yang montok naik turun.Ratna benar-benar pantas mendapat julukan si cantik berdada besar.Napasnya terengah-engah, pipinya memerah.Di mata Dhana, gadis muda itu terlihat semakin menggemaskan."Berikan ponselmu, aku mau lihat. Kamu pasti bohong." Ratna mengulurkan tangan rampingnya dan merebut ponsel dari tangan Dhana.Dia membuka pemberitahuan transaksi."Satu, dua, tiga, ... sembilan ...."Di ponsel, ada angka 4 diikuti oleh sederet nol. Sama seperti Mawar, Ratna menghitungnya satu per satu."Ada 3,960 miliar ... cuma kurang 40 juta dari 4 miliar?!"Mata lebar dan cantiknya melebar karena rasa iri.Karena mengira dirinya salah baca, dia bersiap menghitung lagi.Tiba-tiba, Mawar berkata, "Ratna, nggak usah dihitung lagi. Aku dan Ayu sudah menghitungnya berkal
Read more