Pagi di Penthouse Arcadia biasanya dimulai dengan aroma kopi Arabika dan keheningan yang mahal. Namun, pukul 08.00 kali ini, suasana di meja makan marmer Unit 01 terasa seperti ruang sidang tindak pidana korupsi. Citra Melati berdiri di ujung meja, tangannya bersedekap, menatap empat pria di hadapannya dengan tatapan sedingin es di kutub utara. Di atas meja, tidak ada nasi goreng atau omelet, melainkan empat lembar kertas adendum kontrak yang baru saja ia cetak dari printer Unit 02. "Sarapan ditunda sampai dokumen ini ditandatangani," suara Citra datar, tanpa kompromi. Elang Soerya mengangkat sebelah alisnya, jemari panjangnya mengetuk meja dengan ritme aristokrat yang terganggu. Raka Pradana sudah memegang tabletnya, siap membedah setiap klausul. Bastian Wijaya tampak mengantuk, sementara Damar Langit hanya diam, matanya terpaku pada kening Citra, bekas kecupannya
อ่านเพิ่มเติม