Bau tanah basah dan aroma selokan yang mampet menyambut Citra saat ia melangkah masuk ke dalam rumah petaknya. Di dalam, ibunya, Ayu, sedang duduk di atas kasur busa sambil memilah sayuran layu. Mata wanita tua itu berbinar ketika Citra meletakkan tas belanja kain yang berat di atas meja kayu yang goyang. "Banyak sekali, Nduk? Kamu nggak nyolong, kan?" Citra tertawa kecil sambil mengeluarkan kotak-kotak dimsum dan sushi yang masih hangat."Ini sisa katering bos, Bu. Daripada dibuang mubazir, mending buat Ibu. Makan yang banyak, ya." Setelah memastikan ibunya makan dengan lahap, Citra merebahkan diri di kamarnya yang sempit. Langit-langit yang retak menjadi saksi bisu saat bayangan wajah Bastian tiba-tiba melintas di benaknya. Jarak mereka tadi sangat dekat, hingga Citra bisa mencium aroma parfum jeruk dan melihat pori-pori wajah Bastian yang terlalu mulus untuk ukuran pria
อ่านเพิ่มเติม