"Terima kasih, Aris. Ini sarapan terbaik, rasanya sangat nikmat," ucap Nikita sambil merapikan riasannya di cermin kecil kamarku. Dia segera pergi meninggalkanku, yang masih berdiri dalam posisi tanpa celana. Aku merasa masalah ini semakin rumit. Di satu sisi aku muak, tapi di sisi lain, aku harus jujur bahwa aku belum pernah merasakan kenikmatan sehebat itu seumur hidupku. Aku segera membersihkan diri di kamar mandi, mencoba membasuh rasa bersalah yang menghimpit dada. Tak lama kemudian, truk material datang. Nikita tetap di rumah, berdiri di halaman belakang mengawasi semua barang yang turun pasir, semen, dan batu alam. Dia menunggu sampai semua benar-benar lengkap sebelum akhirnya memanggilku. "Semua sudah lengkap. Besok pagi ajak teman-temanmu mulai bekerja. Aku serahkan padamu," ucapnya tegas. Aku hanya mengangguk, tanpa banyak bicara. Setelah itu, Nikita bersiap pergi diantar Gunawan. Aku memperhatikan penampilannya. Dia tidak memakai setelan kantor seperti biasanya. Kal
Read more