Setelah menyantap nasi goreng buatan Bi Inah yang gurih, aku, Dani, dan Joni duduk bersila di teras belakang yang masih berupa tanah galian. Sebatang rokok kretek kunyalakan, membiarkan asapnya menari di udara pagi yang mulai menghangat. Dani memperhatikanku dengan dahi berkerut, lalu menyikut Joni. "Eh, Jon, lihat si Aris. Asa beda nya?" Joni mengangguk mantap sambil mengembuskan asap rokoknya. "Enya, bener. Wajahnya keliatan seger banget, potongan rambutnya juga bagus. Maneh dari mana semalem, Ris? Meuni rapih gitu." Aku terkekeh, berusaha menutupi kegugupanku. "Ah, biasa weh, cuma pengen ganti suasana. Masa kuli pelabuhan kucel terus." "Tapi beneran, Ris. Gagah euy, gak akan ada yang nyangka kalau maneh teh kuli. Udah kayak bos muda," tambah Dani dalam bahasa Sunda yang kental. Tak lama kemudian, kesunyian rumah kembali pecah. Suara mesin mobil terdengar dari depan. Nikita, Vira, dan Tasya mulai bersiap pergi dengan urusan mereka masing-masing. Hanya Bi Inah yang tertinggal
Read more