Share

Bab 7

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 13:56:27

Di sisi lain Kota Mahatara, dalam ruang VIP sebuah bar bawah tanah yang ramai, lampu neon berpendar redup.

Calista Darmawan bersandar santai di sofa, pakaian kulitnya memantulkan cahaya samar. Seorang anak buah menyerahkan ponsel kepadanya setelah berbisik singkat.

Video di layar menampilkan Arka menjatuhkan para pelamar lain di aula pelatihan, diikuti foto konfrontasinya dengan Mireya di parkiran.

Matanya langsung berbinar. “Dia?” gumamnya tertarik. Ia memutar ulang rekaman itu, memperhatikan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 340

    Beberapa saat kemudian, Bagas menarik napas panjang dan sengaja memecah suasana yang menekan itu. "Baiklah, sekarang bukan saatnya membahas masalah ini."Ia menoleh ke arah pria berjubah hitam dengan sikap yang tampak sopan, meski nada suaranya menyiratkan desakan yang tidak bisa diabaikan."Prioritas kita saat ini adalah memusnahkan Keluarga Mahesa sampai tuntas. Selama mereka masih ada, stabilitas wilayah di Zona Selatan tidak akan pernah benar-benar terwujud."Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan penekanan khusus, seolah menyembunyikan maksud lain di balik istilah stabilitas tersebut.Pria berjubah hitam itu perlahan mengalihkan pandangan ke arah aula utama yang masih bertahan di tengah kepungan."Memang sudah waktunya menyelesaikan masalah itu." Ia mengangkat tangan dan membuat isyarat sederhana. "Selesaikan secepatnya!"Perintah itu singkat, tetapi efeknya langsung terasa.Mata Bagas langsung berbinar. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak kepada seluruh pasukan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 339

    Langkahnya tenang dan nyaris tanpa suara. Mayat yang bergelimpangan di tanah bahkan tidak cukup menarik perhatiannya untuk sekadar dilirik. Pandangannya hanya menyapu Bagas dan Rama sebelum akhirnya berhenti pada tubuh Prajurit Kage yang telah terbujur tak bernyawa."Orang-orang ini..." ucapnya perlahan dengan suara serak yang terdengar seperti logam bergesekan. "Sudah terlalu lama mencari keberadaan kita." Ia berhenti sejenak.Di bawah tudung hitam itu, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang justru membuat suasana terasa semakin dingin."Sekarang aku bisa memberi mereka jawaban." Tatapannya kembali jatuh pada mayat-mayat anggota Klan Bulan Hitam. "Inilah kuburan mereka."Nada bicaranya tetap datar. "Mereka datang bersama, dan sekarang mereka mati bersama."Jika Arka berada di tempat itu, ia pasti akan segera memahami arti sebenarnya dari semua yang terjadi malam ini.Klan Bulan Hitam dan Sindikat Noctis tidak pernah menjadi sekutu. Sebaliknya, kedua organisasi t

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 338

    Suaranya memang tidak keras, tetapi di tengah halaman yang sempat hening setelah rentetan tembakan berhenti, setiap kata terdengar sangat jelas.Di sampingnya, Rama, pemimpin Sindikat Taring Ular, memperlihatkan senyum lebar yang menampakkan deretan gigi kekuningannya. Ia berjalan santai menuju seorang anggota Klan Bulan Hitam yang masih tergeletak sambil kejang-kejang di tanah, lalu mengangkat kaki dan menginjak kepalanya tanpa belas kasihan.Dor!Tembakan terakhir dilepaskan dari jarak dekat.Darah dan serpihan tulang langsung menyebar ke segala arah."Prajurit Kage?" Rama mendengus sinis sebelum melangkah menuju mayat berikutnya. "Seorang tawanan yang bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri masih berani memakai gelar sebesar itu. Klan Bulan Hitam benar-benar terlalu percaya diri."Sambil berbicara, ia terus melepaskan tembakan ke tubuh para anggota Klan Bulan Hitam yang sudah tumbang. Gerakannya santai seolah sedang berjalan-jalan setelah makan, bukan berada di tengah meda

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 337

    Pintu aula utama terbuka sedikit dari dalam. Melalui celah itu, Adhyaksa dapat melihat seluruh kejadian yang sedang berlangsung di luar, dan dalam sekejap matanya memerah ketika menyadari apa yang sedang dilakukan adiknya."Jalan."Bramanta mengucapkan satu kata singkat sambil melirik ke arah Adhyaksa. Pada saat yang sama, ia menggelengkan kepala pelan, seolah ingin menyampaikan pesan yang tidak perlu diucapkan.Jangan pedulikan aku. Bawa mereka pergi.Rahang Adhyaksa mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ia ingin maju, ingin menyeret adiknya kembali ke dalam aula, tetapi ia juga memahami bahwa kesempatan yang diperjuangkan Bramanta dengan nyawanya sendiri mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.Setelah menarik napas berat, Adhyaksa akhirnya berbalik dan berteriak ke arah semua orang yang masih berada di dalam aula. "Masuk ke lorong rahasia sekarang juga! Cepat!"Perintah itu langsung membuat para korban luka dan anggota Keluarga Mahesa yang tersisa bergerak menuju ja

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 336

    "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Adhyaksa dengan wajah berubah drastis.Namun Bramanta tidak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang sebelum menghantam pintu samping aula yang terhubung ke dapur hingga terbuka lebar.Brak!Di balik pintu itu terbentang halaman dalam yang kini telah dipenuhi musuh.Pasukan yang sedang bersiap mendobrak aula utama jelas tidak menyangka seseorang akan keluar dari arah tersebut. Sesaat mereka terpaku karena terkejut, dan celah sepersekian detik itu langsung dimanfaatkan Bramanta untuk menerjang ke depan seperti harimau yang lepas dari kandang.Dor! Dor! Dor!Senapan di tangannya memuntahkan rentetan peluru dari jarak dekat. Tiga anggota Keluarga Mahardika yang berada paling depan langsung terpental dan roboh sebelum sempat bereaksi.Pada saat yang sama, seorang anggota Klan Bulan Hitam melompat dari sisi samping dengan bilah pendek yang mengarah lurus ke tulang rusuknya. Bramanta sama sekali tidak menghindar. Ia membiarkan senjata itu menembus tubuhny

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 335

    Mata Adhyaksa memerah hingga urat-urat di bagian putih matanya tampak jelas. Ia terus menarik pelatuk pistol di tangannya tanpa henti, dan hampir setiap tembakan berhasil merobohkan musuh yang berada di barisan terdepan.Namun jumlah lawan terlalu banyak. Setiap satu orang yang tumbang segera digantikan oleh dua orang lainnya. Sementara gelombang berikutnya terus berdatangan tanpa memberi kesempatan bagi pertahanan Celah Mahesa untuk bernapas."Kakak! Kita sudah tidak bisa bertahan lagi!"Bramanta mundur dari arah pertahanan timur sambil menyeret seorang penjaga muda yang tertembak di bagian perut. Luka di bahu kanannya kembali terbuka akibat pertempuran sengit, membuat darah membasahi hampir separuh tubuhnya, tetapi ia tetap memaksa diri untuk bergerak."Masuk ke aula utama! Kita harus menggunakan lorong rahasia sekarang!"Adhyaksa menyapu medan perang dengan tatapan berat.Kurang dari dua puluh penjaga yang masih mampu berdiri, dan semuanya berada dalam kondisi terluka dengan amunis

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 39

    Kelvin mencengkeram pipa baja dengan kedua tangan, matanya merah. Tanpa ragu ia mengayunkannya.WHUSH~Pipa baja berdesing menembus udara.Leonard menunduk cepat, tubuhnya bergerak liar seperti hewan yang terpojok. Dengan tangan yang tersisa, ia menusuk ke depan.CRACK!Belati itu menyayat lengan K

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 38

    Di saat yang sama, Mireya menjawab panggilannya. “Mireya! Kau baik-baik saja?!” Suara pria tua terdengar marah. “Kelvin pantas mati!”Mireya tersenyum tipis. “Dia belum mati. Kalau Ayah datang sedikit lebih lambat, mungkin sekarang Ayah sudah punya cucu dari pria bajingan itu!”Di ujung sana terden

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 34

    Zona Industri Arganta.Beberapa menit kemudian.Gerbang besi pabrik tua berdiri berkarat. Bangunan beton gelap menjulang seperti kerangka raksasa. Di dalamnya, dengan situasi jauh lebih mengerikan.Mireya terikat pada kursi, tangan dan kakinya diikat tali kasar. Lakban akhirnya menutup mulutnya, ke

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 31

    Mireya merasakan hawa dingin menjalar di tulang belakangnya. Ia tahu Kelvin sudah gila, pria ini benar-benar bisa melakukan apa saja. Namun ia tetap menatap Kelvin dengan dingin.“Dia akan datang.”Kelvin menyeringai. “Oh ya?”Mireya tersenyum tipis. “Karena dia tahu, apa yang akan terjadi pada ora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status