แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Skyy
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-06 13:56:27

Di sisi lain Kota Mahatara, dalam ruang VIP sebuah bar bawah tanah yang ramai, lampu neon berpendar redup.

Calista Darmawan bersandar santai di sofa, pakaian kulitnya memantulkan cahaya samar. Seorang anak buah menyerahkan ponsel kepadanya setelah berbisik singkat.

Video di layar menampilkan Arka menjatuhkan para pelamar lain di aula pelatihan, diikuti foto konfrontasinya dengan Mireya di parkiran.

Matanya langsung berbinar. “Dia?” gumamnya tertarik. Ia memutar ulang rekaman itu, memperhatikan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 469

    Arka tetap memeluk Serena yang perlahan mendingin tanpa bergerak sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan betapa besar rasa sakit dan amarah yang sedang bergejolak di dalam dirinya.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah itu, Arka perlahan membaringkan tubuh Serena di tanah, melepas mantelnya, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan hati-hati hingga wajah pucat dan luka berdarah di dadanya tak lagi terlihat.Kemudian Arka berdiri, gerakannya begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. Tidak ada ledakan emosi di wajahnya, hanya ketenangan pekat yang menyimpan amarah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan kehancuran.Ia berbalik dan mengarahkan pandangan kepada Uryu dan Nocthar yang tergeletak tak jauh darinya. Tatapan Arka kini terasa seperti dua bilah pedang yang baru ditempa, dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun belas kasihan.Aura yang memancar dari tubuhnya telah berubah sepenuhnya. I

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 468

    "Serena! Aku di sini…"Suara Arka terdengar serak. Tangannya terulur hendak menyentuh Serena, tetapi berhenti di udara karena takut sentuhan sekecil apa pun justru memperparah lukanya. Jari-jarinya gemetar saat ia menatap wanita itu yang semakin kehilangan warna di wajahnya.Serena berusaha tersenyum. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi yang keluar justru darah dan busa tipis. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, "Arka... aku terlihat jelek sekarang?"Arka langsung menggeleng, matanya memerah. "Jangan bicara begitu, kau tetap cantik. Kau pasti akan baik-baik saja, kau dengar? Dokter! Di mana dokternya?!"Ia menggenggam tangan Serena yang mulai terasa dingin, lalu menoleh panik ke sekeliling. Niko, Arga, dan Garda yang baru tiba segera ikut mendekat, tetapi dalam kekacauan itu Arka seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Ia tahu pertolongan pertama, tahu apa yang harus dilakukan, tetapi rasa takut kehilangan Serena membuat semua pengetahuan itu seakan men

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 467

    DOR!Peluru melesat menembus udara dengan kecepatan mengerikan.KLANG!Pistol di tangan Uryu dihantam tepat di bagian tengah. Logamnya langsung remuk, pecahannya berhamburan, sementara hentakan peluru membuat tangan Uryu robek dan lengannya mati rasa. Sisa gagang pistol terlepas dari genggamannya.Tembakan itu berasal dari Garuda Hitam yang sedang mengambil posisi di kejauhan.Gerakan Uryu terlalu cepat, sementara keputusannya untuk menembak datang tanpa peringatan. Garuda Hitam hanya sempat mengoreksi arah bidikannya pada detik terakhir, tetapi sepersekian detik itu tetap tidak cukup untuk menghentikan peluru pertama yang sudah dilepaskan Uryu.Namun, ia tidak berhenti. Tangannya bergerak cepat menarik baut, mengeluarkan selongsong, memasukkan amunisi baru, mengangkat senjata, lalu kembali membidik. Seluruh rangkaian itu selesai dalam waktu kurang dari satu detik, begitu cepat dan lancar hingga nyaris seperti satu gerakan tanpa jeda.Tembakan kedua menyusul hampir tanpa jeda.DOR!Da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 466

    Uryu yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepala. Tatapan yang sebelumnya tampak lemah dan lesu berubah tajam dalam sekejap, dingin seperti bilah pisau. Tidak ada sedikit pun sisa kelemahan di wajahnya.Tubuhnya melesat seperti pegas yang dilepaskan. Meski kedua tangannya masih terborgol di belakang punggung, Uryu tetap menjatuhkan tubuh ke depan, memutar kedua tangan melalui celah di bawah tubuh hingga berpindah ke depan, lalu meraih pistol yang tergeletak di tanah.Begitu senjata berada di tangannya, moncongnya langsung terangkat.DOR! DOR!Dua tembakan meledak hampir bersamaan. Peluru menembus punggung kedua penjaga Keluarga Mahesa yang masih sibuk melawan kawanan gagak. Keduanya terhenti di tempat, lalu terhuyung dan jatuh tanpa sempat bereaksi, sementara burung-burung yang tadi mengerubungi mereka segera beterbangan dan berputar di udara.Uryu memiringkan kepala, lalu melirik orang-orang yang berdiri terpaku di belakangnya. Mereka baru saja lolos dari ledakan dan kini me

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 465

    Di atas gua, gumpalan besar yang menyerupai awan gelap telah berkumpul tanpa disadarinya. Namun, beberapa detik kemudian Arka menyadari bahwa itu sama sekali bukan awan.Ratusan gagak hitam berputar rendah di atas gua, bergerak seolah dikendalikan oleh kekuatan tak terlihat hingga membentuk pusaran hitam yang mengerikan. Kepakan sayap mereka menghasilkan dengungan berat yang menutupi cahaya dan melemparkan bayangan besar ke seluruh area.Namun, yang paling mengejutkan Arka adalah benda-benda kecil berbentuk silinder yang ternyata dicengkeram oleh masing-masing gagak dengan cakarnya.Begitu Arka dan Nocthar mendongak, sebagian kawanan gagak tiba-tiba mengubah arah. Mereka menukik menuju pintu masuk gua dan lereng di sekitarnya seperti pesawat pengebom mini, lalu melepaskan benda-benda silinder yang mereka cengkeram saat mencapai ketinggian tertentu.Satu, dua, sepuluh, lalu puluhan hingga ratusan benda jatuh beruntun seperti hujan hitam yang deras. Namun itu bukan hujan, melainkan gran

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 464

    Arka yang masih mencengkram kerah Nocthar dan hendak menyeretnya pergi mendadak berhenti. Pertanyaan itu sebenarnya sudah berulang kali muncul di benaknya. Benteng gua ini tersembunyi dengan sangat baik.Jadi, bagaimana mungkin Sindikat Noctis bisa menemukan lokasinya dengan begitu akurat dalam waktu sesingkat itu?Lalu mengerahkan pasukan sebesar ini untuk melancarkan serangan mendadak?“Gah... gaak...!”Suara serak seekor gagak tiba-tiba memecah keheningan hutan. Begitu mendengarnya, senyum Nocthar melebar dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang. Ia mengangkat kelopak matanya yang bengkak dan menatap Arka, seolah sedang menikmati detik-detik terakhir mangsanya sebelum jebakan benar-benar menutup.Detik berikutnya, ledakan dahsyat mengguncang hutan.DUAAAR!Dentumannya datang dari arah kamp utama dan begitu keras hingga getarannya terasa sampai ke tanah.Wajah Arka seketika berubah pucat karena ia langsung mengenali lokasi ledakan itu. Tempat tersebut adalah area gua tempat Vane

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 224

    Pasukan elit Keluarga Montara yang dibawanya masih bersiaga di sekitar area gelap jalanan, tinggal menunggu perintah untuk bergerak.Namun Levino tidak langsung menjawab, jari-jarinya mengetuk pelan lututnya. Tatapannya tetap mengarah ke menara di kejauhan.Awalnya semuanya berjalan sesuai rencana.

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 220

    BANGGGGG!Letusan kedua kembali mengguncang malam.DUAAAR!Ledakan lain langsung menyapu jalan. Pikap kedua meledak lebih brutal dari sebelumnya. Api membubung tinggi ke udara, sementara kendaraan itu hancur berkeping-keping bersama orang-orang di dalamnya. Beberapa tubuh bahkan terlempar hingga me

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 219

    Peter dan anak buahnya masih menembak membabi buta dari atas. Kilatan moncong senjata terus bermunculan dari balik pagar lantai dua seperti hujan api.Pada saat yang sama, tiga mobil Jeep milik Adhyaksa akhirnya tiba di depan kawasan bar. Pintu kendaraan terbuka keras. Para pengawal elit keluarga M

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 218

    “Benar.” Jawaban Arka pendek.Namun nada suaranya berubah begitu rendah hingga terasa seperti es yang menggores tulang.“Kelompok sampah yang membantai warga sipil di Pedesaan Kelam Ravora.” Rahangnya mengeras. “Wanita, anak-anak, tawanan… mereka membunuh semuanya.”Kilatan dingin melintas di matan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status