แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Skyy
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-06 13:56:27

Di sisi lain Kota Mahatara, dalam ruang VIP sebuah bar bawah tanah yang ramai, lampu neon berpendar redup.

Calista Darmawan bersandar santai di sofa, pakaian kulitnya memantulkan cahaya samar. Seorang anak buah menyerahkan ponsel kepadanya setelah berbisik singkat.

Video di layar menampilkan Arka menjatuhkan para pelamar lain di aula pelatihan, diikuti foto konfrontasinya dengan Mireya di parkiran.

Matanya langsung berbinar. “Dia?” gumamnya tertarik. Ia memutar ulang rekaman itu, memperhatikan
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 9

    Mireya menarik napas perlahan, menenangkan dirinya. Senyumnya kembali, lebih lembut namun jauh lebih berbahaya. “Hotelku sangat nyaman,” katanya pelan. “Kalau mau, kita bisa bicara di tempat yang lebih tenang.”Maknanya jelas.Arka hendak menjawab ketika ponselnya bergetar.Nama di layar membuat ekspresinya berubah.Keira Adhistya.Ia mengangkat panggilan.“Datang ke rumahku.”Suara di ujung sana serak, berat, jelas dipengaruhi alkohol.Wajah Arka mengeras, ia tahu apa artinya ini. Kejadian semalam terbayang kembali. “Keira,” katanya rendah, menahan emosi. “Kau benar-benar tidak mendengarkan.”Ia menutup telepon, suasana di sekitarnya langsung terasa dingin. Bahkan Calista dan Mireya yang hendak berbicara ikut terdiam.Namun Arka tidak langsung pergi. Ia berbalik menuju pria berwajah bekas luka yang baru saja sadar dan mencoba bangkit.Pria itu membeku saat melihat tatapan Arka.Arka meraih lehernya dengan satu tangan dan mengangkatnya dari lantai. Tubuh besar itu menggantung tak berd

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 8

    “Itu bukan urusanku.” Arka berbalik hendak pergi.“Berhenti!”Empat pria bertubuh besar segera menutup jalan keluar. Suasana langsung berubah tegang.Tepat saat itu, suara perempuan lain terdengar dari pintu masuk bilik, santai dan penuh hiburan. “Keributan apa ini? Nona Darmawan, kau mencoba menculik orang?”Mireya muncul dengan gaun hitam elegan, segelas anggur merah di tangannya. Senyumnya tipis saat pandangannya berpindah antara Arka dan Calista.Alis Calista berkerut. “Ini bukan urusanmu.”“Bagaimana bukan?” Mireya melangkah masuk tanpa ragu. Tatapannya berhenti pada Arka. “Aku yang lebih dulu tertarik. Setidaknya… hormati urutan.”Nada bicaranya ringan, namun penuh makna tersembunyi.Arka menatap keduanya bergantian, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Kedua wanita ini jelas terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ia melangkah mendekat ke arah Mireya, mengabaikan yang lain.“Nona Mireya,” katanya rendah, nada suaranya santai. “Bukankah Anda pernah bilang ingin menunj

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 7

    Di sisi lain Kota Mahatara, dalam ruang VIP sebuah bar bawah tanah yang ramai, lampu neon berpendar redup.Calista Darmawan bersandar santai di sofa, pakaian kulitnya memantulkan cahaya samar. Seorang anak buah menyerahkan ponsel kepadanya setelah berbisik singkat.Video di layar menampilkan Arka menjatuhkan para pelamar lain di aula pelatihan, diikuti foto konfrontasinya dengan Mireya di parkiran.Matanya langsung berbinar. “Dia?” gumamnya tertarik. Ia memutar ulang rekaman itu, memperhatikan setiap gerakan Arka yang efisien dan tanpa ragu.Senyum perlahan terbentuk di bibirnya. “Menarik sekali.”Ia menghabiskan minumannya dalam sekali teguk dan melempar ponsel kembali.“Cari dia,” perintahnya ringan. “Katakan malam ini aku menunggunya di sini.” Ia berhenti sejenak, senyumnya berubah manis namun berbahaya. “Kalau dia tidak datang, aku akan menjemputnya sendiri.”***Kalimat terakhir Arka sebelum pergi—hubungi aku jika dibutuhkan—terdengar biasa saja. Namun bagi Keira, kata-kata itu s

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 6

    “Mengemudi mobil untuk menjaga orang sedingin itu pasti melelahkan dan membosankan. Pernah berpikir untuk pindah kerja? Bersamaku, hidupmu tidak akan membosankan.”Arka tetap diam.Begitu kendaraan di depan bergerak, ia langsung melaju tanpa memberi respons. Namun BMW itu kembali menyusul, mengikuti hingga memasuki area parkir bawah tanah Grup Arta Vistara. Tepat sebelum mereka masuk, BMW itu berputar dengan manuver halus dan berhenti melintang di depan pintu masuk untuk menghalangi jalan.TOT! TOT! TOT!Beberapa suara klakson langsung terdengar dari belakang.Pintu mobil terbuka, Mireya turun dengan langkah santai, sepatu haknya bergema di lantai beton. Ia berjalan langsung ke sisi pengemudi dan mengetuk jendela.Arka menurunkannya perlahan.Mireya sedikit menunduk, aroma parfumnya yang hangat masuk ke dalam mobil. Senyumnya percaya diri. “Tampan,” katanya pelan, cukup jelas untuk didengar Keira. “Ikut denganku. Denda pelanggaran kontrak bukan masalah. Lagi pula, aku jauh lebih menye

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 5

    Rasa panas di pipinya masih tertinggal ketika Arka Mahendra tanpa sadar mempererat cengkeramannya pada pergelangan tangan Keira Adhistya. Tatapannya yang sebelumnya dipenuhi emosi rumit kini berubah dingin dan tajam. Ia bukan orang yang asing dengan rasa sakit, tetapi tamparan yang lahir dari kesalahpahaman itu terasa berbeda. Lebih seperti penghinaan terhadap harga dirinya daripada serangan fisik.Teriakan Keira memecah keheningan ruang tamu. Rasa sakit di pergelangan tangannya, ditambah aura dingin yang memancar dari Arka, perlahan menyadarkannya dari kabut alkohol. Pandangannya yang semula kabur mulai jelas.Pria di hadapannya bukan Reza Dirgantara. Tatapan itu terlalu dingin, ttajam dan tidak ada kelembutan yang ia ingat. Reza yang dikenalnya tidak pernah menatapnya seperti pemburu yang siap menerkam, apalagi membuatnya merasakan tekanan hingga hampir menyakitkan.Kesadaran itu datang bersamaan dengan rasa malu dan panik yang menusuk.“Lepaskan aku!” Keira meronta, suaranya berget

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 4

    Rumah Sakit Medika Mahatara.Dua ratus juta segera masuk ke rekening rumah sakit, dan ruang operasi kembali dipenuhi cahaya yang tak pernah padam.Waktu berjalan lambat di luar pintu operasi. Arka Mahendra berdiri tanpa bergerak, menatap lampu merah yang terus menyala. Hingga akhirnya pintu terbuka dan kepala ahli bedah keluar sambil melepas masker.“Operasinya berhasil.”Kalimat sederhana itu membuat dunia yang sempat kehilangan warna kembali terasa nyata.Ia berdiri di luar ruang perawatan intensif, memandang melalui kaca. Tubuh kakeknya dipenuhi selang dan alat medis, tetapi napasnya sudah stabil. Kepalan tangan Arka Mahendra perlahan mengendur. Bekas tekanan kuku meninggalkan luka berbentuk bulan sabit di telapak tangannya.Kesepakatan itu sepadan.Namun ketika satu beban terangkat, beban lain muncul. Dua tahun hidupnya kini sepenuhnya terikat pada orang lain. Bagi seseorang yang terbiasa menentukan arah sendiri, kesepakan ini terasa bagaikan batasan yang sulit diterima. Meski beg

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status