“Elia!”Ibu berdiri di hadapanku, menyeringai dengan sebelah pisau berlumuran darah di tangannya.Dia … dia melakukannya padaku. Tidak, tubuhku mulai melemas, aku kesakitan, darahku semakin deras mengalir.“Tidak!”Aku tersentak, tubuhku berubah tegak, kuedarkan pandanganku. Ayah, dia ada di kamar ini, duduk di samping Ibu.“Elia! Kenapa teriak-teriak?” tanya Ayah.Aku menunduk, tidak sakit, tidak ada darah di bajuku, aku mengusap wajahku dengan kasar. Bahkan Ibu masih terbaring di atas ranjang.“Aku mimpi buruk, Yah. Ayah dari mana saja? Kenapa baru pulang?” tanyaku, aku cukup kesal padanya.“Ayah ada sedikit urusan. Terima kasih, Sayang, kamu sudah mengurus ibumu,” ucap Ayah.Kulihat wajah Ibu tidak sepucat tadi, bahkan sudah berhenti mengigau.“Apakah kamu yang mengompres Ibu?” tanya Ayah, aku mengangguk.“Tadi Ibu tergeletak di lantai, aku yang membawanya ke ranjang!” kataku.“Sepertinya Ibu sudah agak mendingan. Tadi dia pucat, sangat panas dan terus menerus mengigau,” sambungku.
Read more