Aku terkesiap melihat wajah Mawar. Kulit wajahnya perlahan memerah.“Kenapa dengan wajahku?” tanya Mawar.“Ih, Mawar, wajahku merah-merah itu. Coba kamu ngaca!” titah Neni.Sesuai ucapan Neni, Mawar mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya. Matanya membeliak, membulat sempurna.“Aaaaaargh!” jerit Mawar, yang berhasil mengundang rasa penasaran mahasiswa yang lain.Mereka datang, mencari tahu sumber kegaduhan. Ketika melihat Mawar, beragam reaksi mereka tunjukkan. Ada yang terkejut, ada yang prihatin, ada juga yang menahan tawa. Dari sini aku bisa menilai, orang yang menuruti keinginan Mawar, tidak sepenuhnya menyukainya. Buktinya, di saat Mawar ada masalah, sebagian orang malah menahan tawa, seolah derita Mawar adalah lelucon bagi mereka.“Wajahku kenapa?” Mawar menangis, dia menggaruk wajahnya.Aku cukup ngeri melihat pemandangan ini.Mawar lantas pergi dari sini, dia berlari sambil menangis.“Masuk, yuk!” ajak Neni.Kami pun masuk ke dalam kelas. Di sana, kulihat lelaki yang perna
Read more