Aku membeliak, jantungku rasanya nyaris melompat dari tempatnya.“Apa maksudmu?” tanyaku. Nada bicaraku cukup tergugup.Sejenak Arion membuang muka. “Aku tahu, kamu pasti kepikiran soal waktu itu, bukan?”Cepat-cepat aku menggeleng, aku semakin tergugup dibuatnya.“Tidak! Mana mungkin aku kepikiran. Aku tidak mungkin mengingat-ingat hal seperti itu. Masih ada banyak hal positif yang bisa aku pikirkan. Apa pedulimu bertanya seperti itu padaku? Bukankah waktu itu aku melihatmu karena ketidaksengajaan? Jangan ungkit lagi, aku nggak suka!” sergahku.Arion terkekeh, dia sangat berbeda dari Arion sebelumnya, yang terkenal dingin, cuek, sangat anti untuk berbasa-basi. Namun, setelah aku memergokinya sedang berduaan dengan seorang wanita, sikapnya kini berubah.“Minggir, aku mau lanjutin kelas lagi!” ucapku. Namun, Arion menghalangi.“Aku tahu, kamu pasti sulit melupakan kejadian itu, kan?” tanyanya. Dia seolah memaksa aku untuk mengakuinya.Menyebalkan! Lelaki ini cukup membuatku jengkel. Si
Read more