Ibu seolah panik, nada bicaranya terdengar seperti halnya yang pernah kudengar saat aku dirawat di rumah sakit, pasca menghirup gas beracun.Aku mengurai pelukan kami.“Tubuhku lengket, aku mau bersih-bersih!” pamitku.“Iya, Sayang. Setelah itu kamu tidur, ya! Sudah, masalah tadi tidak usah kamu pikirkan. Yakinlah, semua akan baik-baik saja!” sahut Ibu.Aku mengangguk kecil, lantas segera berlalu dari ruang tamu.“Jangan, Tristan! Sudah cukup!”Aku tidak benar-benar masuk ke dalam kamar. Namun, aku sengaja mengintip di balik sekat ruangan yang memisahkan antara ruang tamu dan ruang keluarga.“Kamu tidak usah khawatir, Sophia!” sahut Ayah.“Aku paham dirimu, Tristan. Kamu diam, tapi kamu tidak benar-benar diam. Hentikan semua ini! Dari cara gerakmu, aku sudah hafal apa yang akan kamu lakukan. Selama ini aku diam, tapi sekarang aku ingin kamu hentikan kegilaan ini. Aku ingin kita hidup normal seperti manusia pada umumnya. Please, Tristan, aku mohon!” Ibu mengatupkan kedua tangannya di d
Read more