Matahari tepat berada di puncaknya, memancarkan terik yang seolah ikut membakar sisa-sisa kesabaran di hati Sari. Siang itu, ia kembali menginjakkan kaki di rumah lamanya. Namun, kali ini bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menuntaskan sebuah pengkhianatan. Di sampingnya, Wira duduk dengan tegap, menjadi sandaran sekaligus pelindung yang tak tergoyahkan.Di halaman depan, sebuah mobil patroli polisi sudah terparkir siaga. Sementara itu, di dalam ruang tamu yang pengap, drama kemunafikan sedang mencapai puncaknya."Sari, tolong maafkan kami! Pamanmu terpaksa, Nak. Kami dipaksa oleh Tuan Lingga!" Ratih bersimpuh di lantai, meratap sembari memegang ujung gamis Sari. Suaranya serak oleh tangis yang terdengar dibuat-buat.Sari duduk di sofa, menatap datar tiga orang yang kini bersimpuh di bawah kakinya. Ajis, Ratih, dan Raisa. Mereka menunduk, namun Sari tahu itu bukan karena penyesalan, melainkan ketakutan akan jeruji besi yang sudah menanti di depan mat
Last Updated : 2026-05-14 Read more