Matahari baru saja terbit ketika taksi yang membawa Althea berhenti di depan gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Suasana masih tampak lengang, hanya ada beberapa pegawai yang baru tiba dan duduk-duduk di kantin samping koridor. Althea turun dari taksi, merapikan blazer hitamnya, lalu berjalan masuk dengan langkah mantap. Sesuai kesepakatan mereka semalam di dalam mobil, Kael benar-benar menepati janjinya. Tidak ada mobil SUV hitam yang membuntuti, dan tidak ada pengawal berbadan tegap yang berjaga di sekitarnya. Althea mengembuskan napas lega. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia merasa bisa berjalan sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai wanita di bawah bayang-bayang kekuasaan Kael. Dia melangkah menuju loket pengambilan produk pengadilan di lantai satu. "Pagi, Mbak. Saya mau mengambil akta cerai atas nama Althea Anindita," ujar Althea pada petugas loket. Petugas wanita itu memeriksa komputer sejenak, lalu mengangguk. "Tunggu sebentar ya, Bu. Saya ambilkan berk
Read more