Benardi tidak menunggu perintah kedua. Ia langsung menghilang menyusuri koridor secepat orang yang sedang dikejar hantu.Dava menarik napas, menegakkan bahu, lalu mendorong pintu kantornya.Aleksander Batubara duduk santai di sofa tunggal dekat jendela. Jas hitamnya tersampir rapi di samping. Posturnya rileks, sementara perhatiannya sepenuhnya tertuju pada ponselnya. Ibu jarinya bergerak malas menggulir layar, seolah-olah ruangan itu adalah ruang santainya sendiri, bukan kantor Dava.Sesaat Dava bertanya-tanya apakah ia seharusnya mulai menarik biaya sewa. "Selamat pagi, Aleksander," sapanya sambil menutup pintu di belakangnya. "Kau datang terlalu pagi. Bahkan bisa dibilang ini sudah termasuk tindak kriminal."Aleksander mengangkat kepala dengan tenang. "Pagi."
อ่านเพิ่มเติม