“Pa, kok mereka belum ke ruang makan?” tanya Ibu Nadia sambil menimang Lily yang kini tampak mengantuk. “Kayaknya lagi ngobrol, Ma...” ucap Ayah Nadia sambil menatap lauk-pauk yang lezat itu, merasa tak sabar ingin menyantapnya. “Sudah mau jam 7 malam, lho. Makan malam kita bisa kemalaman kalau begini, Pa,” ucap Ibu Nadia dengan nada cemas. “Tunggu sebentar lagi aja, Ma...” jawab Ayah Nadia santai. Sementara itu, di ruangan yang seharusnya terasa nyaman itu, suasana justru terasa dingin. “Kalian janjian, ya?” tanya Rumi memecah keheningan. “Iya,” sahut Bagas sambil tersenyum tipis. Nadia yang merasa situasi mulai memanas segera menyela, “Mas Rumi, Mas Bagas, kita makan dulu aja.” “Kamu duluan aja, Nad,” ucap Bagas sambil menatap Nadia dengan senyuman yang sulit diartikan. “Mas?” panggil Nadia, merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Iya, Nad. Kita berdua bisa nyusul, kok,” ucap Rumi menimpali, matanya kini terkunci tajam pada sang kakak. “Nggak.” Ucap Nadia yang tadi
อ่านเพิ่มเติม