Sasa masih memejamkan mata, membiarkan jemari Javendra menuntun tangannya yang mungil di atas permukaan kulit pria itu yang panas. Isak tangis tertahan keluar dari bibir Sasa, membuat tubuhnya yang hanya terbalut piama tipis itu bergetar hebat. "Tuan ... lepaskan saya," rintih Sasa, suaranya nyaris pecah. "Saya akan pijat Tuan, saya akan lakukan itu kalau memang Tuan lelah. Tapi jangan hal lain ... saya mohon." Javendra terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat maskulin dan berbahaya di ruangan yang sunyi itu. Ia menundukkan kepala, membiarkan hidungnya menyapu puncak kepala Sasa yang masih lembap, menghirup aroma sampo yang begitu memicu gairah. "Aku sedang tidak ingin dipijat lagi, Sas," bisik Javendra tepat di telinga Sasa, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Malam ini aku ingin kita bersenang-senang. Aku ingin menunjukkan padamu banyak hal baru... hal-hal yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya, yang akan terasa jauh lebih nikmat." Sasa menggeleng
Mehr lesen