Claudia menyentakkan tangannya dengan kasar, membuat kepala Sasa terlempar ke samping. Tanpa memedulikan rasa sakit yang tertinggal di wajah Sasa, Claudia segera mengambil botol kecil cairan pembersih kuman dari meja riasnya. Ia menyemprotkan cairan itu ke telapak tangannya berkali-kali, lalu mengelapnya dengan tisu seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan. "Aku benar-benar tidak suka melihat wajahmu itu," desis Claudia sambil membuang tisu bekasnya ke arah kaki Sasa. "Dan caramu berpakaian... jaket tebal, celana ketat, pura-pura tertutup tapi sebenarnya kamu sengaja ingin membuat Javen penasaran, kan? Dasar penggoda murahan." Sasa hanya bisa menahan napas, dadanya sesak menahan emosi yang nyaris tumpah. Ia tidak membela diri. Ia tahu, di mata wanita seperti Claudia, kata-katanya tidak akan pernah dianggap benar. "Saya harus kembali sekarang, Nona. Sekali lagi, saya minta maaf jika kehadiran saya mengganggu Anda," ucap Sasa dengan suara parau yang hampir hilang.
Mehr lesen