Sasa mencoba melangkah, namun kakinya yang kaku dan mati rasa akibat suhu dingin air es tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Baru satu langkah, lututnya yang lecet kembali menghantam aspal kasar. Ia merintih pelan, tubuhnya berguncang hebat karena menggigil yang luar biasa. Bibirnya yang sudah membiru kini tampak gemetar, dan napasnya terdengar pendek-pendek, tanda bahwa ia berada di ambang batas kesadarannya. Javendra yang masih mencengkeram lengan Sasa merasakan betapa tipis dan dinginnya kulit gadis itu, seolah ia sedang menyentuh mayat hidup. Tatapan Javendra yang tadi penuh amarah posesif kini berubah menjadi kebencian murni yang ia arahkan pada semua orang di halaman itu. Ia mengumpat kasar, suaranya rendah namun penuh dengan racun yang mematikan. "Sialan." Javendra mengalihkan pandangannya dari Sasa, lalu menatap Amara, Bi Surti, Juwita, dan seluruh pelayan yang hanya diam menyaksikan penderitaan Sasa. "Apa kalian semua gila?" desis Javendra, matanya berkil
Mehr lesen