Pandangan Sasa perlahan fokus. Langit-langit putih menjadi hal pertama yang ia lihat, disusul bau obat yang tajam di hidungnya. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa nyeri segera menjalar dari lutut hingga bahu, membuat napasnya tertahan. "Ini di mana?" Tangannya terasa berat saat ia menyadari selang infus terpasang di punggung tangannya, cairan dingin mengalir pelan ke dalam nadinya. Sasa mengangkat tangan satunya, menyentuh kepalanya, dan merasakan perban melingkar di kening. "Rumah sakit?" Ia terdiam sejenak, menelan pelan. Bayangan gudang itu kembali, tidak utuh, seperti potongan-potongan yang saling bertabrakan. Air yang terlalu dingin, tubuhnya yang kaku, dan suara Amara masih teringat jelas. "Itu benar-benar terjadi?" Kelopak matanya turun perlahan, napasnya melemah. "Aku masih hidup." Cklek. Pintu ruangan terbuka. Javendra melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah rapi kembali, seolah kejadian di mansion beberapa jam lalu tidak pernah terjadi. Ia
Mehr lesen