Reno memegang lembut jemari Viona, melanjutkan penjelasannya dengan suara yang tenang namun merasuk ke dalam hati. "Makanya dari kemarin aku sengaja menunggu waktu yang tepat, Vi. Aku menunggu momen di mana kebohongan pria ini terbongkar dengan sendirinya, tanpa membuatku terkesan mengada-ada atau berniat buruk memecah belah," tambah Reno, terlihat meyakinkan. Darmawan mengangguk-angguk setuju, raut amarahnya pada Reno seketika mereda berganti dengan rasa paham. Pria paruh baya itu menghela napas panjang lalu merangkul bahu putri kesayangannya. "Ya sudah, tidak usah dipikirkan dan diperdebatkan lagi, Vi," hibur Darmawan dengan nada membujuk. "Reno benar. Yang jelas sekarang kamu sudah tahu fakta sebenarnya, kalau pria pengecut di depan kita ini ternyata jauh lebih brengsek dari yang kita bayangkan." Viona terdiam sejenak, meresapi setiap perkataan Papa dan suaminya. Gejolak emosi di dadanya perlahan menyurut. Sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis, senyum lega tanpa beban, mengem
อ่านเพิ่มเติม