Surya masih belum mengalihkan pandangannya dari layar tablet di tangannya. Foto pernikahan itu sudah beberapa kali ia perbesar, lalu diperkecil lagi. Tatapannya berkali-kali berhenti pada wajah pria yang berdiri di samping Viona. Semakin lama diperhatikan, semakin kuat perasaan aneh yang mengganggunya. Bukan wajahnya, karena wajah itu memang Axel, yang mungkin saja agak berbeda karena sedikit dipoles riasan. Tetapi sorot mata, cara berdiri, sampai ekspresi kecil yang tertangkap kamera terasa berbeda. Surya mengusap dagunya pelan. "Aneh." Gumamannya nyaris tidak terdengar. Selama puluhan tahun mengenal keluarga Dandi dan Mila–orang tua Axel, ia kadang bertemu Axel. Tidak terlalu dekat memang, tetapi cukup mengenal keponakan jauh dari istrinya itu. Axel yang ia kenal selalu terlihat dingin, arogan, dan sulit menghargai orang lain. Bahkan terhadap keluarga sendiri pun, sikapnya sering kali terlalu tinggi hati. Entah kenapa juga Viona bisa jatuh hati pada Axel. Sedan
Mehr lesen