"Makan sedikit ya, Sean? Bi Inah sudah buatkan sup ayam kesukaan Mas Sean, lho," bujuk Bi Inah lembut, memegang mangkuk bubur yang masih mengepulkan uap hangat di ruang perawatan VIP rumah sakit. Anak kecil di atas ranjang itu tidak bergeming. Wajahnya yang dulu cerah kini amat pucat, matanya sembap, dan tangannya tertancap selang infus. Sean memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap pepohonan di luar dengan tatapan kosong. "Sean tidak mau makan, Bi," cicit Sean, suaranya parau dan terputus-putus. "Sean cuma mau Tante Alina... Tante Alina di mana, Bi? Kenapa Tante Alina tega tinggalkan Sean?" "Sean harus kuat, Nak... Nanti kalau Tante Alina kembali dan lihat Sean sakit begini, Tante Alina pasti sedih," hibur Bi Inah, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar dari sudut matanya. Beberapa minggu telah berlalu sejak malam kelam itu. Reynard dan Sean tidak jadi angkat kaki dari rumah utama keluarga Dirgantara. Namun, mereka bertahan sama sekali bukan karena takut pada anc
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-19 อ่านเพิ่มเติม