Napas Luna tertahan begitu melihat bayangan Darian memantul di dinding apartemen. Hanya dengan melihat siluet itu saja, seluruh tubuhnya mendadak kaku. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram lengan Lion kuat-kuat.Lion menoleh, berbisik halus. "Kamu kenapa?"Luna menggeleng cepat. "Ssst! Diam," bisiknya nyaris tak bersuara."Tapi—""Diam, Lion."Suara langkah Darian mengayun masuk ke ruang tengah. Tok. Tok. Tok.Matanya terpejam. Yalinda –dalam tubuh Luna– hapal benar ritem langkah kaki itu. Tanpa melihat, ia bisa membayangkan bagaimana Darian menikmati setiap langkah melintasi sofa, meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu melepaskan jas mahalnya. Kebiasaan kecil yang dulu begitu akrab saat ia masih menjadi istrinya. Sekarang, kebiasaan yang sama justru terasa seperti teror panjang yang tak berujung.Lion memperhatikan wajah Luna yang pucat pasi, bibirnya memang mengatup rapat, tetapi jari telunjuk di depan bibirnya itu gemetar hebat, menandakan takut ketahuan menyelinap."Kamu mengen
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-08-10 อ่านเพิ่มเติม