Taksi akhirnya melambat dan berbelok memasuki lorong pemukiman tua tempat tinggal neneknya, napas Luna mendadak tertahan di tenggorokan.Di ujung gang, berdiri sebuah tiang bambu kusam. Sepotong kain bendera merah berkibar pelan diterpa angin malam yang dingin.Jantung Luna serasa dihantam godam raksasa. Warna merah itu menyengat matanya, mengonfirmasi ketakutan terbesarnya tanpa perlu sepatah kata pun. Di depan halaman rumah kayu yang sederhana, beberapa tetangga sudah berkumpul mengenakan pakaian gelap, berbisik-bisik kaku di bawah pendar redup bola lampu teras.“Siapa sangka dia masih hidup?”“Dia bahkan tidak pernah mengunjungi ibunya yang sakit-sakitan.”Luna membayar ongkos taksi dengan jemari yang gemetar hebat, lalu melangkah keluar. Kakinya terasa teramat berat, seolah menginjak lahar panas. “Dia pernah hampir masuk penjara karena kasus memeras orang kaya.”“Lalu bagaimana?”Ada dorongan histeris dalam dadanya untuk berbalik dan berlari sekuat tenaga—berlari sejauh mungkin
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-09-17 อ่านเพิ่มเติม